MDND ~ Bab 16

Langkahnya beriringan dengan pandangan yang tertumbuk pada seseorang yang berjalan sendiri dari arah deretan koperasi, uks dan ruang peralatan kebersihan.

Wajahnya pucat namun terlihat ia melangkah sedikit cepat.

"Lucu ya Ren, coba kalo ketauan kena deh tuh hukuman..." oceh Fira tak membuat fokus Ceren mengalihkan pandangannya. Gilang? Alisnya mengerut.

Ada rasa ingin menghampiri dan bertanya kenapa, namun teriakan teman-temannya dari belakang yang menyusul Ceren mengurungkan niatan Ceren untuk menghampiri hingga akhirnya Gilang berlalu menuju kelasnya.

*Pulang bareng*?

Sebuah notifikasi sampai di ponselnya saat Ceren sedang dalam masa-masa ngantuknya, penjelasan bu Fatima semakin membuat Ceren larut dalam rasa kantuknya.

*Boleh, nanti aku jalan sedikit jauh dari gerbang*.

Sikap manis Gilang yang memperlakukan Ceren dengan begitu istimewa sedikitnya meluluhkan hati gadis itu. Ia tidak menolak Gilang lagi saat ini, meski belum bisa menerima Gilang sepenuhnya.

*Oke cantik, see you soon*.

\*\*\*

"Ngga bareng Gilang, Ren?" tanya Fira paham melihat keresahan Ceren, terlihat jelas jika temannya itu sedang mencari-cari sesuatu atau seseorang ketika berjalan bersama setelah keluar kelas.

"Aku ngerti kok, meskipun sampe sekarang aku ngga tau kenapa kamu sama Gilang bisa pacaran, *but go get it, girl*..." Fira memang teman yang pengertian, Ceren mengulas senyuman, "thanks Ra. Nanti pasti aku cerita. Pasti! Aku duluan!" lambaian tangan Ceren meninggalkan Fira di dekat gerbang yang juga telah menatap ayahnya di gerbang, "Ayah!" teriaknya menghampiri.

"Hayuk kemon, neng cantiknya ayah lagi bikin kue di rumah...katanya nunggu anaknya pulang buat jadi tim icip..." ujar ayah Fira memancing tawa renyah gadis itu.

Ceren berjalan cepat setengah berlari menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari mobil yang ia kenali. Senyumnya melebar ketika melihat mobil hitam tengah menepi di bahu jalan dan bergegas menghampiri untuk kemudian membuka pintunya.

Sempat sebelumnya ia melihat siluet bayangan penghuni bangku di dalamnya yang menengadahkan kepala sambil menyandarkan kepala serta badannya di sandaran kursi, namun saat Ceren membuka pintunya Gilang justru sudah memasang wajah tersenyumnya kaya spg kosmetik.

Ceren duduk di samping Gilang memasang tampang penasarannya, "kenapa? Aku ganteng yo?" selorohnya terkekeh sendiri, namun selorohnya kali ini tak membuat Ceren ingin tertawa, "penyakitmu lagi kambuh?" tanya Ceren.

Bukan jawaban yang ia dapatkan, "aku mau ajak kamu jalan-jalan, itung-itung ngapelin kamu..."

"Lang," tegur Ceren, guncangan laju mobil tak membuat sorot mata Ceren melembut, ia justru berdecak kesal, Gilang selalu begitu, ditanya apa jawabnya apa.

Gilang menggeleng, "ndak. Emang sekarang aku keliatan banget kaya orang penyakitan ya?" ia beralih so sibuk dengan menatap rear vision yang berada di atas kepala supir, "coba pak, arahkan kacanya sama saya..." pinta Gilang.

"Siap den mas."

Gilang yang bertingkah mengusap rambut dan narsis itu dicebiki Ceren, "narsis..." kini Ceren cengengesan geli dan Gilang membalas tawanya, "masih ganteng, aman!"

"Pak, ke emol ya, aku mau ngajak bojoku ngapel..." pinta Gilang lagi, "mau beliin dia sendal jepit. Kasian bojoku ngga punya sendal e pak, kalo nanti diajak main..."

Supir paruh baya itu terkekeh mendengar ocehan Gilang.

Praktis saja Ceren memukul pelan bahunya, "enak aja. Sendalku banyak, sepatuku juga banyak...emang yang punya sepatu banyak cuma kamu!" desisnya marah.

Gilang suka saat melihat Ceren yang bersungut-sungut begini, pertanda jika gadis ini akan baik-baik saja nantinya.

Mobil melesat pelan karena jalanan kota yang memang tak memungkinkan untuk ngebut. Mengingat letak sekolah mereka yang strategis menjadikan jaraknya cukup dekat dari sarana kota seperti mall, faskes daerah dan rumah sakit internasional serta cafe-cafe.

"Lang, aku ngga butuh sendal, sendalku udah banyak..." akuinya begitu jujur yang justru mengundang kekehan geli Gilang, sebenarnya beli sendal itu hanya wacana saja demi bisa menghabiskan waktu berdua.

"Ya ngga apa-apa, itu kan bapakmu yang kasih, kalo aku belum pernah. Dan sekarang aku mau beliin kamu." Tangan Gilang merambat mengisi kekosongan jemari Ceren menularkan rasa hangat di hati Ceren yang menatapnya dengan alis terangkat sebelah, "mesti gandengan gini?"

"Oh mesti! Takut nanti kamu ketinggalan kan repot."

Sepasang remaja ini masuk ke dalam mall, tanpa beban Gilang mengajak Ceren menyusuri pertokoan. Satu persatu toko mereka masuki meski hanya sekedar melihat-lihat dan keluar.

"Ngapain kesini, Lang?!" wajahnya memanas dan malu, "ogah gue ah!" sungutnya.

Dibacanya nama toko aneka macam dalaammann. Meski namanya 'sweet' namun tak se-sweet isi jualannya.

Gilang tertawa, "dosa ngga kalo aku pengen tau ukuran jeroanmu?"

Ceren memukul punggungnya, "privasi! Malu-maluin!" sengitnya, wajah Ceren bahkan sudah memerah.

"Hahaha, yakin ngga mau beli?" tawarnya yang sontak digelengi Ceren cepat.

"Oke. Kalo gitu sesuai janjiku yang mau beliin kamu sendal, yuk!" tariknya lagi, Ceren benar-benar ditarik kesana kemari oleh Gilang. Lelah? Seharusnya Gilang yang merasa lelah, namun nyatanya Ceren yang sering mengajaknya untuk pulang.

"Ini toko terakhir ya, Lang. Abis ini kalo ngga nonton sama makan kita pulang aja....ini udah siang loh, nanti bu Ambar ngambekin aku kalo kamu belum makan." jujurnya.

"Iya." Gilang merotasi bola matanya mendorong pintu kaca yang menampilkan pemandangan deretan sendal sepatu.

Tidak membiarkan Ceren memilih sendiri, Gilang justru ikut menemani Ceren.

"Kamu suka warna apa?"

"Yang penting jangan pink, aku ngga suka warna yang cewek banget." jawab Ceren, ia justru melirik-lirik sepatu sneaker yang dilewatinya.

"Ukuran kaki kamu berapa?" tanya Gilang lagi.

"39," jawab Ceren diangguki Gilang.

Langkahnya kesana kemari terpisah dari Gilang, karena ia yang lebih terpukau dengan model sepatu olahraga. Namun sentuhan tangannya di salah satu sepatu terusik oleh panggilan Gilang yang tiba-tiba berjalan dan berjongkok seraya membawa sebuah flatshoes berwarna denim, begitu sederhana namun tampak mewah.

"Cantik." Puji Gilang, ia mendongak meminta pendapat Ceren, gadis itu hanya mengangguk acuh tak acuh, "lumayan."

"Mas, saya ambil yang ini!" pinta Gilang.

Cukup tercekat dengan harganya, tapi tak Ceren tunjukan itu mengingat harga selangit pun tak masalah untuk Gilang.

Arah tujuan berikutnya yang diinginkan Ceren dan Gilang adalah gerai cepat saji, "Lang. Bu Ambar bilang jang----"

"Jangan makan makanan cepat saji.." potong Gilang seolah sudah khatam dengan aturan dokter dan ibunya.

Pemuda yang wajahnya terlihat pucat sedari pulang sekolah itu tak sedikit pun menghangat meski senyumnya tak pernah luntur, "sekali-kali. Aku bosen sama makanan yang hambar dan itu-itu aja. Pengen ngerasain juga makanan *hype* anak muda." Jelasnya sukses membuat Ceren tak berkutik lagi.

"Aku bukan sedang membangkang. Hanya lelah...dan hari ini, denganmu...*i'm only want create a memory*..."

Ceren semakin tercekat, "bisa ngga sih jangan ngomongin itu terus, kaya kamu mau mati besok aja!" dengusnya kini marah, Gilang menyunggingkan senyuman miring, "jangan jatuh cinta denganku, Ren. Please..."

Wajahnya terpundur mengernyit, "otak kamu ngga beres, mendingan pulang aja yuk!" ajak Ceren, namun Gilang menahannya, "masa ngapelnya ngga pake makan. Ndak seru, Ren...temani aku yuk, katanya kamu nyuruh aku makan, to?" bujuk Gilang agar tak segera menyudahi hari ini.

"Abis kamu nyebelin, Lang!"

"Ya udah, aku minta maaf. Laper ngga?" Gilang memainkan alisnya.

Keduanya mendongak ke arah papan menu di atas, paket 1 burger, soda dan es krim....

Paket hore 1, ada nasi, ayam crispy dan lemon tea dingin dan mulut Ceren masih komat-kamit membacanya saat mengantre di depan kasir.

"Yang ada nasinya aja gimana?" liriknya pada Gilang diangguki pemuda itu, "apapun yang kamu pilih aku makan."

"Ren, aku ke kamar mandi dulu sebentar....ini atmku, nanti langsung bayar aja." Gilang mengeluarkan kartu pipih dari lipatan dompetnya dan menyerahkan itu pada Ceren, lalu ia bergegas ke bagian belakang gerai tanpa menunggu jawaban Ceren, terkesan tergesa.

"Oh, okeeee...." jawabnya menatap Gilang yang sudah menjauh tanpa melihat kecurigaan apapun.

Ponsel Ceren bergetar ketika ia dengan santai menunggu antrean.

But baby, there you go again, there you go again, making me love you.....

Yeah i stopped using my head, using my head, let it all go ohhh....

Lagu marron 5 itu mengisi setiap inci gerai ayam cepat saji ini, menemani para pengunjung yang sedang makan, mengantre bahkan bercengkrama seiring hawa dingin ciri khas gerai.

Ceren yang asik menikmati suasana akhirnya tersadar jika sejak tadi ponselnya menggelepar di dalam saku.

"Nomor siapa nih?" alisnya mengkerut lalu mengangkat panggilan itu.

"Dimana?! Kamu sama Gilang dari tadi ditelfonin ngga diangkat!" tiba-tiba semburnya. Ceren sampai menjauhkan sebentar ponselnya dan memastikan nomor itu tak dikenali.

"Siapa sih?!" jawab Ceren tak kalah sengit, "main marah-marah aja, kenal juga engga!"

"Ini saya, mas Hilman!"

Ceren menutup mulutnya.

"Kamu ngga baca pesan ibu? Lagi dimana emangnya?"

Ia nyengir ditempat, "maaf mas. Ngga tau...ada apa mas?" tanya Ceren menelan saliva sulit, lagian ngapain juga nih duda ngerecokin terus hidupnya! Mana galak plus ketus lagi!

"Ibu tuh salah liat jadwal kemo Gilang, harusnya sekarang..."

Ceren cukup dibuat terkejut. Meski di sebrang telfon sana Hilman sudah kembali mengomel ketus, persis emak-emak kalo uang belanja kurang serebu, "Gilang juga! Dia tau tapi malah sengaja mangkir....." Omelannya memang tak sepanjang kereta 17 gerbong, namun setelah itu perintahnya mutlak ia ikuti.

"Ke rumah sakit sekarang, dimanapun kalian berada."

"I---"

Tuuuttt....

"Iya mas, wohhhhooo! Galak banget!" omel Ceren menyeru ke arah layar ponselnya yang sudah padam.

"Ck. Si Gilang juga, nyari masalah terus!" Ceren memilih mengurungkan niatannya memesan dan mencari Gilang.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Be snowman

Be snowman

aduh mas gimana ga jatuh cinta mas plisss 😭😭kamu aja Bkin melting gini . apa ga nangis kejer kalau ditinggal mas/Sob//Sob//Sob//Sob/

2025-01-11

1

Lalisa

Lalisa

kang Jaka barokah

2025-01-12

1

DozkyCrazy

DozkyCrazy

adduh mas gmn g bakal otw jatuh cinta
perlakuan mu massss bikin meleleh

2024-11-03

2

lihat semua
Episodes
1 MDND~ Bab 1
2 MDND~ bab 2
3 MDND~ Bab 3
4 MDND~ Bab 4
5 MDND~ bab 5
6 MDND ~ bab 6
7 MDND ~ bab 7
8 MDND~ bab 8
9 MDND~ Bab 9
10 MDND~ Bab 10
11 MDND ~ Bab 11
12 MDND ~ Bab 12
13 MDND ~ Bab 13
14 MDND ~ Bab 14
15 MDND ~ Bab 15
16 MDND ~ Bab 16
17 MDND ~ Bab 17
18 MDND ~ Bab 18
19 MDND ~ Bab 19
20 MDND ~ Bab 20
21 MDND ~ Bab 21
22 MDND ~ Bab 22
23 MDND ~ Bab 23
24 MDND ~ Bab 24
25 MDND ~ Bab 25
26 MDND ~ Bab 26
27 MDND~ Bab 27
28 MDND~ Bab 28
29 MDND ~ Bab 29
30 MDND ~ Bab 30
31 MDND ~ Bab 31
32 MDND ~ Part 32
33 MDND~ Bab 33
34 MDND ~ Bab 34
35 MDND ~ Bab 35
36 MDND ~ Bab 36
37 MDND ~ Bab 37
38 MDND~ Bab 38
39 MDND ~ Bab 39
40 MDND~ Bab 40
41 MDND ~Bab 41
42 MDND ~ Bab 42
43 MDND~ Bab 43
44 MDND ~ Bab 44
45 MDND~ Bab 45
46 MDND~ Bab 46
47 MDND~ Bab 47
48 MDND~ Bab 48
49 MDND~ Bab 49
50 MDND~ Bab 50
51 MDND~ Bab 51
52 MDND~ Bab 52
53 MDND~ Bab 53
54 MDND~ Bab 54
55 MDND~ Bab 55
56 MDND~ Bab 56
57 MDND ~ Bab 57
58 MDND~ Bab 58
59 MDND~ Bab 59
60 MDND~ Bab 60
61 MDND~ Bab 61
62 MDND~ Bab 62
63 MDND~ Bab 63
64 MDND ~ Bab 64
65 MDND~ Bab 65
66 MDND ~ Bab 66
67 MDND~ Bab 67
68 MDND ~ Bab 68
69 MDND~ Bab 69
70 MDND ~ Bab 70
71 MDND ~ Bab 71
72 MDND~ Bab 72
73 MDND ~ Bab 73
74 MDND ~ Bab 74
75 MDND ~ Bab 75
76 MDND ~ Bab 76
77 MDND~ Bab 77
78 MDND~ Bab 78
79 MDND~ Bab 79
80 MDND~ Bab 80
81 MDND~ Bab 81
82 MDND~ Bab 82
83 MDND~Bab 83
84 MDND~ Bab 84
85 MDND~ Bab 85
86 MDND~ Bab 86
87 MDND~ Bab 87
88 MDND ~Bab 88
89 MDND~ Bab 89
90 MDND~ Bab 90
91 MDND~ Bab 91
92 MDND~ Bab 92
93 MDND~ Bab 93
94 MDND~ Bab 94
95 MDND~ Bab 95
96 MDND~ Bab 96
97 MDND ~Bab 97
98 MDND~ Bab 98 (End)
Episodes

Updated 98 Episodes

1
MDND~ Bab 1
2
MDND~ bab 2
3
MDND~ Bab 3
4
MDND~ Bab 4
5
MDND~ bab 5
6
MDND ~ bab 6
7
MDND ~ bab 7
8
MDND~ bab 8
9
MDND~ Bab 9
10
MDND~ Bab 10
11
MDND ~ Bab 11
12
MDND ~ Bab 12
13
MDND ~ Bab 13
14
MDND ~ Bab 14
15
MDND ~ Bab 15
16
MDND ~ Bab 16
17
MDND ~ Bab 17
18
MDND ~ Bab 18
19
MDND ~ Bab 19
20
MDND ~ Bab 20
21
MDND ~ Bab 21
22
MDND ~ Bab 22
23
MDND ~ Bab 23
24
MDND ~ Bab 24
25
MDND ~ Bab 25
26
MDND ~ Bab 26
27
MDND~ Bab 27
28
MDND~ Bab 28
29
MDND ~ Bab 29
30
MDND ~ Bab 30
31
MDND ~ Bab 31
32
MDND ~ Part 32
33
MDND~ Bab 33
34
MDND ~ Bab 34
35
MDND ~ Bab 35
36
MDND ~ Bab 36
37
MDND ~ Bab 37
38
MDND~ Bab 38
39
MDND ~ Bab 39
40
MDND~ Bab 40
41
MDND ~Bab 41
42
MDND ~ Bab 42
43
MDND~ Bab 43
44
MDND ~ Bab 44
45
MDND~ Bab 45
46
MDND~ Bab 46
47
MDND~ Bab 47
48
MDND~ Bab 48
49
MDND~ Bab 49
50
MDND~ Bab 50
51
MDND~ Bab 51
52
MDND~ Bab 52
53
MDND~ Bab 53
54
MDND~ Bab 54
55
MDND~ Bab 55
56
MDND~ Bab 56
57
MDND ~ Bab 57
58
MDND~ Bab 58
59
MDND~ Bab 59
60
MDND~ Bab 60
61
MDND~ Bab 61
62
MDND~ Bab 62
63
MDND~ Bab 63
64
MDND ~ Bab 64
65
MDND~ Bab 65
66
MDND ~ Bab 66
67
MDND~ Bab 67
68
MDND ~ Bab 68
69
MDND~ Bab 69
70
MDND ~ Bab 70
71
MDND ~ Bab 71
72
MDND~ Bab 72
73
MDND ~ Bab 73
74
MDND ~ Bab 74
75
MDND ~ Bab 75
76
MDND ~ Bab 76
77
MDND~ Bab 77
78
MDND~ Bab 78
79
MDND~ Bab 79
80
MDND~ Bab 80
81
MDND~ Bab 81
82
MDND~ Bab 82
83
MDND~Bab 83
84
MDND~ Bab 84
85
MDND~ Bab 85
86
MDND~ Bab 86
87
MDND~ Bab 87
88
MDND ~Bab 88
89
MDND~ Bab 89
90
MDND~ Bab 90
91
MDND~ Bab 91
92
MDND~ Bab 92
93
MDND~ Bab 93
94
MDND~ Bab 94
95
MDND~ Bab 95
96
MDND~ Bab 96
97
MDND ~Bab 97
98
MDND~ Bab 98 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!