Hari pemakaman Jemina akhirnya tiba, seperti yang sudah Jemina perintahkan pada Helena. Jasadnya sedikit di perlakukan dengan baik. Meski Jemina tidak terang-terang an mengatakan untuk menghadiri acara pemakaman itu, namun wanita itu tidak mungkin melewatkannya begitu saja. Dengan dalih menghindari kecurigaan Jemina ikut pergi ke pemakaman namun sama sekali tidak keluar dari kereta. Wanita itu menyaksikan dari jendral kereta yang terbuka lebar. Sedangkan Helena berdiri di depan pintu masuk.
Acara pemakaman terlihat lancar, tidak ada gangguan sama sekali. Ya mereka yang datang kebanyakan adalah orang-orang miskin yang di bayar oleh Helena. agar pemakaman lebih terasa nyata, dan tentu saja semua ini atas keinginan nyonya nya.
Hampir saja Jemina meminta pergi saat dia melihat sosok lelaki yang berdiri bersandar di salah satu pohon. Jemina mengenali lelaki itu, dan berniat menemuinya.
" nyonya, mau kemana?" tanya Helena saat pintu kereta terbuka.
" itu, " matanya mengarah pada lelaki yang Jemina maksud.
" Jangan menemui Ivon lagi nyonya, dia tidak.. "
" sebentar saja" Jemina keras kepala. Apalagi saat sudah tau mana lelaki itu.
Sebenarnya suasana pemakaman sudah sepi, para pelayat bayaran sudah pergi. Tidak terlihat Seseorang yang memantau mereka di sini, namun Helena tetap khawatir. Takutnya ada seseorang yang menyebarkan skandal buruk mengenai hubungan nyonya nya dengan lelaki Ivon itu.
" siang Duchess cantik ku..." ucap Ivon saat Cassandra sudah dekat.
" apa kau yang mengatur nya?" tanya Jemina mencari kebenaran.
" tentu saja, Duchess. Aku akan melakukan apapun demi melindungi anda. tidak akan ada yang mengetahui rahasia kecil ini" bisik Ivon di akhir kalimatnya, bahkan sambil menyeringai genit pada Jemina.
" baguslah," Jemina mengangguk cepat, dia mulai emosional melihat respon Ivon.
" tapi nyonya, bayarannya perlu di naikkan. Pekerjaan ini..."
" katakan saja" singkat Jemina. Dia berusaha keras untuk tidak mencekik lelaki di depannya ini.
" nyonya..." Helena mendekat dan memanggil Cassandra.
" kita harus pergi" lanjut Helena, dia tidak senang nyonya terlalu lama berinteraksi dengan Ivon lelaki brandal.
" kau bisa menemui Helena untuk upah nya" singkat Jemina lalu berjalan menuju kereta. Untung saja Helena datang jika tidak, kesabaran nya mungkin akan lebih dulu habis dan malah menyerang lelaki bejad itu.
" maaf nyonya, mulai sekarang semua yang berhubungan dengan Ivon bisa melalui saya saja. Saya khawatir jika ada Seseorang yang melihat nanti..."
" ya, atasi lelaki itu " singkat Jemina sambil meredakan emosi nya.
Beberapa saat kereta sampai di kediaman. Jemina langsung menuju ke kamar. Dia mengunci pintu lalu berjalan menuju pemandian.
" brengsek...!" teriak Jenima melepas paksa gaunnya. Wanita itu mengelap tubuh nya dengan keras. Meski bukan tubuh ini yang di jamah lelaki itu, namun tetap saja Jemina merasa jijik mengingat bagaimana Ivon memaksanya malam itu.
srek
Gaun itu sobek di beberapa bagian, dan setelah berhasil melepaskan diri. Jemina langsung masuk ke bak mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin sambil terus menggosok bagian tubuhnya yang terada kotor.
" hiks hiks hiks, aku akan membunuhnya.. aku akan membunuhnya!.." isak Jemina mengeluarkan rasa trauma yang begitu menyakitkan bagi nya.
Malam hari datang dengan cepat, Jemina tengah duduk menikmati makan malam bersama dengan Louis. Meja itu begitu ramai berkebalikan dengan suasananya yang sepi. Tak ada pembicaraan sama sekali. Sampai Louis mengingat sesuatu.
" aku dengar kau pergi ke pemakaman pagi ini?"
" iya" jawab Jemina singkat.
" siapa lelaki Itu?" pertanyaan kedua Louis ini membutuhkan beberapa saat sampai Jemina mengerti maksudnya.
" bukan siapa-siapa"
Louis pasti mendapatkan laporan dari seseorang.
" berani kau bermain api dan membuat masalah. aku pastikan kau menyesal"
" bermain api? berselingkuh maksudmu? hahaha. aku tidak seperti mu Louis" balas Jemina kesal. Dia juga sedikit terprovokasi dengan ancaman Louis.
Louis langsung mengetatkan rahangnya tidak terima.
" aku bisa melakukan apapun pada lelaki itu, ingat itu" Louis membanting sendok lalu pergi dari meja makan.
Louis berjalan penuh dengan kemarahan, Cassandra tidak pernah menantangnya atau bahkan mempermasalahkan hubungannya dengan Pamela. Kenapa akhir-akhir ini dia mengalami banyak sekali perubahan. Cassandra selalu meminta maaf dan mengais perhatian nya jika dia kedapatan dekat dengan seorang lelaki.
Pagi ini, malah terlihat Cassandra menantang dan memperjelas hubungannya. Tidak akan Louis biarkan reputasi nya di hancurkan oleh Cassandra.
" nyonya, kenapa anda tidak minta maaf pada tuan?" tanya Helena sepeninggal Louis.
" untuk apa? aku tidak melakukan apa yang dia tuduhkan"
" tapi nyonya, ini masalahnya dengan Ivon, bagaimana jika tuan bertindak buruk dan membuat kejadian malam itu terbuka"
" apa Louis pernah menyiksa seseorang sebelumnya ?" Jemina malah tertarik dengan hal lain.
" maksud nyonya?"
" apa Louis pernah menyakiti seseorang?" tanya Jemina lagi mendesak jawaban dari Helena.
Helena berfikir sejenak, bagaimana harus mengatakannya.
" yang saya tau, tuan bisa bertindak sesuka hatinya jika sudah marah" jawab Helena setengah kebingungan dan cemas.
Namun jawaban Helena malah membuat Jemina tertantang, mungkin kemarahan Louis bisa dia manfaatkan untuk membalas dendam pada Ivon. kalaupun rahasianya terbongkar dia tidak takut, dia juga akan mengatakan yang sebenarnya pada semua orang.
" baiklah" jawab Jemina dengan nada senang.
Pagi harinya Jemina meminta Helena mengantarkan ke tempat dia menemui Ivon.
" saya rasa tidak perlu nyonya, bagaimana jadinya jika tuan mengetahui hal ini" Helena sangat cemas dengan tindakan nyonya nya yang terlalu berani.
" tuan tidak akan tau jika kau tidak berisik. sekarang naik kereta dan antar aku ke sana. Tenang saja kaulah yang akan menemui lelaki itu" rayu Jemina.
" tapi nyonya.."
" sudah jangan terlalu takut"
" baiklah nyonya" Helena hanya bisa pasrah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
alphaa
lanjut Thor 😋🔥🔥🔥🔥🔥
2024-05-18
1