Henry mengikuti jalan Bella masuk ke dalam kamar. Kamar yang kecil, tapi sangat rapih dan nyaman.
"Silahkan tidur tuan." Bella telah merapikan tempat untuk Henry tidur di sebelah kanan Alano.
"Terimakasih." Henry perlahan duduk dan tidur di sana. Saat ini jantungnya berdebar sangat kencang. Ia alihkan dengan melihat Alano yang tidur terlelap.
Tampaklah Bella tidur dengan santai di sisi kiri Alano. "Selamat tidur tuan. Semoga anda bermimpi indah."
Henry mengangguk pelan, rasanya mereka bagaikan keluarga bahagia. "Selamat tidur juga Bel. Semoga kau juga bermimpi indah." Henry menahan senyumnya dengan Bella tersenyum sembari mengangguk pelan. Perlahan matanya begitu saja terpejam.
Henry tak bisa memejamkan matanya saat ini. Tatapannya terus saja ke arah Bella. Rupa dan wajah itu benar-benar sangat mirip sekali. Bella bergerak memunggungi Henry. Henry dengan cepat turun dan mendekati Bella. Ia melihat secara dekat dan perlahan berjongkok di hadapan Bella.
Bella terlihat sangat lelah hari ini. Tidurnya begitu pulas. Tidak ada rasa takut atau pun cemas di wajahnya saat ada orang lain di kamar itu.
Apakah sepasrah itu ia menjalankan kehidupan? Henry semakin takut Bella dalam masalah jika ia memperbolehkan pria lain bahkan wanita lain yang berniat ingin menyakiti tanpa Bella sadari.
'Aku akan menasehatinya nanti.'
Henry kembali memperhatikan wajah Bella yang benar-benar sangat mirip. Ia berharap wanita di hadapannya itu adalah istrinya. 'Semoga ini benar diri mu Emillia. Aku sangat merindukan mu.' Henry meneteskan air mata. Ia ingin sekali mencium kening Bella, bahkan menyentuh wanita di hadapannya itu. Namun ia tahan, ia tidak boleh berbuat demikian sebelum mengetahui semuanya.
Jika hasilnya bukan istrinya, bisa kemungkinan Henry akan mengejar wanita ini dan menceraikan Rose. Itu adalah bayangan saja. Ia masih sangat berat jika bermain-main dalam pernikahan ini. Henry juga tidak bisa menyakiti Rose begitu saja.
.
.
Dentuman musik menggema di dalam ruangan. Banyak kalangan berada di dalam club malam itu. Termasuk Rose juga ada di dalam sana bersama dengan sekretaris suaminya, Aldo.
"Sudahlah nyonya, berhentilah anda minum-minum seperti ini." Aldo mengambil gelas yang hampir saja isinya di minum oleh Rose lagi.
Rose tidak pulang kerumah Henry. Ia memilih berhenti di pinggir jalan dan memberikan sebuah ancaman pada Cendro agar tidak memberitahukan Henry jika malam ini wanita itu tidak akan pulang ke rumah.
Cendro tentu hanya mematuhi saja perintah dari nyonya-nya itu.
"Aku masih mau minum Do. Kau jangan mengganggu ku." Rose saat ini sedang menghibur dirinya.
Begitulah caranya agar tidak larut dalam suasana hatinya saat ini. Ia mengambil kembali minuman di tangan Aldo namun Aldo menjauhi gelas itu.
"Aku tau anda sedang dalam frustasi nyonya. Tapi ini bukan jalannya."
"Sini Do gelas ku. Aku sudah tidak tahan dengan perlakuan Henry. Seharusnya malam ini menjadi malam panas kami. Tapi gara-gara anak sialan itu, aku harus seperti ini. Dia mengusir ku begitu saja." Rose masihnya ingin mengambil gelas di tangan Aldo.
"Kalau begitu biarkan aku menjadi pelampiasan mu lagi nyonya. Bukannya kau tau bahwa aku mencintai mu. Aku rela melakukan apapun demi dirimu nyonya." Aldo masih setia dan mau melakukan apapun demi wanita yang ia cintai bertahun-tahun lamanya.
Kehidupan mereka berdua dulunya dalam kesusahan. Dari sama-sama orang miskin dan saling berteman sejak lama. Aldo menyimpan perasaannya dan lambat laun perasaannya terbalaskan jika Aldo mau melakukan sesuatu demi Rose.
Aldo tahu, hal itu hanya sebuah settingan belakang, agar wanita di hadapannya bisa mengait pria kaya bahkan sempurna dari segi apapun. Tidak seperti dirinya yang selalu menjadi budak Rose. Cinta Aldo begitu dalam, bahkan ia bisa menjadi lebih jahat dari wajahnya yang terlihat culun dan hanya menggunakan kacamata setiap harinya.
Ia saja telah menyingkirkan istri dari pria yang saat ini telah menjadi suami pujaan hatinya. Akan tetapi Aldo tak sekejam itu, sampai-sampai mau membunuh seseorang demi segala-galanya. Setidaknya ia menyingkirkan wanita itu agar tidak bisa di temukan lagi oleh keluarganya.
Rose menarik kerah baju Aldo. "Kau begitu pintar Do. Malam ini tolong bantu aku melepaskan hasrat ini. Aku akan bayar berapa pun yang kau mau."
Aldo mulai mengendong Rose. "Aku tidak butuh bayaran dari mu Rose. Aku hanya ingin memiliki mu seutuhnya. Jadilah milik ku Rose." bisik Aldo di telinga Rose sembari membawa wanita pujaannya keluar club.
Berhubung club itu bersebelahan dengan sebuah hotel, maka mereka tidak bersusah paya mencari penginapan.
"Oh tidak bisa Do. Aku sangat mencintai Henry. Aku menyukai semua dari pria itu. Dia memiliki segala-galanya Do, bukan seperti mu yang hidup saja tergantung dari ku."
"Aku sudah menabung banyak uang bahkan berbagai properti untuk kita Rose. Apakah itu masih sangat kurang di mata mu?"
Rose tertawa puas. "Itu sangat sedikit Do. Aku butuh banyak harta. Aku tidak mau lagi di pandang rendahan oleh semua orang. Kita sampai-sampai harus menjadi budak seseorang demi menjalankan kehidupan ini. Aku sudah cukup hidup menderita Do. Saat ini aku ingin menikmati hidup yang penuh dengan bergelimang harta bahkan cinta. Kau pasti juga seperti itukan, Do?"
Mereka berdua telah masuk ke dalam hotel dengan Aldo menurunkan Rose. Namun keduanya tidak melepaskan satu sama lain. "Itu dulu Rose. Sekarang kita bisa hidup seadanya. Uang yang aku tabung saja sudah cukup untuk membuat usaha kita sendiri. Aku tidak mau lagi kita dalam masalah. Kau tau sendiri, tuan Henry tidak akan tinggal diam jika dia tau kalau istrinya meninggal akibat kita berdua." Aldo berbohong pada Rose tentang kematian Emillia.
Rose perlahan membuka kancing pakaian Aldo. "Syuuut! Diamlah Do! Selagi Henry tidak tau, maka kita akan aman-aman saja. Aku juga tidak akan pernah hidup dengan mu Do. Kau sangat tau akan hal itu. Sampai kapan pun, kau akan menjadi budak ku dan menjadi simpanan ku saja." Rose mencium dan melumat bibir Aldo.
Aldo kembali pasrah saat Rose masih juga tidak membuka hatinya. Bagi Aldo saat ini, ia masih berada di samping Rose dan selalu menikmati setiap momen panas mereka. Kali ini Aldo tidak akan sepasrah itu. Dia akan melakukan apapun agar Rose sadar dan mau mencintainya.
Aldo mengangkat Rose ke atas ranjang. 'Kau akan ku buat hamil Rose. Kali ini, biarkan aku memiliki semua dari mu. Bahkan anak yang akan kau lahirkan adalah anak kita. Bukan dari pria yang tak akan pernah melirik mu itu. Jangankan cinta, perhatiannya saja begitu acuh saat ini. Aku tidak ingin kau lebih terluka lagi. Aku ingin kita menjalankan kehidupan yang sangat bahagia Rose.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Stlh baca novel2 yg bertema CEO, baru di sini aja seorang CEO di kadalin oleh asisten dan sekretarisnya..sampai dibodohin cukup lama..ck..ck..ck...Istrinya saja sampai "dibunuh" demi si sekretaris naik level jd nyonya..
2024-03-29
0
Alexandra Juliana
Ternyata Aldo yg menyingkirkan Emillia atas perintah Rose..Kalian benar2 org2 yg g tau di untung..
2024-03-29
0
Vivie
Ternyata bener banget bahwa itu Emilia terus yg bunuh si laki yg bucin demi org yg di syg dia kyk bgtu udhlah bang tinggalin aj si tepung itu cari yg tulus sama lo
2024-03-18
0