"Tapi aku malu," ucap Anna sembari tergugu.
"Tidak perlu malu, Ia akan menerima semua permintaan ampunanmu," ucap Lisa dengan begitu lembut, membuat desiran didada wanita itu mengalir menuju jantungnya.
Lama mereka berbincang, hingga waktu Dzuhur tiba. "Mbak tinggal shalat, ya," ucap Lisa, lalu beranjak mengambil wudhu.
Aku menganggukkan kepala. lalu memilih untuk rebahan dan menghilangkan rasa jenuh yang ku alami. Ku lirik mbak Lisa yang menuju kamarnya untuk shalat.
Masih ingat dibenakku, saat pertama kali kami bertemu. Dirumah kontrakan tiga pintu yang mana tak jauh dari rumah wanita itu kini. Dimana mbak Lisa sudah berhasil membangun rumahnya sendiri dengan berbagai usaha dan kerja keras suaminya, sedangkan aku masih saja tetap begini.
Kami menjadi akrab saat mengetahui sama-sama merantau dan berasal dari propinsi yang sama. Lalu membuat hubungan itu terus menjadi lekat bukan hanya sekedar sahabat, bahkan ia menganggapku sebagai adiknya.
Setahun bertetangga, bang Johan mengajak kembali ke rumah orangtuanya, sebab ia tak sanggup membayar uang sewa rumah, karena belum bekerja, sedangkan aku baru saja melahirkan putera pertama kami, dan aku tak memiliki pilihan lain.
Saat masih menjadi tetangga, aku pernah bercerita padanya siapa aku, dan juga masa kelamku, namun hal itu tak membuatnya menjauhiku, bahkan ia tak pernah menganggapku sesuatu yang hina.
Kulihat piring diwashtafelnya sangat menumpuk, sepertinya ia tak sempat mencuci, sebab mbak Lisa juga memiliki usaha sampingan berdagang online yang merupakan barang random yang dipesannya melalui applikasi belanja.
Ku bangkit dari rebahanku. Sepertinya aku tak bisa diam. Meski niatku ingin rebahan, ku cuci semua piring kotor yang menumpuk, dan selelsai sebelum Mbak Lisa selesai shalat.
Setelah wanita itu selesai shalat, ia tercengang melihat dapurnya sudah bersih. "Ya, ampun, Dik! Kamu ini, apa gal capek coba," ucapnya sungkan.
"Tak mengapa, Mbak, lagipula aku sudah ditraktir makan siang," jawabku, lalu menghampirinya.
"Ngaco akmu, masa iya tamu datang gak diberi makan saat jam makan siang," ucapnya, lalu mengambil air syrup dan menuangkannya pada teko, lalu ia memecah es batu dan menghidangkannya padaku. Sepertinya ia tak puas dengan menghidangkan yang sudah kami santap barusan.
Lalu kami melanjutkan berbincang dan beberapa saat kemudian, ia beranjak dari duduknya dan masuk ke ruang tamu, lalu mengambil satu buku bersampul dengan warna merah.
Ia kembali padaku, lalu menatapku dengan begitu lembut. Ah, aku sangat merasa jika memiliki seorang saudara ditempat asing ini.
"Ambillah." ia mengulurkan buku tersebut padaku, dan ku baca disana 'Tuntunan Shalat'.
Deeeeegh...
Jantungku seolah berhenti berdetak. Bahkan aku tak tau hendak mengatakan apa, sebab tak satupun bacaan shalat yang ku hafal. Bagaimana aku tahu akan hal itu, sebab sedari kecil, hidupku sudah terlunta dan tak sempat aku merasakan apa itu pendidikan. Bahkan pendidikan hanya sebatas kelas tiga sekolah dasar saja, dan aku tahu membaca karena aku berusaha belajar melalui sepupuku, dan akhirnya aku tahu akan baca tulis.
Ku tarik buku tersebut. Baru pertama kalinya ada seseorang yang begitu perhatian padaku, tetapi bukan keluargaku, apalagi suamiku yang bahkan kehidupannya lebih buruk akan hal agama, namun seseorang yang tidak ada hubungan darah dan ikatan keluarga padaku.
Ku tarik nafasku dengan sangat dalam, ku genggam buku tersebut, lalu ku lirik jam diponselku yang memperlihatkan pukul 3 sore.
"Mbak, aku harus pulang, sebelum ibu mertuaku sampai dirumah," ucapku padanya berpamitan.
"Baiklah, hati-hati dijalan, dan jangan lupa untuk main ke rumah ini jika ada yang kau butuhkan," pasannya padaku.
Aku mengaggukkan kepala, lalu memanggil puteraku yang sedang bermain mobil-mobilan dengan kedua putera mbak Lisa.
Ku langkahkan kakiku menyusuri jalanan aspal dan sinar mentari yang terik.
Beberapa menit kemudian, aku tiba dirumah ibu mertua. Ku sapu rumah dan membersihkan segalanya hingga selesai, lalu aku masuk kembali ke kamar dan berbaring agar terlihat sedang sakit.
Sekitar pukul 6 sore. Ku dengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah. Ku singkap tirai jendela, dan benar saja jika itu bang Johan dan Wita. Tak ku lihat ibu mertua, aku tak tahu kemana ia kini.
Terlihat Wita membawa satu kantong kresek berwarna putih dengan merk sebuah toko, tetapi wajahnya terlihat masam, aku tak tahu mengapa.
Sesaat ku dengar ia mengetuk pintu kamarku.
Tok... Tok.. Tok..
"Kak, Ann," ucapnya dengan sangat ketus.
"Ya," sahutku. Lalu aku bergerak turun dari ranjang dan membuka pintu untuknya.
Tampak ia nyelonong masuk ke dalam kamar. "Kak, ini aku tadi beli baju di toko, tapi ternyata kekecilan, mungkin sama kakak ukurannya pas," ucapnya sembari menyodorkan kantong kresek tersebut.
Jika dari ukuran tinggi badan, memang ia lebih tingg dan besar dariku. Lalu aku membongkarnya, dan menemukan tiga helai celana berbahan crincle dan atasan yang sesuai warna celana tersebut.
Aku mencobanya, dan kebetulan sekali sangat pas.
"Berapa harganya?" tanyaku dengan penasaran.
"Semuanya ambil tiga ratus ribu saja, Kak. Aku udah jual rugi itu," ucapnya dengan cepat.
"Dua ratus lima puluh, Ya," tawarku padanya.
Ku lihat ia terdiam sesaat. "Ya sudahlah, buruan uangnya," ucapnya dengan kesal.
Ku ambil uang disaku celanaku dan memberikan padanya, dengan cekatan ia mengambilnya dan beranjak pergi dari kamarku.
*****
Malam menjelma. Kegelapan dan udara dingin berpadu dengan sempurna.
Ku lihat Wita keluar bersama dengan Irfan dan puteranya mengendarai motor baru pemberian ibu mertuaku.
Aku baru saja selesai mandi. Ku kenakan pakaian yang baru lu beli dari Wita sore tadi.
Ibu mertuaku baru saja keluar dari kamarnya. Ia tiba sekitar pukul 7 senja tadi, karena sedang mengunjungi sahabatnya yang sedang sakit.
"Wah, ternyata pilihan ibu pas dibadanmu, apakah kamu suka?" ucap ibu mertua padaku saat kami berpapasan.
Aku mengerutkan keningku, masih bingung dengan ucapannya, sebab ia tak pernah seramah itu padaku.
"Maksudnya, ini ibu yang beli?" tanyaku padanya.
"Iya. Tadi ibu dan Wita singgah ke toko beli daster buat ibu. Jadi saat melihat pakaian itu, ibu teringat kamu, jadi ibu belikan tiga pasang untukmu, dan tiga pasang untuk Wita," ungkapnya.
Deeeeg...
Jantungku seakan berhenti berdetak. Ku coba menahan diriku untuk kuat. "Oh, aku suka, bu. Makasih ya, untuk pakaian barunya, aku suka," ucapku hampir menangis.
Sejahat itukah Wita padaku? Bahkan ia diberi 40 juta untuk membangun rumah, motor baru, aku berusaha untuk tidak iri, tetapi hanya tiga stel pakaian yang tidak seberapa harganya, itu pun masih diiri kannya.
Aku bergegas masuk ke kamarku, rasanya begitu pedih hatiku, apa salahku? Mengapa penderitaan tak pernah pergi dariku?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Neulis Saja
kamu sdh tahu caranya mendekat kepada yg menciptakan kita, karena Allah tdk akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan kita walau kamu cuma SD itupun tdk tamat tapi kan masih bisa baca. come on , try to find a way to get closer to Allah
2024-09-08
0
suharwati jeni
klo aq jadi anna, aq tegur wita didepan ibu mertua dan minta balik uangnya.
tapi gak usah ngegas.
jangan diem aja.
2024-07-13
0
Ira Sulastri
Jadi wanita sabar dan baik hati boleh dan harus tp wajib pula cerdas/ cerdik jangan bodoh jadi mudah di bodohi orang lain
2024-06-26
0