Aku naik dibak motor belakang dengan puteraku. Ku lihat bang Johan sudah bersiap hendak berangkat. Hari ini pasti sangat melelahkan, sebab hanya aku sendiri dan satu orang karyawan kantin yang akan menemaniku melayani pembeli.
Rumi sang ibu mertua berjalan memaki mobil bagian depan. Kulirik wajahnya yang terlihat lelah karena dimakan usia. sebenarnya ada rasa iba didalam hatiku karena ia harus bekerja diusia senjanya, sedangkan ayah mertuaku lebih banyak tinggal dirumah istri mudanya yang tentunya masih sangat segar dibanding ibu mertua.
Aku mengurut dadaku agar tak lagi menyimpan amarah yang hampir saja meledak barusan.
*****
Wita dan juga Irfan sedang membersihkan lahan yang akan mereka dirikan rumah esok hari sesuai dengan janji Rumi pada menantunya.
"Bang, itu nanti kalau ayah sama ibu sudah meninggal, rumah itu untuk abang, sebab kan abang anak paling bungsu," Wita mulai menghasut.
"Masa iya, Dik? Tapi kami kan ada 4 bersaudara, mana mungkin ketiga abangku mau rela begitu saja," Ifan merasa ragu dengan ucapan sang istri.
"Iya lho, Bang. Biasanya rumah itu akan menjadi milik anak bungsu, makanya kamu harus meminta itu pada ibu untuk membuat surat rumah itu atas nama kamu, sebelum yang lainnya nanti menggugat " Wita kembali menghasut.
Irfan hanya menganggukkan kepalanya dan kembali membersihkan lahannya. Suara deru mesin pemotong rumput meraung menambah kebisingan yang ada.
Wita memperhatikan bangunan yang berjejer dihadapan lahan yang akan mereka bangun.
Tampak dua kampus berbeda yang saling berpisah sekitar 10 meter saja satu dengan yang lainnya.
"Wah, ini bagus banget, bang jika kita buat kantin disini. Pasti para mahasiswa disini akan membeli pada kita," kedua matanya berbinar saat melihat peluang usaha didepan matanya.
"Tenang saja. Kedua kampus ini hibah dari tanah ayah, maka nanti aku akan minta ayah untuk pihak kampus memberi ijin pada kita masuk ke dalam untuk mengambil satu jatah kantin," ungkap Ifan pada istrinya.
"Beneran, Bang? Berarti tanah ayah banyak, ya? Sampai untuk kampus ini saja dihibahkan," ucap Wita dengan perasaan campur aduk.
"Iya, masa abang bohong!"
"Selain yang disini, dimana lagi tanah ayah, Bang?" tanya Wita penuh selidik.
Ia merasa jika menikah dengan Ifan merupakan keberuntungan, meskipun pria itu pemalas, tetapi jaminan masa depan ada ditepat didepan matanya.
Ifan telah selesai memotong rumput untuk ukuran 15mx20m untuk mendirikan rumah mereka.
"Ya kalau lahan kebun sawit ya banyak lah, dik. Sekitar 100 meter dari sini," ungkapnya lagi.
Kedua mata Wita semakin berbinar, "Wah, enak dong. Kalau abang pandai ambil buah sawit, kita ambil saja sedikit, Bang. Buat tambahan tabungan," Wita mengusulkan.
Seketika Ifan menatap istrinya. "Iya juga, ya. Ayo kuta kesana," ajak Ifan dengan senang.
"Tapi alat pengaitnya ada, gak?" tanya Wita penasaran.
"Tenang, abang tau dimana ayah menyimpannya,"
Lalu Ifan mengajak istrinya itu pergi ke kebun sawit yang berjarak 100 meter dari tempat mereka akan mendirikan rumah.
Setibanya disana, mereka saling membantu mengambil sawit milik ayahnya dan menjualnya pada agen yang menjadi langganan.
******
Malam beranjak. Ku lihat bang Johan masih belum kembali. Aku menghela nafasku dengan kesal. "Kemana bang Johan? Mengapa belum juga pulang?" gumamku lirih. Ku lirik puteraku sudah tertidur dengan pulas.
Sesaat ku dengar suara deru mesin motor berhenti. Ku intai dari balik tirai jendela kamar. Tampak Wita dan juga Ifan bersama anak mereka baru saja pulang dari berjalan-jalan. Sepertinya mereka membeli makanan dan juga mainan yang banyak. "Mereka punya banyak uang," fikirku.
Keduanya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar, lalu tertawa dengan riang.
Tak berselang lama, ku dengar lagi suara deru mesin mobil berhenti didepan rumah. Ternyata itu ayah mertuaku.
Ia berjalan masuk dengan tampak tergesa-gesa.
"Fan, Ifan, keluar kamu!" teriak ayah mertuaku dengan nada kasar. Aku yang sudah sangat lelah dan ingin beristirahat harus terganggu dengan kebisingan yang ada.
"Apa, sih, Yah!" sahut adik mertuaku dengan tak kalah kasar.
Aku mencoba beranjak dari ranjangku, dan mengintai dari balik pintu untuk melihat apa yang terjadi.
"Kamu yang mengambil sawit ayah, yah?!" sergah ayah mertuaku dengan penuh amarah.
"Mana ada aku yang ngambil, ayah ini main tuduh saja!" sanggahnya.
Sesaat ibu mertuaku keluar dari kamarnya dan mencoba melerai pertikaian keduanya. "Ada apa, sih Bang? Malam-malam ribut!"
"Ini, sih Ifan mencuri sawit dikebun!" sahut ayah mertuaku sembari menunjuk wajah putera bungsunya.
"Kamu ini ada buktinya? Main tuduh saja. Bisa jadi itu si Johan yang nyuri, duitnya buat memakai sabu!" tuduh ibu mertuaku.
Deeeeeegh...
Jantungku rasanya bagaikan dire-mas. Sakit, tentu saja. Meskipun begitu bang Johan adalah suamiku. Tetapi mengapa ibu mertuaku menuduh anak tengahnya? Sedangkan anak bungsunya terlihat ia bela dengan begitu semangatnya.
"Mana si Johan?!" tanya ayah mertuaku yang sepertinya mulai termakan hasutan ibu mertuaku.
"Kemana lagi, pasti dia masih diluar, kumpul sama temennya yang gak bener. Lihat si Ifan, sejak menikah dengan Wita berubah total, lebih suka dirumah ketimbang keluyuran diluaran!" sindir ibu mertuaku dengan nada kencang agar aku mendengarnya dari balik dinding kamar.
Seeeerrr...
Aliran darahku seolah berdesir kencang menuju jantung. Ucapan ibu mertuaku seolah menunjukkan jika.aku adalah istri yang tidak bener dalam merawat suami sehingga membuat bang Johan lebih suka keluyuran diluaran.
Tak berselang lama, tampak bang Johan masuk ke rumah dengan berjalan kaki entah darimana, sebab ia tak memiliki motor untuk dijadikan alat transportasi.
"Tuh, orangnya baru saja pulang. Keluyuran saja kerjanya yang gak jelas!" tunjuk ibu mertua dengan wajah kesal.
Seketika ayah mertuaku menoleh kearah bang Johan yang baru saja tiba dirumah.
"Hei, Johan! Kamu yang mencuri sawit ayah! Bukankah kebun yang diujung sana itu sudah khusus ayah berikan untuk kalian berempat dan bergantian mengambilnya, mengapa punya ayah kamu curi juga?!"
Bang Johan terdiam dan masih bingung dengan apa yang terjadi, sebab ia belum mengerti dengan tuduhan yang ditujukan padanya.
"Siapa yang mencuri?" tanyanya dengan santai.
"Kamu!"
"Aku?" tunjuk bang Johan pada dirinya sendiri.
"Ya! Siapa lagi!"
"Ciih! Bela saja anak kesayangan ibu itu terus!" sahut bang Johan dengan kesal, lalu berjalan masuk kekamar tanpa menghiraukan ayahnya yang sedang emosi. Ia melintasiku yang saat ini sedang berdiri mengintai pertikaian itu.
Ku lihat ibu mertuaku tampak geram. Aku berfikir, apakah suamiku ini anaknya atau bukan? Mengapa mereka memperlakukannya sangat begitu tidak adil.
Ayah mertuaku masih mengomel, lalu terdengar suara makian darinya yang sangat kasar, dengan sumpah serapah yang sangat menyakitkan, lalu ia berlalu pergi meninggalkan rumah untuk kembali pada istri mudanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Neulis Saja
keindahan dunia hanya sementara tapi kenapa sampai lupa dgn ibadah, lupa kalau akan mati malah sibuk memperebutkan harta ?
2024-09-08
0
Wanita Aries
Nunggu kelanjutannya.. cerita bagus
2024-04-21
1
V3
keluarga nya keturunan konglomerat x yaaaa ,, mpe punya tanah banyak benar 🤣🤣
tp sayang nya , di dalam kehidupan keluarga nya TDK ada kasih sayang dn keharmonisan 😔
2024-04-21
1