MDND ~ Bab 14

Tautan tangan Gilang tak pernah lepas meski Ceren sudah mengibaskannya saat mereka sudah sampai di meja makan.

Cuma ke meja makan aja mesti gandengan tangan, kaya mau nyebrang.....

Kai yang sudah mandi sudah stay di kursinya dengan menggoyang-goyangkan kakinya seperti ayunan sembari memeluk gelas mag-mag tanpa dot seraya menyeruput isinya.

"Tumben si ompong udah bangun, eyang..." Gilang mengacak rambut keponakannya itu dengan satu tangan lainnya.

"Ompong...ompong," gerutunya tak terima.

"Ndak ada panggilan yang lebih keren dikit gitu pa'lek? Ompongku cuma sementara loh, iya kan eyang? Karena kata dokter yang ompong itu gigi susuku, nanti juga tumbuh lagi..." omelnya tak terima dengan penghakiman Gilang tentang fisiknya, liriknya pada ibu untuk meminta pendapat, ibu lantas mengangguk menyetujui ucapan cucunya. Yang ucapannya itu terasa dewasa sebelum waktunya.

Gilang terkekeh, see! Cuma satu kata saja tapi kalimat balasannya bisa nyampe 7 jilid.

Ceren hanya menyimak bocah itu mendebat Gilang, sembari menarik tangannya dari Gilang untuk kemudian menarik kursi yang akan ia duduki.

"Sudah selesai to le, minum susunya?" tanya ibu, "ganti bajumu sama mbak, sebentar lagi yanda datang buat anter sekolah."

"Belum." gelengnya.

Sepertinya gatal saja bagi Gilang jika tak usil, sebelum bocah itu benar-benar pergi ia kembali bersuara dengan nada mencibir, "gimana mau gede, minumnya aja susu...orang gede itu minumnya ini nih....air putih!" tunjuk Gilang meneguk air minumnya terlebih dahulu dari gelas miliknya yang membuat Kai seketika mencebik tak suka, "engga. Aku sering liat kok, eyang kakung minum susu juga....ya eyang?" tanya nya lagi menoleh pada ibu, dan aksi itu membuat Gilang bahagia sepertinya, dapat Ceren lihat itu.

Jika umumnya penderita cancer itu akan termenung dan terpuruk, tapi sepertinya tidak untuk Gilang, ia seperti anteng-anteng saja justru terkesan bahagia. Masih dengan alis mengernyitnya Ceren menggeleng tak mau ambil pusing dan lebih memilih membalikan piring di depannya.

Sampai ibu menegurnya dengan kerlingan mata agar Ceren turut melayani Gilang juga, "ah iya." Namun belum Ceren melakukan itu, Gilang sudah melakukannya terlebih dahulu, "aku bisa sendiri, Ren."

Dan sikap mandiri itu justru mendapat teguran dari ibu untuk Ceren melalui tatapan tak sukanya, lain kali ndak usah diingetin, harus sigap! Like that, membuat Ceren dilanda rasa tak nyaman.

"Biar gue...." Ceren tersentak dengan ucapannya sendiri dan meralat itu mengingat ada ibu dan Kai diantara mereka, "aku ambilin, mau pake apa?"

"Telur, sama ayam..." jawab Gilang.

Kaisar menatap adegan itu, "tangan pa'lek sakit ya? Makan aja mesti diambilin bu'lek." kritiknya.

"Bocah iki..." dengus Gilang, "ini tuh namanya pengabdian..." jelas Gilang, "cih, anak kecil kaya kamu ndak akan ngerti lah..."

"Pengabdian itu opo to eyang?" kini anak itu kembali menoleh pada ibu. Sementara Ceren hanya bisa diam dengan sesekali mencibir dalam hati.

Pengabdian.....nggayamu Lang, anak kecil mana paham. Pengabdi setan kali ah!

Ibu menjeda kunyahannya, "pengabdian itu tindakan membantu yang dilakukan tanpa meminta imbalan tapi ikhlas ridho karena Allah...seperti ini...." tunjuk ibu saat pak Baras mendadak hadir dan bergabung dengan mereka, "eyang bikinin kopi kesukaan eyang kakung, terus siapkan makan biar eyang kakung ndak usah repot-repot ambil sendiri...dan eyang ikhlas melakukannya, karena eyang istri eyang kakung, ini namanya pengabdian seorang istri. Paham?"

Ceren sampai gumoh mendengarnya, bocah diajarkan pasal pengabdian...bahkan ia saja jengah mendengarnya, cih! Apa-apaan....

Dan benar saja, Kai menggaruk kepalanya meskipun mulutnya berkata paham, mata Ceren membulat sembari melengkungkan bibirnya, "weduss..dasar bocah! Bisa saja. Ucapan tidak sesuai perbuatan."

"Kalo gitu Kai juga mau punya istri." Oceh bocah itu.

Uhukkk!

Ceren kini tersedak makanan yang tengah ia kunyah sampai tersedak, "anak kecil ngga boleh punya istri, Kai." refleks ucapnya.

"Loh, kenapa?!" tanya Kai. Kini wajah Ceren terasa memanas, oh ya ampunnn! Sarapan macam apa ini.

Ditanya seperti itu Ceren jadi bingung sendiri, "ya pokoknya ndak boleh, belum cukup umur."

"Memangnya mesti umur berapa, baru bisa punya istri?" Ceren mengerjap kebingungan.

Gilang cengengesan, "kalo mau debat sama Kai itu mesti sudah punya jawabannya..." bisik Gilang.

"Kai, ndak baik kaya begitu...." geleng pak Baraspati menegur cucunya itu, "kalau sedang sarapan, tidak boleh banyak bicara apalagi berdebat. Sudah sarapan dan minum susu? Kalau sudah panggil mbakmu minta digantiin bajunya..."

"Iya eyang."

Ceren mele nguh berat, ngga kebayang punya anak kaya Kai, 10...bisa-bisa ia gila mendadak. Sarapan pertamanya disini bikin selera makannya buyar...

"Aku udah selesai..." Gilang berucap, "kamu selesaikan saja dulu, nanti aku tunggi di teras belakang sambil pake sepatu." diangguki Ceren.

Ceren pamit mundur dari meja makan setelah akhirnya berhasil memakan habis isian piringnya dengan susah payah, dan menyusul Gilang seraya membawa sepatunya.

Terlihat Gilang sudah selesai memakai sepatunya dan kini menunggunya di kursi ayunan panjang berbahan kayu yang ditaruh dekat pohon-pohon rindang halaman belakang, "sini..." pinta Gilang menepuk space untuk Ceren.

"Ngga ada tempat lain gitu yang ngga harus dempet-dempetan persis di angkot?" tanya nya.

Senyuman Gilang tak pernah luntur dari wajahnya, "aku ngga gigit."

Ceren merotasi bola matanya dan memilih menurut, "ngomong apa? Mau debat aku kaya Kai barusan? Gila...ibu kamu njelasin tentang pengabdian sama Kai, bocah cilik ngga akan ngerti...aku aja dengernya puyeng..."

Gilang membalasnya dengan cengengesan, "harap dimaklumi. Ibu masih terbawa suasana nama besar keluarga di Solo..." Ceren menarik alisnya ke atas sebelah, "maksudnya?"

"Ningrat itu sedari kecil sudah diajarin banyak hal Ren, katanya biar ngga nol banget.." jelasnya singkat, dan semakin saja Ceren menghela nafas jengah.

"Aku bukan mau ngomongin masalah itu sama kamu. Aku mau ngomongin masalah kemaren..." balas Gilang.

"Soal apa?"

"Mungkin kamu ngerasa dikibulin. Bukan ibu atau bapakmu yang minta, tapi aku...aku yang minta untuk menikahi kamu secara hukum."

Alisnya sudah menukik dan siap melancarkan omelan ciri khas Ceren, namun sebelum itu terjadi, Gilang sudah lebih dulu bersuara kembali.

Gilang sempat menunduk, namun kemudian ia memberikan senyuman menenangkannya, "aku tau menikah denganku adalah sesuatu yang paling tidak benar di hidup kamu, Ren. Dan untuk pengorbanan atas pengabdianmu untukku itu aku ingin hidup kamu kedepannya itu terjamin, meskipun aku sudah tidak ada..."

"Image janda muda akan melekat selamanya tanpa bisa kamu tolak, aku sudah menghitung dan mengira-ngira semuanya. Image yang dianggap tabu akan mempersulit kelangsungan hidup kamu nantinya, aku sungguh minta maaf....tapi untuk menebus dan bertanggung jawab atas itu, aku akan mewariskan semua harta milikku untukmu...maka untuk itu kamu perlu menyandang status sah menurut hukum...jaga baik-baik amanahku untuk kelangsungan hidupmu nanti..."

Dan demi apapun yang ada di bumi ini, tenggorokan Ceren mendadak kering, jantungnya terasa dipukul keras hingga hancur berkeping-keping begitupun hatinya yang mencelos berlubang lalu meleleh. Hampir saja mata yang tiba-tiba memanas itu melelehkan air mata.

Telapak tangan Gilang menyentuh dan menangkup pipi Ceren, lantas jempolnya mengelus lembut disana, "aku tau kamu perempuan baik. Anak shalehah....maka aku percayakan semuanya untukmu..."

Bibir bawah Ceren bergetar, bahkan mulutnya telah terbuka dan membuang nafas beratnya, bisakah Gilang tak begini di hari sepagi ini? Bahkan ayam-ayam saja baru keluar menginjakan kakinya di bumi untuk mengais tanah mencari cacing. Tapi hatinya sudah membiru pagi-pagi.

"Lang, aku...."

"Nanti mau berangkat bareng aku atau gimana? Takutnya kamu malu atau hubungan kita ketauan sama temen-temen sekolah?" Gilang melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 6.35 wib.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Camera Gaming

Camera Gaming

Gilang pemikiran km jauh ke depan untuk ceren ,itu bukti bahwa cinta mu tulus ,ane aje mewek baca nya

2024-12-24

1

jumirah slavina

jumirah slavina

sad ending ya Thor.....
Aku deq²n ikh baca'y.....
hhuuuuaaaaaaa 😭

2025-01-17

2

Lalisa

Lalisa

ah Gilang 😭😭😭

2025-01-12

0

lihat semua
Episodes
1 MDND~ Bab 1
2 MDND~ bab 2
3 MDND~ Bab 3
4 MDND~ Bab 4
5 MDND~ bab 5
6 MDND ~ bab 6
7 MDND ~ bab 7
8 MDND~ bab 8
9 MDND~ Bab 9
10 MDND~ Bab 10
11 MDND ~ Bab 11
12 MDND ~ Bab 12
13 MDND ~ Bab 13
14 MDND ~ Bab 14
15 MDND ~ Bab 15
16 MDND ~ Bab 16
17 MDND ~ Bab 17
18 MDND ~ Bab 18
19 MDND ~ Bab 19
20 MDND ~ Bab 20
21 MDND ~ Bab 21
22 MDND ~ Bab 22
23 MDND ~ Bab 23
24 MDND ~ Bab 24
25 MDND ~ Bab 25
26 MDND ~ Bab 26
27 MDND~ Bab 27
28 MDND~ Bab 28
29 MDND ~ Bab 29
30 MDND ~ Bab 30
31 MDND ~ Bab 31
32 MDND ~ Part 32
33 MDND~ Bab 33
34 MDND ~ Bab 34
35 MDND ~ Bab 35
36 MDND ~ Bab 36
37 MDND ~ Bab 37
38 MDND~ Bab 38
39 MDND ~ Bab 39
40 MDND~ Bab 40
41 MDND ~Bab 41
42 MDND ~ Bab 42
43 MDND~ Bab 43
44 MDND ~ Bab 44
45 MDND~ Bab 45
46 MDND~ Bab 46
47 MDND~ Bab 47
48 MDND~ Bab 48
49 MDND~ Bab 49
50 MDND~ Bab 50
51 MDND~ Bab 51
52 MDND~ Bab 52
53 MDND~ Bab 53
54 MDND~ Bab 54
55 MDND~ Bab 55
56 MDND~ Bab 56
57 MDND ~ Bab 57
58 MDND~ Bab 58
59 MDND~ Bab 59
60 MDND~ Bab 60
61 MDND~ Bab 61
62 MDND~ Bab 62
63 MDND~ Bab 63
64 MDND ~ Bab 64
65 MDND~ Bab 65
66 MDND ~ Bab 66
67 MDND~ Bab 67
68 MDND ~ Bab 68
69 MDND~ Bab 69
70 MDND ~ Bab 70
71 MDND ~ Bab 71
72 MDND~ Bab 72
73 MDND ~ Bab 73
74 MDND ~ Bab 74
75 MDND ~ Bab 75
76 MDND ~ Bab 76
77 MDND~ Bab 77
78 MDND~ Bab 78
79 MDND~ Bab 79
80 MDND~ Bab 80
81 MDND~ Bab 81
82 MDND~ Bab 82
83 MDND~Bab 83
84 MDND~ Bab 84
85 MDND~ Bab 85
86 MDND~ Bab 86
87 MDND~ Bab 87
88 MDND ~Bab 88
89 MDND~ Bab 89
90 MDND~ Bab 90
91 MDND~ Bab 91
92 MDND~ Bab 92
93 MDND~ Bab 93
94 MDND~ Bab 94
95 MDND~ Bab 95
96 MDND~ Bab 96
97 MDND ~Bab 97
98 MDND~ Bab 98 (End)
Episodes

Updated 98 Episodes

1
MDND~ Bab 1
2
MDND~ bab 2
3
MDND~ Bab 3
4
MDND~ Bab 4
5
MDND~ bab 5
6
MDND ~ bab 6
7
MDND ~ bab 7
8
MDND~ bab 8
9
MDND~ Bab 9
10
MDND~ Bab 10
11
MDND ~ Bab 11
12
MDND ~ Bab 12
13
MDND ~ Bab 13
14
MDND ~ Bab 14
15
MDND ~ Bab 15
16
MDND ~ Bab 16
17
MDND ~ Bab 17
18
MDND ~ Bab 18
19
MDND ~ Bab 19
20
MDND ~ Bab 20
21
MDND ~ Bab 21
22
MDND ~ Bab 22
23
MDND ~ Bab 23
24
MDND ~ Bab 24
25
MDND ~ Bab 25
26
MDND ~ Bab 26
27
MDND~ Bab 27
28
MDND~ Bab 28
29
MDND ~ Bab 29
30
MDND ~ Bab 30
31
MDND ~ Bab 31
32
MDND ~ Part 32
33
MDND~ Bab 33
34
MDND ~ Bab 34
35
MDND ~ Bab 35
36
MDND ~ Bab 36
37
MDND ~ Bab 37
38
MDND~ Bab 38
39
MDND ~ Bab 39
40
MDND~ Bab 40
41
MDND ~Bab 41
42
MDND ~ Bab 42
43
MDND~ Bab 43
44
MDND ~ Bab 44
45
MDND~ Bab 45
46
MDND~ Bab 46
47
MDND~ Bab 47
48
MDND~ Bab 48
49
MDND~ Bab 49
50
MDND~ Bab 50
51
MDND~ Bab 51
52
MDND~ Bab 52
53
MDND~ Bab 53
54
MDND~ Bab 54
55
MDND~ Bab 55
56
MDND~ Bab 56
57
MDND ~ Bab 57
58
MDND~ Bab 58
59
MDND~ Bab 59
60
MDND~ Bab 60
61
MDND~ Bab 61
62
MDND~ Bab 62
63
MDND~ Bab 63
64
MDND ~ Bab 64
65
MDND~ Bab 65
66
MDND ~ Bab 66
67
MDND~ Bab 67
68
MDND ~ Bab 68
69
MDND~ Bab 69
70
MDND ~ Bab 70
71
MDND ~ Bab 71
72
MDND~ Bab 72
73
MDND ~ Bab 73
74
MDND ~ Bab 74
75
MDND ~ Bab 75
76
MDND ~ Bab 76
77
MDND~ Bab 77
78
MDND~ Bab 78
79
MDND~ Bab 79
80
MDND~ Bab 80
81
MDND~ Bab 81
82
MDND~ Bab 82
83
MDND~Bab 83
84
MDND~ Bab 84
85
MDND~ Bab 85
86
MDND~ Bab 86
87
MDND~ Bab 87
88
MDND ~Bab 88
89
MDND~ Bab 89
90
MDND~ Bab 90
91
MDND~ Bab 91
92
MDND~ Bab 92
93
MDND~ Bab 93
94
MDND~ Bab 94
95
MDND~ Bab 95
96
MDND~ Bab 96
97
MDND ~Bab 97
98
MDND~ Bab 98 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!