Bukan sekedar tatapan kosong lagi yang di rasakan Rose. Suaminya kini hanya berdiri di depan kaca sembari melihat pesisir pantai, di dalam hotel kamar milik mereka.
Pikiran apa yang merasuki pria itu? Sedari pagi mereka menikah, Henry dengan cepat berubah. Walau wajah tampan itu memang sedari dulu terlihat dingin dan kejam, butuh waktu lama pula Rose bisa meluluhkan hati itu.
Namun sepertinya, cintanya tak sama sekali terbalaskan. Sepulang membeli kue siput Henry memakan kue itu tanpa menawarkan Rose sedikit pun. Hanya Alano dan Cendro saja yang di tawarkan.
Perubahan yang sangat intens Rose rasakan. "Sayang..." panggil Rose dengan lembut sembari memeluk Henry dari belakang.
"Mmm... Ada apa?" Henry melepaskan pelukan Rose dengan melihat ke arah wanita di belakangnya itu.
Penampakan Rose kini tengah menggunakan pakaian lingerie dress berbahan satin. Akan tetapi Henry tak sedikit pun merasa gairah akan bentuk tubuh Rose yang hampir terlihat sempurna.
"Kamu kenapa sih, dari tadi melamun aja? Apa kamu lagi banyak pikiran?" Rose melingkari kedua tangannya ke leher Henry, "Katakanlah jika ada sesuatu yang mengganjal hatimu, Hen." kedua netra matanya menatap kedua aurora mata Henry.
Henry melepaskan tangan Rose dengan hampir wanita itu ingin mencium bibirnya. "Aku capek Rose. Aku mau istirahat." saat ini ia tak ingin di ganggu oleh Rose dan segera beristirahat saja.
Rose semakin gusar dengan perilaku Henry. Pria itu tak sama sekali tertarik dengannya. Kata sayang saja kini telah hilang. Saat ini Rose tak akan segan-segan merayu Henry. Ia juga sudah menyingkirkan Alano sementara waktu bersama dengan Cendro, agar tak menganggu permainan panas mereka.
Henry dengan santai tidur di atas ranjang. Walau matanya terpejam, pikirannya terus terbayang akan wajah Bella. Rindunya semakin memuncak, sampai pikirannya terpecahkan akibat Rose memeluk dari belakang.
"Sayang... Kamu enggak berpikir untuk melakukan sesuatu dulu sebelum tidur." Rose perlahan mencium lekukan leher Henry.
Henry teringat akan sesuatu. Ia pun menoleh ke arah Rose. "Rose... Apa kau yakin, jasad yang di temukan itu adalah Emilia?"
Deg!
Rose terdiam, nama wanita yang sudah begitu lama tak terdengar dari mulut Henry, kini tersebut kembali. Ada apa gerangan Henry membahas almarhum istrinya itu? "Bukannya kamu yang melihatnya sendiri Hen. Tubuh dan," Rose memegang kedua tangannya, merinding, dan rasa ketakutan tampak terlihat dari mimik wajah Rose.
"Kalau tes DNA-nya, apakah itu benar-benar sama Rose?" Henry begitu tak yakin akan hasil semua itu.
Rose kembali memeluk Henry. "Kamu sendiri yang mendengarnya Hen. Dokter telah menyatakan bahwa itu jasad dari Emilia. Kenapa? Apa kamu masih ragu? Apa kamu ingin menggali lubang kubur yang saat ini jasadnya saja telah menjadi abu? Oh tentu abu itu sekarang sudah meresap ke dalam tanah Hen. Maka berhentilah memikirkan dia. Bukannya sekarang ini adalah hari bahagia kita berdua. Kamu pantas untuk bahagia Hen. Dia juga sudah berbahagia di dunia lain." Rose perlahan membuka kancing pakaian Henry.
Henry memegang tangan Rose, "Berhenti! Aku nggak berniat untuk melakukan itu. Lebih baik kau segera beristirahat atau pergi keluar." Henry menjauhi tangan Rose dari tubuhnya.
"Sayang... Kenapa kamu berubah begini? Bukannya kamu sendiri yang mengajak ku menikah. Kamu juga berjanji akan mencintai ku dan menikmati waktu bulan madu kita selama satu minggu di sini. Kenapa kamu malah masih memikirkannya almarhum istri mu itu?" Rose gelisah atas perubahan singkat Henry. Butuh waktu lama ia meluluhkan hati pria pujaannya. Namun kini pria itu berubah secepat kilat.
"Oh... Kau lupa Rose. Aku menikahi mu hanya demi mommy dan Alano. Aku juga ingatkan padamu, saat ini aku tidak menyukai pernikahan ini."
"Tidak Hen! Kamu tidak bisa seperti ini! Aku mencintaimu Hen. Kamu telah berjanji akan menikmati bulan madu kita."
"Tapi aku sama sekali tidak mencintai mu Rose. Besok kita akan kembali ke kota." Henry segera turun dari atas ranjang. "Aku rindu dengan Alano. Beristirahatlah hari ini. Lagian pekerjaan ku sangat banyak di kantor. Kamu pasti tau akan hal itu."
"Sayang..." Rose dengan cepat turun dari ranjang dan menghadang langkah Henry. "Di kantor sudah ada Aldo. Kamu tak perlu lagi khawatir dengannya." Rose kembali melingkari leher Henry. Ia tak akan melewati momen ini.
"Makanya aku semakin khawatir Rose. Dia masih baru di sana. Walau dia sudah banyak belajar dari mu, tapi aku belum bisa memastikan bahwa dia telah terlatih dengan baik. Perusahaan milik keluarga kami tak sekecil yang kau bayangkan Rose." Henry memeluk Rose dengan menggendongnya untuk membawa ke atas ranjang.
Bukan untuk memuaskan hasratnya. Akan tetapi meletakkan Rose agar tidak mengganggu lagi jalannya. "Istirahatlah. Aku mau menemui anak ku." perintah Henry dengan tatapan datar sembari melepaskan Rose. Kakinya kembali melangkah keluar kamar.
Rose mengeratkan kedua tangannya ke sprei putih yang menyelimuti ranjang itu. 'Aku tak akan menyerah Hen. Aku akan mendapatkan hatimu segera mungkin. Tak akan ada wanita lain lagi yang memiliki mu kecuali aku.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Evi
emg membasmi ulet keket itu radak susa ya??
2024-04-06
0
Alexandra Juliana
Klo agresif gitu dan g nyaman saat Henry menyebut nama mendiang istrinya rada2 curiga klo Rose terlibat dgn kematian Emilia..Sepertinya Rose type2 wanita licik niihh..
2024-03-28
0
Alexandra Juliana
Rose sepertinya pengen di garuk niihh, kegatelan...
2024-03-28
0