Bella telah bangun duluan dan menyiapkan sarapan pagi. Sedangkan Alano dan Henry baru selesai mandi dan keluar kamar. Mereka berdua masih menggunakan pakaian yang sama.
Ayah dan anak itu sangat kompak saat melihat Bella sedang meletakkan masakannya di atas meja. "Ayo kalian berdua duduk dan sarapan dulu. Maaf ya jika masakan ku kurang enak di lidah kalian."
Dua pria beda usia itu mengikuti perintah Bella dengan Henry menarik kursi untuk Alano duduk dengan di ikuti dirinya. Mereka berdua melihat masakan yang terlihat sangat lezat. "Apakah ini kau sendiri yang memasaknya Bel?" Henry terlihat sangat familiar dengan masakan pagi itu.
"Iya tentu aku sendiri yang memasaknya tuan. Apa anda ingin memakan yang lain? Nanti aku akan memasak sesuai selera anda."
"Oh tidak perlu Bel. Ini saja sudah cukup. Maaf kalau kami terus saja menyusahkan mu dari kemarin."
Bella tersenyum riang. Pagi ini ia sangat bersemangat adanya dua pria yang menemaninya semalam. Biasanya Bella akan kesepian setelah menutup tokohnya. "Enggak kok tuan. Malahan aku sangat senang jika ada orang yang menginap di sini termasuk kalian berdua. Aku jadinya ada teman." Bella duduk di hadapan Henry dan Alano. "Ayo, mari kita makan."
Henry dan Alano memakan masakan Bella. Lidah dua insan itu terus saja merasakan sesuatu yang berbeda. Dimana Henry dan Alano merasakan suasana itu bagaikan mereka adalah keluarga yang sangat bahagia.
"Bel. Apakah di sini sering ada orang asing yang menginap selain kami berdua dan nyonya Dona?" Henry ingin tahu tentang itu. Ia tidak bisa membiarkan orang lain lagi untuk mendekati wanita yang mirip istrinya.
Bella tersenyum sembari mengunyah makanan. "Tentu hanya kalian saja. Aku juga sebenarnya tidak bisa dengan mudah menerima orang lain masuk ke rumah ini. Akan tetapi ada teman ku Bastian sering main ke sini." jelas Bella dengan pria yang masih mengejarnya itu.
Alano dan Henry melihat satu sama lain dengan sekilas saja.
"Siapa pria yang bernama Bastian itu mommy?" Alano sangat tidak menyukai ada pria lain yang mendekati Bella.
Bella masihnya tersenyum. Ia sangat mengerti saat melihat wajah Alano yang terlihat kesal. "Dia pria yang saat ini tengah mengejar ku, Al. Dia pria yang baik. Bisa kemungkinan kami akan menikah nantinya."
Alano semakin kesal mendengar Bella akan menikahi pria lain. "Kenapa mommy tidak menikah dengan daddy ku saja?" celetuk Alano menujuk Henry.
Henry tersentak atas perkataan Alano. Anaknya begitu saja to the poin dalam setiap tindakan.
"Maafkan Alano, Bel. Dia masih anak kecil dan belum tau apa-apa."
"Tidaklah masalah tuan. Aku mengerti." Bella melihat ke Alano. "Kau pasti marah jika aku menikah dengan Bastian. Tapi aku juga tidak bisa menikah dengan daddy mu."
"Kenapa?" tanya serentak Alano dan Henry.
Tentu Bella kebingungan atas tingkah laku kedua pria di hadapannya itu. Secara tidak langsung dua insan itu menginginkan dirinya bisa menikahi pria asing yang baru saja ia jumpai kemarin. Bukannya pria di hadapannya itu masih mencintai almarhum istrinya. "Apa gara-gara aku mirip dengan almarhum wanita itu, kalian berharap aku bisa menjadi keluarga kalian?"
Alano dan Henry begitu saja mengangguk serentak. Sepertinya mereka berdua juga belum sadar akan tingkah laku mereka itu. Termasuk Henry yang merasa Bella menolaknya secara terang-terangan.
"Emangnya seberapa mirip aku dengan wanita itu? Apa wajah ku benar-benar semirip itu, atau hanya sekilas saja miripnya?" Bella ingin tahu sebenarnya wajahnya ini apakah sangat sama dengan wanita yang pernah singgah di hati kedua pria itu.
Henry mengeluarkan ponselnya. Ia masih menyimpan berbagai foto Emillia. "Lihatlah ini." Henry memberikan ponselnya begitu saja. Siapa tahu dengan Bella melihat wajah Emillia, wanita di hadapannya itu mengingat sesuatu.
Bella tentunya mengambil dan melihat foto itu. Betapa terkejutnya ia. Bella langsung berdiri dan berkaca. Wajahnya benar-benar sangat mirip, hanya saja berbeda rambutnya saja. Rambut Bella dari sananya berwarna kecoklatan bukan kuning seperti di foto itu.
Bella menjadi bertanya-tanya. Apa mungkin dia sebenarnya memiliki kembaran? Bella kembali duduk di tempat semula. "Apa kalian mengenal keluarga wanita ini?"
"Apa kau mengingat sesuatu Bel?" Henry semakin penasaran.
"Mengingat sesuatu. Ah tidak! Aku hanya ingin bertanya pada mereka. Apa mungkin aku memiliki saudari kembar? Aku saja di temukan nyonya Dona di panti asuhan."
"Setahu ku Emillia tidak memiliki kembaran. Mereka sangat dekat dengan keluarga kami." jawab Henry.
"Bisa saja orang tua kami merahasiakan sesuatu atau hal lainnya tuan. Terlihat jelas wanita di foto ini sangat mirip dengan ku. Hanya saja kami berbeda dari segi rambutnya saja." Bella menyerahkan ponsel Henry.
"Akan tetapi rambut aslinya sama dengan rambut mu Bel." jelas Henry.
Deg!
Alano dan Bella terkejut atas pengakuan Henry.
"Berarti bisa saja anda mommy ku Emillia." Alano semakin yakin jika Bella adalah mommy-nya.
Bella kebingungan. Jika dia adalah wanita itu, kenapa Dona mengakui bahwa dia mempunyai riwayat amnesia dan di angkat sedari kecil. "Ka-kalau boleh tau wanita itu mati karena apa?"
"Kecelakaan." jawab Henry langsung. "Apa kau mengingat sesuatu?"
Bella langsung tertawa kecil. "Mengingat apa tuan. Aku tidak mengingat apapun. Sudahlah, mungkin semua ini hanya kebetulan saja. Lebih baik kita lanjutkan sarapannya. Aku juga harus membuka tokoh. Nanti para pelanggan ku marah-marah lagi. Mereka sangat menyukai kue, dan menjadi makanan utama di pagi hari." jelas Bella yang akan bertanya pada ibu angkatnya itu. Tidak mungkin ini hanya sekedar kebetulan saja.
Jika benar dia adalah wanita itu, berarti kedua pria tampan di hadapannya adalah suami dan anaknya. Entah rasanya Bella merasa sangat senang akan hal itu.
Alano dan Henry melihat satu sama lain. Sepertinya mereka harus lebih bersabar lagi.
'Aku yakin Bel, kau itu Emilia. Aku harus menemui Elio. Pasti dia telah menemukan sesuatu di dalam kuburan itu.' Henry akan terus mencari bukti dan tidak akan melepaskan istrinya ke tangan pria lain. Walau nanti Bella bukanlah istrinya, ia akan menjadikan Bella sebagai pengganti Emillia. Itu sepertinya lebih baik dari pada dia menikahi Rose.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Riaaimutt
he ? 🤣🤣🤣
2024-03-22
0
Vivie
apa Dona ini ikut dalam berperan dalam kematian Emillia semakin menjadi teka teki baru🤔🤔🤔
2024-03-19
0
juhaina R💫💫
smoga semua bisa terungkap,, dan kalian bisa bersama lagi menjalani rmh tangga yg sudah terlewatkan...
2024-03-19
0