Wanita paruh baya yang tengah duduk di kursi rodanya menatap penuh bahagia saat melihat anak asuhannya telah kembali.
"Kenapa kalian secepat itu pulang? Bukannya kalian akan berlibur kurang lebih satu minggu." Aria kebingungan atas kedatangan keluarga kecil yang tiba-tiba itu. Ia sangat berharap jika Henry dan cucunya akan kembali bahagia seperti sediakala. Namun, tampaknya terlihat Henry dan lainnya terlihat kurang bahagia.
Aria sendiri juga masih bersedih atas meninggalnya Emillia, menantu kesayangan. Ketika adanya Rose, Aria yakin Rose bisa menggantikan sesosok Emillia di rumah ini. Kembali ke perasaan Aria sendiri, seolah-olah wanita paruh baya itu masih belum bisa melupakan Emillia yang melekat pada keluarga itu. Akankah adanya Rose yang menggantikan keberadaan Emillia semua akan kembali? Aria banyak berharap sebelum dirinya juga pergi ke dunia lain menyusul Emillia yang di sangkanya telah meninggal.
"Aku ada urusan mendadak mom. Elio memberitahukan ada masalah di cabang batu permata sebelah utara. Aku sengaja menempatkannya di sana sebagai pencari batu yang bernilai tinggi harganya. Ternyata ada dugaan penyelewengan dana." jelas Henry sembari melirik Rose dengan Rose tidak tahu akan kabar itu.
Biasanya Rose mengetahui duluan tentang semua masalah pekerjaan Henry. Dimana ia ingin semua aktivitas Henry bisa terkontrol olehnya. Rose tidak mau Henry memiliki wanita simpanan di luar sana. Hanya dialah wanita yang cocok berada di samping Henry.
Rose sangat tahu jika Henry pria yang setia pada almarhum istrinya. Tapi naluri seorang pria untuk menuntaskan hasratnya, Rose khawatir akan hal itu. Ia tidak mau Henry diam-diam memiliki seorang anak dari wanita lain. Hanya dari dirinya anak itu akan hadir dan membuat keluarga yang bahagia.
"Seharusnya kau serahkan saja pada Aldo, Hen. Dia sekretaris mu yang bisa di andalkan." Aria adalah adik dari ayahnya Henry yang tidak memiliki seorang anak. Bahkan suaminya meninggal duluan setelah Henry masih berusia 19 tahun, akibat penyakit jantung.
Di saat itulah Aria sendirian yang mengelola perusahaan sampai Henry menjadi pengurus sebenarnya.
"Aldo cukup mengikuti perintah ku mom. Lagian masalah ini harus aku yang turun tangan. Bukannya kita tidak boleh terlalu percaya terhadap orang lain." Henry melirik sekilas ke Rose dan Aldo. "Kalau begitu aku mau ke kamar dulu." Henry melihat ke Alano. "Kau masuklah ke kamar. Pelajari buku yang sudah kau baca kemarin-kemarin. Aku akan mengetes ulang pelajaran mu seperti biasa." Henry sengaja mendidik Alano secara langsung. Alano adalah salah satu penerus usaha mereka.
Alano seperti biasa akan mengangguk saja dengan Henry melangkahkan kakinya untuk naik ke lantai atas.
"Aku ke kamar dulu ya mom." Rose tidak akan meninggalkan kesempatan ini, ia bergegas juga menyusul Henry ke dalam kamar mereka.
Di sana ternyata Henry tengah membuka pakaian untuk mandi kembali. Ia merasa sangat berkeringat. Cuaca saat ini sedang panas-panasnya. Maka ia ingin membersihkan tubuhnya sebelum melakukan aktivitas lainnya.
Tubuh yang kekar, otot yang terbentuk dengan sempurna, membuat Rose semakin terhanyut akan hasratnya. "Sayang... Kamu mau mandi ya?" Rose memeluk Henry dari belakang. Tubuh yang tinggi dan profesional itu membuat Rose tidak bisa berpaling.
Henry melepaskan pelukan Rose. "Iya, setelah ini aku mau mengajarkan sesuatu pada Alano."
Rose melangkahkan kakinya untuk memeluk Henry dari depan. Sebelum pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. "Apakah kamu tidak berniat mandi bersama ku sayang? Kita belum menuntaskan pekerjaan yang harusnya kita lakukan." dengan malu-malu Rose mengucapkan itu. Ia juga tak luput memegang dada Henry yang begitu indah dengan otot-otot itu bersemayam.
Dengan kasar Henry menghentikan pergerakan Rose. "Aku bukanlah orang yang suka meminum teh bekas celupan orang lain Rose. Aku paling suka teh yang baru dan pastinya aku sendiri yang mencelupkannya. Bukannya itu lebih nikmat dan lebih wangi dari apapun. Kalau sudah bekas, mana ada rasa nikmat, adanya bau bangkai. Oh, aku paling jijik akan hal itu." Henry melepaskan tangan Rose dengan langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi.
Rose membuang nafas kesal. 'Sial! Awas saja kau Hen. Kau akan ku buat melayang dan tentunya ketagihan terus menerus. Jangan lupa, aku ini banyak cara agar kau bisa jatuh cinta kepada ku. Sekarang saja kau sok jual mahal. Sekali kau bermain dengan ku, kau akan melupakan permainan mu dengan Emillia. Hanya aku yang bisa melakukan itu semua.' Rose akan terus melakukan apapun demi mendapatkan sang pujaan hatinya.
Sedangkan Henry segera menyiram kepalanya dengan air yang keluar dari dalam Shower. 'Aku memang menginginkan hal itu Rose. Tapi tidak dengan wanita seperti mu. Membayangkannya saja, aku sudah jijik duluan.' umpat Henry yang terpikirkan kembali pada Bella. 'Apapun itu, aku harus mendapatkan Emillia ku kembali.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Klo Rose peka dan punya rasa malu, perkataan Henry merupakan sindiran untuknya yg di celup2 oleh Aldo..
2024-03-29
0
Alexandra Juliana
Profesional ---> proporsional
2024-03-29
0
Vivie
Terus bertahan jika kau memang mencintai Bela hen
2024-03-24
0