Mas milik kamu

Anga dan Aditya bersimpuh bersebelahan di samping makam Aditya. Bunga-bunga yang sbelumnya memenuhi gundukan tanah itu, kini sudah mengering.

Tapi luka karena di tinggalkan oleh pemilik makam itu, sama sekali belum hilang. Anga masih sedih dan begitu kehilangan meski hadirnya Aditya sering kali membuatnya terbuai, tapi Anga belum bisa menyembuhkan luka di hatinya karena kepergian Angga.

"Anga masih nggak percaya kalau sekarang Kak Angga udah nggak ada" Anga mengusap nisan yang bertuliskan Angga Herlambang itu.

"Kenapa Kak Angga harus pergi secepat ini?? Kenapa Kak Angga nggak mewujudkan impian kita dulu untuk sama-sama menikah dan memiliki anak yang lucu-lucu??"

"Kenapa Kak, hiks..hiks.."

Aditya menarik Anga ke dalam sekapannya. Mengusap lembut punggung istrinya yang terus bergetar karena tangisan itu.

"Dek, Mas ajak kamu ke sini untuk mendoakan Kakak kamu. Bukan untuk membuat Kakak kamu sedih di atas sana. Dia juga pasti berat meninggalkan kamu seorang diri di dunia ini karena kamu adik kesayangannya. Tapi ini sudah takdir yang di gariskan sama Allah. Jadi kamu harus ikhlas, perbanyak doa untuk Kakak kamu. Hanya itu yang di butuhkan Angga di atas sana"

Bisikan menenangkan itu perlahan berhasil membuat Anga kembali tenang. Anga mulai menyisihkan air matanya dan mulai membaca doa untuk Angga, begitu pun Aditya.

"Udah siang, pulang ya Dek?? Kapan-kapan kita ke sini lagi"

Anga hanya mengangguk, lalu berdiri dan di bantu oleh Aditya.

Anga hanya bisa pasrah karena tangisannya sampai air mata mengering tidak akan membuat Angga kembali.

"Usah dong, jangan nangis" Aditya mengusap pipi Anga yang basah saat ia membantu Anga memasang helmnya.

Mereka pun meninggalkan area pemakaman. Hari juga sudah semakin siang saat ini.

"Pegangan Dek!!" Perintah Aditya.

"Iya Mas" Anga memegang jaket Aditya dengan erat.

"Pegangan yang benar!!" Ucap Aditya sambil menarik tangan Anga hingga melingkar di pinggangnya.

Anga sempat tersentak tapi lagi-lagi Aditya mengusap punggung tangannya di depan sana. Aditya benar-benar selalu membuat Anga terbuai. Anga sampai takut kalau semua yang Aditya lakukan itu palsu di saat Anga sudah mulai nyaman seperti ini.

Anga hanya bisa berharap, perhatian serta kasih sayang Aditya itu tidak akan pernah pudar kepadanya. Semoga saja cinta akan segera tumbuh di hati mereka masing-masing.

Hanya itu harapan Anga saat ini. Dia sudah tidak lagi memikirkan rumah dan harta keluarganya yang habis tak tersisa. Yang dia butuhkan saat ini hanya seseorang yang mau menerimanya dan menemaninya, karena dia hanya seorang diri di dunia ini.

"Loh Mas kok ke sini??" Aditya mengarahkan motornya ke salah satu pusat perbelanjaan yang dia lewati.

"Kita mampir sebentar, mau beli sesuatu"

Anga tak lagi bertanya Aditya mau membeli apa. Toh ini hari minggu, termasuk kesempatan juga Anga bisa melihat-lihat di sana.

"Ayo masuk!!"

Aditya melangkah lebih dulu, tapi baru beberapa langkah dia berbalik melihat istrinya yang dia langkah berada di belakangnya.

"Ayo Dek, jangan di belakang gitu dong" Aditya mengulurkan tangannya pada Anga.

Si istri itu pun meraihnya dengan senang hati. Anga juga tidak tau kenapa dia begitu senang ketika tangannya di genggam Aditya. Aditya yang terasa menggenggam tangannya dengan erat namun lembut itu, terasa begitu hangat dan nyaman.

"Kamu itu istri Mas, kalau jalan ya di samping Mas kaya gini. Bukan di belakang"

"Iya Mas"

Sepanjang jalan, Anga berkali-kali melihat tangannya yang digenggam Aditya. Suaminya itu adalah pria pertama yang bisa menggenggam tangannya seperti itu karena memang dari dulu Angga tidak pernah mengijinkan Anga dekat dengan lawan jenisnya.

Anga merasa malu sendiri saat ini. Apalagi banyak pasang mata yang melihat ke arahnya, atau lebih tepatnya menatap Aditya yang tampan dan mempesona itu.

"Mas, mau beli apa ke sini??" Tanya Anga karena Aditya membawanya masuk ke sebuah toko perhiasan.

"Mau beli sesuatu buat seseorang"

Anga langsung menciut. Dalam pikirannya, mungkin Aditya ingin membeli hadiah untuk orang yang dia cintai atau wanita yang di sebut penjual nasi uduk tadi.

"Selamat datang Kak, ada yang bisa di bantu??"

"Mbak, saya mau cari cincin pernikahan"

Deg ...

Jantung Anga langsung berdebar-debar. Dia merasa besar kepala kalau Aditya akan membeli cincin untuk mereka karena memang sampai sekarang Aditya tidak memberikan cincin di saat pernikahan mereka. Tapi Anga juga takut kalau Aditya ingin memberikannya pada orang lain.

"Mari ikut sata Kak" Karyawan toko itu membawanya bergeser ke tempat cincin-cincin pasangan yang terlihat indah di pandang mata bagi Anga.

"Silahkan di pilih Kak"

"Dek, kamu suka yang mana??"

"M-maksud Mas, cincin ini buat kita??"

"Ya buat kita, memangnya buat siapa lagi?? Kan cuma kamu istri Mas" Ucapan Aditya ini membuat Anga begitu lega.

"To pilih mana yang paling kamu suka"

Anga langsung melihat cincin pasangan berbagai model itu. Saking senangnya, Anga sampai bingung harus pilih yang mana, semuanya tampak bagus di mata Anga.

"Kalau saya boleh saran ya Kak. Cincin model 2 in 1 ini sepertinya cocok di jari Kakak karena jarinya lentik"

Karyawan itu mengambil sebuah cincin pasangan berwarna silver, dengan model 2 in 1 untuk Anga. Cincin dengan hiasan satu batu permata di tengahnya dengan batuan kecil di sekelilingnya itu tampak berkilauan terkena cahaya.

Kira-kira kek gini bentuknya ya geess......

"Boleh yang ini Mas??"

"Kamu suka??" Aditya balik bertanya.

"Suka" Anga tersenyum malu.

Lebih tepatnya malu karena prasangka buruknya pada Aditya karena mengira cincin itu untuk wanita lain.

"Sini Mas yang pasangkan" Aditya segera mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manis Anga.

"Cantik di jari kamu. Tapi beneran kamu suka yang ini?? Nggak mau lihat yang lain??"

"Enggak Mas, ini aja"

"Ya udah Mbak, saya mau yang ini karena istri saya suka. Tapi kalau punya saya yang bukan emas ada nggak??"

"Kita ada platinum sebagai gantinya Kak. Kita ada kok model cincin yang persis seperti ini" Tunjuk karyawan tadi pada cincin pasangan milik Anga.

"Ya sudah saya mau itu aja"

"Baik Kak saya ambilkan dulu"

"Kenapa Mas malah pilih platinum bukan yang emas??" Tanya Anga setelah karyawan tadi berlalu.

"Karena seharunya laki-laki nggak boleh memakai perhiasan emas. Jadi adapun sebagai ganti emas itu, ya platinum, perak, titanium atau logam mulia lain yang bukan emas. Bahkan harusnya Mas nggak boleh pakai perhiasan apapun. Tapi karena Mas mengikat kamu dengan cincin itu yang menandakan kamu udah jadi milik Mas jadi Mas juga mau pakai cincin biar orang-orang pada tau kalau Mas ini milik kamu"

Blusshh....

Terpopuler

Comments

Ratnasihite

Ratnasihite

aq jd ingat orangtua yg udah pergi😥

2024-12-06

0

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Nambah... Bahagia deh anga

2024-11-28

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

hah.. beneran pengen mungut Adit buat jadiin ank mantu 🤭🤭

2024-11-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bunga Kenanga
2 Dunia yang hancur
3 Kamu punya aku, suamimu
4 Jalani dengan ikhlas
5 Ganteng nggak??
6 Jangan di lepas
7 Menerima dengan ikhlas
8 Suami sempurna
9 Saran dari Caca
10 Istri titipan
11 Istri yang baik
12 Hujan perhatian
13 Kedatangan malapetaka
14 Pelukan dan kecupan pertama
15 Siapa wanita itu??
16 Mas milik kamu
17 Kawin
18 Masalah baru
19 Dua wanita ular
20 Jatuh cinta
21 Bekal makan siang
22 Malam mingguan
23 Ditinggal suami
24 Pap dari suami
25 Langkah yang Anga ambil
26 Aditya pulang
27 Matang dan tampan
28 Bantuan Caca
29 Rasa bersalah
30 Mas tunggu di rumah!!
31 Dingin
32 Penyesalan Anga
33 Kejujuran
34 Ngurusin suami
35 Mas Adit
36 Kemarahan Aditya
37 Tentang lidah
38 Kedatangan Mayang
39 Tidak ada rasa
40 Hak suami
41 Rencana Anga
42 Tidak bisa berhenti
43 Seperti drakula
44 Kilasan masa lalu
45 Sama-sama beruntung
46 Mantan pacar suami
47 Penjelasan Aditya
48 Uang tak bisa membeli cinta
49 Kejutan untuk suami
50 Kejutan yang gagal
51 Peringatan Aditya
52 Penjelasan Aditya
53 Noda membandel
54 Permintaan Anga
55 Belajar mencintai
56 Obat mujarab
57 Kedatangan tamu
58 Hanya takut
59 Ketakutan Anga
60 Ungkapan perasaan
61 Ngidam
62 Berbohong demi kebaikan
63 Pelajaran untuk Angel
64 Terlalu indah
65 Ibu hamil yang senstif
66 Berkunjung ke makam
67 Hampir kehilangan
68 Pelaku
69 Ungkapan tanpa sadar
70 Minta obat
71 Perasaan Diah
72 Butuh kepastian
73 Tante Malini
74 Jalan keluar
75 Hadiah dari suami
76 Permintaan maaf
77 Suami sombong
78 Datang ke Jogja
79 Acara penting
80 Jelaskan!!
81 Baru sadar
82 Kenapa??
83 Dua pilihan
84 Jangan menghinanya
85 Syarat
86 Mendapat restu
87 Tak berubah
88 Pergilah!!
89 Pamit
90 Syarat yang sebenarnya
91 Kenapa Bu??
92 Jangan pergi!!
93 Kekecewaan Aditya
94 Maaf
95 Sudah sejak dulu
96 Menemui Ajeng
97 Pesakitan Ajeng
98 Perubahan Ajeng
99 Keputusan Ajeng
100 Sama-sama beruntung
101 Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102 Kepergian Ajeng
103 Kabar untuk mertua
104 Pura-pura bahagia
105 Tiga bulan
106 Utang
107 Kangen
108 Ancaman Raka
109 Tak peduli
110 Keterkejutan Raka
111 Mengakhiri
112 Dikokop
113 Marah
114 Terbakar cemburu
115 Pergilah temui dia!!
116 Menemui Ratna
117 Hilang kepercayaan diri
118 Kemarahan Aditya
119 Masih halal
120 Perubahan Raka
121 Sampai di rumah
122 Cemburu
123 Di salahkan
124 Pergilah!!
125 Meyakinkan perasaan
126 Sultan
127 Dua wanita
128 Cemburu
129 Takut kecewa
130 Pria tanpa identitas
131 Mencari Raka
132 Menjadi penguntit
133 Ngidam
134 Wanita pengganggu
135 Nggak cemburu
136 Pria misterius
137 Ajeng menyerah
138 Maafkan aku
139 Ancaman Ajeng
140 Kembali bersama
141 Ngaak mungkin!!
142 Ketulusan Ajeng
143 Kamu bisa Mas!!
144 Aku nggak marah!
145 PROMO NOVEL BARU
146 Pingin punya anak
147 Tujuh bulanan
148 Hamil??
149 Bahagia tiada tara
150 Empat kelinci lucu
151 Melahrikan
152 Akhir
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Bunga Kenanga
2
Dunia yang hancur
3
Kamu punya aku, suamimu
4
Jalani dengan ikhlas
5
Ganteng nggak??
6
Jangan di lepas
7
Menerima dengan ikhlas
8
Suami sempurna
9
Saran dari Caca
10
Istri titipan
11
Istri yang baik
12
Hujan perhatian
13
Kedatangan malapetaka
14
Pelukan dan kecupan pertama
15
Siapa wanita itu??
16
Mas milik kamu
17
Kawin
18
Masalah baru
19
Dua wanita ular
20
Jatuh cinta
21
Bekal makan siang
22
Malam mingguan
23
Ditinggal suami
24
Pap dari suami
25
Langkah yang Anga ambil
26
Aditya pulang
27
Matang dan tampan
28
Bantuan Caca
29
Rasa bersalah
30
Mas tunggu di rumah!!
31
Dingin
32
Penyesalan Anga
33
Kejujuran
34
Ngurusin suami
35
Mas Adit
36
Kemarahan Aditya
37
Tentang lidah
38
Kedatangan Mayang
39
Tidak ada rasa
40
Hak suami
41
Rencana Anga
42
Tidak bisa berhenti
43
Seperti drakula
44
Kilasan masa lalu
45
Sama-sama beruntung
46
Mantan pacar suami
47
Penjelasan Aditya
48
Uang tak bisa membeli cinta
49
Kejutan untuk suami
50
Kejutan yang gagal
51
Peringatan Aditya
52
Penjelasan Aditya
53
Noda membandel
54
Permintaan Anga
55
Belajar mencintai
56
Obat mujarab
57
Kedatangan tamu
58
Hanya takut
59
Ketakutan Anga
60
Ungkapan perasaan
61
Ngidam
62
Berbohong demi kebaikan
63
Pelajaran untuk Angel
64
Terlalu indah
65
Ibu hamil yang senstif
66
Berkunjung ke makam
67
Hampir kehilangan
68
Pelaku
69
Ungkapan tanpa sadar
70
Minta obat
71
Perasaan Diah
72
Butuh kepastian
73
Tante Malini
74
Jalan keluar
75
Hadiah dari suami
76
Permintaan maaf
77
Suami sombong
78
Datang ke Jogja
79
Acara penting
80
Jelaskan!!
81
Baru sadar
82
Kenapa??
83
Dua pilihan
84
Jangan menghinanya
85
Syarat
86
Mendapat restu
87
Tak berubah
88
Pergilah!!
89
Pamit
90
Syarat yang sebenarnya
91
Kenapa Bu??
92
Jangan pergi!!
93
Kekecewaan Aditya
94
Maaf
95
Sudah sejak dulu
96
Menemui Ajeng
97
Pesakitan Ajeng
98
Perubahan Ajeng
99
Keputusan Ajeng
100
Sama-sama beruntung
101
Toping cincin ( Mulai kisah Ajeng dan Raka)
102
Kepergian Ajeng
103
Kabar untuk mertua
104
Pura-pura bahagia
105
Tiga bulan
106
Utang
107
Kangen
108
Ancaman Raka
109
Tak peduli
110
Keterkejutan Raka
111
Mengakhiri
112
Dikokop
113
Marah
114
Terbakar cemburu
115
Pergilah temui dia!!
116
Menemui Ratna
117
Hilang kepercayaan diri
118
Kemarahan Aditya
119
Masih halal
120
Perubahan Raka
121
Sampai di rumah
122
Cemburu
123
Di salahkan
124
Pergilah!!
125
Meyakinkan perasaan
126
Sultan
127
Dua wanita
128
Cemburu
129
Takut kecewa
130
Pria tanpa identitas
131
Mencari Raka
132
Menjadi penguntit
133
Ngidam
134
Wanita pengganggu
135
Nggak cemburu
136
Pria misterius
137
Ajeng menyerah
138
Maafkan aku
139
Ancaman Ajeng
140
Kembali bersama
141
Ngaak mungkin!!
142
Ketulusan Ajeng
143
Kamu bisa Mas!!
144
Aku nggak marah!
145
PROMO NOVEL BARU
146
Pingin punya anak
147
Tujuh bulanan
148
Hamil??
149
Bahagia tiada tara
150
Empat kelinci lucu
151
Melahrikan
152
Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!