MDND~ Bab 10

Hilman berjalan santai saja memasuki pelataran rumah ibu dan bapak, yang sudah 3 hari ia inapi bersama Kai karena Kai yang merengek meminta tidur bersama eyangnya, katanya sih di rumahnya itu sepi karena Hilman yang keseringan pulang telat dan tak ada waktu untuk bermain dengannya.

Langkahnya terbilang normal saja ketika Kai justru memilih berlari dari sejak turun mobil hingga masuk rumah, "mbokkkk!" teriaknya disusul omelan ibu, "Kai...Kaisar! Tidak teriak-teriakkk, le!! Ndak boleh lari-lariii!"

Hilman menggeleng, lantas Kai ngikutin siapa cobak teriak-teriak?

Yang pertama di cari Hilman adalah Gilang. Berbicara dengan adiknya itu sebagai pejantan yang sudah akhil baligh. Netranya mengedar tak menemukan Gilang di ruang tamu dan tengah.

"Pa'lek!" jerit Kai mencari Gilang, karena hanya bersama Gilang dan para asisten rumah tangga lah teman-temannya di rumah.

Sayup-sayup ia mendengar suara Kaisar dan Gilang bercengkrama di teras belakang dan ia tau jika adiknya berada disana.

Dibukanya sepatu pantofel yang membalut kaki lalu masuk ke kamar mandi, tak butuh mengganti baju terlebih dahulu Hilman sudah tak sabar ingin berbicara pada Gilang.

Pandangannya tertumbuk pada Gilang dan Kai yang sedang berebut keripik ketela, "pa'lek harusnya ngalah sama anak kecil..." omel Kai merengut manyun saat Gilang menjauhkan toples itu dari Kai untuk dirinya sendiri sebagai bentuk keusilannya.

"Cah cilik mangannya bubur, bukan keripik..." ucap Gilang jahil.

"Eyangggg, pa'lek Gilangnya nyebelin!" maka senjata Kai saat itu adalah mengadu pada ibu.

"Tapi gigiku kuat, udah bisa ngunyah keripik. Aku juga udah disunat to...pertanda kalo aku udah gede!" ocehnya lagi memancing tawa Gilang.

Hilman menghampiri dan mengusap rambut lurus legam berpotongan seperti mangkok itu hingga putranya itu beralih mengadu padanya, "yanda lihat pa'lek Gilang! Pelit." ia mendongak dengan wajah memelas dan mata kubangannya.

"Padahal aku sayang pa'lek loh! Ndak mau kalo nanti kuburan pa'lek sempit." ocehnya lagi, mengenai kuburan...Hilman semakin ingat sesuatu padahal Gilang saja sudah tergelak mendengar ocehan Kai.

"Ndak papa, nanti kalo sempit. Pa'lek datengin Kai di mimpi, mau minta tolong kuburan pa'lek diluasin kalo bisa dikasih arena buat main lego!"

"Mana bisa?!" lengkingannya kuat, namun sejurus kemudian ia mendongak pada Hilman yang ketinggiannya bikin leher Kai kecengklak, "emang bisa yanda?"

Hilman menggeleng, "tak ada harta seorang makhluk hidup pun yang akan dibawa ke liang lahat." Jelasnya lagi, "Kai sudah makan? Kai bahkan belum ganti baju, coba sana ganti baju dulu terus makan bareng mbak Sri.." pintanya mengusir secara halus putranya itu, agar tak mengganggu pembicaraan serius yang akan terjadi antara dirinya dan Gilang.

"Sri!" panggilnya pada pengasuh sang putra. Tak lama seorang berpakaian suster pengasuh yang usianya masih muda itu hadir di hadapan, "bawa Kai mengganti pakaiannya dan makan."

"Njih pak. Ayo den..." ajaknya.

"Yandaaa.. Kai mau keripik to, bukan makan," rengeknya lesu.

Gilang mengulas senyuman, "nih, bawa sama toples-toplesnya, tapi dimakan kalo kamu sudah makan nasi. Seperti kata yanda," serahnya memantik garis senyum menampilkan gigi ompong di bagian depan milik Kai.

Pandangan keduanya masih lekat ke arah hilangnya Kai bersama mbak Sri, lalu deheman Hilman membuat Gilang mengalihkan pandangannya.

"Betul yang ibu bilang, Lang?" Hilman menggeser kursi kayu mendekatkan posisinya dengan Gilang.

Pandangannya beralih menatap pohon bungur seperti yang ditanam di butik Ambar. Dedaunannya seperti melambai bebas dan bahagia, karena tekstur daun yang terlihat hijau nan lebat.

"Iya, mas."

"Lang---"

"Aku kepengen merasakan apa yang lelaki normal rasakan mas, sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia fana ini." tukasnya memotong ucapan Hilman, "kenapa? Mas ndak suka aku langkahi lagi to? Atau menurut mas aku belum cukup besar? Apa orang sepertiku tak boleh jatuh cinta, tak boleh merasakan apa yang lelaki normal lain rasakan?" jawabnya berapi-api, ibu yang baru saja selesai mengganti pakaiannya keluar menghampiri kedua putranya di teras belakang.

Sejuknya udara disini membawa serta perasaan campur aduk yang didominasi perasaan sedihnya sebagai seorang ibu, permintaan Gilang itu seolah-olah sudah menjadi patok yang pasti jika putra bungsunya itu benar-benar akan pergi dari pelukannya untuk selamanya dalam waktu dekat.

"Jangan ngomong seperti itu! Kamu ndak akan kemana-mana, jodoh, maut itu kersaning gusti! Jangan melangkahi! Kita sedang ikhtiar!" bentak ibu tak terima, dan Gilang hanya mengulas senyum perih, "mas tau Cerenia Aqila Yumna?" baliknya bertanya. Hilman mengernyitkan alis, "apa---"

"Ya. Dia adalah gadis yang mau Gilang persunting. Gilang menyukainya..."

"Sin ting kamu, Lang! Yang benar saja!" Hilman sampai terjengkat karena terkejut, ia bisa terima jika gadis yang dimaksud adalah gadis baik-baik, minimal pilihannya atau ibu, tapi Ceren....ia lebih tau siapa siswinya itu.

"Napa to?! Dia anak pak Harun, kan..." ibu ikut terkejut dengan keterkejutan Hilman.

"Semua orang menganggap dia nakal, mas. Dia badung, banyak tingkah. Tapi Gilang lebih tau bagaimana kepribadian dia yang sebenarnya..."

Ibu hanya bisa menyimak dengan kernyitan di dahi saat 2 putranya itu mendebatkan Ceren.

"Tau darimana? Kamu mengenalnya saja baru, kan?! Jangan mengada-ada, Lang!" debat Hilman.

Gilang menghela nafasnya lelah, rasa pusing yang mendera sudah menjadi teman hidupnya, "Gilang hanya mau dia, mas. Jika kalian tanya apa permintaan terakhir Gilang, maka sampai akhir nafas terakhir pun Gilang hanya mau Ceren..." jawabnya, sedetik kemudian alisnya mengernyit menahan kepala yang terasa akan pecah, dan lelehan cairan kental berwarna merah meluncur begitu saja dari hidung Gilang.

"Astaghfirullah!" Ibu segera mengambil tissue, dan Hilman ikut membantu dengan mengambil air minum, "mbok!"

"Ya Allah..." jika sudah begini ibulah orang yang sering menangis, "sudah. Jangan terlalu dipikirkan, jadi begini kan....jangan dibawa jadi beban, nanti kamu harus nginep lagi di rumah sakit." ucap ibu.

Gilang kembali mengulas senyum seraya menahan laju da rah di hidung, "cuma kambuh sedikit aja bu, pusingnya. Aku ndak papa..."

Kini pandangan ibu beralih pada Hilman dan memandangnya penuh sorot memohon, sampai putra pertamanya ini lebih memilih pergi begitu saja. Dari sikap Hilman inilah, Gilang dapat menyimpulkan bahwa kakaknya itu tidak merestui permintaannya itu.

"Biar ibu yang datang ke rumah pak Harun." Ujar ibunya, "dengan atau tanpa restu masmu."

Ceren masih saja rebahan di kursi panjang tengah rumah dengan kaki yang menggantung sambil mainan hape.

"Pak, buruan to...udah telat ini, bapak mau dihukum sama bu Ambar?!" teriaknya semangat, sekali-kali ia yang menegur berteriak begini, jangan bapak saja yang sering begitu saat ia terlambat ke sekolah.

Hingga sebuah mobil mewah tiba di depan rumahnya.

Langkah selop kayu terdengar seperti suara sepatu kuda di lantai keramik putih yang beberapanya sudah terdapat retakan.

"Permisi, assalamu'alaikum..."

Pluk!

Suara renyah ponsel yang beradu dengan tulang pangkal hidungnya membuat Ceren mengguguk layaknya temen guguk, "anjirrrr!"

Ia mengusap area yang terkena jatuhan ponsel dengan mata yang sedikit berair, "sakit co! Siapa sih?!" omelnya geram.

Ia lantas bangkit ingin menyembur tamu yang secara tak sengaja sudah membuat pangkal hidungnya kini nyut-nyutan pegal bukan main, untung saja tulang hidungnya bukan terbuat dari tahu. Jadi ngga ancur!

Assalamu'alaikum!

Kembali suara itu bergema menyebalkan di telinga Ceren, ingin rasanya ia memaki dan menyuguhi tamu itu dengan gagang sapu, saat datang bapak yang sudah rapi dengan stelan batik dan celana bahannya bersiap untuk pergi bekerja.

"Siapa Ren? Ada tamu bukannya dibukain..." bapak melengos melewati Ceren sambil membawa sepatu pantofel yang ditentengnya untuk dipakai, sudah dipakein semir jadinya kinclong sekinclong jidatnya.

"Tau ah! Gara-gara dia nih, idung Ceren kejatohan hape! Siapa sih!" omelnya.

Ceklek.

"Bu Ambar!" seru bapak, Ceren yang masih sibuk mengusap pangkal hidung dan merutuki kejadian barusan seketika berlari ke arah kamarnya untuk bersembunyi saat bapak menyebutkan salah satu nama yang tak boleh disebutkan namanya.

Angin terasa berhembus kencang sekelebat melewati punggung bapak ketika Ceren secepat kilat berlari persis setan.

"Pak Harun bisa saya bicara.. "

(......)

Setelah melewati perdebatan sengit, penuh drama dan air mata serta da rah pengorbanan, bapak hanya bisa menoleh pada Ceren yang ada di sampingnya dengan tatapan getir, sudah menolak pun rasanya penolakan bapak tak masuk sampai otak dan hati kekeh sumekehnya bu Ambar.

Begitupun Ceren yang menolak dengan penuh akal sampe memasang mata berairnya, tak serta merta bisa mengalahkan niat keras seorang ibu dari bu Ambarwati. Maka senjata terakhir yang ia gunakan adalah kekuasaan.

"Jika kalian tidak dapat menolong, dan tak mau mewujudkan permintaan Gilang, maka dengan berat hati saya memecat pak Harun secara tak hormat."

"Loh...loh! Tapi itu ngga pro----" Ceren membulatkan matanya.

"Jangan berbicara keprofesionalitasan dengan saya..." potong bu Ambar, ia beranjak dari duduknya dengan wajah yang sudah tak berekspresi lagi, karena usahanya sia-sia belaka, "saya hanya meminta sampai waktunya tiba saja...Tidak meminta lebih, bahagiakan Gilang. Tidak sulit toh?! Tidak lama, dokter bilang hanya beberapa bulan lagi. Pernikahan pun ndak usah rame-rame, keluarga besar ndak usah tau...kalo bisa siri saja..." ia meloloskan kembali lelehan air mata yang menganak sungai.

"Nduk," hangatnya tangan bapak merambat di tangan dingin Ceren, hingga membuat Ceren terasa terjepit begini, begitu banyak alasan yang membuat hatinya 60 persen ingin meloloskan kata iya. Tapi jika menurut pada hati, maka 100 persen ia tak mau.

"Bagaimana? Jika tidak, siang ini, pak Harun tak usah datang kembali ke butik, biar saya cari jodoh Gilang sekalian cari supervisor baru..." Bu Ambar mulai melangkah keluar.

Refleks Ceren ikut berdiri, "oke."

Bu Ambar akhirnya tersenyum lega, berbanding terbalik dengan Ceren yang kini hatinya sudah ditumpuki beban begitu berat hingga ia merasa dirinya begitu sesak.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lalisa

Lalisa

lahhh koo malah ngumpet 😅

2025-01-12

0

Lalisa

Lalisa

duh KAI pinter banget sih

2025-01-12

0

Lalisa

Lalisa

pilihan yg sulit ck

2025-01-12

0

lihat semua
Episodes
1 MDND~ Bab 1
2 MDND~ bab 2
3 MDND~ Bab 3
4 MDND~ Bab 4
5 MDND~ bab 5
6 MDND ~ bab 6
7 MDND ~ bab 7
8 MDND~ bab 8
9 MDND~ Bab 9
10 MDND~ Bab 10
11 MDND ~ Bab 11
12 MDND ~ Bab 12
13 MDND ~ Bab 13
14 MDND ~ Bab 14
15 MDND ~ Bab 15
16 MDND ~ Bab 16
17 MDND ~ Bab 17
18 MDND ~ Bab 18
19 MDND ~ Bab 19
20 MDND ~ Bab 20
21 MDND ~ Bab 21
22 MDND ~ Bab 22
23 MDND ~ Bab 23
24 MDND ~ Bab 24
25 MDND ~ Bab 25
26 MDND ~ Bab 26
27 MDND~ Bab 27
28 MDND~ Bab 28
29 MDND ~ Bab 29
30 MDND ~ Bab 30
31 MDND ~ Bab 31
32 MDND ~ Part 32
33 MDND~ Bab 33
34 MDND ~ Bab 34
35 MDND ~ Bab 35
36 MDND ~ Bab 36
37 MDND ~ Bab 37
38 MDND~ Bab 38
39 MDND ~ Bab 39
40 MDND~ Bab 40
41 MDND ~Bab 41
42 MDND ~ Bab 42
43 MDND~ Bab 43
44 MDND ~ Bab 44
45 MDND~ Bab 45
46 MDND~ Bab 46
47 MDND~ Bab 47
48 MDND~ Bab 48
49 MDND~ Bab 49
50 MDND~ Bab 50
51 MDND~ Bab 51
52 MDND~ Bab 52
53 MDND~ Bab 53
54 MDND~ Bab 54
55 MDND~ Bab 55
56 MDND~ Bab 56
57 MDND ~ Bab 57
58 MDND~ Bab 58
59 MDND~ Bab 59
60 MDND~ Bab 60
61 MDND~ Bab 61
62 MDND~ Bab 62
63 MDND~ Bab 63
64 MDND ~ Bab 64
65 MDND~ Bab 65
66 MDND ~ Bab 66
67 MDND~ Bab 67
68 MDND ~ Bab 68
69 MDND~ Bab 69
70 MDND ~ Bab 70
71 MDND ~ Bab 71
72 MDND~ Bab 72
73 MDND ~ Bab 73
74 MDND ~ Bab 74
75 MDND ~ Bab 75
76 MDND ~ Bab 76
77 MDND~ Bab 77
78 MDND~ Bab 78
79 MDND~ Bab 79
80 MDND~ Bab 80
81 MDND~ Bab 81
82 MDND~ Bab 82
83 MDND~Bab 83
84 MDND~ Bab 84
85 MDND~ Bab 85
86 MDND~ Bab 86
87 MDND~ Bab 87
88 MDND ~Bab 88
89 MDND~ Bab 89
90 MDND~ Bab 90
91 MDND~ Bab 91
92 MDND~ Bab 92
93 MDND~ Bab 93
94 MDND~ Bab 94
95 MDND~ Bab 95
96 MDND~ Bab 96
97 MDND ~Bab 97
98 MDND~ Bab 98 (End)
Episodes

Updated 98 Episodes

1
MDND~ Bab 1
2
MDND~ bab 2
3
MDND~ Bab 3
4
MDND~ Bab 4
5
MDND~ bab 5
6
MDND ~ bab 6
7
MDND ~ bab 7
8
MDND~ bab 8
9
MDND~ Bab 9
10
MDND~ Bab 10
11
MDND ~ Bab 11
12
MDND ~ Bab 12
13
MDND ~ Bab 13
14
MDND ~ Bab 14
15
MDND ~ Bab 15
16
MDND ~ Bab 16
17
MDND ~ Bab 17
18
MDND ~ Bab 18
19
MDND ~ Bab 19
20
MDND ~ Bab 20
21
MDND ~ Bab 21
22
MDND ~ Bab 22
23
MDND ~ Bab 23
24
MDND ~ Bab 24
25
MDND ~ Bab 25
26
MDND ~ Bab 26
27
MDND~ Bab 27
28
MDND~ Bab 28
29
MDND ~ Bab 29
30
MDND ~ Bab 30
31
MDND ~ Bab 31
32
MDND ~ Part 32
33
MDND~ Bab 33
34
MDND ~ Bab 34
35
MDND ~ Bab 35
36
MDND ~ Bab 36
37
MDND ~ Bab 37
38
MDND~ Bab 38
39
MDND ~ Bab 39
40
MDND~ Bab 40
41
MDND ~Bab 41
42
MDND ~ Bab 42
43
MDND~ Bab 43
44
MDND ~ Bab 44
45
MDND~ Bab 45
46
MDND~ Bab 46
47
MDND~ Bab 47
48
MDND~ Bab 48
49
MDND~ Bab 49
50
MDND~ Bab 50
51
MDND~ Bab 51
52
MDND~ Bab 52
53
MDND~ Bab 53
54
MDND~ Bab 54
55
MDND~ Bab 55
56
MDND~ Bab 56
57
MDND ~ Bab 57
58
MDND~ Bab 58
59
MDND~ Bab 59
60
MDND~ Bab 60
61
MDND~ Bab 61
62
MDND~ Bab 62
63
MDND~ Bab 63
64
MDND ~ Bab 64
65
MDND~ Bab 65
66
MDND ~ Bab 66
67
MDND~ Bab 67
68
MDND ~ Bab 68
69
MDND~ Bab 69
70
MDND ~ Bab 70
71
MDND ~ Bab 71
72
MDND~ Bab 72
73
MDND ~ Bab 73
74
MDND ~ Bab 74
75
MDND ~ Bab 75
76
MDND ~ Bab 76
77
MDND~ Bab 77
78
MDND~ Bab 78
79
MDND~ Bab 79
80
MDND~ Bab 80
81
MDND~ Bab 81
82
MDND~ Bab 82
83
MDND~Bab 83
84
MDND~ Bab 84
85
MDND~ Bab 85
86
MDND~ Bab 86
87
MDND~ Bab 87
88
MDND ~Bab 88
89
MDND~ Bab 89
90
MDND~ Bab 90
91
MDND~ Bab 91
92
MDND~ Bab 92
93
MDND~ Bab 93
94
MDND~ Bab 94
95
MDND~ Bab 95
96
MDND~ Bab 96
97
MDND ~Bab 97
98
MDND~ Bab 98 (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!