episode-4

"Bu, Besok aku pindah rumah. Tapi bang Arkan belum punya motor baru, aku minta dibelikan yang baru agar aku bisa ke kantin dan tidak lagi repot dengan satu motor saja," ucap Fina den mudahnya.

Aku yang mendengarnya hanya dapat menarik nafas dengan dalam, karena ini sangat luar biasa sekali.

"Sabarlah, nanti ibu pesankan," jawab ibu mertuaku dengan santai, sembari mengaduk lauk yang akan dibawa ke kantin.

Aku tersentak kaget. Semudah itu jawaban ibu mertuaku untuk menantu keduanya. Bahkan sangat mudah. Memberiku uang 35 ribu saja ia sangat berat, bahkan terbilang perhitungan. Bahkan aku yang lebih banyak bekerja dibanding mereka

praaaaank...

Kudengar suara mangkuk besar yang berbahan stainles dibanting oleh Wita. Sepertinya ia cemburu karena Fina mendapatkan motor baru.

Aku berusaha menata hatiku, dan kembali memasak agar segera cepat selesai.

Ku lihat Irfan adik iparku baru saja keluar dari kamar mandi. Ternyata ia mendengar ucapan dari Fina yang mana jelas membuatnya merasa iri.

"Kalau kak Fina dibelikan motor, aku juga mau," ucapnya tak mau kalah.

Ibu mertuaku melirik kepada Irfan yang merupakan anak bungsunya.

"Iya, nanti sekalian ibu belikan," sahut ibu mertuaku dengan wajah kesal, namun ia tak dapat menolak keinginan dari anak bungsu kesayangannya yang kerjanya hanya malas-malasan dan menggunakan drugs.

Aku yang mendengar pembicaraan mereka merasakan hatiku begitu nelangsa dan sangat sakit. Ku percepat memasakku dan menata lauk-pauk yang yang sudah matang dan ku letakkan dimobil pick up.

Saat aku melintasi ruang samping, ku lihat bang Johan berada diambang pintu, sepertinya ia mendengar percakapan adiknya dan juga kakak iparnya-Fina yang meminta motor baru.

Bang Johan emang pemalas dan memiliki sikap yang menyebalkan, namun ia tak pernah meminta dibelikan apapun oleh orangtuanya, dan aku juga tak pernah menghasutnya.

Aku tau ia merasa diasingkan oleh ibunya, namun ku coba berpura-pura tak menghiraukannya.

Tak berselang lama, tampak mobil berwarna merah tua memasuki halaman rumah. Itu adalah bang Firman, kakak ipar tertuaku yang merupakan duda beranak satu dan sampai saat ini belum juga menikah, sepertinya ia memilih menduda untuk selamanya, sebab anaknya saja sudah berusia 11 tahun.

Bang Firman bersikap dingin pada siapa saja, termasuk aku, dan itu tak membuatku heran.

Semua lauk-pauk sudah selesai dimasak. Aku kembali masuk ke dalam rumah. Ku lihat Fina dan Wita saling berbisik saat melihatku masuk. Wita adalah orang yang pandai bermuka dua, dan aku berusaha tak perduli.

Mungkin saja mereka sedang membahas motor baru yang akan dibeli ibu mertuaku siang nanti, sedangkan aku tidak mendapatkan apapun.

Setelah semua selesai ku tata, kamipun berangkat menuju kantin. Terlihat wajah Wita yang sangat sumringah. "Wih, Kak. Nanti siang ibu beli motor baru untukku dan kak Fina," ucapnya dengan nada memanasiku.

Aku hanya mengulas senyum tipis. Sakit, tentu saja sakit. Andai saja bang Johan mau diajak pindah rumah, dan aku tak melihat semuanya, pasti tidak sesakit ini.

Ku lirik bang Johan dari kaca spion. Terlihat ia berwajah sendu. Mungkin ia merasa jika ibunya berpilih kasih, namun ia tak ingin memperlihatkan kekecewaannya.

"Aku mau minta motor matic yang keluaran terbaru. Menurut kakak warnanya yang merah atau yang putih yang cantik, kak?" celoteh Wita yang semakin membuat luka hatiku.

Ku menarik nafasku dengan berat. "Semuanya cantik," aku mencoba menahan bulir bening yang hampir jatuh. "Tidak, aku tidak boeh rapuh hanya akan hal seperti ini," ku mencoba menguatkan hatiku.

"Emm, lalau begitu aku yang warnah putih saja, soalnya kak Fina mau yang warna merah,"celoteh Wita kembali hingga sampai ke kantin. "Ibu memang sayang ya sama aku dan kak Fina," ucapnya lagi, yang semakin menambah luka dihatiku.

******

Malam beranjak. Aku ingin merebahkan tubuhku yang lelah. Namun suara bising diluar membuatku merasa sangat penasaran. Ku coba menyingkap tirai jendela kamarku. Kamar tempat dimana suamiku dari saat masa remaja.

Rumah ini memiliki 5 buah kamar. Tentu saja rumah ini cukup besar. empat orang anak laki-laki dengan kamar masing-masing satu, dan aku mendapatkan kamar paling depan karena itu kamar saat suamiku masih lajang.

Seeeerrr...

Darahku berdesir kencang saat ku lihat sebuah mobil dialer menurunkan dua buah motor matic berukuran besar dengan warna merah dan juga putih, ternyata sesuai permintaan dua menantunya.

Aku kembali menutup tirai jendelaku, dan tak berpura-pura tidak melihat yang terjadi.

Ku lirik putera semata wayangku yang saat ini sedang tertidur lelap. Bahkan ia juga menjadi korban pilih kasih dari ibu mertuaku dan membedakannya dengan cucu yang lainnya.

"Apa salahku? Mengapa ibu mertuaku begitu sangat berpilih kasih padaku?" gumamku lirih, ku coba membalut lukaku dengan membiarkan bulir bening itu jatuh dan memaksa mataku untuk terlelap tidur.

"Waaah, bagus banget motornya," teriak Wita dengan girang saat motor yang dimintanya datang dengan sangat cepat. Tidak sia-sia selama ini ia menjadi penghasut dan juga bermuka dua alias bermanis muka dengan sang ibu mertua.

Terlihat Fina tak senang, sebab Wita selalu saja ingin ikut dengan apa yang dimintanya kepada sang ibu mertua.

Fina dan Wita adalah dua orang munafik yang mana selalu pandai bermanis muka dihadapan satu sama lainnya.

"Bu, besok pagi aku pindah rumah, dan aku berangkat ke kantin naik motor ini saja," ucap Fina dengan rasa bahagia.

"Iya, tapi ibu tidak bisa antar kamu karena harus kekantin," sahut ibu mertua.

"Tidak apa, bu. Mungkin besok aku akan libur dulu, karena mau berberes," sahut Fina.

Rumi sang ibu mertua menganggukkan kepalanya dan masuk kerumah untuk beristirahat. Kedua motor itu dibelinya dengan cash. Ia tak pernah bisa menolak keinginan menantunya, sebab ia berharap jika esok tua, menantunya itu yang akan merawatnya.

*****

Pagi menjelang, semua kembali disibukkan oleh kegiatan rutinitas yang kami jalani. Ku lihat Fina sudah tidak lagi dirumah ibu mertuaku. Ia pindah ke rumah sendiri yang mana juga dibangunkan oleh ibu mertuaku dengan tanah yang juga diberi gratis oleh ibu mertuaku.

"Kemana piring makan satu set yang ibu beli seharga satu juta itu," ucap Rumi sang ibu mertua dengan rasa kesal.

Aku melirik ibu mertuaku, aku tau siapa yang mengambilnya, sebab aku memergoki Fina malam tadi mengemasi piring tersebut saat tanpa sengaja aku ke kamar mandi.

Ah, ternyata menantu kesayangannya semua pencuri bertopengkan malaikat yang pandai menutupi dirinya dengan wajah manis yang menyebalkan.

Aku hanya tersenyum getir mendengar ocehan mertuaku.

"Mungkin kak Fina, Bu. Siapa lagi, coba?" ku dengar Wita mulai menghasut.

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

oklah saling menghasut tapi ingat tak ada kejahatan yg abadi pasti cepat atau lambat akan terkuak juga

2024-09-08

0

❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʀͩᴏᷞsͧᴍᷠiͣa✰͜͡v᭄HIAT

❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʀͩᴏᷞsͧᴍᷠiͣa✰͜͡v᭄HIAT

kalau aku si mending angkat kaki dr rumah itu dengan atau tanpa persetujuan suami. masalahnya suami yg jd tumpuan hidup di situ jg pemalas luar biasa

2024-05-05

1

V3

V3

najiisss bgt aku kalau punya mertua dn ipar spt itu 🤮🤮😡🤬

2024-04-18

2

lihat semua
Episodes
1 Awal
2 Tuduhan
3 episode-3
4 episode-4
5 episode-5
6 episode-6
7 episode-7
8 episode-8
9 episode-9
10 Hasut
11 sebelas
12 duabelas
13 Tigabelas
14 episode-14
15 episode-15
16 episode-16
17 episode-17
18 episode-18
19 episode-19
20 episode-20
21 Masih Flashback Anna
22 flashback-lagi
23 episode-23
24 episode-24
25 episode-25
26 Masih di Falshback Anna
27 flashback lagi
28 Stay Flashback
29 stay flashback si Anna
30 Masih diflash back dulu
31 Semula
32 Hampa
33 bekerja
34 bekerja-2
35 Bekerja-3
36 kabar
37 Bang Juned
38 Bebanku
39 beban hidup
40 Teror
41 menjemput
42 Kembali
43 Tiba
44 episode-44
45 episode-45
46 episode-46
47 episode-47
48 episode-48
49 episode-49
50 episode-50
51 episode-51
52 episode-52
53 Licik
54 Zubaidah
55 episode-55
56 Playing Victim
57 episode-57
58 episode-58
59 episode-59
60 episode-60
61 episode-61
62 episode-62
63 episode-63
64 episode-64
65 episode-65
66 episode-65
67 episode-67
68 episode-68
69 episode-69
70 episode-70
71 episode-71
72 episode-72
73 episode:73
74 episode-74
75 episode-75
76 episode-76
77 episode-77
78 episode-78
79 Episode-79
80 episode-80
81 episode-81
82 episode-82
83 episode-83
84 episode-84
85 episode-85
86 episode-86
87 episode-87
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Awal
2
Tuduhan
3
episode-3
4
episode-4
5
episode-5
6
episode-6
7
episode-7
8
episode-8
9
episode-9
10
Hasut
11
sebelas
12
duabelas
13
Tigabelas
14
episode-14
15
episode-15
16
episode-16
17
episode-17
18
episode-18
19
episode-19
20
episode-20
21
Masih Flashback Anna
22
flashback-lagi
23
episode-23
24
episode-24
25
episode-25
26
Masih di Falshback Anna
27
flashback lagi
28
Stay Flashback
29
stay flashback si Anna
30
Masih diflash back dulu
31
Semula
32
Hampa
33
bekerja
34
bekerja-2
35
Bekerja-3
36
kabar
37
Bang Juned
38
Bebanku
39
beban hidup
40
Teror
41
menjemput
42
Kembali
43
Tiba
44
episode-44
45
episode-45
46
episode-46
47
episode-47
48
episode-48
49
episode-49
50
episode-50
51
episode-51
52
episode-52
53
Licik
54
Zubaidah
55
episode-55
56
Playing Victim
57
episode-57
58
episode-58
59
episode-59
60
episode-60
61
episode-61
62
episode-62
63
episode-63
64
episode-64
65
episode-65
66
episode-65
67
episode-67
68
episode-68
69
episode-69
70
episode-70
71
episode-71
72
episode-72
73
episode:73
74
episode-74
75
episode-75
76
episode-76
77
episode-77
78
episode-78
79
Episode-79
80
episode-80
81
episode-81
82
episode-82
83
episode-83
84
episode-84
85
episode-85
86
episode-86
87
episode-87

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!