Rose masih duduk di bangku dekat kamar, pembicaraan Henry dan Alano tak bisa ia dengar dengan jelas. Apa sebenarnya yang di bicarakan kedua insan itu sampai-sampai Rose sendiri tidak boleh mendengar? Akan tetapi sedikit mendengar nama Emillia di sebutkan dengan jelas, Rose menjauhi kamar itu.
'Emillia, Emillia terus yang mereka pikirkan. Apa aku tidak bisa menggantikan wanita itu? Wanita itu telah tiada, bahkan sudah menjadi tanah. Kenapa namanya terus saja tetap hidup? Aku harus mencari cara agar wanita itu benar-benar lenyap. Walau hanya tinggal namanya saja, aku tetap tidak rela dia merebut apa yang sudah susah-susah aku dapatkan.'
Henry keluar dari dalam kamar, Rose langsung berdiri di ikuti Cendro yang sedari tadi menunggu di luar kamar. "Bagaimana keadaan Alano, sayang?"
"Alano sedang istirahat. Apa kamu sudah makan siang?"
Rose memegang tangan Henry dengan pelukan kecil. "Aku belum bisa makan sayang. Rasanya perut aku kurang nyaman saat melihat kondisi Alano saat ini." wajah Rose kini terlihat sangat sedih di mata Henry.
Begitulah yang akan di tampilkan istri keduanya saat menyangkut setiap keadaan putranya itu. Begitu sayangnya Rose terhadap Alano. Bagaimana Henry bisa melepaskan Rose begitu saja? "Lebih baik kita makan sebentar." Henry akan memikirkan hal itu nanti. Perlahan mencari jalan keluarnya. Ia pun melihat ke Cendro. "Kau jaga Alano di dalam. Kami berdua makan dulu. Nanti akan ada yang mengantarkan makanan untuk mu." perintah Henry.
Cendro mengangguk pelan. "Baik tuan." ia dengan cepat masuk ke dalam kamar.
Henry berjalan membawa istrinya itu makan siang, namun sudah kelewatan sore. "Kita makan di kantin rumah sakit ini saja."
"Tapi sayang, aku nggak bisa makan masakan rumah sakit." Rose tidak biasa makan-makanan yang tidak cocok dengan selera makanannya. Sudah terbiasa hidup enak saat di angkat menjadi sekretaris Henry. Di tambah Henry sering memanjakan wanita itu dengan makanan enak dan mahal. Rose semakin naik tingkat soal makanan serta barang-barang yang ia gunakan.
"Untuk sekarang mau tidak mau kau harus ikuti kemauan ku Rose. Aku tidak bisa meninggalkan Alano begitu lama. Makanan di sini juga di buat khusus untuk kita. Maka jangan terlalu pilih-pilih makanan." oceh Henry. "Kau memang begitu berbeda dengan Emillia." gumam Henry menyindir Rose.
Rose bukan tak mendengar, hanya saja dia berpura-pura tidak mendengar perkataan Henry. Nama itu sepertinya harus ia singkirkan secepatnya, sebelum ia terus menjadi bahan perbandingan.
Untuk saat ini ia lebih baik mengikuti keinginan suaminya itu. Rose akan membuktikan ia jauh lebih baik dari wanita yang terus saja di sanjung namanya.
.
.
Alano kembali membuka mata saat Cendro datang.
"Tuan kenapa bangun? Apa aku mengganggu mu?" Cendro duduk di samping Alano.
"Cen, sepertinya aku sudah sembuh. Coba kamu pegang kepala ku." Alano menarik tangan Cendro untuk memegangi kepalanya.
Cendro membenarkan ucapan tuan kecilnya itu.
"Aku sudah bisa berjalan. Tolong antarkan aku ke suatu tempat Cen." Alano tidak sabaran ingin bertemu dengan Bella.
"Mau kemana tuan? Nanti tuan besar marah jika anda tidak berada di sini. Aku nanti yang terkena imbasnya." Cendro takut tuan besarnya akan memberikan hukuman kalau ia menyetujui permintaan tuan kecilnya itu.
"Jika kamu tidak ingin mengantar ku. Aku sendiri yang akan ke sana Cen. Setelah di sana kamu bisa menghubungi daddy. Daddy memang sudah berjanji akan mengajak ku ke sana malam ini. Tapi aku sangat merindukan mommy Emillia. Aku ingin melihatnya Cen. Aku ingin memastikan bahwa dia benar mommy ku." Alano duduk dengan cepat mencabut selang infus di tangannya.
Cendro begitu panik saat melihat Alano melepaskan selang infus di tangannya. Darah di tangan Alano juga banyak keluar. "Tuan, tuan jangan seperti ini. Sebentar tunggu. Aku panggilkan suster. Tuan harus berjanji jangan kemana-mana. Aku akan berjanji akan mengantarkan tuan ketempat itu." Cendro mudah panikan. Ia begitu saja berlarian keluar ruangan untuk memanggil dokter atau suster yang berjaga.
Di saat itulah Alano turun dari atas ranjang untuk keluar dari rumah sakit. Beruntung ia selalu membawa tas ransel kesayangan setiap berpergian. Di sana sudah lengkap ponsel dan sejumlah uang yang ia simpan untuk keperluannya sendiri.
Alano berlarian keluar sembari mencari sebuah taksi. "Pak sopir. Aku sedang kelaparan. Orang tua ku sibuk dengan kehidupannya. Bisakah anda mengantarkan aku ke toko kue yang menjual kue siput di area sini?" Alano sudah terlatih mental dan fisiknya. Ia bahkan berani berjalan sendirian di saat daddy-nya sedang sibuk. Ibu asuhnya juga sudah tua, dan tak begitu memperhatikan Alano.
"Toko kue siput. Oh aku mengenal suatu tempat yang pasti kau sangat menyukainya. Tapi bagaimana dengan orang tua mu nak, nanti mereka mencari mu?"
"Aku sudah memberitahukan mereka. Mereka akan menemukan ku di sana. Ayo segera ke sana pak." Alano berani berbohong demi mencari mommy-nya.
"Baiklah." pria paruh baya itu sebenarnya ke bingungan atas tindakan orang tua yang melepaskan anak kecil berkeliaran sendirian di luar.
Dunia tak begitu aman saat ini. Bagaimana jika anak itu di culik? Pria paruh baya itu akan mengantar dan menitipkan ke toko kue langganannya agar penumpang kecilnya itu tetap aman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Issh dasar kau bagaikan kacang lupa kulitnya Rose
2024-03-29
0
Vivie
Iss tor aku tambah kesel lihat tepung sagu ini. Lihat tuh alano kabur nyari emaknya dia lebih gercep kayaknya dari si bpk
2024-03-15
0
juhaina R💫💫
lanjutttt
2024-03-14
0