Henry mencari di sekitaran hotel. Tak tampak terlihat wajah Bella di sana. Sampai ia mendengar suara khas yang sudah lama tak ia dengar. Baru beberapa jam yang lalu, ia mendengar suara itu kembali. Siapa lagi kalau bukan suara Bella sedang berbicara pada security yang baru saja meninggalkannya.
'Bella...' Henry melihat Bella sedang membawa sepeda berjalan ke luar parkiran. "Bella..." panggil Henry sebelum Bella menaiki sepedanya.
Bella pun berhenti, dengan menoleh ke sumber suara. Ternyata wajah pria yang tak lama membeli kuenya di toko. Apa mungkin pria itu ingin membeli kuenya lagi? Bella melihat keranjangnya, ternyata tak tersisa satu pun makanan.
"Bella, tunggu!" Henry berlarian kecil mendekati.
"Maaf tuan, kuenya habis. Nanti aku akan antarkan jika anda mau." Bella menyampaikan duluan.
Henry menarik nafas yang belum sempurna tertarik. "Bukan itu yang aku inginkan." Henry terdiam, lantas apa yang ia inginkan? Ia pun kebingungan dengan pertemuan mendadak ini. Kalau bukan kue lantas apa yang akan ia tanyakan?
Bukannya ia memanggil untuk membeli kue, malahan bukan. Sedangkan Bella adalah penjual kue.
"Apa ada yang ingin anda sampaikan tuan?" Bella ikut kebingungan dengan pertemuan mereka. Bella mengingat pada sisa uang yang di berikan oleh pria itu tadi. Mungkinkah pria itu ingin meminta uangnya kembali.
Bisa jadi saat ini pria itu sangat membutuhkan uangnya. Bella mengambil uang di dalam tas selempangnya bermodel rajutan. "Ini kembalian uangnya tuan." Bella menyerahkan uang tersebut.
Henry seketika saja tertawa kecil. Tingkah Bella benar-benar sama dengan almarhum istrinya itu. "Bukan, bukan itu yang aku inginkan."
Bella semakin kebingungan. "Lalu kalau bukan ini, ada apa anda mencari ku?"
Henry terpikirkan sesuatu. Lebih baik ia mendekati wanita itu secara perlahan dan memastikan semuanya. "Aku hanya ingin meminta nomor ponsel mu, bolehkah?"
Bella baru menyambung. Bisa kemungkinan pria di hadapannya itu akan menjadi pelanggan barunya. Ia pun mengambil kartu dan nomor yang bisa di hubungi Henry.
Bella segera memberikan kartu itu pada Henry. "Anda bisa menghubungi ku lewat nomor itu tuan. Anda bisa memesan kue di hari senin sampai dengan sabtu. Oh iya aku tadi juga lupa menyampaikan, bahwa toko kami akan tutup di hari minggu. Bukan untuk berlibur sih tuan, hanya saja aku sedang membantu ibu angkat. Beliau membuka tempat kursus musik untuk anak-anak hingga dewasa. Jika anda ingin memasukkan anak atau keluarga anda, bisa juga anda menghubungi nomor yang tertera di sana." Bella sekalian menawarkan tempat les khusus yang mau bermain alat musik.
"Aku juga membuka kursus memasak kue di malam senin. Jika istri atau keluarga anda ingin belajar, anda bisa menghubungi ku lewat nomor itu." sambung Bella. Ia bagaikan marketing pemasaran dalam bidang usahanya sendiri.
Henry teringat akan tempat kursus Alano. "Kalau boleh tau, apa nama tempat kursus musik itu?"
"Studia musica. Milik keluarga Eloise."
"Apakah nama pemiliknya nyonya Dona Eloise?"
"Benar tuan. Anda mengenalnya?"
"Di sana tempat anak kita kursus. Ah maksudnya aku mengenal beliau." hampir saja Henry membuat jarak di antara mereka.
Setahu Henry, Emillia tidak menyukai pria yang terlihat posesif mau pun terlihat agresif kecuali suaminya sendiri yaitu Henry. Tentu Henry tahu seluk beluk Emillia. Ia tak tahu, akankah Bella sama seperti almarhum istrinya itu.
"Oh iya kalau soal kursus membuat kue. Apakah kau mengajarkan kursus secara privat?" tentu Henry tak akan melewatkan kesempatan itu.
Bella berpikir, selama ini ia belum membuka kursus privat. Selain waktu dan tenaga, jelas wanita itu ingin membagi waktunya untuk membuat kue dan makanan di tokonya.
Bella menggeleng pertanda ia tidak membuka kursus privat.
"Kalau begitu aku akan membayar lebih dari tarif yang kau buka. Soalnya aku tidak bisa belajar kalau banyak orang. Lebih fokus saja kalau belajar dengan suasana yang sepi tanpa di ganggu oleh orang lain." Henry terus mencari cara agar Bella menyetujui.
Jelas sekali Bella akan menyetujui. Saat ini ia sangat membutuhkan uang untuk membuka tokonya sendiri. Ia tak mau lagi menyusahkan ibu angkatnya itu. Tabungannya saat ini sangat kurang jika mau membuka toko di suatu tempat yang sangat Bella impikan.
'Dia mau belajar memasak. Apa pria ini masih sendiri dan belum menikah? Kenapa ini sedikit aneh ya? Tapikan Bastian juga bisa memasak. Mungkin pria ini ingin bisa memasak sebelum ia menikah.' Bella teringat akan sosok pria yang terus mengejarnya.
Mau sampai berkali-kali pria itu mengejarnya. Bella tetap tidak mau. Bella belum bisa membuka hatinya sebelum ia mempunyai usahanya sendiri.
"Bayarannya—"
"Berapa pun aku bayar." potong Henry dengan tawaran harga yang bebas Bella minta.
Bella tersenyum riang sembari merentangkan tangannya untuk mengajak Henry bersalaman. "Aku setuju tuan."
Henry tertawa bahagia dalam batinnya sembari menahan tawa itu dengan senyuman. Ia membalas salaman dari Bella. Entah mengapa tangannya tak ingin melepaskan tangan Bella.
Bella saja kebingungan atas tangan Henry yang begitu erat memegangnya. "Itu tuan, kalau boleh tau siapa nama anda. Sekalian aku catat nama anda dulu." Bella melepaskan tangan Henry dengan Henry salah tingkah.
"Oh maaf. Panggil saja Henry atau Hen." Henry merasa pertemuan mereka mengingatkan saat pertama kali Henry mengajak berkenalan almarhum istrinya itu.
Bella merasa pernah mendengar nama itu. Akan tetapi ia lupa mendengar dimana. "Baiklah tuan. Kalau begitu anda bisa menghubungi aku kapan pun. Soalnya aku juga harus mensinkronkan waktu kita sebelum kursus di mulai."
Angguk Henry dengan senyuman kembali. "Nanti aku akan menghubungi mu."
"Iya tuan. Kalau begitu aku permisi pulang. Takut toko ramai dengan pengunjung." Bella mulai menaiki sepedanya.
Henry mengangguk lagi dengan senyuman manis. Bella mulai pergi membawa sepedanya melaju perlahan meninggalkan Henry.
Henry mengangkat kartu di tangannya dengan tingkah yang tak pernah ia lakukan semenjak Emillia di nyatakan meninggal dunia. Hatinya kini bak bertaburan kupu-kupu yang berterbangan. Inikah kekuatan cinta. Henry harus memastikan hal ini secara diam-diam tanpa seorang pun tahu termasuk istri kedua Rose.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Syafrida Kadir Ida
kejar Hen,... jgn sampai kehilangan ..selidiki apa betul Bella adalah Emili yg hilang ingatan... selidiki juga Rose istri ke 2 mu.. istri sementara sj deh... siapa tau dia pelaku meninggal nya Emili yg dimanipulasi... semoga sj usaha Hen mencari tau ttg Emili berjalan lancar, terlbh Alano kursus musik di tempat yg Emili promosikan...
makin penasaran dgn part selanjutnya
2024-03-13
0
Chindy Miracle
Pepet terus Hen jgn ksh kendor Bella sapa tahu kl bnr dy Emilly dy bs ingat kembali.
2024-03-12
0
juhaina R💫💫
🤨🤨🤨🤨🤨 Bella Bella Bella
2024-03-12
0