Cendro kembali ke kamar dengan dokter dan suster yang menangani Alano. Mereka tak melihat lagi Alano di kamar itu.
"Tuan, tuan, tuan. Di mana anda?" Cendro mencari ke kamar mandi, bawah ranjang, bahkan lemari kecil maupun besar ia lihat.
Dokter dan suster pun ikut membantu mencari Alano di ruangan itu. Cendro semakin khawatir. Bercak darah Alano saja sudah berhenti di atas ranjang itu. Namun tas tuan kecilnya tidak ada. 'Jangan-jangan tuan muda kabur.' Cendro langsung mendekati dokter dan suster yang masih mencari Alano. "Dok bantu carikan tuan Alano. Kalau sudah ketemu tolong hubungi saya. Saya mau mencari dia di luar." pinta Cendro dengan cepat berlarian ke luar kamar. Saat ini ia sangat khawatir, jika tuan besarnya tau, kali ini ia benar-benar akan di hukum.
.
.
Henry telah memesan beberapa menu untuk mereka makan, ia pun mendekati Rose. "Kau makanlah duluan. Aku mau ke toilet sebentar." perintah Henry yang ingin menghubungi orang lain dulu.
Bukan sekedar orang lain biasa, bahkan ini adalah sahabat dekatnya. Seorang yang mampu dan bisa menemukan semua yang di minta Henry begitu cepat.
Henry menunggu suara sahabatnya itu saat setelah ia sampai di depan toilet. Ia tidak melihat Rose mengikuti dan langsung saja meletakkan ponselnya di telinga.
"Why brother?" suara itu seketika saja terdengar.
"Kau dimana sekarang?"
"Aku habis berenang. Ini baru saja duduk santai. Why?"
"Aku ada tugas penting untuk mu."
Suara tertawa puas terdengar di seberang telepon. "Tugas apalagi Hen? Kau itu lagi menikmati masa bulan madu. Masih sibuk dengan pekerjaan. Sudahlah, kau lebih baik menikmati masa-masa panas ini. Oh... Atau kau lupa dengan permainan itu? Apa aku harus mengajarkan mu kembali agar lebih jago dalam bertarung?"
"Ck! Berhentilah membahas itu. Aku tidak berniat meminta mu mengajariku yang telah mempunyai anak ini. Aku juga tidak akan melakukan itu. Dari pada banyak pertanyaan lebih baik kau menggali kuburan Emillia."
Elio tak menyangka bahwa sahabatnya itu masih belum bisa move on dari almarhum istrinya. "Kau benar-benar gila Hen. Buat apa aku menggali lubang kubur yang tidak ada isinya lagi? Sudahlah Hen, lupakan Emillia. Kau jangan terus menerus mengingat dia yang sudah bahagia di dunia lain."
"Aku meminta mu mencari bukan sekedar basa-basi untuk melepaskan rindu ku ini. Tapi aku bertemu dengan Emillia, El. Dia masih hidup. Aku tidak tau itu sebenarnya dia atau orang lain."
Elio tersentak mendengar kabar itu. "Kau yakin melihat Emillia masih hidup, atau hanya berhalusinasi semata Hen?"
"Masalahnya bukan aku saja yang melihat, tapi Alano, dan Cendro juga melihatnya. Bahkan saat ini Alano masuk rumah sakit gara-gara ingin bertemu dengan wanita yang bernama Bella itu."
"Apa, namanya Bella?"
"Intinya kau jangan banyak pertanyaan lagi. Sekarang segeralah berpakaian dan cari apa yang aku pinta. Satu lagi, jangan sampai siapa pun tau termasuk Rose."
"Baik, baik. Aku akan cari sesuai yang kau pinta. Tunggulah berita dari ku."
Henry menutup panggilannya. Ia melangkahkan kakinya kembali untuk menemui Rose. Namun, langkahnya berhenti saat Cendro bertemu Henry di ruangan itu.
"Kenapa kau ke sini? Bukannya aku menyuruhmu untuk di kamar saja. Kau berani meninggalkan anakku." Henry mulai panas akan tindakan Cendro.
"Ampun tuan, ampuni saya. Tapi saya sedang mencari tuan kecil. Tuan kecil kabur dari kamar tuan."
"Apa?"
"Iya tuan. Tadi saat anda meminta ku untuk menjaga tuan Alano, tuan Alano langsung bangun saat aku masuk dan mendekatinya. Tuan Alano meminta ku untuk membawanya ke suatu tempat. Tapi aku tidak berani jika anda saja belum pulang ke kamar. Namun secara tiba-tiba tuan kecil mencabut selang infus di tangannya dan darahnya keluar begitu banyak. Aku memintanya untuk berdiam di sana selagi aku memanggil dokter dan suster. Tapi saat aku pulang ke kamar tuan kecil tidak ada di kamar lagi, tuan."
"Lantas dia tadi bilang mau kemana?"
"Katanya tuan Alano mau menemui wanita yang mirip dengan nyonya Emillia di sebuah toko."
Henry membuang nafas kasar. "Iya sudah, aku tau di mana tempat itu. Lebih baik kau ajak Rose pulang ke kota. Kalau dia masih tidak mau pulang, bahkan memarahi mu. Bilang saja ini sebuah perintah, jika dia membangkang, aku akan menghukumnya. Aku mau mencari Alano dulu."
"Baik tuan."
Henry meninggalkan Cendro dengan Cendro melangkahkan kakinya untuk menemui Rose.
Rose saat ini belum makan. Ia masih menunggu Henry yang masih belum juga datang.
"Permisi nyonya." ucap Cendro sedikit menunduk.
Rose kebingungan dengan kehadiran supirnya itu. "Iya ada apa?"
"Tuan Henry memerintahkan saya untuk mengajak anda pulang ke kota sekarang." Cendro sedikit gemetar bagian kakinya saat melihat wajah Rose sudah mulai mengeluarkan tatapan mematikan.
"Kenapa bisa Henry memerintahkan ku untuk pulang begitu saja? Mana dia? Seharusnya dia tidak seperti ini pada ku. Kami baru saja menikah dan baru sampai di sini." Rose begitu berang akan tingkah Henry yang tidak menganggapnya seorang istri.
"Tuan besar sedang mencari tuan kecil nyonya. Tuan kecil kabur. Saya juga tidak tau kabur kemana saat saya mencari dokter dan suster."
Rose terkejut akan berita itu. "Kenapa bisa Alano kabur?"
"Tuan Alano meminta saya untuk membawanya pergi dari rumah sakit, jelas saya menolak nyonya. Akan tetapi tuan kecil melepaskan infus begitu saja sampai tangannya luka. Saya begitu panik dan meminta tuan kecil menunggu, tapi saat saya kembali tuan kecil tidak ada lagi di kamar itu nyonya."
'Sial, anak itu terus saja menyusahkan. Aku nggak bisa membiarkan bulan madu ini di lewatkan begitu saja. Kami saja belum melakukan apapun. Masa harus secepat itu pulang. Bagaimana bisa aku cepat hamil dan membuat keluarga yang bahagia kalau seperti ini? Apa aku harus menyingkirkan anak itu juga biar tidak menimbulkan masalah baru nantinya?'
"Aku tidak bisa pulang sebelum menemukan Henry dan Alano." Rose berdiri ingin mencari kedua insan itu.
"Tapi nyonya, kata tuan, nyonya harus mengikuti perintahnya. Kalau tidak, anda akan mendapatkan hukuman."
Deg!
Rose kini semakin panas. 'Anak tidak tau diri. Awas saja kau ya.' ia tak segan-segan, kali ini Rose akan menyingkirkan Alano juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Semakin curiga klo Rose terlibat dgn kematian Emillia..
2024-03-29
0
Alexandra Juliana
Ish dasar jahat banget..ketahuan sekali kau cuma baik di depan Henry aja..Smg keburukanmu segera diketahui Rose, agar kau di tendang dr rumah Henry
2024-03-29
0
Vivie
Parah banget jika bener pelakunya si tepung terigu ini kayaknya dia menghalalkan cara agar bisa mendapatkan si Henry/ jgn sampai Alano di marah oleh Hen
2024-03-15
0