Perjalanan menuju ke kota membuat Bella menikmati perjalanan mereka. Ini bukanlah satu kali mereka jalan bersama, malahan sudah berkali-kali mereka lakukan. Lagu romantis juga di hidupkan Bastian, ia ingin suasana mereka berdua menjadi semakin menyatu.
Bella malahan terpikirkan akan wajah Henry. Senyuman itu tak sengaja terbit di wajah Bella saat melihat luar kaca. Namun berbeda saat Bastian memperhatikan tingkah Bella dengan mencuri-curi pandangan. Bastian berpikir pasti Bella sudah mulai menerima dirinya.
Saat ini mobil telah berhenti di parkiran studia musica. Sebelum berbelanja keperluan tokoh, Bella dan Bastian mengantarkan kue dulu ke sana. Bastian adalah keponakan, Dona. Wajar jika pria itu selalu mengikuti Bella kemana pun saat ia libur bekerja.
Tak sengaja keduanya melihat Alano dan Rose turun dari dalam mobil. Bella tentunya bertanya-tanya siapa wanita cantik itu.
Bastian memperhatikan pandangan Bella tertuju pada satu tempat, ia pun tersenyum. "Kau pasti sudah tau nama tuan kecil Alano bukan? Itulah nama anak itu. Nah... Sedangkan wanita itu adalah istri kedua tuan Henry. Mereka baru saja menggelar pernikahan kurang lebih satu bulan yang lalu. Mereka juga libur bulan madu di tempat kau berjual kue. Apakah mereka tidak mampir kesana? Ataukah kau mengenal tuan Henry waktu mereka ke sana?" Bastian masih penasaran bagaimana bisa Bella bertemu dengan bos-nya itu.
Hati Bella kini terasa pedih. Kenapa Henry tidak bercerita bahwa waktu itu adalah hari bulan madu mereka? Malahan anak dan ayah itu menginap di tempatnya. Apa gara-gara wajahnya yang mirip dengan wajah almarhum istri pertama Henry membuat rumah tangga yang baru di bina menjadi terpecah belakan?
"Um... Aku bertemu dengan tuan Henry saat mereka berkunjung membeli kue." Bella merasakan patah hati nasional kalau seperti ini. Sepertinya ia harus menjauhi Henry sebelum hatinya semakin sakit. Bahkan bisa saja ia merusak rumah tangga yang bahagia itu.
"Tapi aku dengar gosip yang bertebaran, tuan Henry dan nyonya Rose sangat bahagia dalam rumah tangga mereka. Menduda selama 3 tahun dan akhirnya tuan Henry kembali bangkit serta memutuskan menikah dengan nyonya Rose itu adalah kisah romantis yang terdengar menyenangkan. Apalagi katanya mereka itu cinlok, cinta lokasi. Secara nyonya Rose adalah sektretaris tuan Henry. Kemana-mana mereka selalu berdua dan bersama. Pasti tidak lama lagi nyonya Rose akan hamil. Kami semua menantikan kabar gembira itu." Bastian menceritakan kisah cinta bos-nya yang bertebaran di perusahaan tempatnya bekerja.
Wajah Bella begitu terlihat sedih. Bastian sedikit memiliki kecurigaan, namun ia kembali terpikir bahwa Bella menginginkan cerita bahagia itu.
"Lebih baik kau antar kue ini ke nyonya Dona. Aku mau membalas pesan dari pelanggan dulu Bas. Tolong ya." Bella tidak mau bertemu lagi dengan Alano maupun Henry. Bahkan sampai-sampai bertemu dengan wanita bernama Rose.
Bella tak tahu mengapa. Ia rasanya saat ini menjadi wanita yang sudah mengganggu rumah tangga orang lain.
"Iya sudah kau selesaikan tugas mu. Aku mau mengantarkan kue ini dulu." Bastian menyetujui akan hal itu. Pekerjaan Bella setiap harinya semakin banyak. Ia juga merasa senang jika ia dapat membantu.
.
.
Henry telah mendapatkan rambut Alano, saat anaknya itu menggunting rambutnya kemarin di salon bersama dengannya. Henry tidak menceritakan pada Alano bahwa ia saat ini membutuhkan rambut anaknya itu. Seharusnya bukti itu saja sudah cukup. Akan tetapi lebih meyakinkan, Henry harus meminta rambut mertuanya juga.
Kedatangan siang ini telah di tunggu keluarga besar Emillia. Henry memang sangat dekat dengan keluarga istrinya itu. Selain kakak Emillia adalah teman dekatnya sewaktu mereka kuliah di luar negri, mereka juga partner bisnis dalam sebuah pekerjaan pertambangan batu intan permata.
"Apa kabar Hen?" tanya pria paruh baya yang menyambut Henry secara langsung sembari mereka bersalaman. Filippo Gavino, ia kepala keluarga kaya, pemegang batu intan permata bagian selatan. Pria itu juga yang memberikan pendapat agar Henry bisa menikah lagi dan melupakan anak keduanya itu.
"Saya baik-baik saja dad. Apa kabar daddy?"
"Saya juga baik-baik saja. Ada apa kau ke sini? Sepertinya ini sangat penting sampai-sampai kau tidak membawa cucu kesayangan ku?" Filip biasa melihat Alano saat Henry berkunjung ke rumahnya.
"Kau sudah datang ternyata. Apa kabar?" suara pria muda berusia di atas setahun dari Henry, dialah kakak Emillia, teman, sekaligus kakak iparnya, Adrian Filippo.
"Aku baik-baik saja. Apa kabar kau sekarang? Aku dengar kau akan segera menikah?" Henry berjabat tangan dengan Adrian.
"Itu hanyalah gosip belaka saja. Aku belum memutuskan untuk menikah saat ini. Mungkin setelah mendapatkan keponakan baru." Andrian menyindir Henry.
Henry tertawa kecil. "Sepertinya kau menantikan hal itu. Tentu aku akan membuat lagi bersama Emillia." Henry tak menginginkan nama Rose masuk di antara pembicara mereka.
Kedua insan beda usia itu tertawa bersama. "Mari lebih baik kita duduk dulu." Andrian mengajak duduk bersama. "Lupakanlah Emillia. Kau juga tidak perlu tidak enakkan pada kami semua. Kau pantas bahagia dan memiliki keluarga baru lagi Hen." jelas Andrian yang tahu persis perasaan Henry pada adik kandungnya itu.
Henry tersenyum, mungkin kedua insan di hadapannya itu akan terkejut dengan berita yang akan ia sampaikan.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, Hen." Filip mengingatkan kembali.
Henry mengeluarkan sebuah kertas putih di hadapan kedua insan itu. "Maaf dad, bukan aku tidak mau menjawab. Kutu buku ini mengajak ku berbicara terus." panggilan Henry terhadap Andrian yang suka membaca buku. "Kalian lihatlah ini dulu."
Andrian mengambil kertas putih itu dengan mengeluarkan sebuah gambar wanita cantik. Filip yang berada di samping Andrian terdiam satu sama lain.
"Untuk apa kau memperlihatkan foto Emillia kepada kami Hen? Kau sudah gila ya sampai-sampai bertingkah seperti ini?"
"Bella, itu nama wanita di foto itu, bukan Emillia." jelas Henry membantah tuduhan Andrian.
Sontak saja kedua insan itu terdiam dan terkejut. "Apa maksud mu Hen?" Filip masih bingung maksud menantunya.
"Dia sangat mirip bukan dengan Emillia, dad. Aku bertemu dengannya di daerah dekat pesisir pantai sebelah timur. Wanita itu tidak mengenal aku mau pun Alano. Bahkan wanita itu bersuara sama seperti Emillia."
"Apa?" Andrian dan Filip benar-benar terkejut atas penjelasan Henry. "Kau serius tentang wanita ini Hen?" Andrian masih belum percaya atas perkataan Henry.
"Makanya aku datang ke sini untuk meminta rambut daddy. Aku mau tes DNA pada rambut Bella. Aku secara diam-diam telah mendekati wanita itu." jelas Henry kembali.
"Kalau begitu kenapa tidak kau bawa ke sini Hen? Jangan-jangan ini benar Emillia. Terus mayat yang di temukan itu, mayat siapa? Jangan bilang ini,"
"Benar Adrian. Aku sedang menyelidiki semuanya. Aku saja belum bisa mendekati wanita itu secara terang-terangan. Aku takut dia semakin menjauhi ku. Setelah aku yakin. Aku akan bawa dia ke sini menemui kalian berdua. Aku juga sudah memerintahkan orang-orang terbaik untuk memperhatikan gerak-gerik kemana Bella pergi. Aku harap kalian bisa lebih bersabar sampai aku mendapatkan hasilnya nanti." Henry tidak mau Filip maupun Andrian ikut campur. Bisa-bisa pergerakannya terbaca oleh musuh-musuhnya itu.
"Lalu ada yang aku tanya pada daddy. Daddy yakinkan bahwa saat mommy Marta melahirkan hanya satu bayi bukan kembar?" Henry harus mendengar kabar itu sekali lagi dari mulut mertuanya.
Sebelum pernikahan di mulai, semua keluarga harus menjelaskan siapa-siapa anggota keluarga mereka. Agar keluarga mereka bisa mempermudah menjaga tali silaturahmi.
"Aku yakin Hen. Saat Marta melahirkan Emilia, aku berada di sisi sampingnya. Itu pun jalur operasi. Tidak mungkin Emillia mempunyai kembaran. Kalau dari raut wajahnya saja, aku yakin seratus persen ini adalah anak ku Emillia." jelas Filip terus melihat foto di tangan Andrian. Di saat itulah istrinya meninggal dunia.
Emillia penuh dengan penyesalan, ia menganggap sebagai anak yang membunuh ibu kandungnya sendiri. Padahal Marta memang mempunyai kanker otak stadium akhir. Ia berjuang bertahan demi anak yang ia kandung tanpa sepengetahuan mereka. Kandungan yang ternyata sudah cukup besar, barulah mereka menyadari bahwa Marta sedang mengandung Emillia.
Mereka kira saat itu Marta tidak akan bisa hamil gara-gara riwayat penyakit yang ia derita. Namun sebagai ibu, wanita itu terus mempertahankan kandungannya sampailah titik ia melahirkan dan meninggal dunia.
"Kalau begitu dad, izinkan aku meminta beberapa helai rambut mu. Aku ingin mencari kebenarannya. Aku juga akan membalaskan perilaku orang yang telah memisahkan Emillia dari kita semua. Aku harap kalian bersabar sampai aku membawa Emillia ke sini." Henry akan melakukannya sendiri secara diam-diam.
Andrian dan Filip melihat satu sama lain. "Kami percayakan pada mu Hen. Kami akan menunggu kembalinya Emillia." Filip tanpa sadar meneteskan air matanya. "Aku sangat merindukan anak ku." ia pun tidak bisa menahan kesedihannya sampai saat ini. Dua wanita yang ia punya tidak berada di sisinya lagi.
Saat mengetahui anak perempuannya masih hidup. Ada secercah harapan untuk Filip bangkit menjalankan kehidupannya. Saat ini pria paruh baya itu sudah memasuki waktu akhir pensiunannya. Sebelum ia tidak berada lagi di dunia ini, ia ingin bertemu dengan anak perempuannya dan memeluknya.
Saat waktunya ia harus pergi meninggalkan dunia, ia akan bercerita pada almarhum istrinya saat mereka bertemu lagi di dunia lain. Anak-anak mereka sangat bahagia menjalankan kehidupan di dunia ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Vivie
Nahkan Bella akhirnya tau kalau Henry sdh menikah sedangkan Henry masih berusaha mencari bukti apa yg terjadi selanjutnya 🤔
2024-03-24
0
juhaina R💫💫
usaha trusss Bastian biar Henry gercap juga menyelesaikan mslh ini...
kan bnr blm apa2 Bella udh kecewa.
2024-03-23
0
Syafrida Kadir Ida
Henry dan Emill(Bella)i sm2 klg kaya.. pastinya semakin cepat mengungkap siapa Bella sebenarnya
tp, sayang sekarang Bella merasa sedih krn tau Henry sdh menikah dgn sekretaris nya si Rose.. Hen kamu hrs bergerak cepat
2024-03-23
0