Halaman - 05

Henry kembali berjalan untuk menemui Alano. Akan tetapi ia bertemu dengan Rose yang baru saja keluar kamar anaknya itu.

"Kamu dari mana sayang?" Rose curiga akan gerak-gerik Henry yang berjalan mendekati. "Kamu bilang mau menemui Alano, tapi kamu saja meninggalkannya. Saat ini dia sedang sakit Hen." wajah Rose terlihat cemas dan khawatir.

Henry langsung saja masuk ke dalam kamar tanpa menjawab sepatah kata pun pertanyaan Rose dengan Rose ikut masuk kembali ke dalam kamar.

"Mommy..." gumam Alano memanggil Emilia. Padahal matanya masih terpejam.

Henry memegang kening Alano yang ternyata panas.

"Tuan muda tiba-tiba demam. Saya baru ingin menemui anda tuan." Cendro melirik sebentar ke arah Rose.

Sebenarnya Cendro memang sengaja tidak menemui Henry. Agar Henry bisa leluasa bertemu wanita yang mirip dengan istri tuannya itu. Akan tetapi kondisi Alano begitu mencemaskan ia baru mau keluar akan tetapi nyonya keduanya telah datang.

Cendro baru saja habis menjadi bahan amukan nyonya barunya itu. Pertanyaan tentang dimana Henry terus di desaknya. Cendro terpaksa berbohong bahwa ia belum menemukan Henry.

"Apa anda tadi mencari kami tuan?" Cendro memberikan sebuah isyarat bahwa mereka belum bertemu.

Henry mengangguk pelan, ia paham dengan pertanyaan Cendro. "Lebih baik kita bawa Alano kerumah sakit sekarang." Henry menggendong Alano berjalan keluar ruangan di ikuti Rose.

Rose mengira suaminya itu pergi meninggalkannya. Ternyata suaminya pergi mencari anaknya yang sedang bermain di pinggir pantai. Akibat terjatuh dengan kakinya sedikit memar, sepertinya pria muda itu memang sedang kurang sehat.

Alano jarang sakit. Akan tetapi sakitnya kali ini membuat hati Rose kembali berdenyut. Anak dan daddy itu sama saja. Kenapa wanita itu terus saja bergentayangan di pikiran ke dua insan itu? Rose tak mengerti dengan apa yang di pikirkan semua orang. Apa sebenarnya keistimewaan Emillia sampai-sampai sudah bertahun-tahun lamanya belum juga hilang dari benak pikiran keluarga besar itu.

Alano segera di tangani pihak rumah sakit. Demam kali ini sepertinya akibat Alano melihat Bella. Rindunya pada mommy-nya tak terbendung lagi. Alano memang sempat menganggap Rose sebagai pengganti mommy-nya.

Bukan tak bahagia anak itu mendapatkan mommy baru yang selama ini baik padanya. Namun kebaikan Rose begitu berbeda saat di belakang Henry. Acuh tak acuh, itulah yang di rasakan Alano. Perhatian itu meningkat saat daddy-nya bersamanya, saat tak ada Henry maka Alano merasa dirinya sama seperti tak memiliki seorang mommy.

"Mommy..." Alano terus saja memanggil Emilia. Saat ini matanya perlahan terbuka.

Rose segera mendekat. "Ini mommy sayang. Mommy ada di sini." Rose memegang tangan Alano dengan Henry sedari tadi duduk di samping anaknya.

"Nyonya bukan mommy ku. Tapi mommy ku adalah," Alano terdiam saat Henry memegang erat tangan Alano.

"Ros... Lebih baik kau keluar sebentar. Aku mau berbicara sebentar dengan Alano." Henry harus memberikan kabar untuk anaknya. Ia tak mau Rose ikut campur dalam masalah ini. Kecurigaannya terhadap Rose terus saja menghantam pikiran Henry.

Rose mengepal kedua tangannya. Perlakuan apalagi yang harus ia terima.

"Aku tidak mau kau semakin sakit hati jika berada di sini. Semoga kau mengerti Rose." Henry mengetahui apa yang di rasakan istrinya saat ini.

Senyuman paksa Rose tebarkan. "Baiklah kalau begitu. Cepat sembuh ya sayang. Mommy keluar dulu." Rose mencium tangan Alano dengan lembut. Ia pun segera keluar kamar, perkataan Henry sangat menyakiti hatinya. Bagaimana ia terus berada di dalam kamar kalau yang di bahas tentang wanita yang pernah hidup di dunia itu.

Lebih baik Rose keluar dari pada hatinya semakin panas.

"Dad, aku sangat merindukan mommy. Apakah kamu bertemu dengannya?" Alano ingin mendengar hasil dari pencarian daddy-nya itu.

Henry tersenyum manis sembari mengelus kepala Alano. "Daddy sudah menemukan tempat wanita itu Al. Kita akan bertemu dengannya. Kita akan bersama lagi." Henry berucap seakan-akan kehidupan mereka akan kembali seperti sediakala, supaya Alano cepat pulih kembali.

"Apakah kita bisa seperti dulu lagi Dad, sedangkan saat ini daddy saja telah menikah dengan mommy Rose? Apakah aku akan memiliki dua mommy sekaligus?" Alano ingin mendengar penjelasan dari daddy-nya. Ia sering mendengar teman-temannya berbicara saat memiliki dua mommy.

Penderitaan mommy mereka menjadi cambuk bagi Alano. Akankah kedua mommy-nya akan akur dengan satu pria, sedangkan Alano sering mendengar bahwa pertengkaran itu terus saja terjadi.

Pada akhirnya, teman-teman mereka tidak di perhatikan sama sekali. Alano tidak mau hal itu terjadi pada dirinya. Alano juga tidak bisa memilih mommy yang mana benar-benar menyayanginya.

Tentu Alano memilih mommy kandungnya. Tapi melihat mommy-nya saja tidak mengenali dirinya, maka secara terpaksa Alano akan memilih mommy tirinya. Semua belum terjadi setelah Alano bertemu kembali dengan wanita itu.

Henry terdiam atas pertanyaan Alano. Kedua matanya perlahan melihat ke arah salah satu tangannya. Kini jari itu memiliki dua cincin. Keputusan apa yang harus ia ambil? Saat ini ia saja belum memikirkan hal itu. Ia tidak mungkin memiliki dua istri. Henry juga tidak bisa menyakiti hati Rose.

"Untuk saat ini lebih baik pikirkan kesehatan mu dulu. Urusan itu nanti kita bahas lagi setelah kita memastikan siapa wanita itu."

"Apa aku boleh bertemu dengannya lagi dad?"

"Tentu saja boleh. Makanya kau harus segera pulih. Nanti kita ke tempat wanita itu."

Alano mengangguk pelan sembari tersenyum riang. Ia harus segera sembuh agar bisa bertemu dengan wanita yang mirip dengan mommy-nya. "Daddy janji." Alano mengangkat jari kelingkingnya untuk membuat sebuah janji.

Henry mengaitkan jari kelingking Alano. "Aku janji. Cepatlah sembuh. Jika malam ini kau sembuh, maka malam ini kita kesana. Semoga saja tokonya masih buka."

"Apa mommy berjualan roti siput itu?" Alano mengingat Bella berkata ia ke hotel untuk mengantar pesanan makanan. Tidak mungkin makanan lainnya selain roti khas daerah itu.

Henry mengangguk pelan. Ternyata kecerdasan anaknya bukan sebuah kebetulan saja. "Apa kau tidak pernah bertemu wanita itu di tempat les musik?"

Alano menggeleng pertanda ia tidak bertemu dengan Bella. "Tapi dad, setiap hari minggu kami di bagikan kue siput. Katanya sih sebagai bentuk syukur atas kehidupan seseorang untuk kedua kalinya. Apa jangan-jangan dia benar mommy Emillia?" Alano menyakini bahwa Bella benar mommy-nya.

Dada Henry kembali bergetar saat mendengar kehidupan kedua. Berarti ada yang tidak beres atas kecelakaan istri pertamanya itu. Sepertinya ia harus menyuruh seseorang untuk mencari sesuatu.

"Nanti kita bahas lagi. Kau sekarang harus segera istirahat agar bisa bertemu dengan wanita itu. Daddy mau keluar sebentar ada urusan."

Alano mengangguk pelan dengan cepat ia memejamkan kembali kedua matanya. Henry menyelimuti sembari mengusap kepala Alano. 'Aku yakin Al. Itu benar mommy mu.' Henry mencium kening Alano, semoga dugaan mereka benar adanya.

Terpopuler

Comments

Vivie

Vivie

Yakin deh bella itu Emillia dia saat ini sedang amnesia soalnya aja dari kue keong itu aja membuktikan bahwa ada banyak kecurigaan didalam sana ini pasti si tepung terigu itu deh penyebabnya 🤔

2024-03-13

0

juhaina R💫💫

juhaina R💫💫

Udah ada sdkit petunjuk lanjutt ...

2024-03-13

0

Syafrida Kadir Ida

Syafrida Kadir Ida

kue siput yg dibagi kan sbgai rasa syukur atas kehidupan ke 2...ini tanda klo ada orang yg berhsl selamat... kemungkinan itu Emili... cuman Emili saat ini lg amnesia... semoga pemilik studio musik, tau tentang Emili

2024-03-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!