Menunggu

Ivon berjalan menaiki tangga menuju ke lantai paling atas. Lelaki itu tidak tau bahaya apa yang sedang menghampirinya. Dengan langkah tidak seimbang, akhirnya Ivon sampai di depan pintu kamar.

klek.. klek

pintu terkunci. Padahal lelaki itu ingin langsung masuk saja. Siapa tau dia memiliki kesempatan untuk mengambil barang berharga di sana.

tok tok tok

Ivon mengetuk pintu dengan agak keras, mengira seseorang di dalam sana sudah terlelap. Padahal di dalam sana Jemina sedang menunggu penuh kecemasan. Bahkan suara pintu saja sudah begitu membuatnya terlonjak kaget.

Jemina menatap pintu dengan tatapan gusar, antara membuka atau tidak. Melanjutkan rencananya atau tidak.

tok tok tok

" tuan, nyonya" Ivon mengetuk sembari memanggil. Jemina perlahan beranjak dan berjalan pelan menuju ke arah pintu.

Ivon mulai kesal, karena pintu tak kunjung terbuka. Apa mungkin dia salah kamar?, tidak mungkin. Dia tau benar jika kamar di depannya adalah kamar paling mahal dan terluas di penginapan ini.

 tok tok

Ceklek

pintu terbuka membuat tangan Ivon tergantung di udara, celah pintu terbuka menarik kedua mata lelaki itu untuk mencari tau siapa dalang nya.

" Duchess.." lirih Ivon tidak percaya. Wanita pujaan hatinya lah yang telah mengundang nya kemari.

" masuklah" lirih Jemina, menambah celah pintu yang terbuka.

Seperti mendapat durian runtuh, Ivon sangat beruntung malam ini. Tak perlu banyak berfikir lagi lelaki itu melangkah mantap masuk sambil senyum mengembang. Tak lupa Jemina menutup pintu tanpa perlu menguncinya.

" saya tidak menyangka anda lah yang berada di dalam. kalau saja anda berterus terang mungkin saya bisa membenahi sedikit penampilan sederhana saya" mulut Ivon begitu sopan terdengar, namun tidak dengan matanya. Terselimuti dengan embun birahi. Otaknya penuh dengan kilasan kenikmatan yang dia pikir akan dia lalui bersama dengan Duchess Winston.

" aku hanya tidak ingin membuat kecurigaan. Yang penting kau benar-benar datang membawa botol anggur" balas Jemina memprovokasi Ivon untuk salah paham. Semakin lelaki itu berfikir kotor semakin lancar pula rencananya.

" apa anda begitu merindukan saya" Ivon melangkah maju mendekati sang pujaan hati.

" jangan terburu-buru, bagaimana jika kita mulai dengan beberapa gelas anggur" Jemina berjalan ke arah meja. Lalu mengeluarkan dua gelas cantik, sambil menatap ke arah Ivon lengkap dengan senyum tipis.

Ivon seakan melihat bidadari turun di hadapannya, mimpi apa dia sampai Duchess Winston mau bermesraan berdua dengannya.

" apapun yang membuat anda nyaman Duchess" Ivon benar-benar tahkluk di bawah pengaturan Jemina.

Jemina menarik salah satu kursi, mengundang Ivon untuk segera duduk di sana. Ivon bahkan tak berkedip saat Jemina berusaha membuka tutup anggur itu. Lelaki itu benar-benar terpesona akan kecantikan Cassandra.

Sedangkan di sisi lain, Louis beserta beberapa pengawalnya sudah sampai di depan pintu masuk penginapan. Duke tidak langsung masuk, melainkan pengawalnya yang dia tugaskan untuk mencari tau kebenaran keberadaan Cassandra di sana.

" kemari" ucap pengawal itu pada penjaga penginapan. Wanita itu dengan sedikit gementar segera berjalan mendekat.

" ada yang bisa saya bantu tuan-tuan?"

" apakah Duchess Winston merupakan tamu di sini?" tanya pengawal itu dengan tegas.

" emm.. itu.. itu" penjaga itu menimbang lama, pasalnya dia sudah menerima uang tutup mulut dari Jemina sebelum wanita itu masuk.

" katakan ! atau kau ingin berurusan dengan Duke.."

" baik.. baik saya katakan. Duchess memang menjadi tamu malam ini.." penjaga itu lebih memilih untuk menyelamatkan nyawa dan sumber hartanya.

" di mana Duchess berada?"

" di .. Di lantai atas, pintu warna merah" wajah penjaga itu sudah penuh dengan keringat dingin. Jangan sampai terjadi hal buruk di penginapan, takutnya pelanggan akan menghindar dan tidak mau lagi menggunakan penginapan miliknya.

Salah satu pengawal segera keluar dan menemui Duke Winston.

" Tuan, nyonya ada di lantai atas" ucap pengawal yang seketika memantik emosi Louis. Dengan wajah garangnya Louis masuk dan berjalan menuju kamar yang di maksud.

Perasaan nya penuh dengan amarah, Louis mengira jika Cassandra tidak akan melakukan hal sehina ini. Namun malam ini istrinya berhasil menyalakan api cemburu dan rasa tak terima yang begitu besar di hati Louis.

penjaga penginapan segera melindungi diri saat Duke Winston beserta beberapa pengawalnya menaiki tangga. Sampai-sampai beberapa pelanggan penginapan yang tak sengaja berada di teras langsung berdiri dan tegang saat berjumpa dengan rombongan Louis.

" dobrak pintunya" ucap Louis pelan namun lugas saat sampai di depan pintu berwarna merah. Padahal pintu itu sama sekali tidak terkunci

" baik tuan"

brak brak, dalam dua kali percobaan tentu saja langsung berhasil.

Pintu terbuka, 2 sejoli di dalam kamar menatap ke arah pintu dengan sangat terkejut. Khususnya Ivon. Lelaki itu tengah berada sangat dekat dengan wajah Cassandra.

melihat Duke Winston di depan matanya saat dia sedang berlaku tidak sopan pada Duchess, rasanya jantung nya mau copot. Detaknya tidak stabil, aliran darahnya mengalir cepat bahkan tubuhnya seakan kaku mendadak.

Jemina segera menjauh dari tubuh Ivon, Aura Louis yang begitu kuat langsung menciutkan keberaniannya.

plok plok

" bagus.. bagus sekali " Louis berjalan masuk dengan santai, langkahnya pelan namun pasti.

" duk.. Duke.. Wins..ston.. Say.. saya bisa menjelaskan .. semua ini.." Ivon tergagap saking takutnya. Kakinya bergetar tak kuat menopang tubuhnya.

" kau,, berani sekali menggoda Duchess" Lanjut Louis yang sudah duduk di atas kursi yang baru saja di ambilkan oleh salah satu pengawalnya.

" tidak.. tidak Duke.. anda pasti salah paham" Ivon segera bersimpuh berharap bisa meredam kemarahan Duke. Lagipula kaki nya juga sudah lemas sejak tadi.

" salah paham? ahahahaha lucu sekali" Louis tertawa sumbang malah membuatnya semakin terlihat menakutkan.

Sedangkan Jemina yang tengah berdiri menempel pada tembok sudut ruangan terdiam sambil meremas kedua tangannya sendiri. Tidak di sangka Louis se menakutkan ini saat marah.

" aku tidak bodoh Ivon, apa kau tengah meremehkan ku?"

" tidak.. saya tidak berani" ujar Ivon cepat sambil menggelengkan kepalanya berkali- kali.

Kini tatapan Louis teralihkan pada sosok istrinya yang berdiri tak jauh darinya. Tak ada pembelaan apapun dari wanita itu yang malah membuat Louis semakin kesal.

" urus dia" lirih Louis pada pengawalnya sambil beranjak berdiri.

" tidak..tidak.." Ivon disergap rasa takut saat pengawal membawa kain hitam serta tali ke arah nya. Dengan mudah Ivon di ringkus, mulutnya tersumpal dan tangannya terikat.

manik Jemina menatap tak percaya, bagaimana cepatnya mereka membawa Ivon pergi tanpa menimbulkan keributan sama sekali.

" mengkhawatirkan nya?" tanya Louis berdiri di depan istrinya dan tentu saja menghalangi pandangan Jemina ke arah Ivon.

" Lou..Louis, kenapa kau disini?" cicit Jemina yang ternyata tidak berani menghadapi kemarahan Louis.

" kau pikir untuk apa? kau berharap aku diam saja saat kau sudah berkali-kali aku ingatkan untuk tidak bermain api, heum?" Louis semakin mendekat membuat posisi Jemina semakin terpojok.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!