Menyaksikan kematian 2

" ucapan kan selamat datang pada Duchess, apa kau merindukan nya? " ucap Louis sambil memukul pipi Ivon menggunakan tongkat besi yang di berikan pengawalnya.

Ivon mengangkat wajahnya sedikit demi sedikit, menatap ke arah Cassandra sebentar lalu menunduk lagi.

" kau tak ingin menyapa selingkuhan mu, sayang?" gantian Louis menatap Cassandra dengan senyuman seringai. Jemina bergidik ngeri melihat Louis yang seperti ini.

" berikan Duchess tempat yang nyaman, bukankah sebentar lagi ada tontonan bagus"

pengawal nya dengan sigap memberikan sebuah kursi kayu di sebelah Jemina. Aura ruangan tiba-tiba menjadi menakutkan.

Jemina tidak banyak bicara, kakinya mulai gemetar ketakutan. dengan perlahan duduk di kursi, kedua tangan nya bertautan kencang. Seakan menunjukkan rasa tidak nyaman.

tap tap tap

langkah kaki Louis terdengar mengerikan, lelaki itu berjalan mendekati istrinya. Berdiri di belakang sambil menahan bahu Jemina agar tetap bersandar.

" ada yang ingin kau katakan padanya?"

Jemina menggeleng kaku.

Louis menarik sudut bibirnya. Terlihat sekali istrinya begitu tegang dan ketakutan.

Pengawalnya itu segera maju sambil membawa balok kayu, satu kode saja dari Louis adalah perintah mutlak bagi mereka. Tak hayal, Jemina semakin mengetatkan pegangan tangannya. sambil kuku -kuku nya memutih mencengkram tangannya sendiri.

bugh

" akk... am..pun Duke.." teriak Ivon dengan suara seraknya. Bahkan tenggorokan nya terasa begitu kering akibat berteriak sepanjang hari.

bugh bugh bugh

sekali lagi Jemina menyaksikan Ivon di pukuli di berbagai sisi tubuh nya. Jemina menatap lekat-lekat, lelaki yang pernah melecehkannya dulu kini bernasib sama sialnya dengan nya.

Namum semakin lama, darah terus mengucur membuat Jemina merasa jijik dan takut. Wanita itu memalingkan wajahnya.

" kenapa, kau tidak suka dengan tontonnanya?" bisik Louis, lalu tak lama pipi Jemina terasa di cengkram dihadapkan menatap Ivon.

" lihat dengan jelas, apa yang bisa aku lakukan jika kau berani membangkang padaku". desis Louis penuh kemarahan. Dia dengan kasar menekan pipi Jemina dari belakang.

" lepas.." suara Jemina tidak jelas, akibat pipinya yang di cengkram.

Tapi Louis berfikir jika istrinya tak sanggup melihat kesakitan dari selingkuhan nya. Padahal yang Louis tidak tau, jika Jemina merasa puas namun jijik dengan darah Ivon.

bugh

" lepas..'' sekali lagi Jemina meronta dan memukul tangan Louis agar cengkraman lelaki itu terlepas.

" berikan padaku" Louis melepaskan tangannya lalu berganti meminta balok kayu dari anak bua nya.

" ini Duke" ucap nya.

" kemari. berdiri!" Louis menarik lengan Jemina agar wanita itu berdiri dan menyeret berjalan mendekati Ivon.

" pegang ini" Louis memaksa Jemina agar memegang kayu yang dia bawa.

" pukul dia, Cassandra " perintah Ivon. Jemina menatap kayu dengan ragu-ragu. Apalagi kondisi Ivon sudah sangat parah. Entah lelaki itu masih sadar atau tidak.

" pukul dengan keras, atau kau yang aku pukul!" ancam Louis. Jemina mengangkat tongkat kayu itu dengan tangan bergetar. Dia memang ingin melihat Ivon menderita, tapi jika dia yang harus melakukan nya, Jemina tidak yakin bisa.

" pukul Cassandra!" Louis sudah tidak sabar, lelaki itu berdiri di belakang Jemina. Dia membantu Jemina mengayunkan tangannya.

" seperti ini"

bugh bugh

" akkk, sudah!" bukan Ivon melainkan Jemina yang berteriak. Dia bisa merasakan bagaimana kerasnya kayu ini memukul perut Ivon. Tangannya di kunci dengan tangan Louis. Jemina tidak bisa menariknya.

bugh bugh

" sudah.. " teriak Jemina dengan lelahan air mata. Bukan karena sedih, tapi rasa takut yang dia rasakan.

" akk" teriak Jemina saat Louis menghempaskan ke bawah.

" apa yang sudah kalian lakukan di belakang ku. hah!?" Louis berteriak kesetanan, pikirannya masih belum tenang. Baik Cassandra atau Ivon menjawab dengan hal yang sama. Louis tidak percaya namun dia juga merasa lega.

Namun di sisi lain, ego nya yang tidak terima terus meminta pembenaran.

" tidak ada Louis, aku sudah mengatakan nya padamu" jawab Jemina sambil menangis ketakutan. Dia takut bernasib sama dengan Ivon.

" kalau begitu buktikan, bunuh dia" sambil menujuk ke arah Ivon, yang tergantung tidak bergerak.

Terpopuler

Comments

riiina

riiina

ditunggu lanjutannya....😊

2024-07-05

1

Andi Ilma Apriani

Andi Ilma Apriani

up up up

2024-06-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!