Halaman - 16

Henry melihat jam tangan mahalnya telah menuju pukul tujuh malam. Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Aldo telah berdiri di hadapan Henry untuk menerima perintah dari bosnya itu.

Seperti biasa, Aldo akan datang dua jam sekali untuk menemui Henry di dalam ruangannya.

"Kau pulang saja duluan. Malam ini aku akan pulang cepat. Ada pekerjaan dengan sahabat ku. Tolong kau sampaikan pada Rose, aku akan pulang sedikit terlambat dan jangan menunggu ku. Segeralah tidur." Henry memberikan perintah itu karena ia tidak mau terlalu dekat dengan istri keduanya.

Semenjak Henry bertemu dengan Bella, mulai saat itu ia terus menjauh Rose. Bahkan hampir saja Rose menguasai dirinya saat tidak sengaja tertidur di ruang kerja. Beruntung Henry sadar atas pergerakan Rose yang liar itu.

Rose juga setiap harinya terus-menerus meminta haknya sebagai istri. Berhubung Henry mempunyai banyak alasan termasuk ia tidak berniat mempunyai hubungan lebih dari pernikahan keduanya ini, maka Rose berkali-kali juga tidak menyerah dan terus mendekati Henry dengan alasan lainnya.

Malam ini pria itu akan melupakan semua tentang istri keduanya dan berfokus pada Bella. Sudah beberapa hari juga ia tidak bisa bertemu dengan Bella akibat wanita itu banyak pesanan dan pekerjaan.

Baru hari ini mereka akan bertemu di suatu tempat yang tidak jauh dari perusahaan. Henry semakin waspada jika Bella berada di lingkungannya saat ini. Pria itu mempunyai sebuah ide agar Bella tetap aman.

"Baik tuan." jawab Aldo yang tak begitu heran dengan kesibukan Henry. Dalam satu minggu sekali tuannya akan pergi. Setahu Aldo, Henry akan me time bersama teman-temannya.

Henry bergegas pergi dengan Cendro yang tetap setia akan mengantarkan Henry kemana pun. "Rahasiakan ini dari semuanya." perintahnya pada Cendro.

"Baik tuan." patuh Cendro yang sangat mendukung semua tindakan Henry. Ia saat ini sangat senang bisa melihat Henry bertemu dengan Bella. Semoga tuannya segera mendapatkan sebuah bukti.

Henry tercengang dengan tempat yang memang sangat dekat dengan perusahaannya. Kursus roti yang tak lama berdiri itu ternyata gurunya adalah Bella.

"Jika Rose ingin ke sini dalam waktu dekat ini. Kau harus mencegahnya. Kau mengerti?"

"Baik tuan saya mengerti maksud anda."

Henry hanya bisa berdoa, semoga supirnya itu bisa di andalkan. Keselamatan Bella saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ia harus memindahkan tempat kursus itu ke tempat lain.

Henry turun dari dalam dengan cepat ia menekan bel pintu sebelum masuk sesuai perintah Bella. Tidak begitu lama wanita itu membukakan pintu dengan rupanya yang sedikit kotor. Tepung terigu menempel di celemek yang di gunakan Bella.

"Silahkan masuk tuan." Bella membukakan pintu sedikit lebar. "Maaf aku sedang membuat pesanan yang mendadak dari pelanggan. Soalnya dia meminta ku membuat kue karena kue yang ia pesan tidak sesuai dengan rasanya. Apakah tuan mau menunggu sebentar saja?" Bella kembali berjalan masuk dengan di ikuti Henry.

Di dalam ruangan itu memang sangat wangi akan kue yang sedang di masak Bella. "Apakah aku bisa membantu mu agar cepat selesai? Aku bisa melakukan sedikit-sedikit dalam memasak. Hanya saja belum mahir seperti dirimu." tawar Henry yang ingin mendekati Bella.

"Tidak perlu tuan. Anda ke sini hanya untuk belajar memasak bukan untuk membantu ku." Bella kesusahan bergerak akibat ikat rambutnya putus. Ia belum sempat mencuci tangan karena tugasnya terlalu banyak.

Henry melihat itu, sepertinya ini kondisi yang cukup bagus untuk mengambil rambut Bella. "Sepertinya kau sangat susah memasak dengan rambut seperti itu. Apakah kau mau aku membantu mengikatkan rambut mu? Aku tidak bermaksud lain, hanya saja ingin membantu mu agar pekerjaan ini cepat selesai."

"Oh... Kalau begitu mohon bantuannya tuan. Memang ini sangat mengganggu ku." Bella menyetujui bantuan Henry. Terlihat pria itu ingin secepat mungkin belajar memasak.

Henry menggigit bibirnya menahan senyumnya itu. Ia pun berjalan mendekati Bella. "Dimana kuncirnya Bel?" ia mencari benda yang sering di gunakan Bella untuk mengikat rambutnya.

"Ambil karet aja tuan. Saya tadi lupa membawa kuncir. Hanya bando ini saja yang saya gunakan." Bella melirik karet gelang bekas mengikat tepung yang telah terpakai itu di sisi sampingnya.

Henry langsung saja mengambil dengan perlahan mendekati Bella. Dadanya bergemuruh hebat di dalam sana. Kedekatannya kali ini membuat pria itu ingin sekali mengecup leher putih Bella.

Ingat pada tujuan awal, Henry mengambil rambut yang rontok di pakaian Bella. Ia menyimpan beberapa helai ke dalam kantong kecil yang telah ia sediakan di dalam sakunya. Henry pelan-pelan masukkan ke dalam wadah kecil itu, dengan cepat pula ia menyimpan plastik itu ke dalam sakunya kembali.

Entah mengapa secara bersamaan, jantung Bella ikut berdebar. Ia memberhentikan pergerakannya saat Henry memainkan rambutnya dengan nafas Henry sangat dekat dengan lehernya. Karet merah itu begitu saja terjatuh di sebelah Bella dengan Henry mengambilnya.

Mereka berdua sangat dekat dengan waktu yang lambat. Tak sengaja keduanya menoleh satu sama lain, membuat keduanya semakin sangat dekat. Jantung keduanya berdegup sangat kencang dengan Bella secara naluri memejamkan kedua matanya.

Henry hanya menatap wajah Bella yang sangat ia rindukan. Melihat cara pergerakan Bella membuat Henry tersenyum. "Maaf, karetnya terjatuh." Henry kembali pada posisinya dengan Bella tersentak. Ia pun membuka kembali kedua matanya. Dimana Henry tak terlihat lagi di hadapannya dan telah di belakangnya.

Wajah Bella seketika memerah. Apa yang barusan saja ia pikirkan? Apakah ia telah menjadi wanita mesum saat ini? Padahal terhadap Bastian saja ia tidak semudah itu tertarik bahkan membayangkan sesuatu di luar dugaannya.

Bunyi lonceng pintu terdengar terbuka. Seorang pria tampan begitu saja masuk ke dalam ruangan. Henry berhenti bergerak saat rambut Bella hampir selesai di ikat.

"Bastian... Kenapa kau datang ke sini?" Bella langsung menanyakan kedatangan pria yang sedari dulu mengejarnya. Ia tak menyangka Bastian yang baru aja ia sebut itu datang ke sini.

Bastian terdiam saat melihat adanya Henry dengan santainya memegang rambut Bella. Henry juga ikut terdiam melihat pria yang tak asing baginya.

Bukankah pria itu adalah salah satu pegawainya. Bisa gawat jika Bastian menyatakan bahwa Henry baru saja menggelar pernikahan. Saat ini juga Henry terlihat sedang berselingkuh dengan wanita lain. Sedangkan Bastian termasuk pegawai baru di perusahaannya. Maka ia tidak mengenal wujud istri pertama Henry.

"A-aku datang hanya mengantar makan malam sesuai perintah nyonya Dona. Ta-tapi kenapa di sini ada tuan Henry juga?" Bastian perlahan mendekati kedua insan itu.

Henry berdiri di samping Bella. "Aku ke sini belajar memasak. Seusai yang kau lihat tadi. Aku membantu Bella menguncir rambutnya."

Bastian mengangguk pelan dengan sebuah kecurigaan. "Oh... Ternyata anda memiliki sebuah hobby di luar." ucapnya penuh arti.

"Iya kau benar Bastian. Tuan Henry belajar memasak karena dia mau memasak untuk anaknya Alano." jelas Bella dengan santai.

Bastian baru bisa menghilangkan sedikit kecurigaan terhadap Henry yang diam-diam ingin beristri lagi. Ternyata dugaannya salah. Bosnya mengakui akan hal itu, dan berusaha menjadi suami serta ayah yang baik secara diam-diam.

"Kalau begitu aku letakkan makanan ini di sini. Semoga tuan bisa segera memasak." Bastian ragu atas pikirannya barusan.

Henry mengangguk pelan, kemudian ia mengingat sesuatu. "Berhenti Bas, aku ingin berkata sesuatu." panggil Henry sebelum Bastian pergi.

Bastian berhenti melangkah sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu. Ia kembali melihat Henry dan Bella. "Iya tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?"

"Tolong rahasiakan ini dari siapa pun. Aku tidak mau mereka tau. Soalnya aku ingin membuat kejutan pada keluarga ku." Henry akan berusaha menutup mulut Bastian, sebelum mulut saingannya itu mengeluarkan gosip dan menyebabkan Bella dalam masalah. Ia juga tidak mau Bella mengetahui statusnya saat ini.

Bastian tersenyum dengan mengangguk pelan. Ternyata dugaannya salah. Bosnya memang yang paling sempurna. Ia mengagumi sesosok Henry secara diam-diam. Kebaikan Henry memang tak ternilai. Hanya saja wajah dan rupanya terlihat dingin dan menyeramkan. Tapi Bastian tau, bahwa Henry pria yang sangat baik, mau membantu sesama.

"Kalau begitu aku permisi dulu." dengan rasa tenang dan tanpa curiga lagi Bastian meninggalkan Bella dan Henry begitu saja.

'Hampir saja ada nyamuk yang menganggu.' Henry bersyukur bahwa saingannya itu mengerti dengan kondisinya saat ini.

Terpopuler

Comments

Eva Karmita

Eva Karmita

nyamuk ngk tu 🤣🤣🤣

2024-07-11

0

Vivie

Vivie

😅😅😅 masih beruntung ya hen

2024-03-24

0

juhaina R💫💫

juhaina R💫💫

nyamuk itu km Henry suka menghampiri dan malah mau hinggap dibella 🤭🤭

2024-03-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!