Ada sekitar empat remaja lainnya yang seumuran dengan dirinya tengah berada disana, duduk dengan ekspresi wajah yang tegang dan mata yang waspada.
Pria tadi kemudian mendorong Ayana masuk dan begitu Ayana sudah berada di dalam, dia dapat mendengar suara halus pintu yang dikunci.
Dengan sigap, Ayana bangkit dan mencoba membuka pintu itu dengan hasil yang sia- sia.
"Buka!" Ayana menghantamkan kepalan tangannya ke pintu yang terkunci, menendangnya sekuat tenaga. "Buka!"
"Sudah, tidak ada gunanya kamu melakukan itu. Kalau cara itu berhasil, kami semua tidak akan berada disini." Salah seorang perempuan berkata dengan suaranya yang terdengar serak. Sepertinya dia menghabiskan banyak waktu dengan menangis.
tiga perempuan lainnya pun menggumamkan hal yang sama.
"Kalau kamu terus menerus melakukan itu, Cassandra akan datang dan kamu akan berada dalam masalah besar." Salah satu perempuan lainnya menambahkan.
Ayana menghentikan usahanya. Dia tahu, apa yang dia lakukan ini hanya akan membawa hasil yang nihil saja, tapi di lain sisi, Ayana tidak ingin berada di sini.
Atmosfer di dalam ruangan ini terasa sesak dan penuh dengan depresi, apalagi dengan melihat ekspresi wajah ke empat perempuan lainnya, Ayana seolah dapat melihat gambaran masa depan apa yang terpampang di depan matanya.
"Siapa Cassandra?" Ayana menggigit bibirnya. Rasanya, apapun jawaban mereka, Ayana memiliki firasat, dia tidak akan menyukainya.
Dan seolah menjawab pertanyaannya, terdengar suara seseorang memutar kunci dari sisi lain pintu sebelum akhirnya pintu tersebut terbuka.
Seorang wanita cantik berdada penuh dan kulit semulus batu pualam berdiri diambang pintu, matanya yang bermaskara dengan eye liner mencuat di ekor matanya, menjadikannya tampak lebih indah.
Tampaknya, dari reaksi yang diberikan oleh ke empat remaja di dalam ruangan ini, wanita ini adalah Cassandra.
Dia tampak sombong dan pongah, sadar betul akan kecantikan dirinya, belum lagi dengan tangannya yang berkacak pinggang.
"Oh, jadi ini orang barunya?" matanya menjalari tubuh Ayana, melakukan penilaian singkat, sama seperti yang dilakukan oleh para pria tadi.
"Aku mau keluar dari sini," ucap Ayana dengan suara yang hampir seperti bisikan.
Mendengar pernyataan berani dari Ayana, Cassandra justru tertawa terbahak sambil menutup mulutnya dengan tangan, melirik Ayana seolah gadis ini adalah makhluk paling bodoh yang pernah dia temui.
"Kau ingin keluar dari sini?" Cassandra bertanya dengan suaranya yang seksi, "hanya ada dua cara agar kau bisa keluar dari tempat ini, pertama..."
Cassandra melangkah mendekati Ayana sambil menggoyangkan pinggulnya, bahkan cara berjalannya saja sangat 'mengundang'.
Ayana merasa kalau wanita yang tengah dihadapinya ini bukanlah wanita sembarangan.
"...kau bisa keluar dari tempat ini kalau kau bisa menarik minat para pria itu untuk membelimu dan yang kedua..."
Suara Cassandra berubah menjadi pelan, dia mencondongkan tubuhnya saat dia sudah berada tepat dihadapan Ayana, berbisik ke telinganya.
"Yang kedua tentu saja dalam kantong mayat." Sebuah senyum terulas di bibir Cassandra saat dia menyaksikan kengerian di wajah Ayana.
Cassandra seolah menikmati setiap guratan ketakutan yang Ayana tunjukan.
"Jadi, semua itu merupakan pilihanmu." Cassandra mengendikkan bahunya.
Kota T memang tidak pernah tidak menyimpan banyak misteri, dibalik kemilau kehidupan kota yang tidak pernah mati dan arus perputaran uang yang tidak pernah berhenti, Ayana tidak menyangka suatu hari, hari ini, dia harus terseret ke dalam kelamnya dunia hitam kota T.
Entah apa yang terlintas dalam benak Ayana, tapi saat dia menyadari aksi yang telah dia lakukan, Cassandra sudah tersungkur di lantai sambil meraung kesakitan karena Ayana telah mendorongnya sangat kuat.
Ayana pun tidak kalah terkejut dengan apa yang yelah dia lakukan, untuk sedetik, gadis itu terdiam.
Namun, kemudian dia sadar kalau tidak ada lagi yang dapat dia lakukan untuk memperbaikinya.
Maka dari itu, tanpa menunggu detik berikutnya, Ayana segera melesat menuju pintu yang terbuka, berlari sepanjang koridor yang tadi dia lalui.
di dalam ruangan, Cassandra bangun dengan susah payah karena tidak ada, dari ke empat remaja disana, yang berani mendekatinya.
"Kurang ajar!" Raung Cassandra dengan emosi yang meluap- luap.
Cassandra tampak cukup cekatan ketika dia berlari dengan menggunakan high heels nya.
Tapi, sebelum Cassandra bisa mengejar Ayana, Nick muncul di ujung koridor dan menahannya.
"Ada apa?" dia memperhatikan ekspresi gusar Cassandra dengan dahi berkerut.
"Bukan urusanmu!" sergah Cassandra dengan kesal.
Sikap Cassandra yang kasar ini membuat Nick menjadi kesal, mood nya memang sedang tidak baik sejak dia membawa Ayana ke rumah mewah ini.
"Terserah!" seru Nick sambil menghempaskan tangan Cassandra yang dia tengah genggam, membuat wanita itu berjengit karena sakit. "Juan sebentar lagi akan datang dengan tamu- tamu pentingnya, kau sebaiknya atur baik- baik, *******- pelacurmu itu!" ucap Nick dengan kasar.
"Apa?! Juan datang tiba- tiba?!" Cassandra menjadi panik. " Kenapa dia datang tanpa pemberitahuan!?"
Nick memberikan senyum miringnya pada Cassandra, seolah mengatakan betapa bodohnya pertanyaan itu. "Ini rumahnya, memangnya dia perlu izin padamu untuk datang kesini!?"
Namun, Cassandra tidak mengindahkan kata- kata sindiran Nick karena ada hal lain yang jauh lebih penting.
Kali ini, justru Cassandra yang menyentuh Nick, memegang otot bicep pria itu erat- erat.
"Kita ada dalam masalah," ujar Cassandra.
"Apa?" mata Nick menatap jemari yang menggenggam lengannya, tampak menikmati sentuhan itu tanpa menyadari kepanikan yang mencengkeram hati Cassandra yang panik.
***
Ayana berlari sekuat tenaga, berusaha mengingat jalan mana saja yang dia lewati tadi.
Dia setengah bersyukur dan setengah takut ketika menyadari kalau rumah sebesar ini begitu sepi dan sunyi. Seperti sebuah bangunan kosong saja.
Sepanjang Ayana berlari tadi, dia tidak menemui seorangpun. Tidak ada penjaga, pelayan ataupun orang- orang yang tadi menangkapnya. Mereka tidak ada dimana- mana.
Mungkin ini adalah keberuntungannya?
Dengan pemikiran tersebut, Ayana berlari menuju pintu utama, pintu dimana ia tadi masuk bersama pria yang menyeretnya ke dalam rumah dengan paksa.
Tanpa Ayana ketahui, rumah mewah tersebut memang akan selalu kosong seolah tidak berpenghuni pada saat Juan akan datang.
Dia adalah bos besar gembong segala kejahatan yang seluruh kegiatannya akan membuat para setan merasa malu.
Jaun tidak menyukai kebisingan, apapun itu. Terutama apabila dia tengah bersama tamu pentingnya.
Yang mana hal itulah yang terjadi malam ini.
Ayana yang sama sekali tidak menyadari bahaya besar yang mengancam dirinya, berlari menuju pintu utama dan membukanya dengan tidak sabar.
Karena terlalu bersemangat untuk terbebas dari tempat ini, Ayana tidak menyadari ada orang lain yang tengah berdiri di sisi lain pintu.
Tanpa bisa dihindari, Ayana menabrak tubuh seseorang yang sangat kokoh hingga membuatnya jatuh terduduk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nurasiahnasution Asyiah
wah aku suka
2020-11-20
1
🌹Milea 🖤
pandangan pertama awal aq berjumpa aseeek 🤣
2020-08-06
4