Sudah seperempat dupa Lan mei berjalan tapi dia belum menemukan herbal yang dia cari.
(Satu dupa kira - kira satu jam).
Dia melihat seekor kelinci, tapi dia masih bingung bagaimana menangkapnya, sementara dia tidak memiliki senjata apapun.
"Aduh, bodohnya aku, kenapa aku tidak membuat panah terlebih dahulu.
Ck, pulang saja dulu, aku membuat senjata baru bisa balik lagi nanti."
Dengan tangan kosong Lan mei berjalan kembali pulang, hanya saja ketika dia menemukan sayuran liar, dia memetiknya.
Tanpa orang lain sadari, sedari tadi ada yang memperhatikannya dari jauh. Orang ini sangat penasaran dengan Lan Mei dan pelayannya, apa yang di lakukan gadis ini dan pelayannya di hutan kematian? Apa mereka tidak takut bisa mati di terkam binatang buas, pikir orang itu.
Walau dia bisa merasakannya, tapi dia tidak takut karena dia tidak merasa adanya hawa pembunuh atau dia tidak merasa bahwa orang ini ingin menyakitinya.
Bukan hanya sekali ini dia merasakan ke hadiran orang ini, Ketika mereka masih di rumah juga. Dan beberapa hari lalu.
'Siapa orang ini, dan apa maksudnya mengawasi kami terus menerus'
Semacam pertanyaan timbul di pikirannya. Walau dia penasaran tentang orang yang memperhatikan mereka, tapi saat ini dia tidak bisa mengejarnya. Karena masih kuatir sudah sebagus apa tulang kakinya ini.
Tapi dia tetap berjalan pulang dan sesekali dia menemukan kayu yang cocok untuk anak panah, dia mengambilnya.
Ketika dia melihat seekor lagi kelinci, dia diam saja tidak mengambilnya. Dia berpikir, belum saatnya pertunjukan harus di tampilkan, karena dia memikirkan orang yang mengikuti mereka.
Dia malas mempertontonkan keahliannya kepada orang yang tidak dia kenal.
Dia tetap berjalan dengan santai dan tongkat di tangannya.
"Nona, nona, apakah anda mendapatkannya?"
"Saat ini, kita belum beruntung Yen tang, kelincinya kabur. Besok aku usahakan untuk mendapatkannya. Sebaikanya kita buat panah terlebih dahulu baru kita berburu." Dia menghibur Yen Tang, yang mungkin tadi dia memikirkan daging.
"Baiklah nona, kalau begitu mari kita pulang, sayurnya sudah cukup untuk kita berdua sampai nanti malam."
"Ok, ayo"
Kemudian mereka berjalan menjauh meninggalkan hutan kematian, dan berjalan menuju rumahnya.
Lan mei masih memperhatikan sekitaran, apakah tanda - tanda orang yang memperhatikannya tadi datang juga sampai ke rumah mereka atau tidak.
Tapi setelah dia memperhatikan sekitar dan mengecek di sekitaran rumah. Tidak ada tanda bahwa orang itu mengikuti.
Lan mei menarik nafas dalam - dalam, siapakah gerangan orang itu. Apa niatnya sebenarnya.
Dia masih belum bisa memikirkannya, apakah tujuan baik atau jahat, saya harus bersiap. Pikir Lan mei.
Sesampai di rumah, yen tang langsung pergi ke dapur untuk meletakan semua sayuran yang sudah mereka petik.
Dan kemudian dia kedepan lagi menemui Lan mei dan menyerahkan pisau batu kepadanya.
Karena sebelum dia ke dapur nonanya sudah memesankan untuk mengambilkan pisau.
Lan mei menerima pisau itu dan mulai menyerut kayu - kayu kecil yang sudah dia ambil dari dalam hutan.
Dia belum menemukan pohon bambu. Sebenarnya lebih cocok memakai bambu dalam membuat anak panah.
"Nona, biar saya bantu anda mengikir kayu ini"
"Baiklah, kamu lanjutkan saja, karena saya akan membuat sebuah busur panah."
Kemudian Lan mei mengambil satu batang pohong sedikit lebih besar. Kayu sonokeling, itu bagus untuk membuat sebuah busur, dan kebetulan tadi dia menemukannya.
Dia harus membuat busur yang bagus, yang harus bisa membuat gaya pegas, dia harus mencari bahan yang lain penganti karet agar busurnya bisa bergaya pegas.
Sedangkan untuk tali busur dia hanya menggunakan dari serat tanaman.
Walaupun bisa dari usus rusa, tapi dia belum pernah berburu di hutan. Jadi pertama tama dia harus menggunakan dari serat tanaman.
"Yen tang, apakah kamu pernah melihat bulu ayam liar?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Ds Phone
otak nya berjalan
2024-10-19
1
Shinta Dewiana
penasaran siapa ya yg ngintilin mereka..
2024-09-06
0