MDND~ bab 8

...Aku mau dia, bu........

...Gilang...

...****************...

Rontokan daun pohon yang paling teduh di depan sekolah siang itu seolah menjadi simbol gugurnya hati angkuh Ceren.

Ia berdiri di pojokan sendirian karena segerombol anak yang sekarang berada dengannya, jelaslah berbeda kelas, tak ada yang ia kenali. Apalagi siswinya yang menurut Ceren lebih pada nyinyir itu, Hufffttt! Kenapa juga ia harus berjanji pada Jojo dan Fahmi. Janjinya membuat Ceren berasa terdampar bersama orang-orang beda dunia gini, dimana ialah yang terasing dan paling aneh!

"Yuk, yang mau naik angkot siapa?" tanya Jojo.

"Kita, biar barengan nyampenya, Jo."

"Ini yang ikut jangan kebanyakan. Udah cukup perwakilan aja." Oceh Fahmi mengatur teman-temannya, sesuai pesan dari ibu Gilang yang tak boleh ramai-ramai persis orang mau ngantri sembako gratis.

"Satu, dua, tiga...." hitung Jojo, setelah memastikan semuanya Jojo kini mengalihkan pandangannya pada Ceren, "kamu gimana?"

Ceren menaikan kedua alisnya, "gimana emangnya?" Ceren balik bertanya, "yaa...gue mah baik-baik aja."

Fahmi tertawa renyah melihat perdebatan Ceren dan Jojo, "ck." Jojo berdecak.

"Maksudnya mau naik apa ke rs, mau bareng anak cewek naik angkot atau bareng gue, Fahmi sama Fian naik motor?"

"Apa aja lah, bebas. Naik angkot---" ia melongokan kepala ke arah teman-teman perempuan yang sudah naik angkot dan mengobrol seru, pastinya itu akan memuakan karena ia jamin ia pasti bakal dikacangin, kalo engga diomongin yang engga-engga abis ini. Ogah! Tapi jika ia naik ke boncengan Jojo? Idih! Keenakan!

"Gue naik angkot, tapi mau angkot beda." jawabnya.

"Ngga bisa!" tolak Fahmi segera, ia tau akal bulus Ceren yang akan memberikan sejuta alasan dan mangkir dari janji.

"Ck. Katanya nanya, ya udah gue naek onta deh kalo gitu!" sarkasnya pada Fahmi yang mengundang tawa Fian dan Jojo, magic! 5 detik bareng Ceren mereka sudah bisa ketawa tiwi, selain cantik, gadis ini juga kocak.

"Kamu bareng aku." lirih Jojo melerai. Tak terima penolakan, mereka tak peduli gadis ini yang mendumel sepanjang jalan persis bebek. Mampir sejenak buat beli kue cupcake ala kadarnya, Ceren masih bermuka masam, muka-muka ngga ridho.

Langkahnya begitu menggebu demi mengetahui kondisi Gilang, dan saat semuanya baik-baik saja, Ceren sudah siap untuk membalas Jojo dan Fahmi, akan ia jadikan kedua pemuda ini perkedel bareng kentang.

Ia berjalan di belakang tak mau bergabung dengan anak-anak kelas Bahasa yang menurutnya mereka pun seperti sedang menjaga jarak dengan Ceren, kenapa emangnya? Gue panuan atau bau?! Ngeselin!

"Ruang apa?" tanya Ceren disaat rasanya mereka sudah menjelajahi hampir setengah gedung rumah sakit.

"Bangsal Darius."

Ceren mengangguk saja, tak peduli bangsal untuk penyakit apa itu, mungkin semacam bangsal patah tulang!

Semakin kesini langkahnya semakin terasa ringan, entah lorong yang dilewati mulai terasa sepi namun mewah. Ruangan disini seperti bangsal VIP, horang kayaa!

Hingga mereka tiba di satu lorong dan dengan dua pintu kanan dan kiri, "assalamu'alaikum."

Tiara mengetuk pintu hingga terdengar dari dalam balasan salamnya, satu persatu dari mereka masuk dan mulai riuh menyapa, "Gilang, gimana sekarang?"

(....)

Ceren terpatung di tempatnya, rasa penasaran yang terlalu.. sudah menghilang entah kenapa berganti nervous, "gue nunggu disini aja deh!" ia menyerahkan paper bag cupcake coklat yang ia bawa untuk Gilang pada Jojo.

"Kenapa? Bukannya tadi semangat banget pengen liat?!" tanya Jojo membiarkan yang lain masuk terlebih dahulu dan bertegur sapa serta bercengkrama dengan Gilang dan ibunya.

"Duh, lo aja deh."

"Tanggung, Ren. Udah nyampe sini, masa kamu ngga absen...nanti kalo aku boong terus bilang kondisi Gilang sekarat, kamu percaya?" tanya Jojo menantang, Ceren mencebik dan mendengus, "kalo boong itu dosa lo tanggung sendiri. Urusan lo sama Allah."

Jojo tak bisa untuk tak tertawa dengan setiap ocehan Ceren, pake ngomongin dosa, laly apa kabar ia yang sering melakukan tindak bullying dan usilin perangkat sekolah? Lalu menarik Ceren dan memaksanya masuk.

"Aduh ih, gue ngga----" sepatu warrior yang menutupi mata kaki indah Ceren tak serta merta tertutup kaos kaki pendeknya itu menjejak lantai ruangan rawat inap. Dan saat angin dingin serta harum itu menyapa, obrolan riuh rendah yang hangat dan renyah itu mendadak senyap.

Gilang masih duduk bersila di atas ranjang besarnya, meski dengan selang infusan di tangan, ia nampak segar bugar saja...

Wajah melongo Ceren memancing senyuman gemas Gilang, "siang bu---" ucapan Ceren tertahan di udara demi mendapati sesosok wanita paruh baya yang ia kenali.

"Ceren?"

"Bu Ambar?"

.

.

Sosok Ceren menjadi fokus utama Gilang saat itu, padahal orangnya sudah gelagapan terlebih saat tau jika nyatanya Gilang adalah anak dari atasan bapak, ia semakin terjun ke dasar penyesalan dan kekhawatiran, bagaimana jika Gilang mengadu pada ibunya, mamposss!

Satu persatu teman-temannya sudah pulang, dan Ceren pun menjadikan itu untuk momentnya cepat-cepat cabut dari ruangan yang bisa bikin ia semaput ini!

"Bu, Gilang... Saya----"

"Ren, bisa nunggu dulu disini sebentar ngga? Ada yang mau aku omongin." potong Gilang membuat Ceren mengerem langkah dan menelan salivanya kembali bersama seluruh kalimat pamitnya, hingga pan tatnya harus terduduk kembali di kursi.

Bukannya hatinya semakin tenang saat teman-teman sekolahnya sudah pulang, justru bebannya semakin berat ketika sosok pak Baraspati ikut hadir disana.

Ceklek...

"Eh, ada teman sekolah Gilang...." ia melihat wajah Ceren dan menyapa ramah.

"Ceren ini anaknya pak Harun loh pak!" tukas bu Ambar yang mengambil air minum saat Gilang memintanya dengan ringisan.

Ceren tersenyum meringis, "pak." angguknya sopan meraih punggung tangan pak Baraspati dan salim takzim, ia tak berkutik macam-macam sepaket ucapannya yang seringkali bikin sakit ginjal.

"Pak Harun tau to, kamu kesini Ren?" tanya bu Ambar digelengi Ceren, "engga bu. Paling kalo telat bapak taunya Ceren di ruang BK."

Gilang dan pak Baraspati tertawa renyah mendengarnya, beda halnya dengan bu Ambar yang mengernyit, "ngapain to, di BK?"

Fix, bu Ambar tuh masa remajanya kurang berwarna, mainnya kurang jauh, circlenya kayanya cuma di kelas aja.

Duduknya pak Baraspati di sofa depan ranjang pasien dengan menyisakan tawa akan ocehan Ceren.

"Ceren anak baik bu, saban hari jadi relawan bantu-bantu petugas kebersihan buat ngepelin lantai ruangan BK sekolah." Jawab Gilang memancing mulut ibunya untuk membentuk huruf O besar. Ia mendelik sinis pada Gilang, kenapa ngga sekalian mintain jatah gaji juga untuknya yang saban hari jadi petugas kebersihan sekolah sama ibunya?!

Pantas jika Gilang menghuni ruang VVIP, kedua atasan bapak Ceren itu memang keluarga kaya raya.

Pria berkharisma dengan kemeja batik coklatnya dimana motif angsanya saling bertemu manis diantara garis kancing dan tak bisa menutupi bentukan perut buncitnya itu. Kehadirannya semakin menciutkan nyali Ceren untuk menonjok Gilang yang sudah menahannya disini sebagai pajangan untuknya, si alan si Gilang!

Ceren menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Gilang, "to the point aja, abis ini gue mau balik. Lo mau ngomong apa, cepetan! Oh iya....kenapa waktu itu lo ngomong kalo lo itu konsumen butik? Lo mau nipu apa so so low profile?" ucapnya pelan takut terdengar oleh kedua orangtua yang kini sedang duduk di sofa depan, namun dengan raut wajah sepenuhnya kesal.

Gilang hanya mengulas senyum sebagai balasan wajah ketus itu, "ngga ada niat nipu. Cuma ngga pengen orang bersikap berlebihan aja, toh yang punya butik bukan aku juga." Dan jawaban Gilang membuat Ceren makin malas.

"Ck, lo mau main-main sih ini. Kalo lo mau balas dendam masalah minggu lalu, oke...gue atas nama diri pribadi sama temen-temen mau minta maaf atas apa yang sudah kita perbuat, tapi untuk perasaan lo... sorry cinta ngga bisa dipaksa..." matanya membesar ketika Ceren berkata bijak bak pujangga kampung itu.

Tangannya meraih pergelangan tangan Ceren dan menatap si alis menukik itu dengan sorot mata seriusnya tanpa rasa takut, padahal ia sedang menghadapi singa betina saat ini.

Lantas Gilang menegur kedua orangtuanya yang malah semakin asik dan larut membicarakan bisnis, "bu, pak..." keduanya menoleh.

Ceren yang menyegani keduanya sudah menarik-narik tangannya dari Gilang, namun usahanya sia-sia karena Gilang sama sekali tak bergeming.

"Lang," tegur Ceren meminta dilepaskan tangannya, namun Gilang justru menatap Ceren mantap membuat gadis itu mengernyit kisut.

"Aku mau ibu dan bapak melamar Ceren pada pak Harun untuk aku."

"Opo?!"

"Apa?!!"

"Aku mau merasakan punya istri sebelum nantinya aku keburu pergi. Dan aku suka banget sama Ceren pak, bu..." ucapnya semakin menyelami netra Ceren padahal yang ditatap sudah kesulitan bernafas.

"Muka gila..." bisiknya bergumam mengumpati Gilang dengan tatapan tak percaya pada Gilang.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Retno Palupi

Retno Palupi

loh Gilang sakit apa sampai mau ninggal?

2024-12-14

0

Lalisa

Lalisa

wah wah si Gilang gercep amat ya

2025-01-12

0

Lalisa

Lalisa

maksudnya Gilang gimana sih

2025-01-12

0

lihat semua
Episodes
1 MDND~ Bab 1
2 MDND~ bab 2
3 MDND~ Bab 3
4 MDND~ Bab 4
5 MDND~ bab 5
6 MDND ~ bab 6
7 MDND ~ bab 7
8 MDND~ bab 8
9 MDND~ Bab 9
10 MDND~ Bab 10
11 MDND ~ Bab 11
12 MDND ~ Bab 12
13 MDND ~ Bab 13
14 MDND ~ Bab 14
15 MDND ~ Bab 15
16 MDND ~ Bab 16
17 MDND ~ Bab 17
18 MDND ~ Bab 18
19 MDND ~ Bab 19
20 MDND ~ Bab 20
21 MDND ~ Bab 21
22 MDND ~ Bab 22
23 MDND ~ Bab 23
24 MDND ~ Bab 24
25 MDND ~ Bab 25
26 MDND ~ Bab 26
27 MDND~ Bab 27
28 MDND~ Bab 28
29 MDND ~ Bab 29
30 MDND ~ Bab 30
31 MDND ~ Bab 31
32 MDND ~ Part 32
33 MDND~ Bab 33
34 MDND ~ Bab 34
35 MDND ~ Bab 35
36 MDND ~ Bab 36
37 MDND ~ Bab 37
38 MDND~ Bab 38
39 MDND ~ Bab 39
40 MDND~ Bab 40
41 MDND ~Bab 41
42 MDND ~ Bab 42
43 MDND~ Bab 43
44 MDND ~ Bab 44
45 MDND~ Bab 45
46 MDND~ Bab 46
47 MDND~ Bab 47
48 MDND~ Bab 48
49 MDND~ Bab 49
50 MDND~ Bab 50
51 MDND~ Bab 51
52 MDND~ Bab 52
53 MDND~ Bab 53
54 MDND~ Bab 54
55 MDND~ Bab 55
56 MDND~ Bab 56
57 MDND ~ Bab 57
58 MDND~ Bab 58
59 MDND~ Bab 59
60 MDND~ Bab 60
61 MDND~ Bab 61
62 MDND~ Bab 62
63 MDND~ Bab 63
64 MDND ~ Bab 64
65 MDND~ Bab 65
66 MDND ~ Bab 66
67 MDND~ Bab 67
68 MDND ~ Bab 68
69 MDND~ Bab 69
70 MDND ~ Bab 70
71 MDND ~ Bab 71
72 MDND~ Bab 72
73 MDND ~ Bab 73
74 MDND ~ Bab 74
75 MDND ~ Bab 75
76 MDND ~ Bab 76
77 MDND~ Bab 77
78 MDND~ Bab 78
79 MDND~ Bab 79
80 MDND~ Bab 80
81 MDND~ Bab 81
82 MDND~ Bab 82
83 MDND~Bab 83
84 MDND~ Bab 84
85 MDND~ Bab 85
86 MDND~ Bab 86
87 MDND~ Bab 87
88 MDND ~Bab 88
89 MDND~ Bab 89
90 MDND~ Bab 90
91 MDND~ Bab 91
92 MDND~ Bab 92
93 MDND~ Bab 93
94 MDND~ Bab 94
95 MDND~ Bab 95
96 MDND~ Bab 96
97 MDND ~Bab 97
98 MDND~ Bab 98 (End)
Episodes

Updated 98 Episodes

1
MDND~ Bab 1
2
MDND~ bab 2
3
MDND~ Bab 3
4
MDND~ Bab 4
5
MDND~ bab 5
6
MDND ~ bab 6
7
MDND ~ bab 7
8
MDND~ bab 8
9
MDND~ Bab 9
10
MDND~ Bab 10
11
MDND ~ Bab 11
12
MDND ~ Bab 12
13
MDND ~ Bab 13
14
MDND ~ Bab 14
15
MDND ~ Bab 15
16
MDND ~ Bab 16
17
MDND ~ Bab 17
18
MDND ~ Bab 18
19
MDND ~ Bab 19
20
MDND ~ Bab 20
21
MDND ~ Bab 21
22
MDND ~ Bab 22
23
MDND ~ Bab 23
24
MDND ~ Bab 24
25
MDND ~ Bab 25
26
MDND ~ Bab 26
27
MDND~ Bab 27
28
MDND~ Bab 28
29
MDND ~ Bab 29
30
MDND ~ Bab 30
31
MDND ~ Bab 31
32
MDND ~ Part 32
33
MDND~ Bab 33
34
MDND ~ Bab 34
35
MDND ~ Bab 35
36
MDND ~ Bab 36
37
MDND ~ Bab 37
38
MDND~ Bab 38
39
MDND ~ Bab 39
40
MDND~ Bab 40
41
MDND ~Bab 41
42
MDND ~ Bab 42
43
MDND~ Bab 43
44
MDND ~ Bab 44
45
MDND~ Bab 45
46
MDND~ Bab 46
47
MDND~ Bab 47
48
MDND~ Bab 48
49
MDND~ Bab 49
50
MDND~ Bab 50
51
MDND~ Bab 51
52
MDND~ Bab 52
53
MDND~ Bab 53
54
MDND~ Bab 54
55
MDND~ Bab 55
56
MDND~ Bab 56
57
MDND ~ Bab 57
58
MDND~ Bab 58
59
MDND~ Bab 59
60
MDND~ Bab 60
61
MDND~ Bab 61
62
MDND~ Bab 62
63
MDND~ Bab 63
64
MDND ~ Bab 64
65
MDND~ Bab 65
66
MDND ~ Bab 66
67
MDND~ Bab 67
68
MDND ~ Bab 68
69
MDND~ Bab 69
70
MDND ~ Bab 70
71
MDND ~ Bab 71
72
MDND~ Bab 72
73
MDND ~ Bab 73
74
MDND ~ Bab 74
75
MDND ~ Bab 75
76
MDND ~ Bab 76
77
MDND~ Bab 77
78
MDND~ Bab 78
79
MDND~ Bab 79
80
MDND~ Bab 80
81
MDND~ Bab 81
82
MDND~ Bab 82
83
MDND~Bab 83
84
MDND~ Bab 84
85
MDND~ Bab 85
86
MDND~ Bab 86
87
MDND~ Bab 87
88
MDND ~Bab 88
89
MDND~ Bab 89
90
MDND~ Bab 90
91
MDND~ Bab 91
92
MDND~ Bab 92
93
MDND~ Bab 93
94
MDND~ Bab 94
95
MDND~ Bab 95
96
MDND~ Bab 96
97
MDND ~Bab 97
98
MDND~ Bab 98 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!