MDND~ bab 5

Ceren mendengus sebal lantas tak begitu peduli pada cowok itu. Akan ia anggap pemuda itu berjalan sambil tertidur, lagipula siapa dia? Kenal pun tidak.

Tunggu!

Ceren menghentikan kegiatan maju mundurnya dan mengerutkan dahinya menatap Gilang.

Pluk!

Gagang mop terjatuh begitu saja menimpa kaki Fira, "aduh, ih!"

"Ohhh, gue baru inget!" serunya. Tanpa segan ataupun takut, gadis ini menghampiri Gilang dengan sengak, "lo yang pagi-pagi telat kan? Terus ngga bisa manjat pager itu...." tatapannya tertumbuk ke arah name tag Tubagus Gilang P.

"Nama lo Tubagus, pfftttt---" ia menggidik bernada mencibir. Mata bulat nan bening milik Ceren beradu dekat dengan Gilang. Percayalah, saat ini jantung Gilang berdegup lebih kencang dari sebelumnya persis bedug magrib. Ditambah mata bening bulat terbingkai eyeliner tipis milik Ceren saat ini tengah mengobrak-abrik hatinya, ia memundurkan langkah karena tak menyangka jika Ceren seberani itu, dan sukses membuatnya gugup.

Ceren mendengus lalu tertawa serenyah wafer, "baru gue deketin aja udah jaga jarak. Lo yakin suka gue?" gadis itu kembali ke tempatnya menjatuhkan lap pel. Sementata Fira sudah menelan saliva sulit, "Cer..." bisiknya pelan, saking pelannya bisikan kalbu itu sampai tak terdengar oleh Ceren.

Kemudian gelagat tangan Ceren yang terlihat melanjutkan kegiatannya adalah sikap tak peduli Ceren berikutnya terhadap Gilang. Menunjukan ketidaksukaannya pada Gilang. Ia memang begitu, Ceren adalah gadis yang selalu berterus terang pada siapapun, ia akan bersikap menolak jika memang tak suka.

"Aduuhhh, mendingan sekarang lo pergi deh. Ngga usah becanda, lagian lo itu---" Ceren menjeda ucapannya dan membuat gerakan seperti sedang berkumur-kumur, seolah sedang menggodok dan memilah-milah kata yang cocok untuk ia muntahkan.

Ditatapnya Gilang dari atas sampai bawah yang terbilang rapi pake banget, seragamnya saja bersih kelewatan, tidak terlihat macam Hanan atau Faiz, tak cocok dengannya yang terbilang lebih garang dan terkesan bandel, "ngga cocok. Gue ngga suka lo, lo bukan tipe gue, kita pun beda circle, sampai sini paham?!" jawabnya jelas, lugas tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.

"Ren," tegur Fira memegang tangan Ceren, gadis itu cukup terkejut saat Ceren menolak Gilang terkesan kasar. Wajah Gilang memang terlihat muram dan redup saat ini, namun ia tak menyerah sampai disitu demi menaklukan seorang Cerenia.

"Apa maksud kamu baju ini?" ia mengeluarkan ujung seragam yang awalnya dimasukan ke dalam celana seragamnya.

"Eh," Fira menaikan kedua alisnya melihat adegan ini, sementara Ceren masih belum paham dengan Gilang, apa bahasa Indonesia yang ia pakai tidak dimengerti Gilang?

"Apa karena rambut ini?" Gilang bahkan mengacak-acak rambutnya, dan kini Fira tak bisa untuk tak bertindak, "Ren." tekannya menatap Ceren sengit, ia sering melihat teman sekolahnya menyatakan perasaan pada Ceren, tapi sampai detik ini tidak ada yang senekat Gilang.

Ceren hanya mendengus menyunggingkan senyuman sebal seraya menggeleng.

"Lo freak." Ia segera menyelesaikan hukumannya lalu menggusur mop dan melengos berlalu melewati Gilang yang sudah kacau sepaket tatapan nyalang penuh berharap padanya.

"Cabut Fir, gue udah selesai." ajaknya pada Fira yang masih menatap Gilang penuh kegetiran, "sorry." ujar Fira tak enak pada Gilang dan mengekori Ceren.

Gilang mengepalkan tangannya kencang dan menghela nafasnya berat.

Ceren bukanlah anak kaya seperti tokoh-tokoh dalam buku novel, yang punya mansion atau apartement pribadi. Hanya anak seorang karyawan di sebuah butik batik milik seorang pengusaha batik Solo dan merupakan seorang yang berpengaruh di kota. Ditambah kini ia hanya tinggal berdua saja dengan bapak, karena ibu yang telah tiada sejak ia duduk di bangku sd.

Ceren berjalan bersama Fira dari arah gerbang sekolah hingga jalan besar.

Sapuan angin siang membawa serta perasaan campur aduknya hari itu.

"Kasian tauuu!"

Ceren menoleh pada Fira, "untuk saat ini sampai lulus sekolah, atau bahkan sampai nanti gue bisa bahagiain bapak, gue ngga akan mikirin urusan yang begituan dulu, Ra. Lagian punya pacar tuh musingin! Ribet." jawabnya.

Fira mengangguk paham, itulah cara Ceren agar para cowok berpikir 2 kali untuk mendekatinya, dengan cara menolaknya dengan sedikit kasar agar mereka kapok. Fira hanya tertawa renyah mendengar keluhan Ceren tentang makna seorang kekasih, adalah orang yang selalu bikin mumet, pusing dan merepotkan. Berbeda dengan persepsi orang pada umumnya.

Hingga sampailah langkah kaki mereka terhenti di pinggir jalan besar, bersama suara bising kendaraan yang melintas berlalu lalang.

"Lo sendiri, tadi si Aji nembak malah lo tabok, kasian banget temen gue..." kini Ceren membalikan situasi membuat Fira dilanda rasa tak nyamannya lagi.

Hoffttt, "Aji lagi, udah deh ngga usah ngomongin dia. Paling-paling cuma becanda doang," suara Fira tersamarkan oleh deru mesin angkutan kota yang melintas dan dengan sengaja membunyikan klakson demi menegur dan menawari tumpangan.

"Ayah lo ngga jemput, Ra?" tanya Ceren, ia menggeleng, "bengkel lagi sibuk-sibuknya. Mama juga lagi ngurusin toko sama laundry jadi ngga bisa jemput."

Ceren mengangguk paham.

Berhentinya angkutan kota jurusan yang dikehendaki memaksa menutup obrolan sepasang remaja itu, keduanya berpisah di persimpangan jalan dengan Ceren yang menyebrang jalan dan berdadah ria bersama Fira.

Ceren menghela nafasnya membalikan badan setelah sebelumnya menatap ke belakang kaca angkot dimana angkot yang ditumpangi Fira pun mulai melaju menjauh.

....

Siang ini, seperti biasa rumahnya memang selalu sepi, padahal bukan kuburan. Dibukanya pintu rumah tanpa sapaan seorang ibu, dan itu sudah biasa bagi Ceren selama 10 tahun belakangan ini.

Terkadang ia rindu, rindu kasih sayang, tapi baginya mensyukuri apa yang masih ia miliki adalah hal yang terpenting saat ini.

Tak ada lauk makan spesial, hanya tumisan kacang panjang dan tempe buatan bapak yang selalu enak di lidanya, dan krecek kulit kemarin yang dihangatkan. Di balik sifat badung dan usilnya itu, tak ada yang tau kehidupan Ceren sampai ke dalam selain Fira.

Meski begitu, Ceren jarang melakukan pekerjaan berat atau pekerjaan yang merepotkan baginya, bapak selalu sigap menjadi single parent ter the best, bahkan memasak pun dilakukannya sendiri.

Tangan-tangan kecil yang dihiasi gelang handmade itu memasukan setiap sendokan tumisan serta nasi ke dalam kotak makan, setelah ia hangatkan sebelumnya. Rencananya siang ini ia akan mengantarkan itu untuk makan siang bapak.

Trekk!

Done. Ia menyambar jaket berhoddie di cantelan paku di balik pintu kamar, lalu dipakainya. Membawa serta tas kain berisi kotak lunch dalam perjalanannya menuju 'butik batik Ambarani'.

Saling melengkapi, itu yang dilakukan Ceren dan bapak setelah kepergian ibu. Sudah ikhlas? Mungkin jawabannya adalah tak pernah, karena selamanya sosok ibu sulit tergantikan siapapun. Ada peran ibu yang tak bisa digantikan bapak ataupun Ceren.

Tatapannya melirik cepat seiring laju cepat angkot yang ditumpangi. Ia mengetik sesuatu pada bapak ketika akan sampai.

Masuk lewat belakang, nduk. Ada bu Ambar sama keluarganya.

Begitu jawaban bapak, membuat Ceren mengangguk dan memasukan ponselnya ke dalam saku celana jeans selututnya.

Ia keluar setelah memberikan uang lembaran receh pada supir angkot, menarik sedikit hoddie yang menutupi kepalanya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling parkiran butik.

Manggut-manggut persis kakak tua, saat beberapa mobil terparkir bersama motor, "lumayan rame."

Memang, mayoritas konsumen butik ini adalah kaum menengah ke atas, bahkan kebanyakan adalah pejabat daerah, artis dan kalangan pengusaha. Nuansa butik yang dibangun dengan kearifan lokal adat jawa begitu kontras mencolok di tengah pesatnya perkembangan industri fashion ibukota.

Gemericik air mancur di area halaman yang sejuk mengisi kekosongan hati nan damai. Pemiliknya memang menciptakan nuansa adat mengingat ada da rah ningrat yang mengalir di keluarga sang owner, ibu Ambarani dan pak Baraspati.

Ceren melengos ke samping menuju pintu belakang yang dimana area itu hanya karyawan saja yang boleh masuk.

Pohon bungur yang memayungi area belakang seolah memberikan keasrian tersendiri meskipun seringkali daunnya berserakan karena terbelai angin. Ceren sedikit berjalan berhati-hati karena paping blok yang menjadi pijakannya ditumbuhi lumut nan licin.

Ia masih menunggu bapak keluar dari pintu kayu jati dengan ukiran jepara khas kota Solo disana. Duduknya ia dengan menyapu-nyapu kecil tembok pembatas area pohon dengan tangan putihnya.

**

"Pak Harun, nanti laporan taruh saja di meja saya..." titah wanita paruh baya dengan sanggulan di belakang kepalanya, meski tidak lagi muda namun jelas kharismanya masih mengangkasa.

"Siap bu," jawabnya dan undur diri ke belakang saat satu pesan ia terima dengan bibir yang mengurai senyuman.

"Loh...loh, ini kenapa seragammu acak-acakan begini, to? Mukamu pula, sakit lagi? Sudah diminum obatnya?" kernyitnya khawatir melihat wajah kusut persis dengan seragam yang dipakai putra bungsunya, tak biasanya!

Ia menggeleng, lalu melengos ke belakang, "cuma capek aja, bu."

Langkahnya ke area belakang membawanya berpapasan dengan beberapa karyawan butik sang ibu yang beberapa kali menyapanya.

Niat nyari angin karena kejadian patah hatinya tadi, membawa ia melihat fakta menarik yang baru saja ia ketahui selama ini.

"Pak!" Ceren membuka hoddienya dan menyapa bapak.

"Nduk, sudah lama?" Ceren menggeleng dan meraih punggung tangan bapak.

"Ceren? Bapak?!" gumamnya memperhatikan interaksi manis keduanya, "pak Harun itu bapak Ceren?"

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lalisa

Lalisa

wahh

2025-01-11

0

Lalisa

Lalisa

👍👍👍

2025-01-11

0

Lalisa

Lalisa

keren ceren 🥰🥰🥰🥰

2025-01-11

0

lihat semua
Episodes
1 MDND~ Bab 1
2 MDND~ bab 2
3 MDND~ Bab 3
4 MDND~ Bab 4
5 MDND~ bab 5
6 MDND ~ bab 6
7 MDND ~ bab 7
8 MDND~ bab 8
9 MDND~ Bab 9
10 MDND~ Bab 10
11 MDND ~ Bab 11
12 MDND ~ Bab 12
13 MDND ~ Bab 13
14 MDND ~ Bab 14
15 MDND ~ Bab 15
16 MDND ~ Bab 16
17 MDND ~ Bab 17
18 MDND ~ Bab 18
19 MDND ~ Bab 19
20 MDND ~ Bab 20
21 MDND ~ Bab 21
22 MDND ~ Bab 22
23 MDND ~ Bab 23
24 MDND ~ Bab 24
25 MDND ~ Bab 25
26 MDND ~ Bab 26
27 MDND~ Bab 27
28 MDND~ Bab 28
29 MDND ~ Bab 29
30 MDND ~ Bab 30
31 MDND ~ Bab 31
32 MDND ~ Part 32
33 MDND~ Bab 33
34 MDND ~ Bab 34
35 MDND ~ Bab 35
36 MDND ~ Bab 36
37 MDND ~ Bab 37
38 MDND~ Bab 38
39 MDND ~ Bab 39
40 MDND~ Bab 40
41 MDND ~Bab 41
42 MDND ~ Bab 42
43 MDND~ Bab 43
44 MDND ~ Bab 44
45 MDND~ Bab 45
46 MDND~ Bab 46
47 MDND~ Bab 47
48 MDND~ Bab 48
49 MDND~ Bab 49
50 MDND~ Bab 50
51 MDND~ Bab 51
52 MDND~ Bab 52
53 MDND~ Bab 53
54 MDND~ Bab 54
55 MDND~ Bab 55
56 MDND~ Bab 56
57 MDND ~ Bab 57
58 MDND~ Bab 58
59 MDND~ Bab 59
60 MDND~ Bab 60
61 MDND~ Bab 61
62 MDND~ Bab 62
63 MDND~ Bab 63
64 MDND ~ Bab 64
65 MDND~ Bab 65
66 MDND ~ Bab 66
67 MDND~ Bab 67
68 MDND ~ Bab 68
69 MDND~ Bab 69
70 MDND ~ Bab 70
71 MDND ~ Bab 71
72 MDND~ Bab 72
73 MDND ~ Bab 73
74 MDND ~ Bab 74
75 MDND ~ Bab 75
76 MDND ~ Bab 76
77 MDND~ Bab 77
78 MDND~ Bab 78
79 MDND~ Bab 79
80 MDND~ Bab 80
81 MDND~ Bab 81
82 MDND~ Bab 82
83 MDND~Bab 83
84 MDND~ Bab 84
85 MDND~ Bab 85
86 MDND~ Bab 86
87 MDND~ Bab 87
88 MDND ~Bab 88
89 MDND~ Bab 89
90 MDND~ Bab 90
91 MDND~ Bab 91
92 MDND~ Bab 92
93 MDND~ Bab 93
94 MDND~ Bab 94
95 MDND~ Bab 95
96 MDND~ Bab 96
97 MDND ~Bab 97
98 MDND~ Bab 98 (End)
Episodes

Updated 98 Episodes

1
MDND~ Bab 1
2
MDND~ bab 2
3
MDND~ Bab 3
4
MDND~ Bab 4
5
MDND~ bab 5
6
MDND ~ bab 6
7
MDND ~ bab 7
8
MDND~ bab 8
9
MDND~ Bab 9
10
MDND~ Bab 10
11
MDND ~ Bab 11
12
MDND ~ Bab 12
13
MDND ~ Bab 13
14
MDND ~ Bab 14
15
MDND ~ Bab 15
16
MDND ~ Bab 16
17
MDND ~ Bab 17
18
MDND ~ Bab 18
19
MDND ~ Bab 19
20
MDND ~ Bab 20
21
MDND ~ Bab 21
22
MDND ~ Bab 22
23
MDND ~ Bab 23
24
MDND ~ Bab 24
25
MDND ~ Bab 25
26
MDND ~ Bab 26
27
MDND~ Bab 27
28
MDND~ Bab 28
29
MDND ~ Bab 29
30
MDND ~ Bab 30
31
MDND ~ Bab 31
32
MDND ~ Part 32
33
MDND~ Bab 33
34
MDND ~ Bab 34
35
MDND ~ Bab 35
36
MDND ~ Bab 36
37
MDND ~ Bab 37
38
MDND~ Bab 38
39
MDND ~ Bab 39
40
MDND~ Bab 40
41
MDND ~Bab 41
42
MDND ~ Bab 42
43
MDND~ Bab 43
44
MDND ~ Bab 44
45
MDND~ Bab 45
46
MDND~ Bab 46
47
MDND~ Bab 47
48
MDND~ Bab 48
49
MDND~ Bab 49
50
MDND~ Bab 50
51
MDND~ Bab 51
52
MDND~ Bab 52
53
MDND~ Bab 53
54
MDND~ Bab 54
55
MDND~ Bab 55
56
MDND~ Bab 56
57
MDND ~ Bab 57
58
MDND~ Bab 58
59
MDND~ Bab 59
60
MDND~ Bab 60
61
MDND~ Bab 61
62
MDND~ Bab 62
63
MDND~ Bab 63
64
MDND ~ Bab 64
65
MDND~ Bab 65
66
MDND ~ Bab 66
67
MDND~ Bab 67
68
MDND ~ Bab 68
69
MDND~ Bab 69
70
MDND ~ Bab 70
71
MDND ~ Bab 71
72
MDND~ Bab 72
73
MDND ~ Bab 73
74
MDND ~ Bab 74
75
MDND ~ Bab 75
76
MDND ~ Bab 76
77
MDND~ Bab 77
78
MDND~ Bab 78
79
MDND~ Bab 79
80
MDND~ Bab 80
81
MDND~ Bab 81
82
MDND~ Bab 82
83
MDND~Bab 83
84
MDND~ Bab 84
85
MDND~ Bab 85
86
MDND~ Bab 86
87
MDND~ Bab 87
88
MDND ~Bab 88
89
MDND~ Bab 89
90
MDND~ Bab 90
91
MDND~ Bab 91
92
MDND~ Bab 92
93
MDND~ Bab 93
94
MDND~ Bab 94
95
MDND~ Bab 95
96
MDND~ Bab 96
97
MDND ~Bab 97
98
MDND~ Bab 98 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!