episode-19

"A-apakah ibu mengandung?" tanyaku dengan gugup.

Ku pandang wajahnya memucat dan ibuku mengangguk dengan lemah.

"Apakah ayah tiriku tahu?" tanyaku dengan penuh selidik.

Ibuku menggelengkan kepalanya. "Ibu tidak memberitahunya, sebab belum yakin apakah ini mengandung atau hanya terlambat begitu saja," sahut ibuku dengan bulir bening yang jatuh dipelupuk matanya.

Aku merasakan Tuhan tak adil padaku. Mengapa aku harus terus menerima semua ini? Kurasakan cobaan yang kuterima melebihi besarnya kapal yang sedang ku tumpangi.

Dua jam berlalu. Akhirnya kami tiba dipelabuhan. Ku tuntun ibuku menuju dermaga. Lalu kami berjalan kaki untuk menuju pos, dan memesan ojek untuk tiba diterminal bus, setelah itu, kami harus menempuh perjalanan selama 12 jam perjalanan untuk tiba dikampung halaman.

Uang yang kami miliki hanya cukup untuk ongkos saja. Aku terpaksa menjual ponsel tulalitku pada orang-orang diterminal dibus yang mau membelinya. Pada masa itu, harganya lumayan tinggi karena belum adanya android.

Salah satu penumpang yang menunggu bus membelinya, dan itu cukup untuk membeli makan malam siang dan malam kami selama diperjalanan, serta ongkos ojek dari loket bus menuju rumah saat tiba di Medan nanti.

Ku lirik ibuku mulai lemah. Ku pergi ke loket yang menjual berbagai kebutuhan, ku pilih minyak kayu putih untuk mengurangi rasa mual yang kini dialami oleh ibuku.

Ku usapkan dipunggungnya dan ku minta ia menghirup aromanya agar membuatnya sedikit nyaman.

Tak berselang lama. Armada bus mengatakan kami akan berangkat dan para penumpang bersiap untuk naik kedalam bus.

*****

Hari sudah gelap. Kami tiba diloket bus, lalu aku memesan becak motor untuk membawa kami ke rumah. Setelah menawar harga, akhirnya ditemui kesepakatan. Kami pulang kekampung halaman setelah lebih lima tahun merantau tanpa membawa hasil apapun, hanya luka, kekecewaan, dan air mata yang masih tersisa.

Setelah menempuh 30 menit perjalanan, akhirnya kami tiba disebuah rumah permanen yang berukuran cukup besar terletak dipinggir jalan lintas dikampungku. Rumah itu kini dihuni oleh kakak lelakiku yang sudah menikah dengan satu orang anak.

Melihat kedatangan kami, kakak iparku menyambut dengan suka cita. Tetapi aku gak melihat kakak lelakiku dimana?

"Kemana abang, kak?" tanyaku pada kakak iparku yang menggendong anaknya uang masih kecil.

Ia hanya diam saja, ku lihat wajahnya yang sembab, seperrinya ia habis menangis.

"Masuk, Bu, An," ia tak menjawab pertanyaanku, tetapi aku merasakan sesuatu sedang terjadi padanya. Aku dan ibu masuk ke kamar milikku saat masih gadis, sebab dirumah ini hanya ada dua kamar saja.

Aku dan ibu beristirahat didalam kamar, sedangkan kakak iparku terdengar sibuk memasak mie instan, itu tercium dari aromanya.

Braaaak...

Ku dengar pintu didobrak dari depan. Aku yang baru saja akan beristirahat tersentak kaget, begitu juga dengan ibuku.

"Meila, buatkan aku kopi!" teriak seorang pria pada kakak iparku, ku tahu itu abangku. entah darimana ia malam begini baru pulang ke rumah. Aku tahu ia sangat pemalas, bahkan sering tak pulang kerumah, dan aku tahu Kak Meila istri paling sabar yang pernah ada dalam menghadapi kakak lelakiku.

Takk...

Ku dengar suara kompor sebelah dihidupkan untuk memasak air. Ku yakin kak Meila sedang memasak air untuk membuat kopi pesanan kakakku.

"Lamban sekali!" teriaknya dengan kasar. Aku membenci pria yang berlaku kasar pasa istrinya, meskipun itu kakak kandungku sendiri. Aku tak tega melihat kak Meila yang dihardik seperti itu. Ingin rasanya aku keluar dari kamar dan memaki pria yang tak lain adalah kakakku sendiri.

Ibu menarik pergelangan tanganku saat aku ingin beranjak keluar untuk menegur bang Juned yang ku anggap sudah sangat keterlaluan. Bahkan aku mengingat selama kami diperantauan, Kak Meila sering menghubungiku karena tidak adanya beras dan ibu mengirimkan uang jika sudah menjual hasil mencari damar agar ponakanku tidak kelaparan.

Bang Juned belum menyadari kedatangan kami, dan ia bertingkah seolah menjadi raja.

Kak Meila membuat kopi panas dan dua gelas teh manis yang ia letakkan di atas meja tamu.

"Siapa yang menyuruhmu membuat teh, untuk apa minuman sebanyak ini!" ucapnya dengan nada tinggi.

Wanita itu hanya menundukkan kepalanya. "Ibu dan Anna baru saja datang, mungkin mereka belum makan," sahutnya, lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam sederhana.

"A-apa? Ibu dan Anna pulang kemari?" tanyanya dengan sangat penasaran. Lalu beranjak bangkit dari duduknya dan meninggalkan kopi panas yang baru saja disuguhkan untuknya.

Ku debgar langkah kakinya menuju kamar, dan aku bergegas bangkit untuk membuka pintu.

Kreeeek...

Ia tersentak kaget melihatku berdiri diambang pintu dan menatapnya dengan malas, lalu keluar dari kamar dan menepis tubuhnya dari jalanku.

Ku langkahkan kaki menuju dapur untuk membantu Kak Meila menyiapkan makan malam dengan mie instan tumis dan semangkuk nasi yang jumlahnya juga tidak terlalu banyak.

"Kapan kbu datang?" tanyanya dengan wajah pucat. Entah apa yang ia sembunyikan.

"Baru saja, dan kau sudah membuat bising," jawab ibuku, lalu keluar dari kamar.

Bang Juned tampak gugup, sepertinya ia menyimpan sebuah rahasia yang tak ingin diketahui oleh ibuku.

Aku dan kak Meila menata makan malam, dan kami milai memakannya, tetapi bang Juned seolah tidak berselera, ia terlihat gelisah.

Ia memakan terburu-buru dan tanpa menghabiskannya ia kembali keluar rumah, entah kemana.

Tak berselang lama, pamanku datang menyambut kedatangan kami dengan wajah gelisah. Tetapi ia masih diam, tak ingin mengungkapkan itu apa, mungkin karena masih melihat kami kelelahan dalam perjalanan yang panjang.

Keesokan harinya. Paman kembali datang, tetapi kami tak melihat bang Juned pulang ke rumah. Semalaman ia entah menginap dimana.

"Min.. Minten," panggil pamanku pada ibuku.

"Iya, bang," sahut ibuku dari dalam.kamar.

"Keluarlah, ada yang ingin abang omongin." pamanku terlihat sangat gelisah, aku yang baru saja selesai mencuci piring mencoba menguping pembicaraan mereka.

Ku lihat ibuku mengucir rambutnya dan menghampiri pamanku.

"Ada apa, Bang Rus?" tanyanya dengan penuh penasaran.

"Kamu jangan kaget, ya," pintanya dengan nada lirih.

Ibuku mengerutkan keningnya. "Emangnya ada apa, Bang?" tanya ibuku semakin penasaran.

"Si Juned sedang dicari polisi, ia mencuri perhiasan milik istri Bang Ilham dan sudah dijualnya. Sekarang ia meminta polisi menangkap Juned!" ungkap paman Rusli pada ibuku.

Deeeeeeegh...

Jantungku serasa hendak lepas. Duniaku seolah hancur, Tuhan, apa salahku! Mengapa cobaan ini begitu berat?!" rintihku dengan bulir bening yang tak lagi dapat ku tahan untuk jatuh.

Ku lihat ibuku syok mendengar penuturan dari abangnya. Ia baru saja patah hati dan kecewa oleh suaminya, kini anak lelakinya yang membuat masalah untuknya.

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

haduuuh udah miskin, kelakuan iblis, sama bini sadis wajar dah kalau dihukum saja biar tdk mengganggu org lain

2024-09-09

0

V3

V3

Masalah gak selesai-selesai dn sllu bertubi-tubi datang menimpa Anna dan Keluarga

2024-05-08

2

Heri Wibowo

Heri Wibowo

permasalahan kok nggak ada habis-habisnya ya

2024-05-07

1

lihat semua
Episodes
1 Awal
2 Tuduhan
3 episode-3
4 episode-4
5 episode-5
6 episode-6
7 episode-7
8 episode-8
9 episode-9
10 Hasut
11 sebelas
12 duabelas
13 Tigabelas
14 episode-14
15 episode-15
16 episode-16
17 episode-17
18 episode-18
19 episode-19
20 episode-20
21 Masih Flashback Anna
22 flashback-lagi
23 episode-23
24 episode-24
25 episode-25
26 Masih di Falshback Anna
27 flashback lagi
28 Stay Flashback
29 stay flashback si Anna
30 Masih diflash back dulu
31 Semula
32 Hampa
33 bekerja
34 bekerja-2
35 Bekerja-3
36 kabar
37 Bang Juned
38 Bebanku
39 beban hidup
40 Teror
41 menjemput
42 Kembali
43 Tiba
44 episode-44
45 episode-45
46 episode-46
47 episode-47
48 episode-48
49 episode-49
50 episode-50
51 episode-51
52 episode-52
53 Licik
54 Zubaidah
55 episode-55
56 Playing Victim
57 episode-57
58 episode-58
59 episode-59
60 episode-60
61 episode-61
62 episode-62
63 episode-63
64 episode-64
65 episode-65
66 episode-65
67 episode-67
68 episode-68
69 episode-69
70 episode-70
71 episode-71
72 episode-72
73 episode:73
74 episode-74
75 episode-75
76 episode-76
77 episode-77
78 episode-78
79 Episode-79
80 episode-80
81 episode-81
82 episode-82
83 episode-83
84 episode-84
85 episode-85
86 episode-86
87 episode-87
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Awal
2
Tuduhan
3
episode-3
4
episode-4
5
episode-5
6
episode-6
7
episode-7
8
episode-8
9
episode-9
10
Hasut
11
sebelas
12
duabelas
13
Tigabelas
14
episode-14
15
episode-15
16
episode-16
17
episode-17
18
episode-18
19
episode-19
20
episode-20
21
Masih Flashback Anna
22
flashback-lagi
23
episode-23
24
episode-24
25
episode-25
26
Masih di Falshback Anna
27
flashback lagi
28
Stay Flashback
29
stay flashback si Anna
30
Masih diflash back dulu
31
Semula
32
Hampa
33
bekerja
34
bekerja-2
35
Bekerja-3
36
kabar
37
Bang Juned
38
Bebanku
39
beban hidup
40
Teror
41
menjemput
42
Kembali
43
Tiba
44
episode-44
45
episode-45
46
episode-46
47
episode-47
48
episode-48
49
episode-49
50
episode-50
51
episode-51
52
episode-52
53
Licik
54
Zubaidah
55
episode-55
56
Playing Victim
57
episode-57
58
episode-58
59
episode-59
60
episode-60
61
episode-61
62
episode-62
63
episode-63
64
episode-64
65
episode-65
66
episode-65
67
episode-67
68
episode-68
69
episode-69
70
episode-70
71
episode-71
72
episode-72
73
episode:73
74
episode-74
75
episode-75
76
episode-76
77
episode-77
78
episode-78
79
Episode-79
80
episode-80
81
episode-81
82
episode-82
83
episode-83
84
episode-84
85
episode-85
86
episode-86
87
episode-87

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!