MDND ~ Bab 19

Ceren sengaja membiarkan ibu dan bapak berjalan duluan, "apa kamu yang minta buat pulang ke rumah, Lang?"

"Makanan disini ndak enak." jawabnya tersenyum, "kalo di rumah kan bisa seharian ketemu kamu juga, selain waktu sekolah."

Namun Ceren masih tetap diam menatap Gilang dengan nanar, sadar akan reaksi tak puas Ceren yang mungkin sebentar lagi akan meledak, Gilang menarik tangan Ceren agar gadis itu menghadapnya, "aku bakal baik-baik aja." Ujarnya lagi mencoba menenangkan tapi nyatanya itu tak serta merta membuat Ceren tenang, justru semakin dilanda kekhawatiran.

"Tapi!" Ceren menggantung ucapannya di udara sadar jika keduanya justru menghalangi jalan, "terserah kamu aja lah." Ceren kembali mendorong kursi roda dengan air mata yang telah meleleh.

Ceren bergerak gelisah, entah kenapa malam ini ia tak bisa tidur. Mungkin karena AC tak ia nyalakan, udara ibukota memang panas.

"Aus gue..." meski matanya sudah terasa lengket, namun tenggorokan dan mulutnya tak bisa mengindahkan rasa haus yang mendera, hingga membuatnya mau tak mau beranjak dari kasur menuju dapur.

Ceklek!

Matanya menyipit karena silau lampu, tumben sekali lampu tidak setemaram biasanya, sejurus kemudian ia mendengar sayup-sayup suara orang beraktivitas.

Tak ia hiraukan, Ceren melanjutkan tujuannya.

"Ibu?"

Bu Ambar menoleh dengan segelas air dan obat di atas nampan yang ia bawa, "Ceren."

"Ibu sakit?"

Ia menggeleng, "Gilang..."

Ceren tak bisa untuk tak memaksa kesadarannya full.

.

.

Shitttt!

"Telat!" Ceren berlari kesana kemari mencari handuk, seragam dan buku pelajaran. Semalam ia begadang menemani Gilang yang mendadak demam.

Hari ini Gilang ijin tak masuk, dan Ceren....

"Sudah telat kan? Kamu duduk di belakang bareng Kaisar. Buruan, saya tunggu di mobil, Kai...ayok!" Titah Hilman yang baru saja datang atas permintaan Gilang, saat mendapati Ceren yang mengunyah rotinya besar-besar, Kaisar bahkan menertawakan aksi Ceren itu, "bu'lek persis kucing di depan komplek." Kikiknya hendak turun dari kursinya dibantu ibu, "awas le, hati-hati. Sini ta lapi dulu mulutnya..." pinta ibu.

"Bisa tah, makan itu pelan-pelan?!" tanya ibu menatap Ceren ngeri, persis liat gelandangan ngga makan 3 hari.

"Udah telat bu." jawabnya menyeruput susu di meja.

"Dibekal saja nduk." sahut bapak. Ceren menggeleng, "ngga usah, pak. Biar istirahat nanti Ceren jajan di kantin saja."

Kai sedang disuapi ibu barang sesuap dua suap, sementara Ceren...ia memilih masuk terlebih dahulu ke kamar Gilang untuk pamit.

Diketuknya pintu kamar, "Lang..." tangannya sudah membuka handle pintu, pemandangan pertama yang ia temukan adalah Gilang yang tengah tertidur pagi itu karena semalam ia tak bisa tidur.

Tangannya merambat memegang dahi Gilang yang ditempeli oleh kompres instan, ada senyum Ceren yang terlukis di bibirnya, "turun."

"Aku pamit sekolah dulu ya, Lang. Nanti masmu ngomel-ngomel kalo aku bolos..." pamitnya berbalik.

.

.

Bapak menghampiri Hilman di halaman, putra pertamanya itu seolah sengaja menghindarinya setelah obrolan tempo hari saat di rumah sakit dan selepas pernikahan Gilang dan Ceren terjadi.

"Bagaimana? Tidak mungkin bapak dan ibu melepas harta warisan Gilang begitu saja, Man...jumlah sahamnya tidak main-main..."

Hilman menghela nafasnya, "lantas kenapa harus Hilman yang bertanggung jawab pak. Tidak mungkin Hilman menikahi adik ipar sendiri, murid Hilman di sekolah..." jawabnya, bapak mengusap keningnya dan terdiam begitupun Hilman, netranya menatap pintu rumah dimana Kai sudah berlari keluar, "yandaaa! Eyanggg!"

"Kai sudah keluar, sebentar lagi Ceren juga keluar. Kita sudahi saja obrolan ini, nanti Hilman pikirkan lagi..." ucapnya masuk ke dalam kursi pengemudi.

Beberapa kali Ceren menguap di kelas, bahkan gadis ini sampai terantuk-antuk di meja, untung saja tak ada guru yang mengajar dan mengawasi, sontak hal ini mengusik kesadaran Fira, setelah keanehannya terhadap Ceren kemarin-kemarin, kini Fira dibuat tak mengenali Ceren, "tumben kamu ngantuk, ceu. Kamu begadang?"

Ceren mengangguk, "iya."

Fira tertawa mencibir, "tumben. Biasanya juga paling ngga bisa sama yang namanya begadang. Jangankan begadang, jam tidur kamu aja lebih awal dari orang pada umumnya. Heloo! Ini Ceren kah?!"

Dan ucapan Fira barusan sukses membuat Ceren mendelik, "gue jagain Gilang, demam dia." ocehnya jujur.

Praktis Fira langsung menoleh, "Gilang?! Jagain?! Semaleman?!" tanya nya melengking horor.

Ceren mele nguh berat, cepat atau lambat Fira memang harus tau tentangnya dan Gilang, mungkin lebih cepat lebih baik, biar ngga ada drama keceplosan yang akan membuat pertemanannya dengan Fira retak.

Ceren menoleh berbalik pada Fira, "Oke, Ra...aku mau cerita rahasia kecilku sama kamu...tapi please jangan pernah kasih tau yang lain tentang ini, janji?!" Ceren menyodorkan kelingkingnya.

"Ck, iya."

(..)

Fira masih terbengong dan tak percaya jika Ceren bisa-bisanya menikah tanpa memberitahunya, sekaligus tak percaya jika ternyata Gilang mengidap penyakit mematikan, "pantes aja! Gilang jarang masuk. Kamu juga, sejak aku taunya kamu pacaran sama Gilang, jadi sering ijin..."

Fira tertawa mencibir, masih jaman ya, pernikahan dini!

Ceren memutuskan untuk bertemu dengan bapak terlebih dahulu siang ini, sebelum benar-benar pulang. Bukan cafe atau resto mahal keduanya berjumpa, bapak meminta Ceren datang ke warteg di dekat butik Ambar sembari ia yang beristirahat dan makan.

Terlihat olehnya dari kaca jendela warteg seorang pria paruh baya dengan batiknya sedang melahap sepiring nasi rames bersana beberapa pengunjung warteg lain.

"Curang, makan duluan..." dengusnya duduk di samping bapak yang menoleh terkejut. Mulutnya yang penuh dengan nasi terpaksa harus mengunyah cepat demi menjawab, "kualat kamu nduk, ngagetin bapak lagi makan! Bapak kutuk kamu jadi kaya raya!"

Ceren justru tertawa, "makanya kalo makan jangan terlalu serius sampai menghayati, pak. Kalo warteg di bom orang bapak ngga sempet kabur!" Ceren mengedarkan pandangannya ke arah deretan makanan yang ada di dalam etalase kaca.

"Bu, aku mau nasi pake cumi balado sama telor ceplok ya. Minumnya teh tawar panas aja." pintanya menurunkan tali tas dari kedua pundaknya.

Ia lantas memperhatikan bapak yang sudah duluan makan, "katanya mau lunch bareng, tapi bapak malah makan duluan...ngga asik!" cibir Ceren.

"Nggayamu lunch, mentang-mentang sudah tinggal di rumah gedongan." Bapak menyeruput teh miliknya sebelum melanjutkan kembali makannya, "gimana disana, betah? Kondisi Gilang sekarang gimana, maaf bapak belum sempat lihat...bu Ambar menyerahkan urusan butik sama bapak, jadi bapak sibuk buanget..."

Ceren paham dan mengangguk, "ngga apa-apa." ia menghela nafasnya berat, entah angin panas darimana kini kelopak matanya terlalu berat untuk ditahan, memang inilah tujuannya bertemu bapak, meledakan isi hati yang telah lama ia pendam, "pak." suaranya parau bergetar.

"Kenapa to?" melihat wajah sendu Ceren, bapak tak bisa untuk tak berhenti makan.

"Kamu berantem sama Gilang?"

Ceren menggeleng, "Gilang----"

Ceren menatap ke bawah meski tak menunduk, "kok aku mulai sayang ya, tapi Gilang----makin kesini kondisinya..." ia akhirnya melelehkan air mata di depan bapak, tangan seorang ayahnya terulur refleks untuk mengusap punggung demi menguatkan sang putri. Gadisnya yang terbiasa tangguh bisa jatuh dan menangis juga.

"Sabar nduk. Jika memang sudah waktunya....kamu harus percaya jika gusti Allah lebih sayang Gilang. Sayangnya Allah itu kekal, nduk dibanding sayangnya makhluk manapun. Yang kuat, ambil hikmahnya, jika kamu pernah memiliki seseorang sebaik Gilang. Jika kamu pernah mengenal lelaki setangguh Gilang."

"Bapak nguati aku sih nguati pak, itu tangan bapak bekas ikan asin! Bau seragamku, pak!" Ceren menggidikan punggungnya.

"Oalah! Asemm kamu nduk, masih inget itu!!"

Meskipun diselingi cerita menyedihkan, namun bersama bapak Ceren merasa setidaknya beban hati yang dipikulnya sedikit berkurang.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

ambyar... ambyar....
masuk lagi air mataku Rennn... Renn..
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2025-01-17

2

Lalisa

Lalisa

jadi nangis sambil ketawa jadinya

2025-01-12

0

Ita Listiana

Ita Listiana

gk sido melow ren.. ren.. 🤣🤣

2025-01-25

0

lihat semua
Episodes
1 MDND~ Bab 1
2 MDND~ bab 2
3 MDND~ Bab 3
4 MDND~ Bab 4
5 MDND~ bab 5
6 MDND ~ bab 6
7 MDND ~ bab 7
8 MDND~ bab 8
9 MDND~ Bab 9
10 MDND~ Bab 10
11 MDND ~ Bab 11
12 MDND ~ Bab 12
13 MDND ~ Bab 13
14 MDND ~ Bab 14
15 MDND ~ Bab 15
16 MDND ~ Bab 16
17 MDND ~ Bab 17
18 MDND ~ Bab 18
19 MDND ~ Bab 19
20 MDND ~ Bab 20
21 MDND ~ Bab 21
22 MDND ~ Bab 22
23 MDND ~ Bab 23
24 MDND ~ Bab 24
25 MDND ~ Bab 25
26 MDND ~ Bab 26
27 MDND~ Bab 27
28 MDND~ Bab 28
29 MDND ~ Bab 29
30 MDND ~ Bab 30
31 MDND ~ Bab 31
32 MDND ~ Part 32
33 MDND~ Bab 33
34 MDND ~ Bab 34
35 MDND ~ Bab 35
36 MDND ~ Bab 36
37 MDND ~ Bab 37
38 MDND~ Bab 38
39 MDND ~ Bab 39
40 MDND~ Bab 40
41 MDND ~Bab 41
42 MDND ~ Bab 42
43 MDND~ Bab 43
44 MDND ~ Bab 44
45 MDND~ Bab 45
46 MDND~ Bab 46
47 MDND~ Bab 47
48 MDND~ Bab 48
49 MDND~ Bab 49
50 MDND~ Bab 50
51 MDND~ Bab 51
52 MDND~ Bab 52
53 MDND~ Bab 53
54 MDND~ Bab 54
55 MDND~ Bab 55
56 MDND~ Bab 56
57 MDND ~ Bab 57
58 MDND~ Bab 58
59 MDND~ Bab 59
60 MDND~ Bab 60
61 MDND~ Bab 61
62 MDND~ Bab 62
63 MDND~ Bab 63
64 MDND ~ Bab 64
65 MDND~ Bab 65
66 MDND ~ Bab 66
67 MDND~ Bab 67
68 MDND ~ Bab 68
69 MDND~ Bab 69
70 MDND ~ Bab 70
71 MDND ~ Bab 71
72 MDND~ Bab 72
73 MDND ~ Bab 73
74 MDND ~ Bab 74
75 MDND ~ Bab 75
76 MDND ~ Bab 76
77 MDND~ Bab 77
78 MDND~ Bab 78
79 MDND~ Bab 79
80 MDND~ Bab 80
81 MDND~ Bab 81
82 MDND~ Bab 82
83 MDND~Bab 83
84 MDND~ Bab 84
85 MDND~ Bab 85
86 MDND~ Bab 86
87 MDND~ Bab 87
88 MDND ~Bab 88
89 MDND~ Bab 89
90 MDND~ Bab 90
91 MDND~ Bab 91
92 MDND~ Bab 92
93 MDND~ Bab 93
94 MDND~ Bab 94
95 MDND~ Bab 95
96 MDND~ Bab 96
97 MDND ~Bab 97
98 MDND~ Bab 98 (End)
Episodes

Updated 98 Episodes

1
MDND~ Bab 1
2
MDND~ bab 2
3
MDND~ Bab 3
4
MDND~ Bab 4
5
MDND~ bab 5
6
MDND ~ bab 6
7
MDND ~ bab 7
8
MDND~ bab 8
9
MDND~ Bab 9
10
MDND~ Bab 10
11
MDND ~ Bab 11
12
MDND ~ Bab 12
13
MDND ~ Bab 13
14
MDND ~ Bab 14
15
MDND ~ Bab 15
16
MDND ~ Bab 16
17
MDND ~ Bab 17
18
MDND ~ Bab 18
19
MDND ~ Bab 19
20
MDND ~ Bab 20
21
MDND ~ Bab 21
22
MDND ~ Bab 22
23
MDND ~ Bab 23
24
MDND ~ Bab 24
25
MDND ~ Bab 25
26
MDND ~ Bab 26
27
MDND~ Bab 27
28
MDND~ Bab 28
29
MDND ~ Bab 29
30
MDND ~ Bab 30
31
MDND ~ Bab 31
32
MDND ~ Part 32
33
MDND~ Bab 33
34
MDND ~ Bab 34
35
MDND ~ Bab 35
36
MDND ~ Bab 36
37
MDND ~ Bab 37
38
MDND~ Bab 38
39
MDND ~ Bab 39
40
MDND~ Bab 40
41
MDND ~Bab 41
42
MDND ~ Bab 42
43
MDND~ Bab 43
44
MDND ~ Bab 44
45
MDND~ Bab 45
46
MDND~ Bab 46
47
MDND~ Bab 47
48
MDND~ Bab 48
49
MDND~ Bab 49
50
MDND~ Bab 50
51
MDND~ Bab 51
52
MDND~ Bab 52
53
MDND~ Bab 53
54
MDND~ Bab 54
55
MDND~ Bab 55
56
MDND~ Bab 56
57
MDND ~ Bab 57
58
MDND~ Bab 58
59
MDND~ Bab 59
60
MDND~ Bab 60
61
MDND~ Bab 61
62
MDND~ Bab 62
63
MDND~ Bab 63
64
MDND ~ Bab 64
65
MDND~ Bab 65
66
MDND ~ Bab 66
67
MDND~ Bab 67
68
MDND ~ Bab 68
69
MDND~ Bab 69
70
MDND ~ Bab 70
71
MDND ~ Bab 71
72
MDND~ Bab 72
73
MDND ~ Bab 73
74
MDND ~ Bab 74
75
MDND ~ Bab 75
76
MDND ~ Bab 76
77
MDND~ Bab 77
78
MDND~ Bab 78
79
MDND~ Bab 79
80
MDND~ Bab 80
81
MDND~ Bab 81
82
MDND~ Bab 82
83
MDND~Bab 83
84
MDND~ Bab 84
85
MDND~ Bab 85
86
MDND~ Bab 86
87
MDND~ Bab 87
88
MDND ~Bab 88
89
MDND~ Bab 89
90
MDND~ Bab 90
91
MDND~ Bab 91
92
MDND~ Bab 92
93
MDND~ Bab 93
94
MDND~ Bab 94
95
MDND~ Bab 95
96
MDND~ Bab 96
97
MDND ~Bab 97
98
MDND~ Bab 98 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!