Nafas Jemina tiba-tiba terasa sesak. Semakin sesak seirama dengan langkah Louis yang semakin dekat.
" bukankah kita sama?" Jemina berusaha terlihat percaya diri, namun tidak menghilangkan tingkah terintimidasi karena tatapan Louis.
" tidak sayang, aku tidak suka" tubuh Jemina meremang mendengar kata sayang Louis namun dengan wajah garang. Lelaki itu kini hanya berjarak beberapa langkah di depannya. Di balik punggung lelaki itu adalah posisi pintu kamar yang sudah tertutup. Jemina menelan Saliva nya dengan kasar, menyadari jika apapun yang Louis akan lakukan padanya, dia tidak akan bisa mendapatkan pertolongan.
separuh pengawal sudah membawa pergi Ivon, sedang yang lainnya terjaga di depan kamar.
" kenapa? bukankah kau sudah memiliki Pamela? aku tidak perlu..."
" tidak perlu apa? apakah ini alasan mu berhenti meminum ramuan serta tidak lagi datang kemarin malam?" lirih Louis dengan tatapan yang begitu tajam. Tubuh Jemina mendadak panas dingin, begitu kuat aura Louis pada tubuh Cassandra. Lelaki itu pasti mengungkit masalah air belerang dan rutinitas Cassandra pada pekan 2 dan 3 setiap bulannya.
" bu..bukan seperti itu" sekuat-kuatnya tekad Jemina saat awal tadi, kini berbanding terbalik. Dia tidak bisa mempertahankan keberaniannya. Entah apa mungkin karena ini bukanlah tubuh aslinya jadi Jemina tidak bisa mengatur reaksinya. Atau memang dia tidak seberani itu.
" katakan saja. aku ingin mengetahui apa yang sedang kau rencanakan?"
" aku tidak merencanakan apapun, " cicit Jemina.
tok tok tok
pintu di ketuk oleh pengawal pribadi Louis.
Jemina mengambil nafas sedalam-dalamnya saat Louis berjalan menjauh. Lelaki itu mendekati pintu dan membukanya sedikit. Kesempatan ini di gunakan Jemina mengambil botol anggur dan menyembunyikan nya di belakang tubuhnya.
" tuan, ini" pengawal itu memberikan sebuah botol berisi minuman.
Louis langsung menutup pintu begitu menerima botol tersebut. Jemina kembali menempelkan tubuhnya di tembok.
" apa itu?" curiga Jemina, jelas itu bukan minuman biasa.
Louis sama sekali tidak menjawab, lelaki itu mendekati meja yang berada tak jauh dari posisi Jemina berada.
" kau akan mengetahuinya nanti" ucap Louis sambil menuang minuman berwarna merah. Sekilas tampilan air itu sama seperti anggur biasa. Tapi kenapa harus pengawal Louis yang membawanya, Jemina sangat curiga dengan minuman itu.
" minumlah, anggap saja malam ini kita akan bersenang-senang" Louis terlihat berbeda di mata Jemina. Saat dulu menjadi pelayan, tuan Louis terlihat sangat kaku dan disiplin. Termasuk lelaki yang penuh etika, namun kenapa malam ini terlihat berbeda. Belum pernah Jemina melihat sisi Louis yang seperti ini.
Jemina melangkah pelan dan hati-hati, botol anggur yang dia bawa masih tersembunyi di genggamnya erat. insting bertahan hidupnya langsung muncul karena merasa terancam. Jemina tidak lagi memperhitungkan jika saat ini dia adalah Cassandra. Louis tampak mengerikan.
" minumlah" ujar Louis saat istri nya sampai di sebrang meja.
Jemina melepas satu tangannya, mengalihkan perhatian Louis. Mengambil gelas yang berisi anggur.
Louis mengira Cassandra sudah menurut, hampir saja dia tertipu saat ekor matanya melihat pantulan benda di belakang tubuh sang istri.
Jemina langsung melayangkan pukulan dengan botol anggur. Sayangnya gerak Louis begitu cepat, apalagi lelaki itu sudah mengantisipasi sebelumnya.
pyar.
botol terhempar jatuh mengenai lantai tepat di sebelah kaki Louis. Mata lelaki itu menatap tak percaya dengan perbuatan Cassandra.
melihat rencana nya gagal, Jemina langsung berlari menuju pintu.
" Cassandra!" teriak Louis yang dengan mudahnya menggapai tubuh istrinya dan menahan tubuh kecil itu.
" kau benar-benar!"
" lepaskan aku" Jemina memberontak, tak kala Louis mengangkat tubuhnya mendekati ranjang.
" tidak Cassandra,, kau sudah melewati batas" balas Louis.
Lelaki itu menurunkan istrinya di tepi ranjang. Jemina di sergap rasa takut saat Louis terlihat berusaha membuka pakaiannya.
" tidak!" tolak Jemina sambil terus memukul tubuh besar Louis.
Saking bertubi-tubi perlawanan Jemina, Louis mendorong tubuh istrinya sambil terlentang dan dia berada di atasnya.
" apa kau sudah sering melakukannya dengan lelaki lain? hah?!. " Louis menahan kedua tangan Jemina dibatas kepala. tidak membiarkan wanita itu menang.
" tidak, aku tidak pernah" jawab Jemina jujur saking takutnya jika Louis bertambah marah. Jemina merasa tertekan, wajahnya pias bahkan air matanya sudah ingin keluar.
" jawab dengan jujur!" teriak Louis kesetanan. Dia akan melakukan hal buruk pada semua lelaki itu dan tentu saja pada istrinya juga.
" tidak Louis. aku bersumpah tidak pernah sekalipun tidur dengan lelaki lain.. hiks" Jemina benar-benar sudah tidak tahan. dia gemetar, Louis sudah seperti singa yang mengamuk.
" jangan pernah membiarkan orang lain menjamah tubuh ini selain aku. mengerti?!"
" iya.. iya Louis"
lelaki itu memulai aksinya dengan mendekatkan wajahnya pada leher Jemina. Jemina memberikan penolakan sebisanya. Tangannya terkungkung sedang tubuhnya terhimpit Louis dan ranjang.
" kau tidak pernah menolak ku sebelumnya, apa alasan mu menangis malam ini Cassandra?"
" hiks, hiks" isakan itu semakin keras saat Louis semakin menuntut dengan tubuhnya.
" tunaikan kewajibanmu malam ini" bisik Louis tepat di telinga kanan Cassandra. Jemina yang mendengarnya, langsung gemetar ketakutan. Dia menyesal, tidak berfikir jika Louis akan senekat ini.
" hiks, hiks.. tid..."
baru saja Jemina ingin menolak namun bibirnya sudah tersumpal benda lembut dan kenyal milik Louis. lelaki itu menciumnya dengan paksa.
Jemina tak bisa melakukan apapun, kekuatan Louis jauh lebih besar darinya. Malam itu pertama kalinya dia melayani Louis sebagai seorang Cassandra.
pengawal di depan kamar, sayup-sayup mendengar suara gaduh di dalam. Namun mereka tidak melakukan apapun. Mereka jelas paham apa yang dilakukan tuannya pada Duchess.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
riiina
kalau Cassandra asli malah nungguin hal ini...
2024-06-20
0