MDND ~ Bab 20

...Kiss me in the rain...

...Cerenia...

...----------------...

Gilang melirik jam di dinding, sebelumnya Ceren memang ijin untuk bertemu bapaknya. Tapi di luar sana, langit sudah mulai mendung dan menunjukan aroma-aroma air hujan.

"Ceren kemana ini?" ia masih duduk di atas ayunan favoritnya sambil setia menatap langit yang perlahan memperdengarkan bunyi petir yang bersahutan.

"Loh, non Ceren belum pulang to den?" tanya mbok.

Gilang menggeleng, "Ibu sama bapak kemana, mbok?" tanya Gilang.

"Ibu belum pulang dari butik. Bapak ikut pertemuan bersama orang galery, den. Kalo den bagus Kaisar, katanya tadi sedang berkunjung ke rumah ibunya, den."

Gilang mengangguk paham, hubungan masnya dengan sang mantan istri memang harus kandas karena keegoisan keduanya, tapi tidak menjadikan Kaisar jauh dari ibunya. Dalam seminggu, 2 sampai 3 kali Kai sering dijemput atau bahkan mondok di rumah ibunya.

"Aduhh, pak. Kayanya mau ujan. Aku pulang dulu, Gilang juga udah wa terus nyuruh balik, e..." sesal Ceren mencangklok kembali tasnya di punggung.

"Iya nduk. Naik taksi online saja biar ngga keujanan, dianter sampe rumah juga...ada to uangnya?" tanya bapak.

Ceren mengangguk, "iya pak. Kalo gitu aku pesen dulu...bapak kalo mau duluan balik ke butik lagi, balik aja."

"Beneran?"

Ceren mengangguk, "yo wes. Bapak balik duluan yo, takut telat..."

"Nggih pak."

Seiring kepergian bapak dengan motornya, Ceren memesan taksi online.

Hujan sudah turun membasahi bumi, dan Ceren baru saja sampai di rumah. Sambil berjinjit karena kubangan dan air yang tergenang di depan halaman rumah, Ceren berlari kecil sembari menudungkan jaketnya di atas kepala.

"Makasih pak."

Langkahnya memasuki rumah disambut oleh kondisi sepi, "assalamu'alaikum."

Tak langsung ke kamarnya, Ceren memilih mencari Gilang, "Lang..." kakinya melangkah menyusuri setiap ruangan termasuk mengetuk pintu kamar Gilang namun tak ada.

Ia berbalik mencari ke arah belakang, tempat favorit Gilang. Dan benar saja, pemuda itu sedang asyik membaca buku miliknya.

"Emh, sibuk banget ya pak? Sampe ngga denger salamku?" Ceren duduk di samping Gilang dan membuka sepatunya.

Gilang tersenyum, "ada salam dari Jojo tadi. Katanya mau ngajakin main voli bareng lagi, english club juga kehilangan sosok Gilang katanya..." kekeh Ceren. Gilang tertawa renyah, "wa'alaikumsalam. Tapi aku lebih ngarepin salam dari istriku..."

"Kamu sudah makan? Bapak apa kabar?" tanya Gilang.

"Alhamdulillah udah. Bapak baik, dia pengen kesini jenguk mantunya, tapi ibu limpahin urusan butik sama bapak. Jadinya belum ada waktu jenguk..."

"Ngga apa-apa," tangannya terulur mengelus rambut yang sedikit basah, "kamu keujanan? Naik apa?"

"Sedikit. Barusan aku naik----"

"Onta." tembak Gilang dan Ceren bersamaan, always! Kamus bahasa Ceren yang dihafal Gilang. Keduanya cengengesan bersama, "udah makan?"

"Udah."Angguk Gilang, "kamunya lama, jadi aku makan bareng cewek lain..."

Alis Ceren mengernyit, namun kemudian ia cekikikan, "mbok?"

"Right! 100 buat cah ayu..." jawab Gilang. Lantas keduanya menatap rintik hujan yang turun berdua seraya menggoyangkan ayunan sehingga membuai keduanya perlahan nan lembut.

Gilang menarik bahu Ceren agar gadis itu bersandar di dadanya. Beban hati yang sudah berkurang mendadak berat lagi.

"Aku sayang kamu, Ren."

Ceren mendongak menatap Gilang, "aku tau. Nanti, kapan-kapan ikut mas Hilman ke gallery sama pabrik gula. Biar nanti bisa ikut urus..." ujar Gilang. Rintik hujan seolah membawa rencana masa depan untuk Ceren yang telah dipersiapkan Gilang.

Ceren tak menjawab, bahkan untuk menelan salivanya saja sungguh terasa berat. Bisakah Gilang tak berkata apapun yang mengingatkan dirinya akan kehilangannya kelak? Bisakah kini mereka nikmati saja waktu bersama.

Gilang mengecup kening Ceren, membuat Ceren semakin dilanda badai kesedihan.

"Bisakah kamu janji jangan meninggalkan aku, Lang?"

Gilang terkekeh sumbang mendengar itu, permintaan Ceren sungguh imposibble, "kalo jodoh. Aku tunggu kamu di jannahnya Allah..."

Ceren membawa serta buku-buku miliknya ke ruang tengah. Sambil menemani Gilang, sambil ia mengerjakan tugas sekolahnya.

"Banyak tugas, ya?" tanya Gilang teralihkan dari fokusnya menatap layar televisi segede layar tancep sembari menikmati keripik kentang.

Ceren mengangguk, tangan Gilang menyodorkan keripik kentang ke mulut Ceren, dan gadis itu melahapnya, "susah banget. Masa aku harus tau harga pasar sebenarnya coba..." keluhnya mengadu.

"Coba," Gilang mengambil alih buku ekonomi milik Ceren dan sebaliknya Ceren mengambil alih toples keripik, "kalo susah udah lah biar aja, ngga akan aku kerjain...paling juga beresin gudang, kecil lah!" ocehnya santai saja dan memilih memindahkan channel pada acara kartun favoritnya.

Ia tertawa-tawa sementara Gilang justru lebih tertarik mengerjakan tugas Ceren. Sesekali Gilang tertular rasa geli karena tawa Ceren yang renyah. Dan pemandangan inilah yang membuat Gilang bahagia.

"Liat coba itu, be go banget ya Allah!" tunjuk Ceren sambil tertawa geli dan Gilang menopang dagunya demi menyaksikan wajah cantik Ceren.

Ceren menutup buku miliknya, setengah tugasnya dikerjakan Gilang, dan sisanya biar besok ia mencontek saja pada Fira.

"Makan yuk!" ajak Ceren kini membantu Gilang bangun dari duduknya.

"Kamu mau aku suapin atau makan sendiri?" tawar Ceren sembari tertawa geli.

"Disuapin boleh juga, soalnya aku belum pernah ngerasain disuapin sama cewek cantik, terlebih halal!" mata Gilang mengedip genit semakin membuat Ceren tergelak.

Dan di malam ini, saat semuanya masih sibuk bersama dunianya, kedua insan ini menghabiskan makan malam berdua tanpa beban masihkah esok keduanya dapat bernafas di dunia yang sama.

"Besok aku mau sekolah ah, takut kamu selingkuh!" seloroh Gilang membuat Ceren mencebik, "aku tau ya, kamu suka nanya sama Jojo selama kamu ngga sekolah...dan dia jadi mata-mata kamu di sekolah!" ujarnya berkacak pinggang lalu mencubit Gilang, tak mau kalah Gilang pun mencubit pipi Ceren membuat keduanya saling cubit.

Dan pemandangan bahagia Gilang itu disaksikan ibu dan bapak yang baru saja datang.

Lirikan mata Gilang sedikit sayu melihat jam dinding, "sudah malam. Besok kita mau sekolah kan..."

Ceren mengangguk menyetujuinya, "kamu istirahat, aku juga istirahat. Besok aku bakal bangun lebih pagi, biar bisa siapin bekel kamu dulu," ujar Ceren diangguki Gilang, "makasih sayang."

Keduanya berpisah di depan kamar Ceren, "jangan lupa cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi, dan do'a....mimpiin aku," ucap Gilang.

"Siap bos!" angguk Ceren, begini rasanya jatuh cinta, hatinya mendadak jadi kebon bunga.

Keduanya berpisah disini, pintu itu belum tertutup sampai Ceren mengecup punggung tangan Gilang, "assalamu'alaikum suamiku..."

Gilang tertawa renyah, "wa'alaikumsalam bojo anyar...." jawab Gilang, Ceren menutup pintunya.

Dan Gilang melangkah berbalik ia menghela nafasnya menahan rasa sakit di kepala dan dada, rasanya ia sudah tak kuat lagi untuk berdiri dan ingin segera merebahkan diri.

"Bu, pak...jangan tidur terlalu malam. Aku masuk kamar dulu..."

"Iya, le. Istirahat ya...."

Gilang menularkan senyumannya dan masuk ke dalam kamar setelah berpamitan.

.

Ceren bangun seperti biasanya, dilihatnya mbok yang masih menyiapkan sarapan, ia tak langsung masuk ke dalam kamar Gilang, mengingat Gilang pasti sedang berpakaian.

Ia lebih memilih mendekati tempat kotak makan dan mengambil bekal secukupnya untuk Gilang dan dirinya.

"Mbok, kalo mas Gilang sukanya makan apa?" ia baru menyadari jika sampai detik ini ia bahkan tak tau apapun tentang Gilang.

"Apapun den bagus suka, ndak pilih-pilih anaknya den ayu." jawab simbok sambil menata piring.

"Eyang!!! Pa'lekkk! Bu'lekkk!" pekik Kaisar menyerbu rumah dan ruangan makan.

"Hati-hati le, jangan lari-lari!" tegur Hilman.

"Hay Kai! Mau ikut sarapan disini?" tanya Ceren diangguki bocah itu, bocah itu celingukan mencari seseorang, "loh, pa'lek mana bu'lek?"

"Kayanya masih di kamar, ke kamarnya yuk!" ajak Ceren menaik turunkan alisnya berinisiatif setelah selesai menutup kotak bekal keduanya diangguki Kaisar usil. Keduanya berlari kecil menuju kamar Kaisar sementara Hilman duduk di ruang makan, "mbok, minta kopi ya..."

"Siap den."

"Permisi eyang, Kai sama bu'lek mau ke kamar pa'lek."

Ibu tersenyum, "hati-hati yo."

Ceren dan Kai sudah berada di gawang pintu kamar Gilang, "coba aku buka, dikunci apa engga ya..." bisik Ceren diangguki bocah berseragam oranye itu.

Ceklek...

"Eh, ngga dikunci..." tumben sekali....Ceren cukup dibuat mengernyit meskipun tak sampai berpikir apa-apa.

Sedikit demi sedikit daun pintu dilebarkan, keduanya berjinjit masuk ke dalam.

"Loh?!" Ceren mengernyit melihat sosok Gilang masih tidur di atas ranjangnya.

"Pa'lek males banget, jam segini belum bangun!" bisik Kai.

Merasa ada yang aneh, Ceren mengguncang dan mencolek Gilang, "Lang...katanya mau sekolah?"

Namun nihil, Gilang sama sekali tidak terusik. Ceren memegang dahi Gilang sambil kembali mengguncang Gilang, lama-lama hatinya mulai berdebar tak karuan, engga....jangan!

"Lang!" Ceren menurunkan punggung jemarinya ke lubang hidung Gilang dan beralih memegang leher Gilang dimana denyutan nadi akan terasa disana.

Matanya seketika terasa kabur, "Lang, jangan giniiii! Gilangggg!"

"Pa'lek kenapa bu'lek?" tanya Kai. Bumi benar-benar runtuh untuk Ceren, Gilang sama sekali tak bernafas.

"Ibuuuu!"

"Gilanggg!"

Hilman, ibu dan seisi rumah tersentak kaget mendengar teriakan Ceren.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Be snowman

Be snowman

/Sob//Sob/Thor novel mu yang ini buatku nangis kejer/Cry//Cry/

ya Allah toolong/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/

2025-01-11

1

Julia Juliawati

Julia Juliawati

ya ampun Thor bentar x gilang ngerasakan kebahagian maunya tar dl dia meninggalnya😭😭😭😭

2024-11-12

0

Be snowman

Be snowman

😭😭😭 thorr /Cry//Cry//Cry//Cry/ udah nyungseb dibantal ni muka /Cry/

2025-01-11

1

lihat semua
Episodes
1 MDND~ Bab 1
2 MDND~ bab 2
3 MDND~ Bab 3
4 MDND~ Bab 4
5 MDND~ bab 5
6 MDND ~ bab 6
7 MDND ~ bab 7
8 MDND~ bab 8
9 MDND~ Bab 9
10 MDND~ Bab 10
11 MDND ~ Bab 11
12 MDND ~ Bab 12
13 MDND ~ Bab 13
14 MDND ~ Bab 14
15 MDND ~ Bab 15
16 MDND ~ Bab 16
17 MDND ~ Bab 17
18 MDND ~ Bab 18
19 MDND ~ Bab 19
20 MDND ~ Bab 20
21 MDND ~ Bab 21
22 MDND ~ Bab 22
23 MDND ~ Bab 23
24 MDND ~ Bab 24
25 MDND ~ Bab 25
26 MDND ~ Bab 26
27 MDND~ Bab 27
28 MDND~ Bab 28
29 MDND ~ Bab 29
30 MDND ~ Bab 30
31 MDND ~ Bab 31
32 MDND ~ Part 32
33 MDND~ Bab 33
34 MDND ~ Bab 34
35 MDND ~ Bab 35
36 MDND ~ Bab 36
37 MDND ~ Bab 37
38 MDND~ Bab 38
39 MDND ~ Bab 39
40 MDND~ Bab 40
41 MDND ~Bab 41
42 MDND ~ Bab 42
43 MDND~ Bab 43
44 MDND ~ Bab 44
45 MDND~ Bab 45
46 MDND~ Bab 46
47 MDND~ Bab 47
48 MDND~ Bab 48
49 MDND~ Bab 49
50 MDND~ Bab 50
51 MDND~ Bab 51
52 MDND~ Bab 52
53 MDND~ Bab 53
54 MDND~ Bab 54
55 MDND~ Bab 55
56 MDND~ Bab 56
57 MDND ~ Bab 57
58 MDND~ Bab 58
59 MDND~ Bab 59
60 MDND~ Bab 60
61 MDND~ Bab 61
62 MDND~ Bab 62
63 MDND~ Bab 63
64 MDND ~ Bab 64
65 MDND~ Bab 65
66 MDND ~ Bab 66
67 MDND~ Bab 67
68 MDND ~ Bab 68
69 MDND~ Bab 69
70 MDND ~ Bab 70
71 MDND ~ Bab 71
72 MDND~ Bab 72
73 MDND ~ Bab 73
74 MDND ~ Bab 74
75 MDND ~ Bab 75
76 MDND ~ Bab 76
77 MDND~ Bab 77
78 MDND~ Bab 78
79 MDND~ Bab 79
80 MDND~ Bab 80
81 MDND~ Bab 81
82 MDND~ Bab 82
83 MDND~Bab 83
84 MDND~ Bab 84
85 MDND~ Bab 85
86 MDND~ Bab 86
87 MDND~ Bab 87
88 MDND ~Bab 88
89 MDND~ Bab 89
90 MDND~ Bab 90
91 MDND~ Bab 91
92 MDND~ Bab 92
93 MDND~ Bab 93
94 MDND~ Bab 94
95 MDND~ Bab 95
96 MDND~ Bab 96
97 MDND ~Bab 97
98 MDND~ Bab 98 (End)
Episodes

Updated 98 Episodes

1
MDND~ Bab 1
2
MDND~ bab 2
3
MDND~ Bab 3
4
MDND~ Bab 4
5
MDND~ bab 5
6
MDND ~ bab 6
7
MDND ~ bab 7
8
MDND~ bab 8
9
MDND~ Bab 9
10
MDND~ Bab 10
11
MDND ~ Bab 11
12
MDND ~ Bab 12
13
MDND ~ Bab 13
14
MDND ~ Bab 14
15
MDND ~ Bab 15
16
MDND ~ Bab 16
17
MDND ~ Bab 17
18
MDND ~ Bab 18
19
MDND ~ Bab 19
20
MDND ~ Bab 20
21
MDND ~ Bab 21
22
MDND ~ Bab 22
23
MDND ~ Bab 23
24
MDND ~ Bab 24
25
MDND ~ Bab 25
26
MDND ~ Bab 26
27
MDND~ Bab 27
28
MDND~ Bab 28
29
MDND ~ Bab 29
30
MDND ~ Bab 30
31
MDND ~ Bab 31
32
MDND ~ Part 32
33
MDND~ Bab 33
34
MDND ~ Bab 34
35
MDND ~ Bab 35
36
MDND ~ Bab 36
37
MDND ~ Bab 37
38
MDND~ Bab 38
39
MDND ~ Bab 39
40
MDND~ Bab 40
41
MDND ~Bab 41
42
MDND ~ Bab 42
43
MDND~ Bab 43
44
MDND ~ Bab 44
45
MDND~ Bab 45
46
MDND~ Bab 46
47
MDND~ Bab 47
48
MDND~ Bab 48
49
MDND~ Bab 49
50
MDND~ Bab 50
51
MDND~ Bab 51
52
MDND~ Bab 52
53
MDND~ Bab 53
54
MDND~ Bab 54
55
MDND~ Bab 55
56
MDND~ Bab 56
57
MDND ~ Bab 57
58
MDND~ Bab 58
59
MDND~ Bab 59
60
MDND~ Bab 60
61
MDND~ Bab 61
62
MDND~ Bab 62
63
MDND~ Bab 63
64
MDND ~ Bab 64
65
MDND~ Bab 65
66
MDND ~ Bab 66
67
MDND~ Bab 67
68
MDND ~ Bab 68
69
MDND~ Bab 69
70
MDND ~ Bab 70
71
MDND ~ Bab 71
72
MDND~ Bab 72
73
MDND ~ Bab 73
74
MDND ~ Bab 74
75
MDND ~ Bab 75
76
MDND ~ Bab 76
77
MDND~ Bab 77
78
MDND~ Bab 78
79
MDND~ Bab 79
80
MDND~ Bab 80
81
MDND~ Bab 81
82
MDND~ Bab 82
83
MDND~Bab 83
84
MDND~ Bab 84
85
MDND~ Bab 85
86
MDND~ Bab 86
87
MDND~ Bab 87
88
MDND ~Bab 88
89
MDND~ Bab 89
90
MDND~ Bab 90
91
MDND~ Bab 91
92
MDND~ Bab 92
93
MDND~ Bab 93
94
MDND~ Bab 94
95
MDND~ Bab 95
96
MDND~ Bab 96
97
MDND ~Bab 97
98
MDND~ Bab 98 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!