Sembunyi

Selepas para polisi pergi Jemina terdiam di dalam kamar. Tidak tau harus melakukan apa. Dia ingin sekali melihat bagaimana keadaan jasadnya lalu menguburkan dengan layak. Namun caranya masih belum ketemu.

Pagi hari, kepala pelayan pergi bersama dengan anak bua polisi untuk melihat jasad yang mereka maksudkan.

" ini sisa pakaian yang terkoyak" sambil membuka kain penutup.

" lalu ini adalah jasad yang akan kau lihat"

kepala detektif membawa pelayan itu masuk ke ruangan khusus. pelayan itu sampai menutup hidungnya karena bau busuk dari jasad. Melihat sisa pakaian saja sudah membuat pelayan itu bergidik ngeri. apalagi melihat jasad yang sudah tidak utuh. Dia ingin mundur tapi tidak memiliki alasan. mau tak mau pelayan itu membuka kain penutup dan melihat wajah jasad yang di maksud.

" astaga..." pekik Pelayan itu dan langsung mundur. Wanita tua itu ketakutan.

" huekk huekk" tak lama rasa mual membuncah dari perutnya.

" bagaimana, kau bisa mengenali nya?" tanya kepala detektif.

Pelayan itu masih syok belum bisa menjawab, tangan dan kaki nya gemetar saking takutnya. Tak pernah dia membayangkan melihat jasad dalam kondisi yang begitu mengenaskan.

" jika belum yakin, kau lihat lagi dengan teliti" tegas kepala detektif.

" em.. itu.. itu.. sepertinya benar Jemina"

" kau yakin?"

" iy.. ya.. saya yakin" jawab Pelayan itu dengan sedikit terbatas-bata.

" kalau begitu, apa kau tau dimana keluarganya?"

pelayan itu menggeleng, sambil berusaha menjaga jarak agar tidak mencium bau busuk.

" yang aku tau, dia tidak memiliki keluarga, dia.. "

tok tok tok

ada polisi di ambang pintu yang terbuka.

" Duchess Winston mencari anda tuan" ucapnya pada kepala detektif.

" persilahkan dia masuk kemari"

pelayan wanita itu keheranan tumben sekali Cassandra mau masuk ke tempat seperti ini.

tap tap tap

" Duchess silahkan.."

" aku ada urusan di sekitar sini, jadi sekalian mampir..",ujar Cassandra yang terus melangkah mendekat.

" anda ingin lihat jasadnya?" tawar kepala detektif.

"tidak perlu nyonya, kondisinya sangat.." jawab pelayan yang tau betul bagaiman Cassandra yang selalu jijik dengan benda kotor.

" boleh saja, '' potong Cassandra enteng. pelayan itu terdiam tak percaya. Nyonya ini mimpi apa sampai bersedia repot-repot melihat jasad pelayan.

 Kepala detektif mengulurkan tangannya dan membuka kain putih penutup mayat.

Jemina langsung menutup mulutnya tak percaya kondisi jasadnya sangat mengerikan. betul-betul tidak seperti dirinya.

" apa benar ini mantan pelayan anda?" tanya kepala detektif setelah menutup kembali kain putih.

" sepertinya begitu.. " jawab Jemina lemah.

" apa Duchess mengetahui siapa keluarga nya?" pertanyaan yang sama.

" tidak, dia tidak memiliki keluarga" jawab Jemina yakin. Dan tentu saja dia berbohong. Dia tidak sampai hati jika keluarga nya mengetahui bagaimana kematiannya. Mereka pasti sedih dan terluka. tidak, jangan sampai ada yang tau.

" mari nyonya,.." Kepala pelayan membantu Duchess keluar dari ruangan mayat. Dan keduanya langsung kembali ke kediaman.

Jemina kembali termenung di depan jendela kamarnya. wanita itu duduk tanpa melepas pakaian luarnya.

" nyonya.." Helena meletakkan minuman hangat. sejak kembali nyonya tidak berkata apapun. terlihat tidak memiliki semangat.

" ini minuman anda", Helena memberikan cangkir dengan pelan.

Jemina menerima dengan tatapan kosong, lalu meminumnya pelan. Dia masih syok dan belum tenang.

" nyonya ingin makan apa?"

" tidak, pergilah"

" baik, nyonya" Helena menangkap jika Cassandra sedang sedih. Sangat jarang sekali terjadi.

tok tok tok

Belum juga Helena keluar, pelayan kediaman datang mengetuk.

" ada surat untuk nyonya.."

Helena segera membawa surat itu ke tangan Jemina. Wanita itu membuka.

" Mr. Frank mengirim apa?" tanya Helena yang sepertinya sudah hafal dari amplop serta stempel yang tertera.

" dia mengajukan Pertemuan keluarga jadi malam ini" jawab Jemina, Frank adalah ayahnya, dulu yang dia tau hubungan keluarga Cassandra terbilang sedikit tertutup. Selalu saja rutin mengadakan pertemuan keluarga, namun setelah membaca tulisan Helena dia sekarang paham. Antara keluarga Cassandra adalah saling bersaing. Keluarga Dixon benar-benar menyebar dan menduduki posisi yang cukup penting, meskipun tidak secara politik. Namun nama Dixon sudah tersebar di seluruh ibu kota akan keturunan nya yang pintar dan kaya.

" malam ini? saya akan segera menyiapkan gaun anda" Helena tergesah lalu keluar kamar.

Kereta kuda baru saja sampai di pelataran Kediaman Dixon. Penjaga serta pelayan langsung melayani dengan baik. Louis berjalan lebih dahulu, lelaki itu sejak tadi menggerutu karena undangan yang mendadak. Bahkan dia sudah mengatakan jika akan pulang lebih dulu sebelum pertemuan selesai.

" Duke dan Duchess Winston, selamat datang" sambut Lord Harry, kakak Cassandra. lelaki itu menyalami Louis dengan erat.

" bagaimana kabar anda Lord Harry?" tanya Louis basa basi.

" masih sama, hanya menjalankan bisnis saja"

" harga kapas masih sama?"

" lumayan, ada kenaikan sedikit"

Jemina hanya diam saja, Cassandra tidak akur dengan kakaknya ini. Itu yang tertulis.

" aku masuk dulu" ujar Jemina setelah beberapa saat mendengarkan obrolan tidak penting. Dia akan menemui ayahnya untuk memberikan salam.

" Mr, Frank di sana nyonya" ucap Helena yang di minta ikut masuk oleh Jemina.

Jemina berjalan mendekat.

" ayah.. " panggil Jemina. Lelaki separuh itu duduk di meja utama, menatapnya datar.

" Jelaskan berita bodoh yang aku dengar" jawab Mr. Frank dengan nada marah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!