Seperti bisanya. setiap subuh, ku kerjakan apa yang sudah menjadi tugasku. Aku terbiasa bekerja, sehingga jika tidak bergerak, rasanya tubuhku sangat sakit.
Semua bahan dan bumbu sudah ku siapkan. Sedangkan Wita dan ibu mertuaku sedang membersihkan ikan dan daging dalam jumlah yang cukup yang banyak diluar dapur. Ayah mertuaku akhir-akhir ini yang berbelanja, dan aku sedikit bernafas, sebab tidak lagi harus berkejar waktu.
"Bu, tau gak?" bisik Wita pada Rumi.
"Apaan?" tanya wanita itu dengan penuh penasaran.
"Dibilang kak Anna baju yang ibu belikan itu murahan dan kainnya sangat jelek," ucap Wita dengan wajah serius.
"Hah!" seketika Rumi tersentak kaget. "Beneran?" tanya Rumi-ibu mertuaku, sembari melirik ke arahku dengan tatapan tak suka. Sedangkan aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan, sebab aku berada didalam dapur, sedangkan mereka berada diluar.
"Iya, masa ibu tidak percaya padaku!" Wita terus memprovokasi.
Seketika Rumi termakan hasutannya. "Dasar, gak tau diri. Sudah mending aku belikan, menantu sialan, dasar belagu!" ucapnya dengan nada kesal. Rasa sesal menyergap dirinya, ingin rasanya ia menerkam sang menantu karena sudah membuatnya marah pagi ini.
"Makanya ibu itu jangan belikan kak Anna apapun, dia itu gak tau terimakasih," Wita terus menghasutnya. Tentu saja hal tersebut membuat wanita paruh baya itu semakin terbakar api kemarahan.
Terlihat ia menarik nafasnya dengan berat, dan benar apa yang dikatakan oleh menantu bungsunya, jika ia tidak perlu lagi untuk membelikan apapun pada Anna.
"Menyesal aku membelikannya pakaian itu semalam, ku fikir karena dia rajin, makanya ibu mencoba berbaik padanya," sahut Rumi sembari mencuci ikan yang baru saja mereka bersihkan.
"Emm, ibu. Dia itu rajin kan kalau didepan ibu saja. Dibelakang ibu dia itu sebenarnya ngedumel," Wita semakin gencar menghasut. Sebab ia tak senang jika barusan sang ibu mertua mengatakan jika Anna sangat rajin, ini dapat membuat persaingan baru. Sebab ia masih sulit menyingkirkan Fina, kini justru sang ibu mertua mulai menyukai Anna, maka ini tidak boleh terjadi.
"Lagipula ibu tau-kan jika ia itu berasal darimana? Maka tidak perlu ibu buang waktu untuk mengurusinya," Wita tak ingin memberi celah bagi Rumi untuk menitipkan secuil kasih sayang pada menantu yang manapun.
"Makin geram kali ibu liatnya. Tak tahu terimakasih!" sahut Rumi yang termakan hasutan Wita.
Seketika wanita bertubuh kurus tinggi itu berlonjak girang dalam hatinya karena berhasil mempengaruhi sang ibu mertua.
Sementara itu, aku menyiapkan sayur-mayur dan juga membuat sarapan, sehingga tidak menyadari jika wajah ibu mertuaku sudah sangat masam saat berpapasan denganku.
Saat wanita paruh baya itu memasuki dapur, Wita mengekorinya dari arah belakang, sebab ia mengangkat ikan yang sudah dikerjakan dan bersih yang diletakkan didalam keranjang berlubang kecil didekat dengan bumbu.
"Bu, ini sarapannya," ucapku sembari meletakkan dua porsi nasi goreng dengan dua gelas kopi untuknya dan juga Wita.
Ia tak menyahut, namun mimik wajahnya sangat tak suka padaku, aku tak tahu apa salahku, baru saja malam tadi ia bersikap manis padaku, kini sudah kembali masam dan itu sangat mengejutkanku.
"Wit, tolong buatkan ibu nasi goreng yang baru, dan juga kopi yang baru," ucapnya ketus.
Deeeeeg...
Jantungku seolah berhenti berdetak. Mengapa ia begitu sangat kejam. Ucapannya tentu saja melukai perasaanku. Penolakannya terhadapa sarapan yang ku hidangkan, jelas memperlihatkan ketidaksukaannya padaku.
Ku coba menarik nafasku dengan dalam. Meski sakit, aku berusaha untuk tetap menjaga kewarasanku.
Ku letakkan kembali hidangan tersebut diatas meja. Aku berusaha tak perduli, meskipun sebenarnya aku rapuh.
Saat bersamaan bang Firman baru saja pulang dari kantin. Ia melihat dua porsi nasi goreng tergeletak diatas meja makan dan juga dua gelas kopi.
"Ini punya siapa?" tanyanya.
"Tidak ada, makanlah, Bang," sahutku.
Pria itu menatap dingin, dan itu tak mengheranku. Lalu ia mengambil seporsi dan juga kopinya, lalu disusul bang Johan yang ikut memakannya. Setidaknya hal itu mengurangi rasa sakit hatiku.
Dengan disantapnya nasi gorengku oleh bang Firman dan suamiku, membuat aku merasa sedikit terobati atas luka hatiku barusan.
Wita masih memasak nasi gorengnya. Tak berselang lama, ia menghidangkannya pada ibu mertuaku. Tampak Rumi menyuapkan nasi goreng itu, namun wajahnya berubah saat ujung lidahnya menyentuh masakan tersebut yang terasa aneh, dan ia memaksa memakannya meskipun sebenarnya ia tak suka.
Aku melihat perubahan ibu mertua begitu sangat drastis. Semakin lama aku ingin rasanya segera pindah dari rumah yang penuh dengan kebencian orang-orang didalamnya.
Ku bereskan semua perlengkapan dan menu masakan dibak mobil pick up. Lalu ku temui suamiku yang baru saja selesai sarapan pagi. Ku tarik ia ke dalam ke kamar.
"Ada apa, Dik?" tanyanya padaku dengan wajah tanpa merasa beban.
"Bang, aku ingin kita pindah. Ku lihat sikap ibumu mulai bertambah parah," ucapku padanya, mencoba meminta pengertiannya.
"Tetapi semua orang akan pindah. Wita dan Irfan juga sedang membuat rumah, sedangkan kak Fina juga sudah pindah, tak sabar kah kau menunggu mereka beberapa saat lagi? Kasihan ibu jika semua pindah," ucapnya dengan selembut mungkin, membuatku luluh sejenak.
Aku memikirkan, jika saja Wita benar pindah, maka setidaknya sang penghasut itu sudah menjauh, dan ibu mertuaku tidak begitu selalu mendengar segala tipu dayanya.
Ku tarik nafasku dengan berat. Berharap jika saja segala penderitaanku segera berakhir.
Ku simpan semua segala keluh kesahku, kembali aku memulai untuk berdamai dengan hatiku.
Aku keluar dari kamar. Ku lihat ibu mertuaku melintasiku tanpa menyapa.sedikitpun, bahkan ia tak ada mengajakku untuk ikut ke kantin.
"Wit, buruan!" teriaknya pada Wita yang ku lihat sudah bersiap untuk pergi.
Melihat tak ada gelagat untuk mengajakku, akupun kembali masuk ke dalam kamar, ku lepas kembali pakaianku yang sudah berdandan dengan rapih, menggantinya dengan pakaian biasa saja.
Rasanya hatiku begitu sakit, terlalu diabaikan dan mengapa ibu mertuaku selalu mudah termakan hasutan, tanpa mempertimbangkan segala ucapan yang masuk ke telinganya.
~Kisah ini berasal dari seseorang yang author kenal. Setiap babnya author konsultasi dengan nara sumbernya langsung, hanya ada settingan sedikit dari author untuk membuat kisah ini terkesan dramatis, namun setiap kejadian adalah real, dan ini terjadi sekitar tahun 2018. Jika reader penasaran dengan flashback Anna, nanti ada dibab berikutnya dan author masih meminta ijin untuk mengungkapnya sebab itu terlalu sensitif bagi nara sumber, yang mana terlalu pahit dan menyakitkan , dan dibab selanjutnya akan ada tragedi pahit dengan sang mertua, yang sabar, ya.
~Anna ini typical orang yang malas ribut, terlalu banyak tutup mulut, tetapi jika sudah meledak, amarahnya tak dapat terbendung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Neulis Saja
Anna bgmn sih masa lalumu? sampai org lain meremehkanmu?
2024-09-08
0
Ira Sulastri
Mba Anna kl MMG ini pengalaman pribadi, boleh lah kita jadi wanita yg sabar mengalah tp jangan terlalu bodoh jg. Apalagi mba punya teman yg berhasil dalam usaha online coba minta di ajari, siapa tau suatu saat dg ke gigihan mba bs sukses apalagi mba pintar masak
2024-06-26
0
novita setya
jadi...beneran ada ya kehidupan yg ky gt. mengerikan. mengenaskan
2024-06-17
1