Kebenaran Pamela

Malam yang begitu panjang bagi Jemina, tubuhnya masih polosan di bawah selimut putih. Raganya kelelahan karena aksi Louis semalam. Jemina menjadi berfikir apa karena Louis yang benar-benar marah sampai lelaki itu begitu menuntut dan memaksanya. atau jangan-jangan memang seperti ini Louis melakukannya. tak pernah terfikirkan jika dia akan melewati malam bersama dengan Louis, lelaki terpandang dan kaya raya dalam situasi yang sulit untuk dijelaskan.

Jemina merasakan pergerakan di area perut dan pinggang nya. Tubuhnya kembali menegang, perlahan lehernya merasakan hembusan nafas, lalu sedetik setelahnya kecupan mendarat di sana.

" em.." suara serak Louis saat berganti posisi. mengelus perut istrinya pelan. Jemina tidak terbiasa dengan hal semacam ini, benar-benar tidak nyaman.

" aku mau turun" cicit Cassandra. Namun tak ada jawaban. Louis malah semakin menarik Jemina dalam pelukannya. Apalagi kini tangan lelaki itu merayap semakin ke atas.

" Louis... " Jemina menahan lengan Louis.

" emm... " Louis tidak mau. Dia lebih seenaknya memainkan anggota tubuh Cassandra.

" Louis hentikan, aku mau turun " tolak Jemina.

" diamlah.. atau.."

" aku bukan pelacur mu Louis" kesal Jemina dengan sikap Louis yang merendahkannya sebagai wanita. Sekali lagi Jemina tidak memikirkan jika saat ini dia adalah Cassandra, istri sah lelaki yang semalam meminta kepuasan padanya.

" lucu sekali Cassandra... apa kau lupa dengan ucapan mu sendiri?"

Jemina berbalik badan menjadi terlentang menatap Louis yang sudah menyangga kepalanya dengan tangannya.

" apa maksud mu?"

" ck ck ck, kau tidak mau mengakuinya. Malam itu kau sendiri yang mengais perhatian ku, mengiba tidak mau di ceraikan. bahkan menjadi pelacur ku kau sangat bersedia. Selama bisa tinggal di kediaman Winston, apapun akan kau turuti. Termasuk hubunganku dengan Pamela. bagaimana sudah ingat?"

Jemina tidak menyangka Cassandra rela berbuat seperti itu.

" itu.. itu kan dulu. sekarang aku sudah bosan" Jemina berbalik dan mencoba turun dari ranjang.

" tidak semudah itu Cassandra" Louis menahan tangannya menariknya menjadi terlentang lagi.

" kau sudah berjanji akan menuruti ku" lanjut Louis sambil kembali meminta kepuasan. Meski terus menolak Jemina tidak bisa melawan keinginan Louis. Tubuhnya masih lemas namun Louis tidak perduli. Lelaki itu kembali meminta hak nya.

Hingga menjelang siang barulah Jemina bisa masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Jangan tanya dimana Louis, lelaki itu sudah tiada sejak Jemina membuka matanya. Ya, wanita itu tertidur beberapa jam setelah kegiatan panas mereka pagi ini.

" nyonya" sambut Helena saat Jemina membuka pintu kamar. Jemina menatap dengan tatapan marah, dan langsung memalingkan wajahnya. Dia hanya ingin menyalurkan emosinya saja.

Jemina merasa tidak nyaman saat menuruni tangga dan menaiki kereta. Namun dia tidak berani mengatakan.

" ada apa nyonya?" tanya Helena yang melihat raut wajah Jemina yang aneh.

" tidak" jawab Jemina ketus.

hingga sampailah mereka di kediaman Winston.

" tuan ada tugas di luar kota, ini dari tuan untuk nyonya, " salah pengawal mendekat dan memberikan sebuah kotak. Jemina segera menatap Helena, pelayan itu membawakan sebelum mereka masuk ke lorong lantai 2 menuju kamar.

Jemina melanjutkan langkahnya.

" nyonya..." Helena memanggil Jemina sejak tadi namun tidak di dengar. Jemina sibuk melepaskan baju luarannya sendiri.

" nyonya, kotaknya saya taruh di atas meja rias" ucap Helena sambil membantu Jemina melepaskan baju.

" em.. bawa kemari" Jemina baru duduk di sofa singel. Dia ingin tau, benda apa yang di kirim Louis. Jika di lihat, apa mungkin perhiasan.

" ini nyonya.. "

Akkk

bugh

Jemina langsung melempar kotak itu.

" nyonya..." Helena ikut menghindar sambil menutup mulutnya.

" bawa pergi, !" teriak Jemina.

huek huek

Wanita itu berlari menuju pojok ruangan.

Helena memanggil pelayan untuk membersihkan serta membereskan kotak serta isinya.

" nyonya, ini minum dulu" Helena memberikan segelas air putih. Jemina masih merasakan mual, wanita itu meminum sedikit.

" nyonya tidak apa-apa?" Helena ikut panik.

" apa yang Louis berikan itu? dia sudah gila?" amuk Jemina. Bagaimana tidak, benda yang di berikan Louis adalah potongan telinga manusia lengkap dengan darahnya.

" saya juga tidak percaya"

" apa lantai nya sudah bersih?"

" sudah nyonya.."

Jemina meminum lagi, kali ini sampai habis. Wanita itu mengatur nafasnya. Seperti dia tau siapa pemilik telinga itu. Tak salah lagi, pasti Ivon. Louis benar-benar tidak melepaskan lelaki itu. Ini artinya rencana meminjam tangan Louis telah berhasil.

" kapan Louis kembali?"

" akan saya tanyakan pada pengawal "

" katakan, aku ingin tau dimana pasangannya"

" maksud nyonya.."

" katakan saja pada mereka"

" baik nyonya" Helena meninggalkan Jemina di kamar sendiri. memikirkan bagaimana keadaan Ivon saat ini, apakah masih hidup atau sudah lewat. Dia ingin menyaksikan sendiri bagaimana tersiksanya lelaki bejat itu dalam akhir hidupnya.

Malam datang begitu cepat, Jemina sengaja makan malam di luar kamar meskipun hanya sendiri.

" bagaimana, kau sudah mencari tau?" tanya Jemina sambil mengunyah makanan nya. Dia duduk di balkon taman samping. Sambil menikmati angin malam, setidaknya hal ini membuatnya lebih berselera melihat makanan ini.

" besok lusa tuan sudah kembali nyonya, dan mengenai pasangannya, nyonya bisa menunggu sampai tuan kembali"

" kemana perginya Louis?"

" tuan pergi bersama dengan pangeran Arthur"

" kau yakin, mereka tidak sedang berbohong"

" sepertinya tidak nyonya, memangnya menurut nyonya, tuan sedang pergi kemana?"

" entahlah. siapa tau bersama dengan si Pamela itu"

" nyonya kenapa akhir-akhir ini begitu mempersoalkan tentang Lady Pamela?"

" kau fikir aku harus bagaimana?"

" bukankah dengan adanya Pamela, anda memiliki pilihan tentang pewaris"

Jemina menghentikan sejenak ritual makannya. Dia tidak ingat Helena menulis masalah Pamela di kertasnya. Apa benar, hubungan Louis dan Pamela sudah mendapatkan izin dari Cassandra. Jemina rasa Cassandra adalah wanita dan istri paling bodoh di dunia. Membiarkan saja suaminya bertindak semena- mena, bahkan seakan menginjak harga dirinya sebagai istri. Ternyata Cassandra tidak sekuat itu.

" maksudmu?" tanya Jemina dengan wajah sedikit marah.

" maafkan saya nyonya, tapi saat itu nyonya sendiri yang mengatakan jika mengizinkan tuan memiliki hubungan dengan wanita lain, asal bayi mereka akan menjadi milik anda" cicit Helena, takut dengan ekspresi Jemina yang tajam.

Jemina mengambil nafas panjang, banyak sekali hal yang tidak dia mengerti dari hidup Cassandra. Apa yang wanita itu cari, satu sisi dia adalah wanita kejam dan jahat. Namun sisi lain dia begitu lemah dan Menyedihkan. Apalagi kehidupan rumah tangga serta dalam keluarga besar nya.

" akhir-akhir ini aku mulai goyah. Sepertinya aku keliru tentang pemikiran itu. Aku tidak mau hidup seperti ini terus menerus" kilah Jemina agar Helena tidak curiga.

" anda memang terlihat sedikit berbeda, namun ini juga demi kebaikan anda nyonya. Saya rasa sudah saat nya anda membalas perlakuan tuan dan Lady Pamela" Helena mendukung keputusan Jemina.

" apa kau memiliki saran?" Jemina ingin menggunakan otak jahat Helena. Semakin lama dia juga merasa saat ini peran Helena sedikit membantunya.

" ada nyonya.." jawab Helena dengan senyum licik.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!