Bara masuk ke kamarnya namun, pikirannya masih tidak bisa lepas dari istrinya. Wajah lesu dan luka yang ada di dahi sang istri masih terbayang di benaknya.
"Akh sial, kenapa sih pikiran gue nggak bisa lepas dari Luna," gerutu Bara sebal pada dirinya sendiri.
Bara masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. 15 menit kemudian dia keluar hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Pria bertubuh atletis itu menggunakan kaos oblong dan celana pendek saja. Sangat terlihat jelas otot-otot di lengannya.
Bara masih belum bisa tertidur, padahal waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Pria tampan itu masih mengkhawatirkan kondisi istrinya.
Daripada gelisah terus menerus, lebih baik dia turun kebawah mengecek kamar istrinya. Bara sudah berdiri di depan pintu kamar Luna tetapi, dia bimbang antara masuk atau tidak.
Lama dia berpikir, akhirnya dia mengetuk pintu kamar itu.
Tok..tok..tok
Lama Bara mengetuk pintu namun, tidak ada jawaban sama sekali. Apa istri nya sudah tertidur.
Bara mencoba membuka handle pintu tersebut dan ternyata memang tidak terkunci.
Langkah kakinya semakin masuk kedalam namun, netranya menangkap pemandangan di hadapannya. Sang istri yang tertidur dengan tubuh bergetar.
Bara semakin mendekat dan dapat dia lihat tubuh istrinya sedang menggigil, Luna pun masih memakai pakaian kantor yang tadi dia pakai.
"Lun, Luna!" Bara menggoyangkan tangan Luna, namun tidak ada respon.
Badan Luna kedinginan dan dibanjiri oleh keringat hingga membuat baju wanita itu basah.
Bara panik melihat keadaan istrinya yang seperti itu dan bingung harus berbuat apa.
"Duh, gue bingung harus ngapain? seumur-umur gue belom pernah ngerawat orang sakit." Bara mengoceh sendiri.
Dia membuka ponsel dan mencari tau apa yang harus dilakukan saat seseorang sedang sakit.
Setelah mendapat jawabannya, dia mulai tau apa yang pertama harus dia lakukan.
Bara membuka kemeja Luna yang sudah basah dengan keringat dengan tangan bergetar. Walaupun dia sering melihat lekuk tubuh wanita, entah kenapa dengan Luna berbeda.
"Buka nggak, ya," gumam Bara.
Akhirnya tangan Bara membuka satu persatu kancing kemeja itu. Kini nampak terlihat jelas gunung kembar milik istrinya yang berbalut bra berwarna hitam.
"Ternyata isi nya gede juga, padet, kenyal pasti ukuran 40C ini." Masih sempat-sempatnya Bara berpikir mesum.
Bara lanjut membuka rok hitam sang istri. Setelah kemeja dan rok Luna berhasil dia buka, kini dia melihat tubuh istrinya yang hampir polos.
Gleekkk
Bara menelan ludahnya sendiri membuat jakun nya naik turun, pemandangan di depan nya ini sangatlah indah.
Ternyata sang istri memang sangat cantik dan mempunyai tubuh yang sangat indah.
Postur tubuh yang tinggi, badannya langsing dengan perut ratanya, gunung kembar sangat besar dan sintal tidak lupa bokong besar dan padat.
Bara tidak kuasa mengendalikan hasratnya yang sudah memuncak, buru-buru dia mengambil baju ganti untuk Luna.
Bara mengambil baju tidur panjang agar lebih hangat lalu memakaikan di tubuh istrinya. Setelah selesai Bara masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Luna.
Bara melepas semua pakaian nya kemudian mengguyur badannya dengan air dingin, dia mengocok milik nya sendiri yang sudah sangat menegang.
Pria tampan itu mengurut pedang besarnya sembari membayangkan sedang bercinta dengan Luna.
"Arrrghhh, Luna," desah Bara saat mencapai puncaknya.
"Akh, kenapa cuma liat Luna gue udah horni duluan." Kesal Bara yang tidak bisa mengendalikan hasratnya.
Bara keluar dari kamar mandi membawa waslap dan baskom kecil untuk mengompres Luna.
Kemudian menyeret kursi belajar Luna, lalu duduk di kursi yang dia dekatkan ke tempat tidur dan mengompres Luna agar demamnya bisa segera turun.
Tidak lupa Bara memakaikan selimut tebal agar istri nya tidak kedinginan.
Luna sudah tidak menggigil lagi dan tertidur dengan tenang berkat Bara yang merawat nya. Sesekali Bara mengganti air kompres itu dan mengganti kompres di kening sang istri.
"Udah jam 2 aja." gumamnya melihat arloji di tangan nya.
Bara tertidur dengan posisi yang masih duduk di kursi menghadap ke arah Luna.
Baru sebentar Bara memejamkan matanya, dia mendengar Luna mengigau tidak jelas dan suhu tubuh nya kembali naik.
"Luna, hei Luna bangun!" Bara mencoba membangunkan istrinya namun, tidak ada respon sama sekali.
Luna masih mengigau tidak jelas, akhir nya Bara menaiki tempat tidur dan menenangkan istrinya.
Bara membawa Luna kedalam dekapannya, lalu mengelus puncak kepala wanita itu dengan lembut.
Lama kelamaan Luna pun tertidur kembali, kali ini dia tidur dalam dekapan hangat suaminya.
Bara memandangi wanita yang menjadi istrinya itu dengan lekat, untuk pertama kali nya dia bisa menatap Luna dari dekat seperti ini.
"Cantik, sangat cantik." Gumam Bara memandangi wajah Luna tanpa berkedip.
Wajah polos natural tanpa make up yang sangat cantik. Dia bener-bener baru menyadarinya, karena selama ini dia sangat acuh kepada istrinya.
Kulit putih, hidung mancung, alis tebal dan bibir tipis berwana pink alami. Rasanya dia ingin mencicipi bibir pink itu.
Bara menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran kotor yang sedang bersarang di kepalanya, lalu memejamkan matanya dan tertidur.
***
Pagi hari Luna terbangun lebih dulu, wanita cantik itu mulai membuka matanya dan memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
Namun, dia baru menyadari ada handuk kecil yang menempel di dahinya. Dia paham itu bekas kompresan.
Luna melirik kesamping tempat tidurnya, ada Bara yang sedang tertidur pulas memeluk pinggangnya.
Wanita itu masih ling lung belum mengerti dengan apa yang terjadi dengan dirinya, sampai Bara membuka matanya dan mengajak nya berbicara.
"Udah bangun?" Tanya Bara bangkit lalu menempelkan tangan nya pada dahi Luna.
"Masih demam, cuma nggak terlalu tinggi suhu nya," ujarnya.
"Gue kenapa, Om?" Tanya Luna yang memang tidak mengingat apa-apa.
"Lo demam semalem suhu nya tinggi banget, dan lo juga menggigil terus ngigo nggak jelas gitu. Gue sebagai suami yang baik, ya ngerawat lo lah," ujar Bara sangat percaya diri.
"Serius, Om?"
"Lah, bocah nggak percaya. Itu bukti kompresan nya masih ada." Tunjuk Bara pada baskom kecil di atas nakas.
"Makasih ya Om, udah ngerawat gue semalem," ucap Luna sangat tulus.
Bara bisa merasakan ucapan itu memang benar-benar tulus. "Iya, sama-sama."
"Gue buatin lo bubur dulu ya bentar, kan bibi juga belom dateng."
"Emang nggak ngerepotin om, bukan nya lo harus ngantor?" Tanya Luna menatap lekat suaminya.
"Gampang, hari ini biar gue libur dulu jagain lo disini," jawabnya tanpa keraguan.
"Nggak usah, Om. Mending lo ke kantor aja! gue udah nggak apa-apa kok."
Bara tidak mendengarkan perkataan istrinya, dia memilih beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke dapur.
Bagi Bara yang biasa hidup mandiri memasak bukan lah hal yang sulit. Dia memasak bubur untuk istrinya sembari membuat kopi utuk dirinya sendiri dan roti selai kacang.
15 menit memasak, akhirnya bubur untuk istrinya sudah jadi. Bara juga membuat teh hangat untuk Luna.
Bara kembali ke kamar istrinya membawa nampan ditangannya. Luna yang melihat suaminya masuk pun tersenyum.
Sungguh hati Luna menghangat kala suaminya memberikan nya perhatian lebih.
Luna bersyukur walaupun pernikahan ini atas dasar perjodohan dan suaminya merupakan seorang casanova tetapi, Bara tidak pernah berbuat kasar kepadanya dan sudah bisa bersikap baik.
"Ini makan dulu mumpung masih hangat!" Titah Bara yang kini sudah duduk di kursi sebelah tempat tidur.
Luna hendak mengambil mangkuk bubur itu namun, tangan nya di cegah oleh Bara.
"Biar gue suapin, ayok buka mulut lo!"
Luna membuka mulutnya dan Bara mulai menyuapi Luna dengan sangat telaten hingga makan itu habis tak tersisa.
"Minum dulu teh nya, biar anget juga perut lo." Bara membantu Luna meminum teh hangat yang sudah dia buat.
"Lo ada obat penurun panas nggak?" tanyanya.
"Ada om, itu di laci meja belajar." Jawab nya kemudian Bara mengambil obat yang Luna maksud.
Bara memberikan satu butir obat penurun panas ke tangan Luna, lalu memberikannya air minum.
"Makasih ya om, maaf ngerepotin."
"No problem, ya udah gue tinggal mandi dulu bentar!"
Luna menganggukkan kepala nya, setelah itu Bara naik ke atas menuju kamarnya untuk bersih-bersih.
***
Selesai bersih-bersih Bara membawa laptop dan juga ponselnya ke kamar sang istri. Saat Bara masuk dia melihat istrinya sedang tertidur memilih duduk di sofa dekat jendela.
Bara mengabari Kenan kalau hari ini dia tidak pergi ke kantor karena menjaga Luna. Awalnya Kenan tidak percaya namun, Bara mengirimkan foto Luna yang sedang tertidur dan meminta untuk memberikan izin Luna kepada divisi keuangan
Akhir nya Kenan mempercayai nya, dia juga mengirimkan email kepada Bara yang berisi data-data Luna yang di minta kemarin.
Bara membuka laptop dan melihat data yang dikirimkan oleh Kenan. Dari awal dia baca dengan teliti, memang prestasi yang diraih istrinya sangat banyak, benar apa kata Kenan istrinya salah satu mahasiswi yang cerdas.
Dia juga kagum istrinya yang masih kuliah sudah bisa membuka cafe sendiri yang kini cafe tersebut semakin ramai pengunjungnya.
"Gila-gila gue nggak nyangka dia bisa kek gitu." Gumam Bara saat terlihat data terakhir paling bawah.
Luna merupakan seorang pembalap baik motor sport ataupun mobil sport. Sepak terjangnya di dunia balap memang sudah tidak di ragukan lagi.
"Jadi, selama ini dia menghasilkan uang dan buat modal cafenya dari hasil menang balapan. Pantes nggak pake modal dari orang tua nya. Keren sih bener-bener mandiri." Bara yang mendapatkan kejutan lagi dari sang istri.
Tiinggg
Ponsel Bara berdering ada pesan masuk, dia membuka pesan yang ternyata dari Kenan.
"Besok malem Luna ikut balapan di arena biasa dia balapan. Gue baru dapet kabar dari anak buah gue, katanya besok dia balap motor jam 8 malem." Itulah pesan yang dikirim oleh Kenan.
Bara melirik ke arah Luna yang masih tertidur, hari ini kondisi istrinya masih kurang sehat, apa besok dia bisa ikut balapan.
Setelah memeriksa data-data pribadi Luna, kini pria tampan yang sedang menjaga istrinya itu sedang mengerjakan pekerjaannya yang di kirim oleh Kenan.
Bara mengerjakan pekerjaan sembari menunggu istrinya bangun.
***
"Eeuugghh." Lenguh Luna membuka matanya.
Bara yang melihat istrinya bangun pun mendekati tempat tidur.
"Udah bangun, gimana udah mendingan belum?" tanyanya.
"Udah, om. Makasih, ya"
Luna bangkit dari tempat tidur karena ingin buang air kecil.
"Mau kemana ?" tanya Bara yang melihat istrinya bangkit dari tempat tidur.
"Kamar mandi," jawab Luna singkat.
"Mau gue bantu nggak?"
"Nggak usah Om, gue bisa sendiri udah enakan juga," jawab Luna yang memang sudah merasa lebih baik.
Luna masuk ke kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi tidak lupa buang air kecil.
Saat Luna membuka pintu kamar mandi, ternyata Bara sudah menunggu di depan pintu.
"Ngapain nunggu disini, Om?" tanyanya heran.
"Gue takut lo jatoh di kamar mandi, secara lo baru mendingan."
Luna berjalan kembali ke tempat tidur lalu menjawab ucapan Bara sebelumnya. "Btw, makasih ya Om udah perhatian sama gue."
"Iya santai, gue pesen makan siang dulu deh biar lo bisa makan terus minum obat lagi biar bener-bener pulih."
"Lo mau makan apa?"
"Apa aja, Om." Jawab Luna yang kini sedang duduk bersandar pada headboard tempat tidur..
"Yang berkuah aja kali ya cocok buat orang sakit, sup aja gimana?"
"Iya, boleh."
Bara memesan makan siang untuk Luna dan juga untuk dirinya sendiri, tanpa Bara sadari dia sudah memberikan perhatian lebih pada istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Adila Ardani
visual nya mna Thor
2024-06-08
2
Hanisah Nisa
lanjut
2024-03-21
2