Johan mendengus kesal saat melihat sikap ibunya yang tiba-tiba saja menjemput uang hasil penjualan tanah tersebut, bahkan yang semakin membuatnya gemes pada sang ibu ialah dengan membawa Irfan bersama.
Ia mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya dengan pemantik api dan bergegas meninggalkan rumah.
Aku memasuki kamar dan tak ingin melihat kebersamaan Rumi ibu mertuaku dengan Irfan yang terasa menyakitkan hati.
Ku dengar Wita keluar dari kamar dan mendapati ibu mertuaku bersama suaminya dengan sebuah tas yang menggantung dipundak dan berisikan uang seratus juta.
"Wah, uangnya sudah dapat ya, Bu?" tanya Wita yang terdengar sangat menjijikkan. Ia orang yang paling aktif saat mendengar atau melihat ibu mertuaku banyak uang.
"Iya. Ini untuk menyuap pamanmu yang polisi itu untuk menahan berkas Irfan agar tidak dinaikkan kasusnya," sahut Rumi tanpa beban.
Tak berselang lama, tampak Pak Alex datang ke rumah dengan pakaian biasa, bukan pakaian dinas.
"Assalammualaikum," ucap pria bertubuh tambun dengan perut yang membuncit bak wanita hamil tujuh bulan.
"Waalaikumsalam," sahut Rumi dari dalam rumah.
Pria itu masuk dengan cepat dan menuju ruang keluarga tempat dimana mereka menunggu.
"Bagaimana, Mbak? Apakah sudah ada uangnya?" tanya pria itu dengan tak sabar.
"Ada, dua puluh juta-kan?" tanya pria itu, lalu duduk.di sofa yang terbuat dari kayu jati.
"Ada." Rumi lalu mengeluarkan dua puluh ikat uang dalam jumlah yang pas.
Alex dengan cepat menghitungnya dan ia menganggukkan kepalanya. "Pas, Mbak!" ia memasukkannya ke dalam balik jaketnya. "Kamu ya, Fan. Jangan lagi nyusahin ibumu, dengar!" pesannya dengan sedikit kesal.
Irfan mencebikkan bibirnya dan terlihat tak acuh dengan apa yang dikatakan sang paman.
"Kalau begitu saya balik, Mbak. Saya akan urus secepatnya,"
"Iya, Lex. Jangan sampai Irfan masuk penjara, ya." pintanya penuh harap.
Pria itu menganggukkan kepalanya , lalu berpamitan dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
Setelah Alex pergi. Wita terlihat tak sabar untuk mendapatkan sisa uang yang ada ditangan oleh ibu mertuanya. "Bu, kami kurang untuk membayar upah tukang. Ibu bisa-kan untuk bantu?" rengeknya dengan wajah memelas.
Rumi menghela nafasnya dengan berat. Lalu ia mengeluarkan uang tersebut dan memberikannya pada sang menantu, tentu saja hal tersebut membuat Irfan dan sang istri tersenyum licik.
"Makasih ya, Bu. Kamu emang yang terbaik," ucap keduanya dengan penuh kepalsuan.
Setelah mendapatkan uang tersebut, keduanya keluar dari rumah dan menuju ke kota untuk membeli sesuatu.
Aku mencoba menarik nafasku yang terasa berat. Mengapa mereka memperlakukan bang Johan dengan begitu berat sebelah, apa salahnya?
Ku tahu bang Johan sedikit nakal dan juga pengguna sabu. Tetapi ia tidak pernah mencuri ataupun membuat kejahatan lainnya.
Jika dibanding oleh Irfan adik iparku, ini sudah yang kedua kalinya ibuku menjual kebun hanya untuk menyuap petugas agar berkasnya tidak dinaikkan.
Ku coba memejamkan mataku, aku ingin beristirahat. Memikirkan semuanya membuat kepalaku terasa sangat berat malam ini.
Ku dengar ibu mertuaku memasuki kamarnya, dan aku berusaha untuk tidak lagi perduli.
****
Pagi menjelang. Seperti biasanya. Rutinitas yang ku jalani membantu ibu mertuaku menyiapkan barang dagangannya. Ku racik bumbu seperti biasanya dan ku ikut memasak lauk pauk untuk dijual dikantin.
Saat bersamaan, ku lihat Fina datang bersama dengan anak lelakinya, lalu masuk dengan terburu-buru. Ia bagaikan tak sabar untuk memasuki rumah. Wanita itu menuju dapur dan menghampiri ibu mertua yang sedang mengaduk sayuran yang hampir mateng.
"Bu, kata bang Heru ibu baru saja jual kebun. Jadi dia minta uang untuk membangun dapur kami! kan ibu tau kalau dapur kami masih belum selesai!" sungut Fina dengan wajah masam. Ia tak sudi dan tidak rela jika Wita yang kenyang sendiri, maka ia harus mendapatkan bagiannya.
"Bentar, ibu masih selesaikan memasak rendang ini," ucapnya dengan santai.
Deeeeeegh....
Jantungku seolah berhenti berdetak. Bagaimana bisa ibu mertuaku sesantai itu memberikan uang pada kedua menantunya, sedangkan bang Johan yang sudah mencari pembeli untuk tanah tersebut tidak ada diberi sedikitpun, bahkan sebungkus rokok pun tidak, apalagi ucapan terimakasih.
Hatiku pedih, tetapi aku harus berbuat apa? Ini sungguh tal adil bagiku dan juga bang Johan.
Ku lihat Ibu mertuaku menyelesaikan memasaknya, dan ia pergi ke kamarnya, lalu mengambil dompet dan memberikan uang 30 juta untuk menantu kesayangannya yang selalu dibanggakannya itu.
Rasanya sangat sakit saat melihat semua itu didepan mataku. Saat bersamaan, puteraku baru bangun tidur dan menghampiriku. "Bu, susu," pintanya padaku. Dan aku baru saja mengingat jika susu kental manis yang menjadi minumannya sudah habis.
"Nanti ya, ibu beli. Warung masih tutup," ucapku, sembari berharap jika sang ibu mertua berbaik hati memberi anakku uang untuk membeli sekaleng susu kental manis.
Ku lihat Alif merajuk, ia belum minum susu dari tadi malam, dan meminta pagi ini juga.
"Nek, minta duit buat jajan bakso," Bihan anak Fina, menadahkan tangannya pada Rumi sang nenek.
"Nih" dengan mudahnya wanita paruh baya itu memberikan selembaran uang seratus ribu pada bocah yang hampir sebaya dengan anakku.
Dari arah belakang, Fatah juga berlari menghampiri. "Nek, aku juga minta," anak Wita tak mau ketinggalan.
Lalu Rumi memberinya tanpa berfikir dua kali.
Seketika Alif merengek meminta susu karena sudah sangat haus. "Bu, susu," pintanya lagi.
Perlahan ibu mertuaku mengancingkan dompetnya, lalu bergegas masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan Alif yang sedang merengek.
Seketika hatiku sangat sakit. Ku gendong Alif yang bertubuh mungil meski usianya sudah lima tahun, namun ia berperawakan pendek.
"Ya, sudah. Ayo kita ke warung!" ucapku sembari menahan bulir bening yang hampir jatuh dipelupuk mataku.
Mereka boleh tidak mengacuhkanku, tetapi jangan pada puteraku, bukankah ia cucu mereka juga? Atau bikan? Bathinku bergejolak, rasanya aku ingin berteriak mengeluarkan segala keresahanku.
disisi lain, Fina tersenyum sumringah dengan uang yang ditangannya, lalu dengan santainya ia membawa Bihan pulang dari rumah ibu mertuaku.
Aku melihat wanita itu mengendarai motor baru yang juga pemberian ibu mertuaku keluar dari simpang rumah dengan wajah yang berbinar.
Ku coba sekuat hatiku menahan bulir bening itu agar tidak jatuh. Ku rogoh saku celanaku dan mengambil dompet untuk membeli susu kental manis yang diminta oleh Alif.
Setelah selesai, aku kembali ke rumah tersebut, dan membuat segelas susu hangat untuk puteraku, bahkan anakku tak pernah berani untuk meminta apapun pada sang nenek.
Sesaat Wita datang menghampiriku dengan wajah yang sangat masam. "Kak, si Fina itu menjijikkan, ya. Datang-datang minta uang, gak ada malunya," ucapnya dengan wajah bersungut.
Seketika aku meliriknya, lalu tanpa menjawab aku pergi meninggalkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Neulis Saja
every day indeed you see like that, why are you hurt?
2024-09-08
0
V3
capek aku dengar si Anna ngedumel trs ,,, klu aku jd Anna , aku mah berontak dech ma mertua ku ,, enak aja di injak-injak trs ma mereka ,, emosi bgt aku baca nya 🤬😡
2024-05-08
0
Heri Wibowo
lanjut Thor
2024-05-06
0