Fina menyusun berbagai keperluannya. Terlihat kasur baru yang juga hadiah dari ibu mertuanya karena baru saja pindah rumah.
Dua lusin piring berbahan keramik dengan motif kembang mawar berukuran besar ia keluarkan dari kotak kardus. Ia menatanya dibawah meja kompor. "Hemmm, untung saja aku dapat mengamankannya, jika tidak, si Wita pasti juga mengambilnya," gumamnya dengan kesal. Ia merasa jika Wita adalah saingan terberatnya yang harus ia waspadai, sedangkan Anna tidak terlalu penting, sebab ia tak pandai merayu atau menghasut ibu mertuanya.
"Heeem..., sebulan lagi aku akan meminta sofa baru, agar rumahku ini penuh dengan barang-barang mewah," ia kembali menyusun rencananya.
****
"Apakah kamu yakin jika Fina yang mengambilnya?" tanya Rumi penasaran.
"Ibu tidak percaya padaku? Coba saja lihat dirumahnya," Wita semakin gencar menghasut.
Aku berusaha tak memperdulikan semua percakapan mereka, toh hanya akan menambah rasa muak didalam hatiku. Ingin rasanya aku secepatnya pergi dari rumah ini, namun bang Johan tak pernah terniat sedikitpun untuk pergi.
"Besok Ibu libur, nanti akan ibu lihat apakah piring itu ada disana," sahut ibu mertuaku, dan pastinya Wita berhasil menghasutnya.
"Iya, Bu. Ada banyak barang yang diambilnya, karpet yang mahal itu juga dibawanya," Wita semakin gencar.
Rumi menghentikan pekerjaannya. "Kamu yang bener saja?" Rumi tersentak kaget.
"Coba ibu lihat digudang, apa karpet itu masih ada atau tidak!" sahut Wita cepat.
Rumi termakan hasutan Wita, lalu beranjak bangkit dan melangkah menuju gudang. Ia membuka pintu gudang dan memeriksa isinya. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Wita jika barang tersebut tidak ada disana.
"Dasar Fina, tidak cukup aku memberinya springbed mahal, bahkan karpetku juga diangkutnya!" Rumi menggerutu.
"Benar yang ku bilang-kan, Bu?" ucap Wita.
"Hah, kamu ngagetin ibu saja, Wit!" ucap Rumi sembari mengurut dadanya yang kaget karena ternyata Wita sudah tiba dibelakangnya.
Wita tersenyum nyengir mendapati ibu mertuanya dengan wajah yang kaget.
"Iya, dia membawanya," sahut Rumi, lalu berniat menutup pintu gudang.
"Ibu tidak marah?" tanya Wita penasaran.
Rumi menghela nafasnya dengan berat. Lalu ia menggelengkan kepalanya. "Bagaimana lagi, jika sudah dibawanya, ya tidak mungkin ibu minta lagi," sahutnya.
Wita merasa sangat kesal. Ia tak dapat menahan rasa irinya yang telah menggunung memenuhi ruang hatinya.
"Bu, enak kali Kak Wita! Ibu buatkan rumah, ibu belikan motor, springbed, bahkan kini karpet juga dibawa ibu juga tidak marah," protes Wita.
"Wit, sudahlah, ini masih pagi dan jangan buat bising tetangga," Rumi ingin beranjak dari tempatnya.
Wita menghadangnya. "Kalau tidak mau aku bising, maka buatkan aku dan bang Irfan rumah juga," ucapnya tak ingin kalah.
Rumi menatap menantunya dengan datar. "Ya, sudah, besok ibu buatkan rumah di tanah seberang," sahutnya tak ingin memperpanjang pertengkarannya.
"Sekalian springbed baru juga," pinta Wita tak ingin kalah dari Fina.
"Iya," sahut Rumi, lalu menepis tubuh Wita yang menghalangi jalannya. Seketika senyum kelicikan mengembang di bibir sang menantu.
Aku yang tanpa sengaja mendengar obrolan itu merasakan begitu nelangsanya hatiku. Bahkan tak pernah ku duga jika ibu mertuaku begitu mudahnya untuk mengiyakan semua permintaan kedua menantunnya itu.
Saat aku ingin beranjak pergi, terlihat kakak iparku yang berstatus duda melirikku dari pintu kamar mandi, sepertinya ia juga mendengar obrolan ibunya dengan iparnya yang bungsu.
Aku menatapnya dengan wajah sendu, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan yang menjadi saksi betapa aku begitu dianggap tak pernah ada oleh ibu mertuaku, dan itu sangat membuatku harus menempah mental baja.
Kakak iparku yang berstatus duda tersebut jika ku perhatikan memiliki watak yang dingin dan sama halnya seperti suamiku yang terlihat masa bodoh dengan dua saudara lainnya yang mana terlihat tamak akan harta kedua orangtuanya.
Aku memasuki kamar. Ku lihat bang Johan sedang bersiap dan mengenakan pakaian biasa untuk mengantar kami ke kantin. Pria yang menjadi suamiku ini juga tidak begitu perduli terhadap penampilannya, dimana rambutnya yang lurus tampal panjang hingga sebahu, dan aku sudah memintanya untuk pangkas rambut, namun tak dihiraukannya.
"Bang," ucapku lirih.
"Ada apa?" sahutnya sembari mengucir rambutnya menggunakan karet gelang warna-warni milikku.
"Wita minta dibuatkan rumah oleh ibu, dan besok katanya akan mulai mengadakan bahan ditanah seberang sana," ucapku dengan nada berbisik agar tak didengar orang lain.
"O," sahutnya datar. Bahkan tidak ada tanggapan lainnya.
Aku menarik nafasku dengan berat. "Apakah hanya itu jawabanmu?" ungkapku kesal.
"Lalu aku harus mengatakan apa?" tanyanya dengan pertanyaan paling bodoh yang sering ku dengar.
Aku mencoba menatapnya dengan sangat dalam. "Tidakkah abang berfikir untuk kita pindah dari rumah ini? Aku juga ingin punya rumah sendiri," saranku berulangkali.
"Abang belum punya uang, Dik," sahutnya, lalu beranjak keluar meninggalkanku dengan perasaan yang bercampur aduk.
Aku merasa kesal dengan suamiku. Aku tau ia tak.memiliki uang. Namun jika saudaranya yang lain dapat meminta rumah dengan mudahnya, tidakkah ia berniat juga untuk meminta dibuatkan rumah, bukankah ia juga anak yang sama?
Namun bang Johan tak.mengerti keinginanku, dan akhirnya aku harus menerima semua kenyataan yang ada.
"Bu, aku tidak ke kantin hari ini, ya. Aku mau ke tanah seberang ngajakin bang Irfan bersihkan lahan yang mau dididirikan rumah besok, dan jangan lupa, Bu, sekalian suratnya juga dibuat. Soalnya anak ibu ada 4 dan semuanya laki-laki, takutnya dikedepan hari ada yang iri dan menggugatnya," ucap Wita dengan sangat kuat dan tentunya itu sengaja ia katakan agar terdengar ke telingaku.
"Iya, nanti buatkan. Kalau kamu tidak ke kantin, siapa yang menolong ibu melayani pembeli?"
"Kan ada kak Anna," sahut Wita dengan seenaknya, lalu berpamitan pergi menggunakan motor barunya yang mana malam tadi baru saja didapatkannya bersama dengan Fina juga.
Deeeegh...
Rasanya jantungku bagaikan terhujam sembilu. Mereka yang menikmati harta mertuaku, tetapi aku yang dijadikan sapi perah oleh mereka.
Aku harus dapat membujuk Bang Johan untuk segera pindah dari rumah yang sangat mengerikan ini. Jika Wita juga pindah rumah, maka otomatis.semua pekerjaan akan menumpuk dan tertumpu padaku.
"Anna," panggil ibu mertuaku dengan sangat keras. Sedangkan Wita sudah pergi menggunakan motor barunya dan berboncengan bersama dengan adik ipar atau si bungsu yang kini membawa mesin pemotong rumput untuk membersihkan lahan yang akan mereka dirikan rumah.
"Anna," teriak ibu mertuaku lagi, dan aku keluar dari kamar sembari menggendong puteraku dengan menahan segala ledakan amarah yang mulai menggunung.
Ingin rasanya aku mengeluarkan kata kasar pada wanita dihadapanku, namun itu sama saja aku bersikap menjijikkan sama seperti mereka.
Aku tak menjawab panggilan ibu mertuaku, namun aku berjalan cepat menuju mobil pick up dan melintasinya dengan wajah datar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Neulis Saja
ehm
2024-09-08
0
Ira Sulastri
Anna kl suami kamu ga bisa memberikan nafkah terlebih2 ke bahagian untuk apa kamu pertahankan, coba untuk sekarang aja seperti itu bagaimana dg masa depan kamu terlebih anakmu nanti
2024-06-26
0
N Wage
alhamdulillahnaku dapat suami yg bersaudara kandung cuma berdua.laki dan perempuan.walau kami berbeda keyakinan dan suku (suamiku mualaf) keluarga suamiku baik banget,begitu jg keluarga besar mereka.terlebih adik iparku dan sepupu2nya.
setelah suami meninggal dunia,adik ipar dan sepupu2nya...keluarg besar alm,yg menyokong pendidikan dan hidup kami anak beranak.Dan itu sangat sangat aku syukuri sekali.
mereka sangat care.
2024-06-17
1