Matahari pagi sudah semakin naik, namun Louis tidak kunjung bangun dari ranjang istrinya. Sedangkan Jemina sudah melarikan diri untuk memulai sarapan lebih dulu. Wanita itu tidak meninggalkan kamar, karena Helena dan pelayan sudah lebih dulu mengirimkan sarapan untuknya.
" silahkan nyonya" ucap pelayan yang di angguki oleh Jemina. setelahnya mereka pergi dari kamar.
Jemina menatap jengah pada makanan terlebih lagi pada Louis yang tidak kunjung bangun. Jemina sangat tidak nyaman berdekatan dengan lelaki itu. Dengan sebal Jemina terpaksa memakan sarapan, kenapa juga perutnya begitu lapar saat mencium aroma makanan.
tok tok tok
pertengahan makan, pintu terketuk.
" tuan, nyonya.." suara lelaki. Pasti pengawal pribadi Louis.
Jemina sengaja tidak menyahut, dia menikmati sarapannya.
tok tok tok
Suara semakin keras, Jemina yakin ada sesuatu yang mendesak dan butuh Louis. Tapi dia tidak mau membantu.
" tuan, nyonya..."
" Cassandra... " panggil Louis dengan suara serak. Dia menatap istrinya dengan tatapan kesal. seakan tau apa yang Louis inginkan, Jemina berdiri dan membuka pintu.
" ada apa?" tanya nya dengan nada kesal juga.
" maafkan saya nyonya, apa tuan sudah bangun?"
" sudah, masuklah kau katakan sendiri"
Jemina membuka lebar pintu kamar, lalu kembali berjalan menuju meja makan.
Pengawal itu dengan ragu masuk ke dalam dan mendekati ranjang. Di sana Louis sudah duduk dan bersandar dengan tubuh tertutup selimut.
Entah apa yang mereka bicarakan, Jemina yang berniat mencuri dengar, kini harus kecewa. karena tak ada percakapan yang dia dengar. Hanya suara tidak jelas.
" permisi nyonya" setelah beberapa saat pengawal itu pamit pergi.
Jemina melihat Louis sudah mulai berpakaian.
" setelah ini ikut aku" ucap Louis sambil mengancing kan bajunya.
" kemana?"
" ke tempat yang kau tunggu"
" Tempat apa?" Jemina masih belum mengerti.
" Nikmati makanmu, selama masih bisa" Louis pergi dari kamar sebelum menjelaskan tujuan mereka.
Namun setelah mendengar kalimat terkahir dari suaminya, Jemina akhirnya paham. Dia kembali teringat dengan hadiah dari suaminya.
" sialan kau Louis" sambil melempar sendok yang dia pegang. Nafsu makannya menghilang seketika.
Dan kini dia bersama dengan Louis duduk di kereta yang sudah berjalan menjauhi kediaman.
" apa saja yang sudah kalian lakukan di belakangku?" tanya Louis datar. Jemina yang sedari tadi diam melihat pemandangan, kini menoleh sebentar.
" menurutmu, apa?"
" jangan mengujiku Cassandra, apa kau masih belum mengerti?" Suara Louis begitu tenang namun terasa dingin menakutkan.
" aku dan dia hanya bersenang-senang saja. tidak lebih. Jangan kau samakan dengan hubunganmu dengan Pamela, aku tidak semurahan itu" ketus Jemina. Dia semakin mirip dengan Cassandra, mudah sekali tersinggung dan marah.
" jika kau berani berbohong, aku bisa membuatmu tinggal di tempat yang sama dengan lelaki itu" desis Louis penuh kesombongan.
" ya ya... siapa takut" tantang Jemina. Padahal tiba-tiba dia ketakutan. Dia tidak tau apa yang Cassandra lakukan dengan Ivon sebelum membunuh dulu. Bagaimana hubungan mereka juga dia tidak tau. Tapi dari gelagatnya Ivon memang sering sekali menggoda dan bertingkah kurang ajar. Apa mungkin mereka pernah melakukan hubungan terlarang?. bisa gawat jika Louis mengetahui nya sekarang.
kereta kuda akhirnya berhenti di sebuah bangunan yang mirip dengan Barack.
" Duke, Duchess suatu kehormatan bisa menyambut kedatangan anda"
" Marquess Daroll" ucap Louis sambil berjabat tangan. Sedangkan Jemina ikut di sambut dengan anggukan kepala.
" silahkan Duke" mereka langsung di bawa melewati lorong.
Dan saat memasuki halaman dalam, Marquess Daroll pamit pergi. Hanya ada Louis dan pengawal nya.
" masuklah" ucap Louis meminta Jemina masuk lebih dulu. Wanita itu terdiam sejenak tak mau masuk. Dia sedang menatap hati agar kuat melihat kekejaman Louis.
" kenapa? kau tak sanggup melihat nya terluka?" ucap Louis meremehkan.
" bukankah kau sendiri yang meminta untuk melihat pasangan hadiah itu?" sambung Louis sambil memegang pinggang Jemina kuat.
" a..a.. aku bisa sendiri" Jemina tiba-tiba merasa gugup dan cemas.
Karena tak kunjung membawa , Louis akhirnya mengambil sikap. Dia dengan setengah menarik tubuh Cassandra berjalan masuk ke ruangan tersebut.
Hal yang pertama menyambut mereka adalah kegelapan. Ruangan itu tampak gelap dan suram. Apalagi semakin masuk ke dalam, mulai tercium aroma amis dan tidak sedap.
" tempat apa ini?" cicit Jemina yang semakin ragu dan takut.
" tempat aku menyiksa seseorang" jawab Louis seakan bangga. Jantung Jemina semakin berdegup kencang, hal mengerikan apa yang dia lihat nanti.
" jangan takut sayang, selama kau tidak bersalah kau akan tetap aman"
Jemina ingin sekali pergi dan melepaskan rangkulan paksa Louis. Dia ragu jika Louis hanya mengajak nya melihat penyiksaan Ivon. Apa mungkin Louis memiliki rencana untuk menyiksanya juga. Tidak, dia harus menjaga sikapnya selama di sini. Jangan sampai menyinggung atau melakukan kesalahan. Keselamatan nya sedang terancam.
Mereka sampai di depan pintu usang. Pengawal pribadi Louis segera membuka mempersilakan junjungannya masuk.
" kita sudah sampai" bisik Louis yang mengagetkan Jemina.
bugh bugh
suara seseorang memukul terdengar dari luar.
Jemina masuk dan dia melihat kengerian yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
" mau kemana sayang?" tanya Louis saat Jemina mencoba melepaskan diri. Lelaki itu sudah berjaga-jaga dengan memeluk erat pinggang Jemina. Dan setelahnya meminta pengawal nya menutup pintu.
" kau masih bisa mengenali nya bukan?" Louis semakin mendekat ke arah seseorang yang tergantung dengan kedua tangannya terikat rantai menjuntai ke bawah. Mulutnya tertutup dan badannya basah dengan darah.
" ap..apa yang kalian lakukan padanya?" lirih Jemina sambil menutup mulutnya karena ingin muntah.
" hanya menanyainya saja " jawab Louis santai. dia akhir nya melepaskan rangkulan nya. Namun Jemina tetap tidak bisa pergi, pintunya di tutup dan di jaga. Dia hanya bisa melangkah mundur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments