MDND ~ Bab 15

Bangku ayunan yang digoyangkan begitu pelan itu setia membersamai Gilang dan Ceren, "aku berangkat setelah liat kamu berangkat."

Ceren bergegas memesan ojek online melalui aplikasi dari ponselnya, "kalo gitu aku ambil dulu sepatu." Hati Ceren tergerak memperlakukan Gilang seperti Gilang memperlakukannya, mulai dari panggilannya.

Ceren turun dari ayunan yang masih membuai Gilang menuju rak sepatu yang berada jauh di dekat pintu masuk rumah.

"Ren, belum berangkat to?" ibu menahan langkahnya di meja makan dimana itu telah kosong tak berpenghuni, selain dari dirinya.

"Belum bu. Ini mau pesen ojek online..." tunjuknya memperlihatkan layar ponselnya yang sedang mencari pengemudi, lalu sebuah foto pria berjaket hijau muncul secara otomatis disana.

"Ndak berangkat bareng Gilang?" Ceren menggeleng, "Gilang----" ucapannya mengudara begitu saja saat menyadari jika ucapannya kurang sopan di depan seseorang seperti bu Ambar, seseorang yang memiliki gelar ningrat, seseorang dengan sifat angkuh dan penuh keharusan serta seseorang yang menjunjung tinggi kesopanan.

Ceren bukan gadis bo doh yang tak dapat menilai, melalui kejadian tatapan tadi saja ia sudah dapat menilai jika ibu mertuanya itu seorang yang perfeksionis a.k.a calon-calon mertua reseee!

"Mas Gilang nyaranin buat masing-masing dulu bu, biar temen-temen ngga curiga kalo tiba-tiba barengan." wkwkwkwkwk! Hatinya geli tertawa menyebut gelar Gilang yang tadinya elo jadi kang mas.

"Kai sama pak---" ia kembali memejamkan matanya saat keliru berucap, lidah bar-bar emang susah nyatu sama ningrat begini....salah-salah ia memilih kata bisa digorok ibu mertuanya yang telah terlihat bibit-bibit mertua judes.

"Kai sama bapak, udah berangkat?" tanya nya balik berbasa-basi.

"Sudah. Barusan masmu kesini, tapi kalian sibuk di belakang." Ujarnya sedikit mendumel, sepertinya menyayangkan kebersamaan di belakang sampe lupa kalo yang tua jalan duluan ngga dipamitin, "jangan lupa siapkan bekal makan setiap harinya untuk suamimu."

"Nggih," angguk Ceren lagi langsung menyerbu dimana tempat-tempat kotak makan siang disimpan.

"Oh ya, jangan lupa ingatkan Gilang, besok ada jadwal kemo..." jedanya, lalu memungkasnya dengan cepat, "kamu jangan sampai lupa!"

"Ingatkan Gilang juga untuk meminum obatnya...kadang dia suka lupa atau mulai malas," ucapnya sembari melengos berlalu ke arah dapur.

(Siap paduka ratu....) angguknya dalam.

"Inggih bu." Ceren melanjutkan tujuannya.

Ceren sudah sampai duluan di sekolah. Terang saja begitu, karena ia yang datang menggunakan ojek online, jadi bisa sat-set di jalan, sementara Gilang memakai mobil, seperti biasanya. Mungkin kulit ningratnya tak diijinkan naik motor seperti dirinya yang cuma rakyat jelata.

Ia masih berdiri di depan gerbang bukan menunggu Gilang, melainkan menunggu ojol yang membawa buku-buku miliknya dari rumah.

"Darrr!" Fira baru saja datang, namun kedatangannya di sisi agak samping itu tak disadari Ceren, bermaksud mengejutkan temannya yang terlihat serius menunggu itu, namun sayangnya gadis itu tak begitu terkejut dan terlampau santai saja. Fira merangkulkan tangannya di pundak Ceren.

"Ngga kaget ihhh...nungguin apa sih? Serius amat..." Fira yang masih memakai tas di punggungnya ikut memandang jalanan seperti yang dilakukan oleh Ceren, "ojol. Buku aku ketinggalan..." singkatnya mengakui, praktis saja membuat Fira mengangkat alisnya lalu tertawa renyah, "kok bisa, sekolah ngga bawa buku? Kamu niat sekolah apa nonton dangdut, ceu?" tanya nya mencibir.

"Ck." ia hanya berdecak lantas so sibuk mengedarkan pandangan tak menjawab, salahnya yang menjawab terlampau jujur, lupa kalo pertanyaan itu justru akan menjadi boomerang untuknya sendiri.

Hingga seorang pria dengan jaket hijaunya berhenti tepat di depan gerbang sekolah, ia menatap mendongak mendorong kaca helemnya seraya menatap layar ponsel demi memastikan jika alamat yang dituju itu benar.

"Itu bukan?" tunjuk Fira lagi.

"Kayanya!" Ceren menghampiri, "pak!" sapanya.

Fira ikut mengekori Ceren bermaksud membersamai agar nantinya berjalan bersama ke kelas, ia dan Ceren kan sudah seperti hati dan empedu.

"Gilang bukan pak?" tanya Ceren, si bapak mengangguk, "betul." ia menyerahkan tas spoundbond biru berisi buku-buku pelajaran hari ini yang memancing senyuman puas darinya, "nah ini baru bener."

"Ongkosnya sudah dibayar lewat aplikasi kan, pak?" tanya nya kembali.

"Sudah mbak Gilang."

Alis Fira semakin mengerut kisut, tak mengerti. Ia pikir awalnya ia salah mendengar, namun kali kedua nama Gilang disebutkan akhirnya ia tau jika kupingnya masih normal-normal saja.

"Sejak kapan nama kamu jadi Gilang?"

Ceren membeliakan matanya, mamposss...

Bersamaan dengan sebuah mobil memberikan lampu sennya dan melintas memasuki gerbang sekolah, melewati Ceren serta Fira dengan membuka kaca jendelanya, sejenak memandang Ceren yang ada disana meski Gilang tak memberikan senyum apapun.

"Masuk yuk!" ajaknya melenggang begitu saja.

"Ren!"

"Ceren!"

Langkah besar Ceren yang disusul Fira sambil memanggil-manggil namanya itu bersamaan dengan Gilang yang keluar dari mobil, sehingga kini posisi Gilang berjalan di belakang keduanya.

"Ren! Kamu udah ganti nama apa gimana?"

"Shhh, cerewet ih. Sejak kapan kamu cerewet Fir?"

Fira sontak mendorong kepalanya, "isshhh ni anak! Ditanya malah balik nanya! Aku udah dari dulu cerewet. Sekarang pertanyaan aku jawab dulu. Sejak kapan nama kamu jadi Gilang?"

Gilang cengengesan melihat Fira mencecar Ceren dan gadisnya itu terpojokan, memang salahnya dan Ceren yang memakai ponsel milik Gilang untuk memesan aplikasi pengantaran buku dari rumah bapak. Nyatanya serapi-rapi mereka, tetap saja tak dapat menyimpan rapat bangkai, pun...tetap akan terendus juga, seperti kata pepatah bilang. Sepertinya memang Ceren tak dapat menutupi rahasia apapun dari Fira.

"Cerenia Aqila Yumna!"

"Sejak kemaren!" sentak Ceren cepat menghentikan langkahnya dan menoleh sengit pada Fira, kini tatapannya menyorot tajam juga pada Gilang yang telah ia sadari ada di sana sebagai bentuk dumelan dan keluhannya, ribet kan ah! Semakin bingung saja Fira melihatnya, "Gilang?" tunjuknya kebingungan mendapati Gilang ikut berhenti.

Pagi-pagi Fira sudah garuk-garuk kutuan, "ini ada apa sih?"

Belajar bareng adalah alasan paling munafik nan klasik dan tak mungkin Fira percayai. Lagipula ada angin topan apa tiba-tiba mereka belajar bareng? Meminjam ponsel Gilang untuk memesan aplikasi apalagi, pfffftt... kapan mereka bertemu, maka pertanyaan Fira akan semakin banyak lagi.

Fira duduk bersidekap menunggu penjelasan Ceren dan Gilang di tembok selasar kelas mereka berada saat itu, "ini kenapa bisa akur gini?" cecarnya menunjuk keduanya bergantian.

Ceren mele nguh berat, janjinya dan Gilang pada Hilman rupanya tak dapat mereka tepati terhadap Fira, "aku sama dia...."

"Pacaran..." lanjut Ceren. Mata Fira membeliak tak percaya, "whaattt..." ia tidak berteriak namun justru menggumam tak bersuara saking terkejutnya, ia sampai menutup mulutnya.

Melihat Gilang yang cuma menebarkan senyum, Fira meyakini itu benar adanya.

"Kok bisa?!" tanya nya, "kapan?"

"Kok aku ngga tau?!"

"Ck." Ceren celingukan, sebelum semuanya dianggap mencurigakan dan berabe, ia segera menyudahi obrolan ini, "bisa lah. Ya udah lah, masuk yuk..." ajak Ceren menarik Fira tak ingin membahas masalah ini, sebelum ia menemukan kalimat yang pas untuk menjelaskan semuanya.

"Aku duluan." ketusnya pada Gilang.

//

Fira cengengesan, "cieee. Ini sejak kapan temen aku jadi aku---kamuan...kenapa ngga bilang sih kalo suka juga sama Gilang, kemaren pake so so'an nolak..."

Ceren masih diam dengan wajah yang sudah memerah karena sindiran Fira, sungguh ia kehilangan kata-kata di depan temannya itu, "awas. Jangan bilang-bilang yang lain. Ini rahasia!"

Namun seolah ucapan mewanti-wanti Ceren itu menguap begitu saja seperti uap baso, Fira justru sedang mencolak-colek lengan Ceren usil seraya berjalan menuju kantin, "cieee...udah di w.a belum Gilangnya, kalo ayang mau ke kantin..." goda Fira, begini nih urusannya kalo Maghfira tau, sudah pasti ia jadi bulan-bulanannya.

Fira bahkan tertawa tergelak melihat wajah kecut Ceren, "bisa diem ngga tuh mulutnya. Ntar yang lain tau..."

"Emang kenapa sih, Ren...kalo yang lain tau, biarin aja..paling dimintain peje...." senggol Fira cengengesan, andai semua tak serumit ini akan mudah untuk Ceren mengatakannya, ia hanya menatap Fira getir di belokan masuk kantin.

Suasana istirahat jelas terlihat penuh, semua booth jajanan sudah punya antrean dan Ceren harus bersabar untuk itu.

"Yah penuh, kelamaan sih...aku bilang juga apa..."

Ceren lebih memilih mengambil tempat duduk dimana teman-temannya sudah duduk duluan, "udah lah duduk aja dulu."

"Oyy, belum jajan?"

Ceren menggeleng, "penuh gitu, males ngantri."

"Aaaaa----pengen bakmie.." rengek Fira.

"Noh, si Aji lagi ngantri, titip sana Ra..." tunjuk Hanan dicebiki Fira, reaksi Fira mengundang tawa Kansa, "takut digombalin lagi ya, atau takut jatuh cinta?"

"Shhh, apa sih..."

"Ceren," semangkuk bakmie dilengkapi baso dan sebotol minuman isotonik tiba-tiba tersaji di depan meja Ceren membuat obrolan mereka seketika terhenti demi menatap bakmie yang masih mengepulkan asapnya.

"Jahat ih, katanya belum pesen...taunya malah ninggalin, ngga setia kawin..." omel Fira.

"Gue aja ngga tau," lengking Ceren, "bang...ini punya siapa?" tanya Ceren berteriak.

"Neng Ceren kan? Itu punya neng Ceren..." jawabnya singkat dan langsung melengos begitu saja kembali pada keramaian pesanan.

"Udah terima aja Ren, rejeki anak soleh tuhhh! Kalo lo ngga mau buat gue aja..." seloroh Hanan.

Ceren dan Fira saling lirik, memiliki tebakan yang sama, hingga sedetik kemudian Fira berucap sambil tersenyum usil, "so sweet."

Ceren mengedarkan pandangannya mencari sosok pemuda itu, namun diantara banyaknya siswa ia cukup kesulitan menemukan Gilang.

-UKS-

"Gimana, Lang. Sudah berhenti mimisannya?" seorang guru yang bertugas menjaga ruang unit kesehatan sekolah menyerahkan segelas teh hangat pada Gilang yang tengah duduk di atas ranjang.

"Sudah bu, terimakasih." ia merebahkan badannya yang terasa berat, lelah dan sakit. Kepalanya seperti mau pecah saja sesaat setelah guru mata pelajaran pertama masuk.

"Apa mau ijin pulang, biar nanti saya bikin note sama guru kelas?" tanya nya lagi. Gilang menggeleng, "ngga usah bu." ia ingat sepulang nanti ia berniat mengajak Ceren jalan-jalan sebagai apel pertama mereka.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Be snowman

Be snowman

gilangg kuat yuuuuu ,hidup lebih lama plis 😭😭😭 huwaa jadi inget cs waktu kecil namanya Gilang pula /Sob//Sob/

2025-01-11

1

Lalisa

Lalisa

suami yg pesenin ren biar kamu ga usah antre.duh baiknya suami orang

2025-01-12

0

Lalisa

Lalisa

semangat Lang😭😭

2025-01-12

0

lihat semua
Episodes
1 MDND~ Bab 1
2 MDND~ bab 2
3 MDND~ Bab 3
4 MDND~ Bab 4
5 MDND~ bab 5
6 MDND ~ bab 6
7 MDND ~ bab 7
8 MDND~ bab 8
9 MDND~ Bab 9
10 MDND~ Bab 10
11 MDND ~ Bab 11
12 MDND ~ Bab 12
13 MDND ~ Bab 13
14 MDND ~ Bab 14
15 MDND ~ Bab 15
16 MDND ~ Bab 16
17 MDND ~ Bab 17
18 MDND ~ Bab 18
19 MDND ~ Bab 19
20 MDND ~ Bab 20
21 MDND ~ Bab 21
22 MDND ~ Bab 22
23 MDND ~ Bab 23
24 MDND ~ Bab 24
25 MDND ~ Bab 25
26 MDND ~ Bab 26
27 MDND~ Bab 27
28 MDND~ Bab 28
29 MDND ~ Bab 29
30 MDND ~ Bab 30
31 MDND ~ Bab 31
32 MDND ~ Part 32
33 MDND~ Bab 33
34 MDND ~ Bab 34
35 MDND ~ Bab 35
36 MDND ~ Bab 36
37 MDND ~ Bab 37
38 MDND~ Bab 38
39 MDND ~ Bab 39
40 MDND~ Bab 40
41 MDND ~Bab 41
42 MDND ~ Bab 42
43 MDND~ Bab 43
44 MDND ~ Bab 44
45 MDND~ Bab 45
46 MDND~ Bab 46
47 MDND~ Bab 47
48 MDND~ Bab 48
49 MDND~ Bab 49
50 MDND~ Bab 50
51 MDND~ Bab 51
52 MDND~ Bab 52
53 MDND~ Bab 53
54 MDND~ Bab 54
55 MDND~ Bab 55
56 MDND~ Bab 56
57 MDND ~ Bab 57
58 MDND~ Bab 58
59 MDND~ Bab 59
60 MDND~ Bab 60
61 MDND~ Bab 61
62 MDND~ Bab 62
63 MDND~ Bab 63
64 MDND ~ Bab 64
65 MDND~ Bab 65
66 MDND ~ Bab 66
67 MDND~ Bab 67
68 MDND ~ Bab 68
69 MDND~ Bab 69
70 MDND ~ Bab 70
71 MDND ~ Bab 71
72 MDND~ Bab 72
73 MDND ~ Bab 73
74 MDND ~ Bab 74
75 MDND ~ Bab 75
76 MDND ~ Bab 76
77 MDND~ Bab 77
78 MDND~ Bab 78
79 MDND~ Bab 79
80 MDND~ Bab 80
81 MDND~ Bab 81
82 MDND~ Bab 82
83 MDND~Bab 83
84 MDND~ Bab 84
85 MDND~ Bab 85
86 MDND~ Bab 86
87 MDND~ Bab 87
88 MDND ~Bab 88
89 MDND~ Bab 89
90 MDND~ Bab 90
91 MDND~ Bab 91
92 MDND~ Bab 92
93 MDND~ Bab 93
94 MDND~ Bab 94
95 MDND~ Bab 95
96 MDND~ Bab 96
97 MDND ~Bab 97
98 MDND~ Bab 98 (End)
Episodes

Updated 98 Episodes

1
MDND~ Bab 1
2
MDND~ bab 2
3
MDND~ Bab 3
4
MDND~ Bab 4
5
MDND~ bab 5
6
MDND ~ bab 6
7
MDND ~ bab 7
8
MDND~ bab 8
9
MDND~ Bab 9
10
MDND~ Bab 10
11
MDND ~ Bab 11
12
MDND ~ Bab 12
13
MDND ~ Bab 13
14
MDND ~ Bab 14
15
MDND ~ Bab 15
16
MDND ~ Bab 16
17
MDND ~ Bab 17
18
MDND ~ Bab 18
19
MDND ~ Bab 19
20
MDND ~ Bab 20
21
MDND ~ Bab 21
22
MDND ~ Bab 22
23
MDND ~ Bab 23
24
MDND ~ Bab 24
25
MDND ~ Bab 25
26
MDND ~ Bab 26
27
MDND~ Bab 27
28
MDND~ Bab 28
29
MDND ~ Bab 29
30
MDND ~ Bab 30
31
MDND ~ Bab 31
32
MDND ~ Part 32
33
MDND~ Bab 33
34
MDND ~ Bab 34
35
MDND ~ Bab 35
36
MDND ~ Bab 36
37
MDND ~ Bab 37
38
MDND~ Bab 38
39
MDND ~ Bab 39
40
MDND~ Bab 40
41
MDND ~Bab 41
42
MDND ~ Bab 42
43
MDND~ Bab 43
44
MDND ~ Bab 44
45
MDND~ Bab 45
46
MDND~ Bab 46
47
MDND~ Bab 47
48
MDND~ Bab 48
49
MDND~ Bab 49
50
MDND~ Bab 50
51
MDND~ Bab 51
52
MDND~ Bab 52
53
MDND~ Bab 53
54
MDND~ Bab 54
55
MDND~ Bab 55
56
MDND~ Bab 56
57
MDND ~ Bab 57
58
MDND~ Bab 58
59
MDND~ Bab 59
60
MDND~ Bab 60
61
MDND~ Bab 61
62
MDND~ Bab 62
63
MDND~ Bab 63
64
MDND ~ Bab 64
65
MDND~ Bab 65
66
MDND ~ Bab 66
67
MDND~ Bab 67
68
MDND ~ Bab 68
69
MDND~ Bab 69
70
MDND ~ Bab 70
71
MDND ~ Bab 71
72
MDND~ Bab 72
73
MDND ~ Bab 73
74
MDND ~ Bab 74
75
MDND ~ Bab 75
76
MDND ~ Bab 76
77
MDND~ Bab 77
78
MDND~ Bab 78
79
MDND~ Bab 79
80
MDND~ Bab 80
81
MDND~ Bab 81
82
MDND~ Bab 82
83
MDND~Bab 83
84
MDND~ Bab 84
85
MDND~ Bab 85
86
MDND~ Bab 86
87
MDND~ Bab 87
88
MDND ~Bab 88
89
MDND~ Bab 89
90
MDND~ Bab 90
91
MDND~ Bab 91
92
MDND~ Bab 92
93
MDND~ Bab 93
94
MDND~ Bab 94
95
MDND~ Bab 95
96
MDND~ Bab 96
97
MDND ~Bab 97
98
MDND~ Bab 98 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!