Dia menyalakan mobilnya dan beranjak pergi dari parkiran. Hari saat itu tidak terlalu panas, awan hitam bergerak mulai menutupi kota itu. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Saat dia menyetir mobilnya, tanpa sengaja dia memperhatikan gelang di tangannya. Gelang yang terlihat kuno, tapi antik. Entah mengapa ada perasaan senang di dalam hatinya memiliki benda itu di tangannya. Dia tersenyum melihat benda itu bertengger di pergelangan tangannya, dan sesekali fokus menatap jalanan.
Ya.. sebelum dia pergi tadi sang pendeta tao memanggilnya dan memberikan sebuah gelang kepada. Dia merasa aneh terhadap pendeta tersebut, jantungnya bergetar saat dia menerima gelang tersebut. Sepertinya dia merasakan ada hubungan yang membuat dia tertarik untuk tetap dekat dengan benda itu.
Gelang batu giok yang bening dan di dalamnya terdapat bunga teratai merah mudah yang di tengahnya berkumpul sari bunga berwarna kuning disisinya kelopak putih dan kelopak terbanyak merah mudah dan kelopak terakhir pink tua.
Indah sekali fikir Lan Mei. Dengan tenang dia membawa mobilnya ke sebuah restoran dan makan di sana.
'Hari sudah mulai gelap, aku harus bergegas pulang' batinnya. Dia kuatir akan hujan di tengah jalan, karena jalan menuju kediaman ayahnya berkelok- kelok, yang di bagian sisinya jurang terjal. Jika hujan pasti licin.
Dia sangat bersemangat karena besok hari di mana dia resmi mendapat gelar Dokter bedah profesional. Dengan wajah yang tersenyum dia melajukan mobil mininya.
Tanpa dia sadari ada mobil hitam yang mengikutinya dari belakang. Mobil ini sudah mengikutinya dari dia keluar dari rumah sakit tempat dia bekerja.
Walau dia sempat melihat mobil tersebut, dia tidak bertindak was- was, karena dia merasa tidak memiliki musuh selama ini. Dan juga dia merasa tidak pernah bertindak sombong atau juga pernah menyakiti seseorang, jadi dia anggap angin lalu yang kebetulan berada di sana.
Karena ingin cepat sampai Lan Mei menaikkan kecepatannya, dan juga kondisi jalan saat ini tidak ramai karena hampir menjelang malam. Dan sepertinya hujan badai akan segera turun. Orang- orang pasti enggan untuk perjalanan jauh.
Karena letak rumah mereka ada di pinggiran kota, sehingga jaraknya jauh dari Rumah sakit ternama yang ada di tengah kota. Memang tinggal di sana ada untung dan ada ruginya juga. Hanya saja lebih banyak untungnya bagi mereka.
Ayahnya memilih tempat jauh dari hiruk pikuk kota di karenakan agar murid - muridnya fokus berlatih. Dan udara di sana juga lebih sedikit polusi, jadi untuk kesehatan seperti orang yang sudah tua seperti ayahnya sangat bagus.
Lin Mei tetap melaju dengan kecepatan yang stabil, di karenakan dia sudah keluar dari jalur lalu lintas padat. Sesekali juga dia melihat mobil hitam yang dia lihat ketika masih di tengah kota.
Untuk sampai ke rumah dia harus melalui beberapa kelokan dan hutan buatan. Ada sedikit rasa curiga dia semakin mempercepat laju mobilnya.
Tapi di saat turunan yang berbelok ada sebuah mobil kontainer menghalangi jalannya. Dia sangat terkejut melihat hal yang tiba- tiba ini.
Dia menginjak rem dengan tiba- tiba,
Tapi sama sekali tidak bisa berhenti. Dia injak kembali berkali- kali dengan rasa panik.
'Ya, Tuhan bagaimana ini? Kenapa Remnya tidak bisa? Tadi sepertinya baik - baik saja'
Mei ketakutan melihat kontainer yang semakin dekat dengan mobilnya tersebut.
Dia banting setir ke kiri dengan cepat, ala hasil mobilnya berguling - guling dan hampir jatuh ke jurang. Dia berkeringat dingin, tubuhnya yang sekarang dalam keadaan terbalik, membuat dia semakin sulit bergerak dan bernapas.
Mobilnya bergoyang - goyang menjaga ke seimbangan. Cap mobil sudah di bawah. Dia ingin menangis melihat keadaannya ini, separuh badan mobil sudah mengambang di atas jurang. Dan separuh lagi masih ada di bibir tebing.
Sekarang Lan Mei dalam posisi terbalik, kepalanya menghadap kebawah. Dengan kepala menggantung.
Dia mulai hendak membuka seat belt, tapi tiba- tiba seseorang menghampirinya. Dia sedikit merasa lega, dia mengira bahwa bantuan akan datang, dan nyawanya akan selamat.
"Tolong !" rintihnya tanpa menoleh orang yang datang, karena dia sibuk untuk melepas seat belt yang macet. Tangannya bergetar ketakutan.
"Halo Lan Mei" sapa sebuah suara wanita.
"July ?" Mei langsung menoleh. Ada kegembiraan di matanya, walau rasa takut lebih besar karena dia kuatir sebelum dia di selamatkan, mobilnya jatuh.
"July, july, syukur kamu datang, tolong bantu aku, mobilku hampir jatuh." suaranya yang serak, dia keluarkan dengan sekuat tenaga yang dia punya, agar July bisa mendengarnya.
"Bagaimana aku hendak menolongmu, sementara ini sudah aku rencanakan jauh - jauh hari, bahkan sampai tahunan." Seringai mengerikan terlihat dari wajah cantik July.
" Meng july, apa maksudmu ?" Tentu saja perkataannya membuat Lan Mei terkejut bukan kepalang.
"Lan Mei, aku membencimu" jawabnya sinis dengan tatapan arogannya. Ada kepuasan di wajahnya ketika melihat Lan Mei di ambang kematian.
"July, bukankah kita berteman selama ini? Kenapa kamu membenciku...?" Lan Mei tidak habis pikir dengan ucapan Meng July.
"Hah ! Kamu sadar tidak...? Kamu itu... Dengan gampangnya mengakui kekasih masa kecilku menjadi kekasihmu..!"
"Apa maksudmu?" Lan Mei melebarkan matanya dengan sempurna.
"Rou chen, adalah kekasih masa kecilku."
"Apa? Aku tidak mengetahui itu, Rou chen sendiri yang da.. " Perkataan Lan Mei terputus ketika suara Bariton memotong kata- katanya.
"Halo sayang apa sudah selesai?" Tanya lelaki itu, yang semakin membuat Lan Mei terkejut.
Suara lelaki yang datang itu... Sangat jelas sekali dia mengenalnya, Rou chen..?
"Dia belum mati" sambung july
"Tinggal kita dorong saja, sebentar lagi hujan pasti jejaknya akan terhapus" Pria itu memberi saran, tidak ada rasa kasihan di wajahnya. Air mata Lan Mei mengalir dengan deras saat dia mendengar pekataan sadis laki- laki ini.
Lan Mei semakin gemetar.
'Rou chen kekasihku, yang menyatakan cintanya padaku, dan mengaku tak bisa hidup tanpaku, berencana membunuhku, sungguh ironis' batin Mei.
"Lakukan" suruh july
"Rou chen, kenapa kamu tega!" Teriakku
"Maaf, aku hanya memanfaatkanmu agar aku bisa masuk ke Rumah sakit terkenal itu, aku tak pernah mencintaimu" jelasnya.
"Kalau hanya masalah itu bukankah kita bisa putus baik - baik dari pada membunuhku" Lan Mei ingin memberikan pilihan kepada Rou Chen, agar pria itu tidak jadi membunuhnya.
"Maaf, kekasihku tak senang melihat kehadiranmu." Dengan wajah acuh dia menjawab.
"Bajingan hanya masalah sepele itu?"
"Bukan hanya itu, tapi kamu tahu hasil praktekku yang di palsukan, kalau kamu hidup cepat atau lambat mereka akan mengetahui dan mengeluarkanku dari sana"
"Bullshit, july juga mengetahui, kenapa kamu paranoid denganku sementara aku kekasih mu,"
"Tidak lagi Mei, selamat tinggal, semoga kamu berbahagia di alam baka"
Kemudian Rou chen mendorong mobil Lan mei dengan kakinya. Tanpa ada rasa kasihan sebagai sesama manusia.
"Bajingan!! Aku akan kembali membalasmu Rou chen, aku akan menghantui kalian walaupun aku di neraka sekalipun...!!" Teriak Lan Mei di sela- sela mobilnya yang terjatuh.
Bruuuaakkk!!
suara mobil yang terjatuh menghantam bebatuan tebing dan...
Bam!!
terdengar ledakan dan api keluar dari mobil di bawah jurang.
Suara petir bersahutan, dan tidak berapa lama hujan turun. Lan Mei hangus terbakar di dalam mobilnya. Yang di iringi dengan hujan lebat membuat api di mobil tersebut cepat padam, mengakibatkan mobil lain yang lewat tidak melihat ada kecelakaan di bawah jurang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
B.manusia
ini adalah novel ketiga yang aku baca dari 2 novel ciptaan mu yang lain
2025-03-18
1
ťeĐĎý🐻BeaŔ
novel kedua nih yg aq baca
2025-02-08
1
Ds Phone
dia akan kembali
2024-10-18
2