MDND ~ Bab 12

"Pak.." Ceren menarik kecil lengan batik bapak, saat keduanya turun dari mobil di pelataran rumah Gilang.

Mendongak dan mengedarkan pandangan, dari sudut manapun rumahnya tak bisa dikatakan kecil nan sederhana. Pelataran rumahnya aja udah mirip lapangan di rt rumahnya.

Bapak menelan salivanya seret. Butuh minum segera, apa perlu ia seruput air kolam air mancur yang berada 5 langkah dari posisinya sekarang demi menyadari strata sosial keluarga Baraspati dan Ambarwati lewat bentukan tempat tinggalnya.

Seketika otak keduanya langsung membandingkan itu dengan status sosial keduanya.

"Jauh...ck..ck.."gumam keduanya sehati. Bahkan terparkirnya mobil seseorang yang ia kenali saja tak membuat Ceren sadar akan keberadaan orang lain itu.

"Masuk nduk." ajak bapak mendadak memegang Ceren dengan tangan dinginnya, memancing kernyitan di dahi Ceren, "bapak aja mendadak gugup gini, apalagi aku, pak?" raut kekhawatiran tak bisa disembunyikan dari wajah Ceren.

"Mau pulang aja apa gimana pak? Bilang aja aku mules ngga sembuh-sembuh..." ocehnya enteng dihadiahi semburan bapak, "ngawur."

"Aku kok ya mendadak mules pak," keluhnya seperti tebakan bapak tadi.

"Alhamdulillah datang juga. Penghulu sudah menunggu, Ceren...pak Harun," bu Ambar menyambut keduanya karena mendengar suara riuh perdebatan dan atas laporan supirnya tadi. Kini tak ada jalan untuk kembali selain dari menghadapi masalah di depan mereka.

Ceren menghela nafasnya berulang kali dan masuk. Punggung terbalut jas disana itu ada 3 meski posisi mereka tidak berdekatan dan sedikit ngacak, tidak mungkin lelaki yang duduk paling kanan, karena itu jelas perawakan gemuk pak Baraspati, dan ia sudah menoleh sepaket senyumnya.

Masih ada dua lainnya, yang satu lebih terlihat jangkung sedang memangku seorang anak kecil dengan kemeja kotak-kotaknya sambil setengah gelendotan. Dan yang satu....

"Pak Harun," sapanya.

Disaat kedua lainnya menoleh Ceren langsung mematung. Yang dilihatnya pertama kali adalah petir seperti menyambar tepat di atas ubun-ubunnya, wassalam.

Karena wajah yang terpampang nyata disana adalah....

"Pak Bodo?"

Tanpa ia sadari jika Gilang sudah mendekat dan mengulurkan tangannya, "macet ya?" pertanyaan itu menyadarkan kembali Ceren dari keterkejutan, "Lang, itu kamu undang pak Bodo kesini? Biar apa?!"

"Biar tau," Gilang justru cengengesan, pemuda itu memang tampan. Senyum sepaket lesung pipinya begitu membius ditambah jas yang dipakai itu slim mencetak sisa-sisa kejayaan tubuh pemudanya membuat perasaan hangat kini mengaliri hati Ceren, fix! Karena jas mahal ini, Gilang jadi keren begini!

Ceren manyun dan menyarangkan pukulan pelannya di lengan Gilang, "rahasia kecil kita, kalau pak Bodo itu adalah masku...jadi rahasia pernikahan kita aman." Bisik Gilang.

Mata Ceren semakin membola mendengar itu, ia tergagap tak bisa mengatakan apapun.

"Sini aku kenalin. Ngga usah takut, di rumah dia sedikit jinak, sering dihukum sihh jadi taunya kegarangannya aja." ajak Gilang menarik tangan Ceren lembut dan gadis itu menurut. Tautan tangan keduanya turut terpotret dalam bingkai manis pemandangan malam itu di depan semuanya termasuk Hilman.

"Yanda, itu..." tunjuk Kaisar pada Ceren yang digandeng Gilang.

"Ya. Itu calon istri pa'lek." jawab Hilman.

"Pa'lek mau punya bu'lek toh?" tanya Kai memastikan, yang diangguki ayahnya.

"Yang kalo bobok, berdua di kamar?" tanya nya lagi diangguki Hilman, saking cerewet dan kritisnya sang putra ia sampai mengernyit, sebenarnya apa yang diajarkan gurunya di tk sampai-sampai pertanyaan Gilang begitu detail? Atau mungkin seharusnya apa yang ibunya berikan untuk makan siang Kaisar sampai ia bisa secerewet ini.

"Kaya yanda sama bunda?" Hilman hampir menggeram menjawabnya persis macan, karena terdengar menggelikan tiba-tiba membayangkan Gilang dan Ceren tidur berdua, lalu....arghhh! Masih kecil!

Kedua sosok remaja itu mendekat dan menghampiri Hilman, Ceren berinisiatif menyapanya dan nyengir, namun Hilman memang seperti stelan normalnya yang memasang wajah datar saja seolah tak ada yang mampu membuatnya tersenyum dari diri siswinya itu.

"Ceren," begitu saja sapanya, hanya anggukan kecil. Bukan Ceren yang mencebik namun Kaisar, "yanda kok begitu menyapanya?" saat mendapati jika ayahnya itu kelewat jutek.

"Bu'lek juga kok gitu salamnya. Kalo pa'lek sama yanda biasanya salim, begini..." titah Kai memeragakan salim takzim yang biasa Gilang lakukan dengan meraih punggung tangan ayahnya dan ia kecup, sontak saja Hilman dan Ceren tersentak dibuatnya.

Gilang meledakan tawanya bersama yang lain, padahal bagi Ceren maupun Hilman tak ada yang istimewa ataupun lucu dari ucapan Kaisar tadi, bocah tengil...gerutunya dalam hati.

"Ini Kaisar, Ren. Anak mas Hilman..."

"Kai, ini kak Ceren..."

"Bu'lek ku kan, pa'lek?" tembak Kai diangguki Gilang, "smart boy!" pujinya, bocah itu tersenyum menampilkan gigi ompongnya.

"Langsung dimulai saja pak," tegur bu Ambar. Tatapan mata Ceren tak bisa untuk tak melirik berkali-kali pada Hilman yang memang sejak tadi menatapnya lekat seperti ingin memakannya. Mungkin karena diantara mereka yang hadir hanya Ceren lah yang menampilkan wajah getir dan senyuman tak ikhlasnya.

Ikhlas kok pak, gue ikhlas! Untung adek lo ganteng, baik pula!

"Saya terima nikah dan kawinnya...."

"Sah!"

Dua buah buku coklat dan hijau tersodor di depan keduanya untuk kemudian ditanda tangani, membuat alis Ceren mengernyit dan menoleh penuh sorot kebingungan pada Gilang, pasalnya ini tak sesuai perjanjian dimana bu Ambar menjanjikan nikah siri saja.

"Nanti aku jelasin." seakan tau yang ada di otak Ceren, Gilang langsung meredakan sejenak amarah Ceren yang siap meledak.

Tak ada pesta layaknya resepsi pada umumnya, mengingat acara pun dilakukan malam. Apa yang dikatakan bapak sepertinya benar, begitu ijab langsung ngamar.

Pak Baraspati meminta supir mengantarkan pak Harun setelah sebelumnya ayah Ceren itu menolak untuk menginap di kediaman mereka. Keluarga Gilang sedang menghabiskan waktunya ngeteh bersama di ruang tengah sambil bicara serius antar orang dewasa, sementara Kai...setelah makan malam sederhana langsung digiring mbak Sri untuk tidur.

"Bapak ngga apa-apa kan pulang sendiri?" tanya Ceren basa-basi dengan wajah penuh harapnya, lebih kepada---pak, bawa aku pulang bersamamu---

Namun pada kenyataannya rasa peka bapaknya itu tak lebih peka dari bunga putri malu di pinggir jalan dan mesti diasah lagi karena jawabannya justru jauh dari harapan.

Bapak menggeleng, "bapak sudah tua, Ren. Sudah biasa hidup sendiri." jawabnya mendadak melankolis.

Gembelll---asemmm....Ceren menggumam dalam hati. Dan wajah kecut Ceren itu memantik cengengesan Gilang yang setia di sampingnya, pemuda itu seperti cenayang yang tau isi hati dan pikiran istrinya itu, "bapak pengertian." kerling Gilang berbisik di sampingnya, sukses membuat Ceren bergidik ngeri, kulitnya bahkan sudah meremang. Selama ini belum ada satu pun pemuda yang berani begini padanya, belum ada jarak 3 meter saja mereka sudah kena hantam duluan.

"Bapak yakin ngga mau nginep saja? Ini sudah malam.." katanya. Namun bapak tua itu justru kembali menggeleng, "ndak den bagus."

Gilang mele nguh singkat mendapati pak Harun masih memanggilnya begitu.

Dan bapak hanya bisa nyengir, "maksudnya Lang. Ini masih jam 9, masih siang." jawabnya.

"Nginep aja yuk pak. Angin malem ngga baik buat bapak, nanti kalo bapak ada yang culik gimana?" bujuk Ceren seperti membujuk bocah yang justru mendapatkan cebikan bapak, "ealah. Nggayamu angin malem ndak baik. Biasanya juga kalo bapak pulang malem yang ditanyain malah martabak...diculik, kamu kira bapakmu iki sultan, nduk...wes lah. Bapak mau pulang, kasian pak Jarwo sudah nunggu," tunjuknya. Dan demi apa? Jika sedang bersama Ceren dan pak Harun, Gilang lebih banyak tertawa dan tersenyum dengan tingkah dan ocehan sepasang bapak-anak itu.

"Nduk," kini sorot mata tua itu serius memandang cantiknya Ceren, dipegang kedua pundak Ceren, "berbaktilah pada suamimu. Meski diawali dengan ketidaknormalan, namun pernikahan itu bukan untuk dipermainkan."

Ceren tak menjawab ia lebih sibuk menatap bapaknya nanar, ingin pulang!

Dan sosok bapak kini semakin menjauh ditelan malam.

"Mau gabung sama bapak, ibu, mas Hilman atau mau bersihin dulu perintilan make up? Yuk ke kamar..." ajaknya, kemudian Ceren langsung menahan ajakan Gilang barang sejenak, "apa? Kamar?! Maksudnya kita sekamar, Lang?!"

Go to the hell, Lang!!!

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

ti...ati... abis ini malam pertama lo Ren... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2025-01-17

2

jumirah slavina

jumirah slavina

ya iyalah Ren... ti..ati Rennn...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🏃🏃

2025-01-17

2

Hepi ervina

Hepi ervina

emang umurnya udah masuk nikah negara kah? kn masih sekolah jg

2025-02-24

0

lihat semua
Episodes
1 MDND~ Bab 1
2 MDND~ bab 2
3 MDND~ Bab 3
4 MDND~ Bab 4
5 MDND~ bab 5
6 MDND ~ bab 6
7 MDND ~ bab 7
8 MDND~ bab 8
9 MDND~ Bab 9
10 MDND~ Bab 10
11 MDND ~ Bab 11
12 MDND ~ Bab 12
13 MDND ~ Bab 13
14 MDND ~ Bab 14
15 MDND ~ Bab 15
16 MDND ~ Bab 16
17 MDND ~ Bab 17
18 MDND ~ Bab 18
19 MDND ~ Bab 19
20 MDND ~ Bab 20
21 MDND ~ Bab 21
22 MDND ~ Bab 22
23 MDND ~ Bab 23
24 MDND ~ Bab 24
25 MDND ~ Bab 25
26 MDND ~ Bab 26
27 MDND~ Bab 27
28 MDND~ Bab 28
29 MDND ~ Bab 29
30 MDND ~ Bab 30
31 MDND ~ Bab 31
32 MDND ~ Part 32
33 MDND~ Bab 33
34 MDND ~ Bab 34
35 MDND ~ Bab 35
36 MDND ~ Bab 36
37 MDND ~ Bab 37
38 MDND~ Bab 38
39 MDND ~ Bab 39
40 MDND~ Bab 40
41 MDND ~Bab 41
42 MDND ~ Bab 42
43 MDND~ Bab 43
44 MDND ~ Bab 44
45 MDND~ Bab 45
46 MDND~ Bab 46
47 MDND~ Bab 47
48 MDND~ Bab 48
49 MDND~ Bab 49
50 MDND~ Bab 50
51 MDND~ Bab 51
52 MDND~ Bab 52
53 MDND~ Bab 53
54 MDND~ Bab 54
55 MDND~ Bab 55
56 MDND~ Bab 56
57 MDND ~ Bab 57
58 MDND~ Bab 58
59 MDND~ Bab 59
60 MDND~ Bab 60
61 MDND~ Bab 61
62 MDND~ Bab 62
63 MDND~ Bab 63
64 MDND ~ Bab 64
65 MDND~ Bab 65
66 MDND ~ Bab 66
67 MDND~ Bab 67
68 MDND ~ Bab 68
69 MDND~ Bab 69
70 MDND ~ Bab 70
71 MDND ~ Bab 71
72 MDND~ Bab 72
73 MDND ~ Bab 73
74 MDND ~ Bab 74
75 MDND ~ Bab 75
76 MDND ~ Bab 76
77 MDND~ Bab 77
78 MDND~ Bab 78
79 MDND~ Bab 79
80 MDND~ Bab 80
81 MDND~ Bab 81
82 MDND~ Bab 82
83 MDND~Bab 83
84 MDND~ Bab 84
85 MDND~ Bab 85
86 MDND~ Bab 86
87 MDND~ Bab 87
88 MDND ~Bab 88
89 MDND~ Bab 89
90 MDND~ Bab 90
91 MDND~ Bab 91
92 MDND~ Bab 92
93 MDND~ Bab 93
94 MDND~ Bab 94
95 MDND~ Bab 95
96 MDND~ Bab 96
97 MDND ~Bab 97
98 MDND~ Bab 98 (End)
Episodes

Updated 98 Episodes

1
MDND~ Bab 1
2
MDND~ bab 2
3
MDND~ Bab 3
4
MDND~ Bab 4
5
MDND~ bab 5
6
MDND ~ bab 6
7
MDND ~ bab 7
8
MDND~ bab 8
9
MDND~ Bab 9
10
MDND~ Bab 10
11
MDND ~ Bab 11
12
MDND ~ Bab 12
13
MDND ~ Bab 13
14
MDND ~ Bab 14
15
MDND ~ Bab 15
16
MDND ~ Bab 16
17
MDND ~ Bab 17
18
MDND ~ Bab 18
19
MDND ~ Bab 19
20
MDND ~ Bab 20
21
MDND ~ Bab 21
22
MDND ~ Bab 22
23
MDND ~ Bab 23
24
MDND ~ Bab 24
25
MDND ~ Bab 25
26
MDND ~ Bab 26
27
MDND~ Bab 27
28
MDND~ Bab 28
29
MDND ~ Bab 29
30
MDND ~ Bab 30
31
MDND ~ Bab 31
32
MDND ~ Part 32
33
MDND~ Bab 33
34
MDND ~ Bab 34
35
MDND ~ Bab 35
36
MDND ~ Bab 36
37
MDND ~ Bab 37
38
MDND~ Bab 38
39
MDND ~ Bab 39
40
MDND~ Bab 40
41
MDND ~Bab 41
42
MDND ~ Bab 42
43
MDND~ Bab 43
44
MDND ~ Bab 44
45
MDND~ Bab 45
46
MDND~ Bab 46
47
MDND~ Bab 47
48
MDND~ Bab 48
49
MDND~ Bab 49
50
MDND~ Bab 50
51
MDND~ Bab 51
52
MDND~ Bab 52
53
MDND~ Bab 53
54
MDND~ Bab 54
55
MDND~ Bab 55
56
MDND~ Bab 56
57
MDND ~ Bab 57
58
MDND~ Bab 58
59
MDND~ Bab 59
60
MDND~ Bab 60
61
MDND~ Bab 61
62
MDND~ Bab 62
63
MDND~ Bab 63
64
MDND ~ Bab 64
65
MDND~ Bab 65
66
MDND ~ Bab 66
67
MDND~ Bab 67
68
MDND ~ Bab 68
69
MDND~ Bab 69
70
MDND ~ Bab 70
71
MDND ~ Bab 71
72
MDND~ Bab 72
73
MDND ~ Bab 73
74
MDND ~ Bab 74
75
MDND ~ Bab 75
76
MDND ~ Bab 76
77
MDND~ Bab 77
78
MDND~ Bab 78
79
MDND~ Bab 79
80
MDND~ Bab 80
81
MDND~ Bab 81
82
MDND~ Bab 82
83
MDND~Bab 83
84
MDND~ Bab 84
85
MDND~ Bab 85
86
MDND~ Bab 86
87
MDND~ Bab 87
88
MDND ~Bab 88
89
MDND~ Bab 89
90
MDND~ Bab 90
91
MDND~ Bab 91
92
MDND~ Bab 92
93
MDND~ Bab 93
94
MDND~ Bab 94
95
MDND~ Bab 95
96
MDND~ Bab 96
97
MDND ~Bab 97
98
MDND~ Bab 98 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!