Henry dan Alano menyantap makanan dengan Alano mengingat sesuatu.
"Mommy... Masakan mu sangat enak. Aku menyukai masakan mu. Oh iya, apakah mommy bekerja di studia musica?"
Henry hanya diam dan menikmati sarapan pagi itu. Entah apalagi yang akan di lakukan anaknya.
"Syukurlah kalau kau suka masakan ku. Aku di tempat itu hanya membantu ibu angkat ku saja. Biasanya di hari itu banyak anak-anak yang datang. Nyonya Dona sangat kewalahan menghadapi semua anak-anak di sana. Makanya aku membantu beliau dengan cara membersihkan tempat setelah mereka semua pulang."
"Jika begitu. Apakah kue yang di bagikan secara gratis di hari itu adalah kisah hidup mu mommy? Soalnya kami harus berdoa dulu sebelum makan kue itu. Kata Miss Caterina itu adalah sebagai bentuk seseorang yang telah hidup untuk yang kedua kalinya. Beliau telah selamat dari sebuah kejadian yang hampir saja meregang nyawanya. Tapi dia selamat dari sebuah tragedi itu. Makanya dia membagikan kue itu pada kami secara gratis."
Henry ingin mendengar penjelasan dari Bella. Sebenarnya ia juga ingin bertanya dengan kisah itu, tapi masih bingung memulai dari mana.
"Oh soal kue siput. Aku hanya membuatnya saja. Kisah itu sebenarnya di alami oleh nyonya Dona. Dia mengalami kejadian kecelakaan dan selamat dari tragedi yang menerpanya. Makanya dia memberikan syukur atas tuhan yang mengizinkannya untuk hidup dengan membagikan makanan seperti kue siput khas daerah sini." jelas Bella dengan apa yang ia dengar dari cerita ibu angkatnya itu.
Alano dan Henry begitu tidak yakin. Jelas-jelas ini semua pasti sudah di rekayasa.
Henry semakin geram. Pasti wanita bernama Dona itu memiliki hubungan dengan ini semua. Kebohongan bahkan semua rekayasa yang di perbuat pasti menyangkut wanita cantik di hadapannya ini. Henry semakin membenarkan bahwa Bella adalah Emillia.
Semua selesai makan dengan Henry menekan layar ponselnya untuk mengetahui apakah Cendro telah datang menjemputnya. Henry harus bergerak secepat mungkin sebelum ada orang yang menyadari bahwa Emillia sebenarnya masih hidup. Semoga dugaannya ini benar.
Ternyata Cendro telah datang. Henry telah menghubungi sopirnya itu saat bangun pagi. Perjalanan juga tidak terlalu jauh, makanya Cendro cepat sampai ke lokasi.
"Maaf Bel. Aku dan Alano sepertinya harus kembali ke kota. Hari ini aku banyak pekerjaan."
"Daddy, bukannya kita sudah ambil libur satu minggu untuk berada di sini?" Alano masih ingin bersama dengan Bella.
"Tapi aku harus bergegas mencari bukti Al. Semoga kau mengerti maksud ku. Jika kau berada di sini, aku tidak akan bisa fokus bekerja."
"Apa pekerjaan anda seorang detektif tuan?" Bella menyalip perkataan Henry.
"Oh, tentu bukan. Aku, aku,"
"Daddy ku seorang CEO pertambangan batu permata mommy. Dia pria yang sangat kaya. Bahkan saat ini daddy, mmm... Mmm..." mulut Alano di tutup oleh Henry. Ia takut Bella menjauhinya.
Henry sangat tahu, bahwa kemiripan Bella dan Emillia sangat sama. Maka pastinya Bella akan menjauhi, bahkan perilakunya akan berbeda saat derajat mereka tidak sama. Henry tidak mau ada yang berubah dari Bella.
"Maaf anak ku terlalu berisik. Kami hanyalah rakyat biasa. Kami juga enggak terlalu memandang tinggi dan derajatnya seseorang. Kami—"
"Tenanglah tuan. Aku mengerti apa maksud anda. Jangan berpikir aku tidak tau apa-apa. Kalian memang berbeda dari yang lainnya. Buktinya saja kalian mau makan, tidur dan lain-lainnya di tempat seperti ini bersama ku. Apa pun pekerjaan dan usaha yang anda miliki semoga itu bisa bermanfaat untuk kalian dan orang lain." jelas Bella yang telah meragukan sedari awal saat melihat cara berpakaian serta tingkah laku yang berbeda dari rakyat biasa.
Pakaian kelas mahal yang mereka gunakan saja sudah membuktikan bahwa mereka bukan orang sembarangan. Hanya saja Bella tidak tahu Henry dan Alano dari keluarga kaya mana. Hati dan pemikiran mereka berbeda.
Henry tersentak. Bella kali ini berbeda dari almarhum istrinya itu. Ia melihat Bella jauh lebih dewasa dalam berpikir. Kalau almarhum istrinya masih bisa di katakan berpikir soal etika dan attitude karena Emillia termasuk keluarga kaya. Apa ini di sebabkan Bella hilang ingatan, atau memang dia bukan Emillia?
"Terimakasih atas pengertiannya Bel. Kalau begitu kami permisi untuk pulang. Terimakasih juga telah memberikan tempat untuk kami, serta telah memberikan makanan." Henry berdiri dan menurunkan Alano.
Alano akan mengikuti kehendak daddy-nya itu saat ini. Dia juga bisa bertemu kembali dengan Bella saat belajar di tempat kursusnya. Ia juga harus bersabar dengan pencarian daddy-nya itu. Semoga Bella benar-benar mommy-nya.
"Tidaklah masalah tuan. Kapan-kapan kalian boleh main ke sini bahkan menginap lagi. Tapi sebelum itu hubungi aku dulu takutnya tidak ada di rumah."
Henry dan Alano tersenyum sembari melihat satu sama lain. "Baiklah kalau begitu. Kapan-kapan kalau ke wilayah ini aku dan Alano akan mampir. Jangan tidak di terima kalau kami menginap lagi." canda Henry yang penuh dengan arti.
Bella tertawa kecil. "Pintu ku selalu terbuka untuk kalian." balasnya sembari mengikuti langkah kaki Henry dan Alano keluar rumah melalui pintu samping.
Mobil mewah ternyata telah terparkir di depan toko itu. "Dada mommy... Sampai berjumpa lagi..." teriak Alano sebelum masuk ke dalam mobil yang pintu itu telah di buka Cendro.
Bella melambaikan tangannya dengan senyuman manis. Cendro yang melihat juga tersenyum. Alano terus melambaikan tangannya sampai ia tidak bisa melihat Bella.
.
.
Rose tengah menuju ke rumah Henry dengan Aldo menggunakan mobil yang biasa mereka tumpangi bersama. Tadinya Aldo adalah sopir khusus Rose jika mau berangkat ke kantor. Tapi kini pria itu telah menjadi sekretaris Henry.
"Aku mempunyai tugas untuk mu Do." Rose masih kesal dengan anak tirinya itu. Seharusnya ia malam tadi menghabiskan malam pertama dengan pria idaman. Namun malahan ia tidur kembali dengan simpanannya itu.
Walau permainan Aldo membuat Rose terus ketagihan, tapi Rose yang haus rasa dari sang suami, ia juga ingin merasakan permainan dari Henry yang bisa menghasilkan Alano saat ini.
"Apa itu nyonya?" Aldo kembali pada mode sekretaris suami Rose. Tapi jika mereka sedang di dalam kamar. Semua yang menempel pada martabat serta derajat itu tidak di pergunakan.
"Kau harus menyingkirkan Alano secepat mungkin."
Aldo tertawa kesal. "Pola pikir anda seharusnya tidak dengan cara seperti dulu lagi nyonya. Seharusnya anda berpikir cara untuk mendapatkan hati anak itu. Biasanya seorang anak yang dekat dengan mommy-nya pasti sang daddy-nya akan lambat laut terpikat juga. Saya adalah seorang pria nyonya. Jadi saya lebih tahu naluri seorang daddy pada anaknya. Begitu juga anda nyonya, bayangkan saja jika posisi Alano adalah anak kandung anda. Jika suami anda mati dan ada pria yang mendekati anak anda, pasti lambat laun anda juga akan luluh." Aldo saat ini akan dikit demi sedikit mempengaruhi Rose.
Kenapa tidak sedari dulu ia lakukan, karena sebuah alasan terletak pada finansial mereka. Sekarang Aldo telah memiliki itu. Sekarang waktunya ia akan merebut Rose dari Henry. Bahkan bisa saja pria itu akan menyingkirkan saingannya.
"Tapi anak itu sangat sulit untuk di dekati Do. Bahkan kemarin saja dia nekat kabur lagi, entah kemana? Sampai detik ini pun Henry tidak memberikan kabar kepada ku." Rose tidak tahu harus melakukan apalagi untuk meluluhkan hati Alano yang terus kepikiran dengan mommy kandungnya.
"Anda itu hanya dekat saat di depan tuan Henry nyonya. Saya perhatikan anda akan acuh saat tidak ada tuan. Ini hanya pendapat saya saja. Jika anda menyingkirkan tuan kecil, maka di saat itulah tuan Henry akan mencurigai semua orang termasuk saya dan anda."
Apa yang di katakan Aldo memang benar, Rose tidak boleh mengambil keputusan itu lagi. Kemarin saja semua bukti itu sangat susah meyakinkan Henry bahwa itu benar-benar jasad Emilia.
"Nanti aku coba mendekati Alano lagi. Semoga saja anak itu tidak banyak ulah lagi. Aku juga harus secepatnya hamil anak Henry."
Aldo tersenyum tipis. 'Itu semua tidak akan terjadi Rose.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Vivie
Hei tepung terigu sedar diri ya siapa kamu itu hamil hamil terlalu menghalu kau
2024-03-20
0
Syafrida Kadir Ida
semoga Henry secepatnya dpt bukti benar tidaknya..ttg kematian Emili
2024-03-20
0
dika edsel
hamil anak bang hen..dalam mimpimu..!!! yg ada kau hamil anak bang dodo ha..ha...!!! rose..rose.. cepatlah bangun ini dah siang...
2024-03-20
0