Enam bulan kemudian....
Aku duduk diatas tangga pondok sembari menatap jalanan. Seperti yang ku duga, bang Hendri tidak memberikan nafkah apapun padaku, maka aku sudah dapat mengajukan talak padanya dipengadilan.
Dari kejauhan samar-samar ku lihat dua sepeda motor melaju ke arah pondok tempat aku dan ibuku serta ayah tiriku tinggal.
Kedua motor itu semakin mendekat dan kepulan debu terlihat membumbung mengikuti pergerakan motor yang melaju cukup kecang dijalanan setapak.
Tampak seorang wanita berbadan tambun dengan membawa dua orang anak yang masih kecil turun dari ojek dengan dua tas berukuran besar yang kupastikan itu adalah berisi pakaian.
Deeeeegh....
Jantungku seolah berhenti berdetak. Ku lihat wajahnya sangat penuh amarah, lalu membayar ongkos untuk kedua abang ojek.
Ia berjalan menuju pondok dan aku bergegas berdiri lalu menatap bingung pada wanita asing dan juga dua anak kecil yang mana satu laki-laki dan satu lagi peremuan.
"Mana bang Ucok!" tanyanya tanpa basa-basi, lalu menaiki pondok tanpa permisi.
Ucok adalah panggilan untuk ayah tiriku. Perasaanku langsung tidak enak, ini sesuatu yang sangat mengerikan. Aku mulai menduga jika ini adalah istri pertama yang sudah ditalaknya, tetapi tidak ke pengadilan, hanya melalui kedua orangtua dan juga saksi lainnya.
Aku tergugup. Entah masalah apalagi yang harus ku terima, seolah cobaan tak pernah henti datang kepadaku.
"Eh, kamu tuli, ya? Aku ini istri sah dan istri pertamanya bang ucok, panggilkan dia!" titahnya padaku.
Aku menatapnya dengan kesal. "Kalau mau orangnya, cari saja disana," ucapku sembari menunjuk ke arah lahan sawit yang terbentang luas.
"Beraninya kau membantahku!" hardiknya dengan kasar.
"Emangnya kamu siapa? Mau mengaturku!" sahutku lagi. Sepertinya aku mengalami baby blues, dimana pasca melahirkan itu aku tidak dapat mengontrol emosiku, sebab selama ini aku selalu diam saat orang-orang men-dzalimiku.
Aku merasa sering uring-uringan jika ada yang menyinggungku, dan ini tidak dapat aku tahan.
Mendengar jawabanku, ia membesarkan dua bola matanya, lalu berniat turun dari atas pondok. "Kalian tetap disini, biar ibu yang mencari ayahmu!" ucapnya pada kedua bocah tersebut.
Lalu ia berjalan menuju tempat yang ku tunjuk padanya tadi.
Pandanganku mengikuti langkahnya yang terlihat kesulitan karena bobot berat badannya menyusuri area jalanan dan bertanah gambut untuk sampai tempat dimana ayah tiriku sedang memupuk tanaman sawit.
"Bang Ucok!" panggilnya lantang. Suaranya menggema hingga ke pondok, dan itu jelas ku dengar.
Tingginya tungkai pondok memudahkanku melihat semua yang terjadi.
Tampak wajah ayah tiriku terkejut dengan kedatangan mantan istrinya yang tiba-tiba saja. Ia menghentikan pekerjaannya, lalu menghampiri wanita tersebut.
Ku lihat mereka berdebat. Dari kejauhan, tampak ibuku datang melihat pertengkaran keduanya. Ia merasa jika ini adalah sebuah bencana. Lalu ia meninggalkan keduanya dan kembali ke pondok dengan wajah resah.
Aku menghidangkan segelas teh hangat padanya. Aku tahu perasaannya saat ini sedang kacau.
Tetapi setahuku, ayah tiriku sering mengirimkan uang belanja untuk anak-anaknya dari hasil penjualan damar, sebab kelapa sawit yang kami tanam sejak lima tahun yang lalu dari awal membuka lahan, kini baru saja berbuah pasir dan jika ada hasil berlebih, ia juga tak lupa mengirimkan uang ke sana.
Ibuku sudah merasakan firasat yang tidak baik dengan kehadirannya. "Minumlah, Bu," ucapku, lalu duduk mengarah pintu dapur dan mengamati ayah tiriku dan juga mantan istrinya yang berjalan menuju ke arah pondok.
Langkahnya terlihat sangat kesal dan aku tahu jika ia tak.suka dengan kehadiran wanita tersebut.
"Aku mengantarmu pulang besok pagi, dan jangan pernah lemari lagi," ucap ayah tiriku dengan menaiki tangga pondok.
"Aku tidak mau, aku tinggal disini, dan wanita itu yang pergi!" sahutnya dengan menunjuk ke arah ibuku.
"Kau gila! Kita sudah bercerai, dan haram bagi kita untuk serumah!" sergah pria tersebut.
"Aku tak perduli. Aku sudah menunggu lama akan hal ini. Ku biarkan dia yang bersusah payah menanam sawit ini, dan ketika berhasil aku yang menikmatinya!" sahutnya dengan penuh kemenangan.
"Dasar, kau, Licik!" ucap ayah tiriku.
"Siapa suruh kau menceraikanku? Maka terimalah pembalasanku!" sahut nya dengan senyum mencibir.
"Semua ini karena salahmu, kau yang meninggalkanku dan aku terpaksa menceraikanmu!" sahut pria itu tak ingin kalah.
Aku melihat wajah ibuku mulai mendung, namun ia tak ingin memgatakan sesuatu sekedar untuk membantah wanita tersebut.
"Kumpulkan pakaian, besok kita pulang ke Medan!" bisik ibu padaku.
Aku menganggukkan kepala. Meskipun hatinya sakit karena wanita telah mencuranginya, namun ibuku berusaha ikhlas melepaskan semua yang telah diusahakannya selama ini. Aku tak membantahnya, aku memilih untuk mengemas pakaian yang akan kami bawa pulang ke kampung halaman.
Melihat hal tersebut, ayah tiriku bergegas naik ke atas pondok dan memohon pada ibuku agar tak meninggalkannya. Namun hati wanita yang telah melahirkanku itu terlanjur sakit, ia harus melepaskan semuanya.
"Jangan pergi, tetaplah disini," mohon pria bernama Ucok tersebut.
"Jangan menahanku, biarkan aku kembali. Mereka telah datang, dan aku yang memilih pergi," jawab ibuku.
"Baguslah, jika kau sadar akan posisimu!" sahut wanita tersebut.
Ibuku tak menanggapinya, ia hanya berpasrah saja saat ini, mungkin ini adalah takdir yang harus ia jalani.
Hingga malam hari, kami tidur terpisah. Bahkan saat makan malam, ibuku tampak diam, meskipun ayah tiriku mencoba membujuknya, namun ibuku tak bergeming dengan keputusannya.
*****
Aku dan ibuku menaiki motor butut dipagi buta saat mereka belum lagi terbangun. Kami juga merasa bingung siapa yang memberi tahu lokasi pondok kami pada mantan istri ayah tiriku, sehingga ia begitu tahu persis keberadaannya. Aku mengingat sesuatu, jika anak gadis ayah tiriku yang sebaya denganku dan juga sudah menikah terlebih dahulu dariku pernah tinggal selama setahun bersama kami, kemungkinan ia adalah orang yang memberikan alamat kami tinggal.
Aku dan ibuku menuju pelabuhan. Sebab tempat kami membuka lahan terletak disebuah pulau.
Hampir 3 jam lamanya kami melalui jalanan tanah gambut yang belum beraspal dan tiba dipelabuhan. Lalu memesan tiket untuk keberangkatan, dan motor butut milik ayah tiriku kami titipkan dipos pelabuhan, lalu mengirimkan pesan untuk ia menjemputnya, dan aku menonaktifkan ponselku sesuai permintaan ibuku agar pria itu tak dapat menghubungi kami.
Aku berharap semua kisah burukku berakhir dan habis dipulau ini, dengan kembalinya kami ke kota Medan.
Keberangkatan kami pun tiba. Aku dan ibuku duduk dikursi penumpang. Namun tiba-tiba ibuku merasa mual, kepalanya sangat pusing. "Ann, apa ibu lagi ngidam, ya?" gumamnya dengan lirih. Ia mengingat jika sudah dua bulan ini tidak datang bulan.
Deeeeegh....
Ya Tuhan, cobaan apalagi ini? Aku merasa duniaku begitu sangat berat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Neulis Saja
aduuuh cunak kayanya yah
2024-09-09
0
Ira Sulastri
Anna semoga dg semua ujian yg sudah kau lalui, kau biSa lebih mendekatkan diri dg sang pencipta. Dengan begitu jalan atau langkah yg akan kau ambil di berikan kemudahan kelancaran dan keberhasilan... Aamiin 🤲🏻
2024-06-26
1
V3
licik bgt tuch manusia 🤣🤣
2024-05-08
1