Bab. 2 Kematian tragis

Dia menyalakan mobilnya dan beranjak pergi dari parkiran. Hari saat itu tidak terlalu panas, awan hitam bergerak mulai menutupi kota itu. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.

Saat dia menyetir mobilnya, tanpa sengaja dia memperhatikan gelang di tangannya. Gelang yang terlihat kuno, tapi antik. Entah mengapa ada perasaan senang di dalam hatinya memiliki benda itu di tangannya. Dia tersenyum melihat benda itu bertengger di pergelangan tangannya, dan sesekali fokus menatap jalanan.

Ya.. sebelum dia pergi tadi sang pendeta tao memanggilnya dan memberikan sebuah gelang kepada. Dia merasa aneh terhadap pendeta tersebut, jantungnya bergetar saat dia menerima gelang tersebut. Sepertinya dia merasakan ada hubungan yang membuat dia tertarik untuk tetap dekat dengan benda itu.

Gelang batu giok yang bening dan di dalamnya terdapat bunga teratai merah mudah yang di tengahnya berkumpul sari bunga berwarna kuning disisinya kelopak putih dan kelopak terbanyak merah mudah dan kelopak terakhir pink tua.

Indah sekali fikir Lan Mei. Dengan tenang dia membawa mobilnya ke sebuah restoran dan makan di sana.

'Hari sudah mulai gelap, aku harus bergegas pulang' batinnya. Dia kuatir akan hujan di tengah jalan, karena jalan menuju kediaman ayahnya berkelok- kelok, yang di bagian sisinya jurang terjal. Jika hujan pasti licin.

Dia sangat bersemangat karena besok hari di mana dia resmi mendapat gelar Dokter bedah  profesional. Dengan wajah yang tersenyum dia melajukan mobil mininya.

Tanpa dia sadari ada mobil hitam yang mengikutinya dari belakang. Mobil ini sudah mengikutinya dari dia keluar dari rumah sakit tempat dia bekerja.

Walau dia sempat melihat mobil tersebut, dia tidak bertindak was- was, karena dia merasa tidak memiliki musuh selama ini. Dan juga dia merasa tidak pernah bertindak sombong atau juga pernah menyakiti seseorang, jadi dia anggap angin lalu yang kebetulan berada di sana.

Karena ingin cepat sampai Lan Mei menaikkan kecepatannya, dan juga kondisi jalan saat ini tidak ramai karena hampir menjelang malam. Dan sepertinya hujan badai akan segera turun. Orang- orang pasti enggan untuk perjalanan jauh.

Karena letak rumah mereka ada di pinggiran kota, sehingga jaraknya jauh dari Rumah sakit ternama yang ada di tengah kota. Memang tinggal di sana ada untung dan ada ruginya juga. Hanya saja lebih banyak untungnya bagi mereka.

Ayahnya memilih tempat jauh dari hiruk pikuk kota di karenakan agar murid - muridnya fokus berlatih. Dan udara di sana juga lebih sedikit polusi, jadi untuk kesehatan seperti orang yang sudah tua seperti ayahnya sangat bagus.

Lin Mei tetap melaju dengan kecepatan yang stabil, di karenakan dia sudah keluar dari jalur lalu lintas padat. Sesekali juga dia melihat mobil hitam yang dia lihat ketika masih di tengah kota.

Untuk sampai ke rumah dia harus melalui beberapa kelokan dan hutan buatan. Ada sedikit rasa curiga dia semakin mempercepat laju mobilnya.

Tapi di saat turunan yang berbelok ada sebuah mobil kontainer menghalangi jalannya. Dia sangat terkejut melihat hal yang tiba- tiba ini.

Dia menginjak rem dengan tiba- tiba,

Tapi sama sekali tidak bisa berhenti. Dia injak kembali berkali- kali dengan rasa panik.

'Ya, Tuhan bagaimana ini? Kenapa Remnya tidak bisa? Tadi sepertinya baik - baik saja'

Mei ketakutan melihat kontainer yang semakin dekat dengan mobilnya tersebut.

Dia banting setir ke kiri dengan cepat, ala hasil mobilnya berguling - guling dan hampir jatuh ke jurang. Dia berkeringat dingin, tubuhnya yang sekarang dalam keadaan terbalik, membuat dia semakin sulit bergerak dan bernapas.

Mobilnya bergoyang - goyang menjaga ke seimbangan. Cap mobil sudah di bawah. Dia ingin menangis melihat keadaannya ini, separuh badan mobil sudah mengambang di atas jurang. Dan separuh lagi masih ada di bibir tebing.

Sekarang Lan Mei dalam posisi terbalik, kepalanya menghadap kebawah. Dengan kepala menggantung.

Dia mulai hendak membuka seat belt, tapi tiba- tiba  seseorang menghampirinya. Dia sedikit merasa lega, dia mengira bahwa bantuan akan datang, dan nyawanya akan selamat.

"Tolong !" rintihnya tanpa menoleh orang yang datang, karena dia sibuk untuk melepas seat belt yang macet. Tangannya bergetar ketakutan.

"Halo Lan Mei" sapa sebuah suara wanita.

"July ?" Mei langsung menoleh. Ada kegembiraan di matanya, walau rasa takut lebih besar karena dia kuatir sebelum dia di selamatkan, mobilnya jatuh.

"July, july, syukur kamu datang, tolong bantu aku, mobilku hampir jatuh." suaranya yang serak, dia keluarkan dengan sekuat tenaga yang dia punya, agar July bisa mendengarnya.

"Bagaimana aku hendak menolongmu, sementara ini sudah aku rencanakan jauh - jauh hari, bahkan sampai tahunan." Seringai mengerikan terlihat dari wajah cantik July.

" Meng july, apa maksudmu ?" Tentu saja perkataannya membuat Lan Mei terkejut bukan kepalang.

"Lan Mei, aku membencimu" jawabnya sinis dengan tatapan arogannya. Ada kepuasan di wajahnya ketika melihat Lan Mei di ambang kematian.

"July, bukankah kita berteman selama ini? Kenapa kamu membenciku...?" Lan Mei tidak habis pikir dengan ucapan Meng July.

"Hah ! Kamu sadar tidak...? Kamu itu... Dengan gampangnya mengakui kekasih masa kecilku menjadi kekasihmu..!"

"Apa maksudmu?" Lan Mei melebarkan matanya dengan sempurna.

"Rou chen, adalah kekasih masa kecilku."

"Apa? Aku tidak mengetahui itu, Rou chen sendiri yang da.. " Perkataan Lan Mei terputus ketika suara Bariton memotong kata- katanya.

"Halo sayang apa sudah selesai?" Tanya lelaki itu, yang semakin membuat Lan Mei terkejut.

Suara lelaki yang datang itu... Sangat jelas sekali dia mengenalnya, Rou chen..?

"Dia belum mati" sambung july

"Tinggal kita dorong saja, sebentar lagi hujan pasti jejaknya akan terhapus" Pria itu memberi saran, tidak ada rasa kasihan di wajahnya. Air mata Lan Mei mengalir dengan deras saat dia mendengar pekataan sadis laki- laki ini.

Lan Mei semakin gemetar.

'Rou chen kekasihku, yang menyatakan cintanya padaku, dan mengaku tak bisa hidup tanpaku, berencana membunuhku, sungguh ironis' batin Mei.

"Lakukan" suruh july

"Rou chen, kenapa kamu tega!" Teriakku

"Maaf, aku hanya memanfaatkanmu agar aku bisa masuk ke Rumah sakit terkenal itu, aku tak pernah mencintaimu" jelasnya.

"Kalau hanya masalah itu bukankah kita bisa putus baik - baik dari pada membunuhku" Lan Mei ingin memberikan pilihan kepada Rou Chen, agar pria itu tidak jadi membunuhnya.

"Maaf, kekasihku tak senang melihat kehadiranmu." Dengan wajah acuh dia menjawab.

"Bajingan hanya masalah sepele itu?"

"Bukan hanya itu, tapi kamu tahu hasil praktekku yang di palsukan, kalau kamu hidup cepat atau lambat mereka akan mengetahui dan mengeluarkanku dari sana"

"Bullshit, july juga mengetahui, kenapa kamu paranoid denganku sementara aku kekasih mu,"

"Tidak lagi Mei, selamat tinggal, semoga kamu berbahagia di alam baka"

Kemudian Rou chen mendorong mobil Lan mei dengan kakinya. Tanpa ada rasa kasihan sebagai sesama manusia.

"Bajingan!! Aku akan kembali membalasmu Rou chen, aku akan menghantui kalian walaupun aku di neraka sekalipun...!!" Teriak Lan Mei di sela- sela mobilnya yang terjatuh.

Bruuuaakkk!!

suara mobil yang terjatuh menghantam bebatuan tebing dan...

Bam!!

terdengar ledakan dan api keluar dari mobil di bawah jurang.

Suara petir bersahutan, dan tidak berapa lama hujan turun. Lan Mei hangus terbakar di dalam mobilnya. Yang di iringi dengan hujan lebat membuat api di mobil tersebut cepat padam, mengakibatkan mobil lain yang lewat tidak melihat ada kecelakaan di bawah jurang.

Terpopuler

Comments

B.manusia

B.manusia

ini adalah novel ketiga yang aku baca dari 2 novel ciptaan mu yang lain

2025-03-18

1

ťeĐĎý🐻BeaŔ

ťeĐĎý🐻BeaŔ

novel kedua nih yg aq baca

2025-02-08

1

Ds Phone

Ds Phone

dia akan kembali

2024-10-18

2

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1 Prolog.
2 Bab. 2 Kematian tragis
3 Bab. 3 Kehidupan kembali
4 Bab. 4 Ternyata di asingkan
5 Bab. 5 Rencana Lan Mei
6 Bab. 6 Kehidupan halaman belakang
7 Bab. 7 Jati diri Yen Tang
8 Bab. 8 Skenario Kematian Orang Tua Yen Tang
9 Bab. 9 Mencari Ramuan Herbal
10 Bab. 10 Cara membuat Sauna Traditional
11 Bab. 11 Memecahkan Jerawat Bisul
12 Bab. 12 Menemukan Ruang Portable
13 Bab. 13 Keadaan Di Dalam Ruang Portable
14 Bab. 14 Xiao Puci
15 Bab. 15 Kitab Alkemis dan Kitab Seni Bela Diri
16 Bab. 16 Penurunan Berat Badan
17 Bab. 17 Belajar Berjalan Kembali
18 Bab. 18 Rencana membuat busur
19 Bab. 19 Membuat Busur Panah
20 Bab. 20 Pengintai Yang Misterius
21 Bab. 21 Bertemu Rubah Merah
22 Bab. 22 Kontrak Dengan Bayi Rubah
23 Bab. 23 Segerombolan Hewan Spritual
24 Bab. 24 Menanam Gingseng di Ruang Portable
25 Bab. 25 Kultivasi Hewan Spritual
26 Bab. 26 Pengertian Kata- Kata dalam Seni bela diri
27 Bab. 27 Istilah Pembuat Ramuan di Zaman Kuno
28 Bab. 28 Pohon Baru telah tumbuh
29 Bab. 29 Perkelahian di Hutan Kematian (1)
30 Bab. 30 Perkelahian di hutan kematian (2)
31 Bab. 31 Salah Memprovokasi orang
32 Bab. 32 Mencari Rumput Penyambung Nyawa
33 Bab. 33 Menguliti Serigala
34 Bab. 34 Menjual Daging Serigala
35 Bab. 35 Membeli grobak dari hasil menjual daging srigala.
36 Bab. 36 Pak Tua Huan Chu
37 Bab. 37 Ilustrasi Lan Mei
38 Bab. 38 Kelangkaan Gingseng di Desa Wuring
39 Bab. 39 Membeli Senjata
40 Bab. 40 Gunung Wudang
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44 Terkontrak dengan naga hitam
45 Bab. 45 Turun dari gunung Wudang
46 Bab. 46
47 Bab. 47 Kembali ke rumah
48 Bab. 48
49 Bab. 49 Memberi nama untuk Rubah kecil
50 Bab. 50 Membuka segel dan ber-kultivasi
51 Bab. 51 Mengobati Tabib Yun
52 Bab. 52
53 Bab. 53
54 Bab. 54
55 Bab. 55 Berbelanja
56 Bab. 56
57 Bab. 57 Bertemu Raja Iblis
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 Bab. 62
63 Bab. 63
64 Bab. 64
65 Bab. 65
66 Bab. 66
67 Bab. 67
68 Bab. 68
69 Bab. 69
70 Bab. 70
71 Bab. 71
72 Bab. 72
73 Bab. 73
74 Bab. 74
75 Bab. 75
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80
81 Bab. 81
82 Bab. 82
83 Bab. 83
84 Bab. 84
85 Bab. 85
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88
89 Bab. 89
90 Bab. 90
91 Bab. 91
92 Bab. 92
93 Bab. 93
94 Bab. 94
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97
98 Bab. 98
99 Bab. 99
100 Bab. 100
101 Bab. 101
102 Bab. 102
103 Bab. 103
104 Bab. 104
105 Bab. 105
106 Bab. 106
107 Bab. 107
108 Bab. 108
109 Bab. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111
112 Bab. 112
113 Bab. 113
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116
117 Bab. 117
118 Bab. 118
119 Bab. 119
120 Bab. 120 Seorang kembali berterima kasih
121 Bab. 121
122 Bab. 122
123 Bab. 123
124 Bab. 124
125 Bab. 125
126 Bab. 126
127 Bab. 127
128 Bab. 128
129 Bab. 129
130 Bab 130 Putra mahkota berkelahi dengan Scorpion Fly
131 Bab. 131 Putra mahkota tidak sadarkan diri
132 Bab. 132
133 Bab. 133
134 Bab. 134
135 Bab. 135 Putra Mahkota sadar
136 Bab. 136 Sepasang Scorpion Fly bertemu
137 Bab. 137
138 Bab. 138
139 Bab. 139
140 Bab. 140
141 Bab. 141
142 Bab. 142
143 Bab. 143
144 Bab. 144
145 Bab. 145
Episodes

Updated 145 Episodes

1
Bab. 1 Prolog.
2
Bab. 2 Kematian tragis
3
Bab. 3 Kehidupan kembali
4
Bab. 4 Ternyata di asingkan
5
Bab. 5 Rencana Lan Mei
6
Bab. 6 Kehidupan halaman belakang
7
Bab. 7 Jati diri Yen Tang
8
Bab. 8 Skenario Kematian Orang Tua Yen Tang
9
Bab. 9 Mencari Ramuan Herbal
10
Bab. 10 Cara membuat Sauna Traditional
11
Bab. 11 Memecahkan Jerawat Bisul
12
Bab. 12 Menemukan Ruang Portable
13
Bab. 13 Keadaan Di Dalam Ruang Portable
14
Bab. 14 Xiao Puci
15
Bab. 15 Kitab Alkemis dan Kitab Seni Bela Diri
16
Bab. 16 Penurunan Berat Badan
17
Bab. 17 Belajar Berjalan Kembali
18
Bab. 18 Rencana membuat busur
19
Bab. 19 Membuat Busur Panah
20
Bab. 20 Pengintai Yang Misterius
21
Bab. 21 Bertemu Rubah Merah
22
Bab. 22 Kontrak Dengan Bayi Rubah
23
Bab. 23 Segerombolan Hewan Spritual
24
Bab. 24 Menanam Gingseng di Ruang Portable
25
Bab. 25 Kultivasi Hewan Spritual
26
Bab. 26 Pengertian Kata- Kata dalam Seni bela diri
27
Bab. 27 Istilah Pembuat Ramuan di Zaman Kuno
28
Bab. 28 Pohon Baru telah tumbuh
29
Bab. 29 Perkelahian di Hutan Kematian (1)
30
Bab. 30 Perkelahian di hutan kematian (2)
31
Bab. 31 Salah Memprovokasi orang
32
Bab. 32 Mencari Rumput Penyambung Nyawa
33
Bab. 33 Menguliti Serigala
34
Bab. 34 Menjual Daging Serigala
35
Bab. 35 Membeli grobak dari hasil menjual daging srigala.
36
Bab. 36 Pak Tua Huan Chu
37
Bab. 37 Ilustrasi Lan Mei
38
Bab. 38 Kelangkaan Gingseng di Desa Wuring
39
Bab. 39 Membeli Senjata
40
Bab. 40 Gunung Wudang
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44 Terkontrak dengan naga hitam
45
Bab. 45 Turun dari gunung Wudang
46
Bab. 46
47
Bab. 47 Kembali ke rumah
48
Bab. 48
49
Bab. 49 Memberi nama untuk Rubah kecil
50
Bab. 50 Membuka segel dan ber-kultivasi
51
Bab. 51 Mengobati Tabib Yun
52
Bab. 52
53
Bab. 53
54
Bab. 54
55
Bab. 55 Berbelanja
56
Bab. 56
57
Bab. 57 Bertemu Raja Iblis
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
Bab. 62
63
Bab. 63
64
Bab. 64
65
Bab. 65
66
Bab. 66
67
Bab. 67
68
Bab. 68
69
Bab. 69
70
Bab. 70
71
Bab. 71
72
Bab. 72
73
Bab. 73
74
Bab. 74
75
Bab. 75
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80
81
Bab. 81
82
Bab. 82
83
Bab. 83
84
Bab. 84
85
Bab. 85
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88
89
Bab. 89
90
Bab. 90
91
Bab. 91
92
Bab. 92
93
Bab. 93
94
Bab. 94
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97
98
Bab. 98
99
Bab. 99
100
Bab. 100
101
Bab. 101
102
Bab. 102
103
Bab. 103
104
Bab. 104
105
Bab. 105
106
Bab. 106
107
Bab. 107
108
Bab. 108
109
Bab. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111
112
Bab. 112
113
Bab. 113
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116
117
Bab. 117
118
Bab. 118
119
Bab. 119
120
Bab. 120 Seorang kembali berterima kasih
121
Bab. 121
122
Bab. 122
123
Bab. 123
124
Bab. 124
125
Bab. 125
126
Bab. 126
127
Bab. 127
128
Bab. 128
129
Bab. 129
130
Bab 130 Putra mahkota berkelahi dengan Scorpion Fly
131
Bab. 131 Putra mahkota tidak sadarkan diri
132
Bab. 132
133
Bab. 133
134
Bab. 134
135
Bab. 135 Putra Mahkota sadar
136
Bab. 136 Sepasang Scorpion Fly bertemu
137
Bab. 137
138
Bab. 138
139
Bab. 139
140
Bab. 140
141
Bab. 141
142
Bab. 142
143
Bab. 143
144
Bab. 144
145
Bab. 145

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!