Syarat Menguntungkan

Pelayan Helena mengelap keringat yang membasahi pelipisnya. Wanita itu tengah duduk di depan meja dengan tangan yang sibuk menulis sesuatu. Dia sedang memikirkan apa lagi hal yang biasa di lakukan nyonya nya. Dengan dalih seberapa baik dia mengenal Duchess, Cassandra memberikan syarat padanya agar semua hal yang berkaitan dengan Cassandra mulai dari kebiasaan sampai hal yang tidak di sukai oleh Cassandra tertulis dalam lembaran kertas yang Jemina siapkan. Dengan begitu Jemina akan lebih tau seluk beluk perangai Cassandra yang tidak dia ketahui dengan mudah.

" hanya segini?" celetuk Jemina saat melihat hanya ada 5 lembar kertas yang tertulis.

" em. saya masih memikirkan nya nyonya. Saya pasti menulis semua yang saya tau"

" bagus, jika ada satu saja kesalahan mengenai ku, kau harus meninggalkan kediaman ini" ancam Jemina dengan wajah angkuh Khas Cassandra.

" baik, nyonya" jawab Helena ketakutan. Dia mengingat semuanya. Kertas-kertas ini adalah pertaruhan nyawa nya. Dia harus berusaha semaksimal mungkin.

Jam makan siang sudah terlewat beberapa saat yang lalu, Jemina menunggu Helena dengan bersantai di atas sofa empuk lantai 2.

" nyonya.." panggil Helena, dilihatnya Cassandra tertidur nyenyak di sana. Dengan sedikit ketakutan Helena menggoyang sedikit lengan Cassandra.

" nyonya.. "

" emm.. kenapa?" Cassandra menggeliat sambil membuka matanya.

" sudah nyonya.. semua hal yang berkaitan dengan anda sudah saya tulis" Helena memberikan belasan lembaran pada Cassandra.

Jemina beranjak duduk dan menerima lembaran itu.

" bagus, aku akan meneliti nya" Ucap Jemina dengan acuh. Bukan karena apa, dia masih belum benar- benar terbangun dari tidurnya.

" baik nyonya."

Jemina turun dan berjalan masuk ke kamarnya. Di tempat lain Louis mengamati semua yang terjadi hari itu. lelaki itu merasa aneh saja dengan tingkah istrinya yang mencurigakan. Takutnya Cassandra memiliki rencana licik pada kediaman Winston.

Cassandra meletakkan kertas itu di atas meja, sedang dirinya masuk ke kamar mandi. Tubuhnya butuh kesegaran untuk memulihkan tenaga.

" Nyonya takut petir, dan biasanya pergi ke toko perhiasan 3 hari sekali. pandai berkuda dan menembak, senang menghadiri pasta terutama saat perkumpulan keluarga setiap bulan. Tidak suka kotor dan bla bal... " Jemina membaca semua tulisan itu dengan cermat. bahkan beberapa hal membuat Jemina Syok.

" Cassandra benar-benar wanita mengerikan. bahkan memiliki senjata sendiri. Dan ini... menggunakan darah untuk mempercantik kulit?. astaga, dia bukan manusia" celoteh Jemina saat membaca lembar demi lembar tulisan Helena mengenai Cassandra.

tok tok tok

" nyonya.."

" ada apa?"

" ada tamu dari kepolisian ingin bertemu dengan anda" ucap Helena dari balik pintu.

" polisi? kejahatan apa yang sudah Cassandra lakukan? jangan-jangan..." lirih Jemina bertanya-tanya.

" nyonya.."

" ya..aku akan segera turun"

Jemina melipat semua kertas itu lalu keluar dari kamar. Di belakang nya pelayan Helena berjalan mengekori.

" Duchess" ucap dua orang berjas yang berdiri menyambutnya. Tak lupa di sana juga ada Louis yang duduk tenang di sofa.

Jemina mengatur diri agar terlihat seperti Cassandra yang asli.

" ada urusan apa kalian datang kemari?" ucap Jemina.

" duduklah Cassandra " potong Louis yang mengingatkan etika pada istrinya.

" begini Duke Duchess, pagi ini anggota kami menerima laporan di temukan nya mayat wanita di area perkebunan pinggir hutan. Jika di lihat dari pakaian yang di tertinggal di sana seperti memiliki kesamaan dengan seragam pelayan kediaman Winston. Apa mungkin kalian kehilangan pelayan?" jelas Kepala detektif itu, setelah mereka semua duduk.

Jemina mendengar hal ini rasanya ingin meluapkan emosi nya.

' pelakunya adalah Duchess Cassandra' ingin sekali Jemina meneriakkan kebenaran ini. Namun saat ini dialah Cassandra. Sangat tidak masuk akal jika dia menunjukkan dirinya sendiri sebagai pelaku pembunuhan.

" entahlah, kurasa tidak. Karena kepala pelayan tidak melaporkan apapun padaku" jawab Duke yang tidak tau apa-apa.

" bukan begitu Cassandra?" lanjut Louis menatap istrinya.

Jemina terserang gejala kepanikan mendadak. Dia belum memikirkan jawaban apa yang aman. Dia tidak mau jasad nya di anggap orang lain, tapi bagaimana mengatakan nya.

" em, beberapa hari yang lalu aku sempat memecat seorang pelayan. Apa mungkin itu dia ? karena kediaman tidak merasa kehilangan seseorang" jawab Jemina hati-hati.

" Helena, coba kau panggilkan kepala pelayan kemari"

" baik tuan"

Jemina meremas tangannya kuat. Dia harus bisa menghindari kecurigaan. Dia ingin sekali Cassandra di hukum, tapi bukan sekarang. Ada beberapa hal yang harus di lakukan dulu. Setidaknya memanfaatkan harta Cassandra untuk menyelamatkan keluarganya.

tap tap tap

seorang wanita tua berjalan mendekat.

" tuan, nyonya.. "

" Apa kediaman kita kehilangan pelayan?" tanya Jemina tanpa basa basi.

" kehilangan pelayan? tidak nyonya. semua pelayan ada di sini. "

" anda yakin? coba anda ingat-ingat lagi, Apa ada seseorang yang memiliki baju pelayan seperti kediaman Winston?" tanya polisi itu.

" baju pelayan seperti ini hanya kediaman Winston yang memilikinya" jawab kepala pelayan yakin.

" ah tunggu, kurasa ada satu orang yang belum mengembalikan seragam pelayan. Jemina, pelayan yang baru saja anda pecat nyonya" lanjut kepala pelayan sambil menatap ke arah Cassandra.

" sudah aku katakan sebelumnya. Mungkin pelayan yang aku pecat masih mengenakan seragam pelayan saat meninggalkan kediaman. kalian bisa membawa kepala pelayan kami untuk memastikannya" ujar Cassandra dengan tenang dan datar.

" baiklah Duchess, "

" em, apa aku boleh tau bagaimana keadaan saat jasad nya di temukan?" tak sadar suara Cassandra sedikit bergetar saat mengatakannya.

" wanita ini ditemukan dalam keadaan yang tragis. Beberapa tubuh nya tidak tertutup pakaian dan sepertinya beberapa kawanan anjing telah memakan bagian tubuhnya"

Hati Jemina begitu sakit dan sedih setelah mendengar bagaimana keadaan jasadnya. Dendamnya dengan Cassandra langsung naik berkali-kali lipat. Wanita jahat itu seharusnya mendapatkan hukuman yang berat, tapi dimana dia sekarang?.

"sungguh kasihan sekali dia" ungkap Cassandra dengan berderai air mata. Louis yang mengetahui tangis Cassandra malah merasa muak. Sandiwara istrinya terlalu berlebihan baginya.

" iya Duchess, kami pasti akan mencari tau sebab kematiannya" ucap kepala detektif dengan penuh keyakinan.

" ya, laksanakan tugas kalian" imbuh Louis sambil mengangguk pelan.

Terpopuler

Comments

alphaa

alphaa

semangat sengggg🔥🔥🔥🔥

2024-05-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!