Seperti biasa, ku siapkan segala keperluan untuk menu kantin dan ku tata didalam bak mobil pick up. Setelah itu, aku masuk ke dalam kamar dan tidak lagi keluar.
"Ann, Anna," teriak ibu mertuaku saat akan berangkat ke kantin, dan tak melihatku naik ke atas mobil.
"Aku tidak ikut ke kantin hari, Bu, aku sedang tak enak badan, bawa saja Wita atau kak Fina, bukankah mereka sudah beberapa hari libur?" jawabku berbohong dan dengan sedikit mengeraskan suara.
Ibu mertuaku terdiam. Ia tak pernah mendengarku berbicara dengan suara keras, dan ia kembali masuk ke dalam rumah untuk mencari Wita yang masih tertidur.
"Wit, Wita, ayo ke kantin, Anna sedang tak enak badan," panggil ibu mertuaku sembari mengetuk pintu kamar anak bungsunya.
Wita keluar dengan wajah cemberut. "Aku mau melihat pembangunan rumah, Bu," sahutnya dengan malas.
"Masalah rumah biarkan Irfan yamg mengawasi, lagian kamu sudah beberapa hari libur, jadi tolong bantu ibu," pinta mertuaku pada menantu bungsunya.
Dengan wajah tak senang, ia menuruti permintaan ibu mertuaku, sebab ia berfikir masih ada banyak yang ingin dimintanya dari sang ibu mertua.
Beberapa menit kemudian, ku dengar suara deru mesin meninggalkan halaman rumah. Ternyata wanita paruh baya itu mempercayai ucapanku.
Aku bergegas beranjak ke dapur, lalu membersihkan rumah dan setelah selesai semuanya, aku mandi dan berdandan.
Ku kenakan celana jeans ketat membentuk lekuk tubuh, lalu kaos ketat yang ku beli saat aku belum menikah dengan bang Johan. Ku biarkan rambut panjang lurus sepinggang tergerai begitu saja, dan satu penjepit rambut yang kusematkan untuk merapikan poniku.
Ku pakai lipstik berwana merah muda, dn setelah kupastikan penampilan ku rapi, ku ajak puteraku yang sudah ku mandikan sejak tadi untuk bertandang ke rumah mbak Lisa yang berjarak sekitar 250 meter dari rumah ibu mertuaku.
Aku berjalan kaki menempuh rumahnya. Dia adalah satu-satunya orang asing yang ku kenal ditempat ini. Kami saling mengenal saat pernah mengontrak disatu lingkungan yang sama, namun ia sekarang sudah memiliki rumah sendiri, meskipun masih sangat sederhana.
Ku percepat langkahku sembari menggendong puteraku, dan aku mencari jalan pintas untuk sampai dirumahnya, dan harus kembali sebelum ibu mertuaku pulang dari kantin.
Ku bawa sekantong jajanan untuk anak mbak Lisa, dan sudah ku pisahkan untuk puteraku, agar mereka tak berebut nantinya. Aku melakukan itu, sebab Mbak Lisa juga selalu baik pada anakku dengan membelikan jajanan setiap kali bertemu, bahkan terkadang memberi uang jajan.
Ku lihat dari kejauhan ia sedang menyapu halaman ruamhnya. Dua anak lelakinya sedang bermain dan aku merasa beruntung, sebab ia ada dirumah.
Melihatku datang berkunjung, senyum manis tersungging diwajahnya, dan itu satu hal yang selalu membuatku merasa nyaman berteman dengannya.
Ku percepat langkahku, dan ia menyelesaikan sapuannya.
"Mbak," ucapku, lalu memeluknya. Entahlah, aku merasa sangat nyaman saat bersamanya.
"Gak ke kantin," tanyanya, lalu mengajakku duduk disebuah bangku kayu yang dibuat oleh suaminya, dan kami ngobrol disana,"
"Tidak, pengen libur sehari, capek juga badan," jawabku, lalu ku ulurkan kantong kresek berisi jajanan kepad puteranya yang mana anak keduanya sebaya dengan puteraku.
Lalu wajah girang terlihat jelas dibinar matanya. "Makasih, Tante," ucapnya, lalu membaginya dengan sang kakak, dan mereka bermain bertiga.
"Mau minum apa?" tanyanya.
"Terserah mbak saja," jawabku.
"Ya sudah, kita ke dalam, yuk! Mbak rencana mau masak miso ayam hari ini, abangmu lagi kepengen katanya." ajaknya, lalu beranjak masuk.
Ku ikuti langkahnya, lalu ia menuju dapur dan dengan cekatan ia membuka lemari es, lalu meracik bahan untuk membuat hidangan yang dikatakannya barusan.
"Abang gak kerja hari ini, Kak?" tanyaku sembari menemaninya memasak.
"Tidak, mungkin besok," sahutnya, sembari memasak. Ku lirik dirinya yang mengenakan hijab setiap harinya. Apakah ia tak merasa gerah, apalagi sedang memasak seperti itu.
Beberapa saat kemudian, ia menghidangkan miso ayam kepadaku dan kami makan bersama dengan anak-anak.
"Mbak," ucapku dengan lirih.
"Ya,"
"Mengapa kakak dapat hidup setenang ini? Apakah Tuhan begitu sangat pilih kasih? Sama seperti mertuaku," ucapku dengan sebal.
Meskipun mbak Lisa bukan orang kaya, namun ia hidup berkecukupan dan memiliki suami yang bertanggungjawab dan juga penyayang, sebuah anugerah terindah bagi seorang wanita yang sudah bersuami, dan tidak semua mendapatkannya.
Ku lihat senyum manis tersemat dibibirnya.
"Apakah kamu pernah memintanya?" tanyanya dengan lembut.
"Maksudnya?" tanyaku penasaran.
"Pinta lah dengan shalat. Rabbanaa atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah ta waqiina aaja bannar," ucapnya dengan begitu lembut. "Kamu tahukan, doa itu artinya meminta kebahagiaan didunia dan diakhirat, maka pinta lah padanya, agar kau mendapatkan kebahagiaan itu," ia menimpali ucapannya.
Ku tarik nafasku dengan dalam. Entah mengapa, begitu banyak orang yang ku kenal, aku memilihnya untuk menjadi teman, sebab aku terlalu berpilih untuk berteman.
Ku renungi apa yang dikatakan wanita tersebut. Mungkin benar, aku tak pernah meminta padanya, bahkan yang dikatakan shalat saja aku tak pernah.
"Jika kamu ingin Tuhan menyayangimu, maka kamu harus mendekatinya. Semisalnya kamu tidak kenal seseorang, lalu meminjam uang padanya, apakah kira-kira orang tersebut memberikannya?" ucapnya dengan sangat lembut.
"Tentu saja tidak," jawabku cepat.
"Begitu juga dengan sang Rabb, maka dekati lah Ia, maka kebahagiaan akan menghampirimu,"
"Tetapi Wita dan Mbak Fina juga tidak pernah shalat, kenapa mereka selalu beruntung? Ibu mertuaku juga sangat menyayangi mereka," ucapku dengan kesal.
"Sang Pencipta memiliki sifat yang berbeda dengan manusia. Terkadang ia memberi kesenangan pada mereka yang kufur sebagai ujian, namun mereka tidak menyadarinya. Sedangkan kamu selalu diuji dengan kepedihan, jangan menganggapnya itu tidak adil, bisa saja itu jalan untuk menghapus dosa-dosamu dimasa lalu, maka kamu harus ikhlas dalam menjalani semuanya," jelas mbak Lisa.
"Kenapa aku tidak diuji dengan kebahagiaan, seperti Wita dan kak Fina? Mengapa harus yang sulit dan penuh kepedihan?" cecarku.
"Karena kamu hebat, kamu kuat, tidak seperti mereka. Ingat, ujian soal untuk anak SD tentu berbeda dengan anak SMA, itu tandanya kamu lebih hebat dari mereka,"
Seeeer....
Desiran darahku mengalir begitu cepat, dan itu sangat begitu terasa.
"Apakah Ia mengampuni semua dosa-dosaku diamsa lalu?" tanyaku padanya dengan dua bola mataku yang mulai berkaca-kaca.
"Mengapa tidak? Ia Maha pengasih lagi Maha Penyayang, yang penting kamu tidak pernah melakukan dosa syirik, maka ia akan mengampunimu," ucapnya lagi, yang membuatku tanpa sadar menitikkan bulir sebening kristal yang meluncur disudut mataku.
"Begitu banyak dosa yang aku lakukan, aku kotor," ucapku dengan terisak.
"Tidak ada manusia yang suci dunia ini, semua pernah melakukan kesalahan," jawabnya.
Tanpa sadar aku tersedu, bahkan ia tidak memandangku jijik saat aku pernah bercerita tentang masa laluku yang kelam, ia memelukku erat saat melihatku tergugu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Neulis Saja
apakah Anna psk?
2024-09-08
0
V3
si Anna pke baju ma celana nya mpe ketaaat bgtu .... dah kaya makanan lepet 🤣🤣🤣🤣
2024-04-26
2
V3
mmg masa lalu nya Anna knp , kak Siti ❓❓ boleh donk flash back sedikit
2024-04-26
1