Aku menutup rapat pintu kamarku. Lalu ku ikuti langkah bang Johan yang berjalan menuju ranjang tidur yang terbuat dari springbed mahal saat ia masih bujangan, jangan tanya tentang hantaran, karena pernikahanku dengan bang Johan saja orangtuanya tidak menghadirinya, dan kami menikah dikantor KUA saja, tanpa kehadiran mereka berdua, dan hanya ada ibuku yang datang dari kampung, serta adik mertuaku yang merasa empati dengan keadaan kami.
Ku tarik nafasku dengan dalam, lalu naik ke ranjang untuk beristirahat, mencoba melupakan apa yang terjadi barusan. Ku lirik bang Johan yang terlihat tak dapat tidur, ku tahu ia pasti baru saja menggunakan barang haram tersebut, sehingga membuatnya terjaga sepanjang malam. Ingin rasanya aku berteriak atau mengajaknya ribut, namun itu akan membuatnya semakin tertekan, sebab baru saja mendapat perlakuan buruk dari keluarganya.
Aku tak dapat lagi menahan rasa kantukku, dan aku tertidur dengan lelap.
*****
Wita dan juga Ifan sudah bangun saat hari masih sangat pagi.
Ku lihat mereka memasuki kamar ibu mertuaku. Keduanya terlihat sangat girang. Tanpa sengaja, tampak Rumi mengeluarkan sebuah kotak berukuran 20cm×20cm berwarna silver dan membuka gemboknya. Ternyata didalamnya terdapat uang simpanan ibu mertuaku.
Seeeeerr...
Aliran darahku berdesir sangat kencang. Wita dan Irfan tampak tak sabar untuk menerima uang tersebut.
"Ini ada 40 juta, untuk membangun rumah kalian, dan membayar tukang, jika kurang nanti ibu minta dengan ayah, bangun seadanya saja," titah Rumi pada keduanya.
Sontak saja hal itu membuat senyum licik mengembang dibibir Wita dan suaminya.
Hatiku sangat nelangsa. Begitu mudahnya ibu mertua ku memberikan uang tersebut pada putera bungsunya, sedangkan aku dan juga bang Johan bagaikan terbuang tanpa dianggap ada.
Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi. Masih ada piring kotor menumpuk disana, dan aku bergegas mencucinya, demi memenuhi perut yang sejengkal dan memberikan tempat tinggal pada puteraku, ku lakukan semua dengan berbesar hati, mungkin sudah nasibku yang tergaris harus menerima segala cobaan ini.
Tanpa terasa bulir bening mengalir disudut mataku, dan aku tak dapat menahan lajunya rasa pedih yang ternyata membuatku sedikit rapuh.
Setelah selesai, ku lihat ayah mertuaku datang membawa bahan belanja untuk dimasak pagi ini. Ibu mertuaku masih didalam kamar dan pastinya masih memberikan wejangan kepada putera tersayangnya.
"Ann, kemarilah," panggil ayah mertuaku. Ia termasuk orang yang sulit ditebaknya sikapnya. Baru saja malam tadi ia membuat keributan, namun pagi ini ia bersikap seolah tidak ada pernah terjadi sesuatu.
"Nanti masakkan soup daging ini, ya. Bumbunya ini, dan kamu yang memasaknya," titahnya lagi. Aku pernah memasakkannya soup daging, dan sepertinya ia tertagih dengan masakanku.
"Iya, Ayah," sahutku dengan lirih. Lalu ku ambil kantong kresek yang berwarna putih yang terdapat daging didalamnya.
Pria patuh baya itu hendak pergi, namun ia menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Ia menghampiriku dan merogoh saku celananya. "Ini, untukmu," ia mengulurkan selembar uang 100 ribu rupiah.
Aku mengambilnya, dan tersenyum getir. Ya, mungkin hanya sebatas ini rezekiku. Sebab jika dibandingkan oleh Wita, maka ini tidak ada harganya sama sekali.
Aku meraihnya, lalu memasukkan ke saku celana kulot yang ku pakai saat ini. Ku lihat Ayah mertuaku beranjak pergi dari hadapanku dan kembali ke rumah istri mudanya.
Ku tarik nafasku yang berat, dan ini sangat begitu perih, ya, tapi aku bisa apa, Tuhan yang punya kendali akan hidupku.
Beberapa jam kemudian, semua bahan telah ku siapakan dan beberapa menu sudah selesai dimasak, tinggal satu menu lagi yang menunggu matang.
Ku lihat Wita bersiap dengan pakaian bagus, dan Irfan juga sama sepertinya. "Bang, kita beli bahan bangunannya ditoko yang langganan saja, sebab harganya lebih murah," ucap Wita dengan nada yang sengaja dibuat tinggi untuk memanasiku.
Saat bersamaan, Fina datang dan mendengar semuanya. Ia tidak terima akan hal itu. Meskipun ia sudah dibuatkan rumah yang bagus dan lengkap dengan perabotannya, namun mendengar Wita akan membangun rumah, maka ia tentu saja tidak terima. Sungguh jiwa pengiri yang hebat.
"Bu, aku belum beli sofa, aku mau dibelikan sofa baru, sofa yang lagi viral," ucap Fina pada ibu mertuaku yang saat ini sedang berada didapur dan mempersiapkan menu berjualan.
Seeeeer....
Aliran darahku berdesir kencang. Semudah itukah mereka meminta pada ibu mertuaku? Sedangkan aku meminta seratus ribu saja harus seribu kali berfikir.
Wanita paruh baya itu menoleh ke arah sang menantu tersayang. Sepertinya ia faham jika Fina sedang cemburu pada Wita karena mendengar akan dibuatkan rumah.
Rumi menarik nafasnya dengan berat. "Sabar dulu, tiga hari lagi akan ibu belikan," ucapnya dengan lembut. Aku merasakan duniaku begitu tak adil, namun aku hanyalah seorang yang tak dianggap.
Bergegas ku kemasi menu masakan yang ku bawa ke kantin dan ku tata didalam bak mobil.
Ku rogo saku celananya, dan ku lihat uang seratus ribu pemberian ayah mertuaku, ku re-mas dengan sangat kuat dan seolah ku ingin membuang rasa sakit yang kini bersemayam dilubuk hatiku yang terdalam.
Ku lihat bang Johan sudah siap dan akan mengantar kami ke kantin. Tampak puterku mengekorinya dari arah belakang dan naik dijok depan, sedangkan aku dibak belakang seorang diri.
Asalkan kalian tau, tidak pernah sekalipun suamiku mendapatkan upah untuk mengantar kami, bahkan sebatas sebungkus ro-kok pun tak pernah ia dapatkan.
Tetapi ku lihat ia tak pernah memintanya, sepertinya ia begitu ikhlas untuk hal itu, hanya saja ibu mertuaku tak pernah memandang apa yang sudah diberikan putera ke tiganya itu.
Bang Johan meraih karet gelang yang tergeletak dibak mobil. Lalu mengucir rambutnya yang panjang lurus sebahu. Aku sudah memintanya berulang kali untuk memangkasnya, namun tak pernah didengarnya, bahkan ia tak pernah memperhatikan penampilannya yang sangat amburadul.
Wanita paruh baya itu berjalan keluar rumah, lalu memasuki mobil, dan aku tetap setia duduk dibelakang bersama dengan berbagai menu yang akan kami dagangkan.
Mobil bergerak melaju menuju kantin perusahaan. Aku termenung seorang diri. Aku tak memiliki teman untuk berkeluh kesah. Saat melintasi jalanan, ku lihat mbak Lisa sedang berjalan menuju warung.
Seketika aku teringat akannya. Ya, dia. Seseorang uang ku anggap sahabat sekaligus kakakku sendiri, dan aku berniat untuk pergi ke rumahnya jika ada waktu. Sudah sangat lama kami tidak bertemu, dan aku akan menceritakan semua beban hidupku yang terasa berat dan bagaikan sebongkah batu besar yang menimpa kepalaku.
Aku berteriak menyebut namanya saat kami berpapasan. Ku lihat wanita berhijab itu melambaikan tangannya padaku dengan senyum yang begitu manis, aku tau jika ia juga merindukanku, sebab kami begitu akrab.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Neulis Saja
Anna kalau terus tinggal di rumah mertuamu tak akan ada perubahan, coba kamu keluar dari rumah karena suamimu juga bukan laki2 yg bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya
2024-09-08
0
suharwati jeni
bangkit dong anna
2024-07-13
0
V3
nalangsa bgt hidup mu Anna 😔
2024-04-26
0