Rumi bergegas keluar dari kamarnya. Ia melihat dua anak lelakinya sedang baku hantam, dan itu membuatnya sangat geram.
"Sudah! Apa yang sedang kalian ributkan!" wanita paruh baya itu mencoba melerai pertengkaran yang ada.
Tampak Irfan menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Johan, apa yang sudah kamu lakukan pada adikmu! Kamu ini emang keterlaluan, ya!" hardik Rumi dengan tatapan ketus.
Johan tersenyum sinis menatap sang ibu. "Tanyakan pada anak kesayanganmu, Bu!" jawab sang anak dengan kesal.
Rumi menatap pada Irfan yang saat ini sedang tertunduk. "Apa yang sudah kamu lakukan!" tanya wanita itu dengan penuh penasaran.
Irfan hanya terdiam, ia tak mampu mengangkat wajahnya yang tertunduk untuk menatap sang ibu.
Rumi semakin penasaran dan ini membuatnya tak sabar. "Apa yang sudah kamu lakukan!" nada bicaranya mulai tinggi.
"Dia sedang menjadi buronan karena terlacak menjual sabu!" sahut Johan yang sudah gemas sedari tadi.
"Hah!" Rumi tersentak kaget. Ia tak mengira akan mendengar kabar buruk tersebut.
Lalu ia menatap Johan dan menarik nafasnya dengan berat. "Kamu cari pembeli, karena ibu akan menjual sebagian kebun ibu untuk menutup kasus adikmu!" titah Rumi pada sang anak.
Seketika Johan tercengang. "A-apa? Ibu mau menjual kebun untuk menutupi kejahatannya!" tunjuknya pada wajah sang adik.
Seketika Irfan tersenyum seringai, sebab bagaimanapun, ibunya akan mati-matian untuk membelanya.
"Aku tak mau!" sanggah Johan cepat.
"Johan! Apakah kamu ingin melawan ibumu?" Rumi mulai kesal atas penolakan sang anak.
Johan mengerutkan keningnya. Ia merasa sangat bingung mengapa sang ibu selalu membela sang adik bungsunya.
Meskipun ia sangat kesal, tetapi ia tak ingin bertengkar dengan sang ibu. Ia beranjak pergi dari rumah dengan perasaan yang sangat kesal.
Sementara itu, Irfan tersenyum senang, sebab ia tak perlu harus repot-repot kabur untuk menghindari kejaran polisi, sebab sang ibu selalu ada untuknya.
*****
Johan menaiki sepeda motor milik sang ayah untuk menemui seseorang. Perawakannya yang tinggi dan besar terlihat lucu saat menaiki motor bebek tersebut.
Ia menelusuri jalanan bebatuan yang belum tersentuh pembangunan. Beberapa menit kemudian, ia tiba diperkebunan kelapa sawit milik sang ibu, ia mengamatinya dengan seksama.
Pria berambut gondrong itu memilih area pinggir untuk menjual kebun sawit itu, sekitar setengah hektar saja.
Setelah selesai mengamati dan memeriksanya, ia menelepon seseorang yang merupakan calon pembeli dan tadinya sudah ia rayu, semua itu demi adik dan ibunya.
Saat bersamaan...,
Kraaas... Kraaaas...kraaas ..
Terdengar seseorang sedang mengkait janjangan kelapa sawit dari arah utara. Ia mengalihkan perhatiannya, dan membatalkan telponnya.
"Siapa yang siang-siang memanen sawit ayah sebelum harinya?" gumamnya dengan lirih. Lalu berjalan mengendap-endap menuju utara.
Setelah berada ditempat yang dituju, ia melihat seseorang yang tak lain Irfan adiknya sendiri. "Brengseeek!" makinya dengan kesal, lalu menyelinap diantara pepohonan sawit.
Buuuugh..
Satu janjangan sawit berukuran besar jatuh ke tanah.
Johan dengan cepat menarik kerah kaos yang dikenakan oleh sang adik.
"Eh, brengseeek! Ini milik ayah, mengapa tetap kau ambil, jatah kita disebelah barat!" maki Johan geram.
Irfan menjatuhkan pengait sawit tersebut, lalu menyikut sang kakak dan berhasil kabur setelah menjatuhkan alat pengait dengan batang fiber, lalu kabur.
Dreeeet... Dreeet..dreeet...
Ponsel butut milik Johan bergetar, lalu ia mengangkatnya, dan membiarkan sang adik kabur.
Seseorang yang berjanji untuk membeli kebun milik ibunya menghubunginya.
"Iya, Pak. Saya tunggu diarea kebun," sahut Johan, sembari berjalan menuju kebun milik sang ibu yang berjarak sekitar 100 meter dari kebun milik sang ayah.
Setibanya disana. Ia melihat Pak Joni sudah menunggunya. "Eh, Pak.., ayo saya perlihatkan kebun ibu yang mau dijual," ucapnya dengan sangat ramah.
"Ada masalah apalagi, Han?" tanya pria itu yang sudah menjadi langganan untuk membeli kebun mereka saat terjepit.
"Biasalah, Pak. Si Irfan buat masalah lagi, dan ibu ingin menebusnya agar berkas tidak dinaikkan," sahutnya.
"Heh, anak itu gak berhentinya dan gak ada kapoknya membuat masalah!" sungut pak Joni geram.
"Maklum, anak kesayangan," sahut Johan lirih, ada luka disana, dimana ia merasa jika dirinya tak pernah mendapatkan perhatian dari sang ibu.
"Itu ibumu yang terlalu memanjakannya, sehingga ia terus merasa dimanja, akhirnya tersesat," ucap pak Joni sembari menelusuri jalanan kebun.
Johan menghela nafasnya yang terasa berat, ia merasakan sesak didanya saat mendengar ucapan pak Joni barusan, namun ia tak ingin membuat sang ibu memikirkan sesuatu, sebab Rumi memiliki penyakit darah tinggi dan juga asam urat akut, ia takut terjadi sesuatu, sehingga membuatnya harus menuruti semua permintaan sang ibu.
Setelah melakukan pemeriksaan, akhirnya disepakati kebun itu dijual dengan harga 100 juta saja. Karena terjepit, akhirnya Johan setuju, sebab harga pasarannya kisaran harga 135 juta untuk per hektarnya.
Setelah pulang dari kebun, Johan menemui sang ibu, lalu menceritakan kesepakatan antara dirinya dan juga pak Joni mengenai harga jua tanah tersebut.
Meskipun dengan berat hati, akhirnya Rumi terpaksa menyetujuinya, lalu malam nanti menjemput uang yang dimaksudkan.
******
Suara adzan Isya berlalu. Johan baru saja pulang dari mengantarkan Anna dari membeli skincare murah yang terjangkau, sebab sang istri sangat memperhatikan penampilan, namun ia tidak perlu membeli yang mahal, sebab baginya jika cocok dengan kulitnya, maka itu sudah cukup baginya.
Setibanya dirumah, ia tak menemukan sang ibu. Hatinya sedikit resah.
"Kemana ibu,?" gumam Johan dengan lirih, namun didengar oleh Anna.
"Mana aku tau, sebab kita baru saja pulang," sahut Anna.
"Pak Joni janji bertemu setelah isya, mengapa ibu tidak ada dirumah?" ia semakin penasaran.
Breeeeem...
Suara deru mesin dari arah simpang rumah menuju halaman, dan Johan bergegas melihatnya ke arah luar.
Deeeeegh...
Jantungnya seolah terhenti saat melihat Irfan membonceng sang ibu dengan sebuah tas berwana coklat yang merupakan satu-satunya milik sang ibu.
"Siaaal!" maki Johan dengan kesal. Ternyata ia kalah cepat oleh sang adik yang mana ternyata telah terlebih dahulu menjemput uang penjualan kebun ibunya yang mana untuk menyuap pihak berwajib agar berkas tidak dinaikkan untuk diproses.
Terlihat wajah Irfan tersenyum menjijikkan saat turun dari motor baru yang waktu itu dibelikan oleh sang ibu.
Johan tak dapat berkata-kata, lalu memilih ke luar rumah dan melintasi keduanya dengan hati yang hancur, dimana sang ibu juga terlihat sangat tak acuh padanya.
Keduanya memasuki rumah, lalu terlihat Irfan merangkul sang ibu dengan segala rayu dan gombalannya.
"Bu, kata pak Santoso uang suapnya 30 juta, dan aku minta 10 juta untuk bayar upah tukang bangunan ya, Bu," rengek pria bertubuh tinggi tersebut, dan itu didengar oleh Anna yang masih berdiri mematung didepan pintu kamar.
Hatinya sedikit luka, meskipun suaminya sedikit bejad, bukankah Johan yang bersusah payah untuk mencari pembeli kebun tersebut, namun setelah pencairan, sang ibu mengajak sang pembuat masalah untuk menjemput uang tersebut tanpa mengajak Johan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Neulis Saja
entahlah Rumi itu ibu macam apa tdk bisa mendidik anak, kalau teruuuus seperti itu maka jgn berharap kamu akan hidup tenang karena anakmu akan terus melakukan kesalahan karena ada yg membela yaitu dirimu cara menyayangi anak bukan dgn harta tapi dgn ilmu yg bisa menyelamatkan kamu dan anakmu karena kalau si irfan menjadi anak Sholeh maka akan menjadi tabungan akherat, tapi sayang kamu juga sbg ibunya kayanya org bego dan minim ilmu agama
2024-09-08
0
suharwati jeni
bu rumi juga rese nih.
jadi ortu harus adil
2024-07-13
0
suharwati jeni
minta dong anna.
gak usah sungkan.
kan kamu istrinya johan yg mencarikan pembeli
2024-07-13
0