Halaman - 08

Alano sampai pada tokoh yang ternyata daddy-nya membeli kue siput saat mereka mencari makanan. Berarti sang daddy telah bertemu duluan pada wanita itu. Alano merasa daddy-nya merahasiakan hal itu dari dirinya. Apakah sebenarnya daddy-nya sudah tahu sejak lama kalau mommy-nya masih hidup?

Apakah daddy-nya menjauhi mommy-nya demi ingin memiliki istri dua? Alano kini semakin sedih jika pria yang terus ia banggakan itu mempunyai sisi lainnya.

Alano mengikuti sang sopir masuk ke dalam toko.

"Permisi nona Bella." ucap pria paruh baya itu dengan lembut.

Mata Alano kembali terpaku akan wanita yang benar-benar mirip dengan wajah mommy-nya.

"Iya tuan Teddy. Apa anda ingin membeli kue?" Bella melirik juga ke arah anak yang ia temukan tadi di pinggir bibir pantai.

"Tidak nona! Saya ke sini hanya mengantar anak ini. Katanya ia sangat lapar dan ingin mencari makanan. Katanya orang tuanya akan ke sini menemuinya." Teddy menarik tangan Alano untuk berada di sampingnya.

"Kamu anak yang sedang bermain di pantai tadi 'kan?" Bella berjalan mendekati Alano.

Alano mengangguk pelan. "Iya nyonya." ia kini ingin menangis lagi. Tatapannya hanya ia lemparkan ke lantai. Ternyata wanita itu tidak mengingat siapa Alano.

Bella melihat tangan Alano. "Tangan mu terluka seperti ini. Ayo, aku akan membersihkannya dulu. Setelah itu aku akan memberikan makanan untuk mu." Bella melihat ke Teddy. "Biarkan anak ini di sini sampai orang tuanya menjemput. Dia akan aman bersama ku."

"Syukurlah kalau begitu. Aku kembali bekerja dulu ya nona Bella."

Bella mengangguk pelan. Pria paruh baya itu pergi meninggalkan tempat. Kembali Bella melihat Alano. "Apa kau sakit? Wajah mu sedikit pucat." Bella duduk berjongkok di hadapan Alano.

Alano mengangguk kembali. "Aku rindu pada mu nyonya. Kamu benar-benar mirip dengan mommy ku Emillia. Bolehlah aku memeluk mu lagi. Aku tidak mau kehilangan mu nyonya. Bolehkah juga aku memanggil mu dengan sebutan mommy?" Alano meneteskan air matanya.

Bella ikut bersedih melihat wajah Alano. Apakah segitu miripnya wajahnya itu pada mommy-nya? Bella tahu akan cerita bahwa jika di dunia ini memiliki wajah kemiripan sekitar 80-100 persen sama. Mungkin salah satunya dirinya.

"Apa pun yang kau inginkan lakukanlah." Bella mengelap cairan yang terus mengalir di wajah Alano.

Alano begitu saja memeluk Bella. "Mommy..." ucapnya melirih. "Aku sangat merindukan mu."

Bella mengelus punggung Alano. Hatinya bak kesetrum aliran yang mengalir begitu saja. Perasaan Bella begitu nyaman saat memeluk Alano.

Mobil berhenti di depan toko dengan Henry ternyata telah sampai. Ia segera masuk dan melihat pemandangan yang begitu membuat hatinya terasa nyaman. Anaknya ternyata baik-baik saja di pelukan seorang wanita yang sangat mirip dengan almarhum istrinya.

"Selamat datang tuan. Apa anda ingin membeli kue?" Bella menggendong Alano yang masih memeluknya dengan erat.

"Sebenarnya aku ke sini untuk menjemput anak ku." Henry menunjuk Alano dengan Alano melepaskan pelukan dan melihat ke arah Henry.

Bella baru tahu, bahwa ternyata pria yang tadinya sempat meminta les privat itu telah menikah dan memiliki seorang anak. Bahkan istrinya telah meninggal. Mungkin demi sang anak, ia harus belajar memasak dan menjadi mommy dan daddy secara paksa.

Bella sempat berpikir, kenapa pria itu tidak menikah lagi, padahal terlihat sekali pria itu membutuhkan seorang istri untuk menjaga anak yang kini terlihat membutuhkan kasih sayang seorang mommy. Apakah pria di hadapannya belum bisa melupakan istrinya itu? Mungkin saja begitu.

"Deddy... Maafkan aku. Aku sangat merindukan mommy." kembali Alano memeluk Bella.

Bella hanya tersenyum masihnya mengelus punggung Alano.

"Maaf nona Bella. Anak ku saat ini masih belum bisa melupakan mommy-nya. Apalagi dia saat ini masih sakit. Aku tidak menyangka dia kabur dari rumah sakit dan mencari mu." jelas Henry.

Wajar saja Bella melihat tangan Alano terluka. "Kalau begitu aku bersihkan dulu tangan mu ya nak."

"Alano, namanya Alano Quirino." Henry memberitahukan nama Alano yang dulu Emillia sendiri yang memberikan nama itu.

"Oh Alano namanya. Umm... Alano, kau duduk dulu di kursi. Aku akan membawa handuk untuk membersihkan luka mu serta akan membawakan mu makanan."

Alano mengangguk pelan, ia melepaskan pelukan dan mengikuti pergerakan Bella untuk duduk di kursi. Bella masuk ke dalam sedangkan Henry duduk di samping Alano.

Tatapan mata Henry begitu datar. Alano menyadari akan kesalahan yang ia perbuat. "Maafkan aku daddy." Alano menunduk agar tidak melihat wajah Henry. Ia sangat takut jika daddy-nya marah.

"Kau seharusnya tidak melakukan ini Al. Daddy tidak mengajarkan hal seperti ini pada mu. Bahaya di luar sana jika kamu main pergi tanpa orang tua, bahkan keluarga mu tidak tau kamu pergi kemana. Beruntung Cendro memberi taukan daddy kemana kamu pergi. Daddy marah karena daddy sangat takut kau kenapa-kenapa. Terpaksa daddy akan menghukum mu. Kau tidak boleh keluar kamar selama satu bulan. Sekolah dan lainnya akan daddy hentikan."

Alano meneteskan air mata sembari menggelengkan kepala. Ia tidak mau di kurung lagi. Setidaknya ia bisa bertemu mommy-nya setiap hari jika ingin di kurung. Alano tidak mau hidup sendirian lagi di kamar, walau setiap pulang bekerja Henry terus berada di kamar itu sembari bekerja.

"Alano, apa yang di katakan daddy-mu benar. Kau tidak boleh asal pergi tanpa memberitahukan pada keluarga mu dulu, termasuk daddy-mu." Bella melihat ke Henry. "Hukuman untuk anak di usia Alano tidaklah baik tuan Henry. Anak-anak sangat membutuhkan lingkungan yang luas agar cara berpikirnya juga luas. Mereka masih banyak belajar dan membutuhkan arahan. Anda tidak bisa mengurungnya begitu saja." Bella melihat Alano. "Ingat Alano. Ini menjadi sebuah pelajaran bagi mu." Bella menasehati keduanya, bahkan ia tidak memandang siapa yang salah pada kondisi ini.

Henry merasa malu atas tindakannya. Semenjak Emillia meninggal, Henry begitu tidak memperhatikan anaknya itu. Bahkan ibu asuhnya saja tidak bisa begitu memperhatikan Alano seperti dulu lagi. Akibat usia yang semakin tua, bahkan wanita itu hanya bisa duduk di kursi roda dan menikmati hari-harinya saat ini.

Bella mengelap tangan Alano. Setelahnya wanita itu membawa makanan. "Kalian makanlah dulu. Hari juga sudah mulai malam. Aku mau menutup toko sebentar."

Alano dan Henry mengangguk pelan. Mereka menikmati makanan yang sudah di hidangkan di hadapannya mereka.

"Daddy, mommy Rose dan Cendro kamu tinggal di hotel ya?" Alano berbisik di dekat telinga Henry.

Henry menggeleng pelan. Sembari melirik ke Bella yang sibuk menutup toko. "Mereka sudah daddy suruh pulang ke kota." balasnya dengan berbisik juga.

Alano tersenyum. "Malam ini berarti bisa dong tidur sama mommy Emillia."

Henry menggelengkan kepala. "Tidak bisa. Kita harus pulang. Kita tidak boleh terlalu dekat dengannya saat ini."

"Iya sudah daddy saja yang pulang." Alano mengeraskan suaranya. Sembari menangis lagi.

Bella terkejut dengan suara Alano dengan Henry berupaya menenangkan anaknya itu.

"Ada apa? Apa makannya tidak enak?" Bella mendekati.

"Mommy... Daddy menyuruh ku pulang. Aku enggak mau pulang mommy. Aku masih ingin bersama dengan mu. Setidaknya hanya malam ini saja." Alano menarik tangan Bella.

"Iya sudah kau boleh tidur di rumah mommy malam ini." setuju Bella.

Henry begitu terkejut saat Bella memanggil dirinya mommy dengan Alano begitu santai memanggil Bella mommy-nya. Apa sebenarnya yang telah di lakukan anaknya tadi, sampai-sampai wanita cantik itu begitu menurut?

Apakah Bella mengingat sesuatu? Henry sangat penasaran saat ini.

"Tapi kita tidak bisa mengganggu nona Bella, Al." Henry beraksi seakan ia menolak, padahal dalam hatinya ia sangat menginginkan hal itu. Siapa tahu malam ini ia menemukan sesuatu yang menyangkut wanita di hadapannya ini.

"Tidak masalah tuan Henry, lagian saat ini kondisi Alano sedang sakit. Anda bisa pulang meninggalkan dia bersama ku malam ini."

"Oh tidak bisa. Lebih baik aku ikut saja." Henry tentu tidak ingin pulang dengan langsung menolak keinginan Bella untuk menyuruhnya pergi.

Alano tersenyum licik. Akhirnya usahanya tidak sia-sia. Henry bukan tak tahu atas perilaku anaknya itu. Setidaknya apa yang di lakukan Alano memang itulah yang di inginkan Henry.

Terpopuler

Comments

Bunda Ravi

Bunda Ravi

namanya mengingatkan sy akan mayor☺😊yg lagi Viral.... 😍🥰😘

2024-03-16

0

Bunda Ravi

Bunda Ravi

tokoh mungkin lebih tepat ny Toko thor☺

2024-03-16

0

Vivie

Vivie

Pinter banget alano nyari kesempatan buat menginap di sana Henry nggak kalah ikut dong🤣

2024-03-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!