Luna sampai di cafenya dan langsung naik ke lantai 3. Wanita berambut panjang itu mulai menghidupkan laptop mengecek data pendapatan dan pengeluaran bulan ini.
Sementara Ajeng dan Devan sedang berada di bawah membantu karyawan dan memantau pekerja di dapur.
"Alhamdulillah, omset cafe tiap hari makin bertambah." Gumamnya masih terus memeriksa data-data tersebut.
Setelah mengecek semuanya, wanita cantik itu turun kebawah menghampiri Ajeng yang ternyata sedang membantu waiters, karena cafe sangat sedang ramai pengunjung.
Jam pulang kantor juga menjadi jam ramai pengunjung, bukan hanya jam istirahat kantor saja.
Luna melihat cafe yang begitu ramai ikut terjun langsung membantu waiters besama dengan Ajeng, semantara Devan memantau di dapur sekaligus membantu juga.
"Selamat sore, selamat datang di cafe Olivia," sapa Luna lembut menyambut tamu yang baru datang.
Luna membawa buku menu ke meja nomer 16. "Silahkan tuan, mau pesan apa?" Tanyanya ramah sembari tersenyum.
Pria yang sedang duduk itu mendongakkan kepalanya melihat Luna sedang tersenyum pun terpesona dengan wajah cantik Luna.
Walaupun, Luna tidak berdandan dan hanya memakai celana jeans dipadukan dengan kaos dan kemeja panjang membuatnya terlihat sangat cantik dan manis. Rambutnya di kuncir kuda menambah kesan seperti gadis tangguh.
"Maaf tuan, mau pesan apa?" Luna mengulangi pertanyaan nya karena pria itu masih diam saja.
Kenan tersadar dari lamunan nya kala wanita yang dikira waiters itu berbicara.
Ya, laki-laki yang terpesona dengan kecantikan alami Luna yaitu Kenan, asisten sekaligus sepupu dari Bara Adi Wijaya.
Tanpa Kenan ketahui, wanita yang dikagumi merupakan calon istri sepupunya sendiri.
"Steak dan orange juice saja," jawab Kenan.
"Baik tuan, mohon menunggu sebentar." Luna berlalu meninggalkan Kenan yang masih terpaku pada sosok Luna.
Sehabis pulang kantor Kenan sengaja mampir ke cafe yang tidak jauh dari kantor untuk sekedar mengisi perutnya.
Sepuluh menit berlalu, Luna datang kembali membawa nampan di tangan nya. "Silahkan, tuan." Luna meletakan makanan dan minuman di meja yang Kenan tempati.
"Terima kasih."
Luna berlalu meninggalkan Kenan yang sedang menikmati makanannya.
"Huh, capek juga ya jadi waiters." Keluh Ajeng saat sudah duduk di samping Luna di bangku dekat dapur.
"Ya namanya kerja capek, Jeng. lu lagi ada-ada aja, jadi bos aja tetep capek apalagi jadi anak buah," sahutnya.
"Iya juga sih, si Devan mana?"
"Noh bantu di dapur, Alhamdulillah dah rame terus nih cafe sampe kita kadang kualahan padahal udah nambah karyawan."
"Iya ya, bersyukur cafe lu semakin rame. Buka cabang nya ntar aja Lun, kalo kita udah lulus biar pikiran kita kagak ke bagi-bagi. Belom bulan depan magang nyusun skripsi juga, puyeng entar yang ada," sambung Ajeng.
"Astaga gue lupa bulan depan lu merit juga."
Luna sendiripun terkadang lupa kalau sebentar lagi akan segera menikah.
"Tau ah, gue kagak mau mikirin pernikahan yang kagak gue arepin itu."
"Terus si Arnold gimana tuh?" Ajeng baru ingat dengan Arnold yang sepertinya menyukai Luna.
"Lah, kan gue cuma temenan, kalo doi suka sama gue mah pasti udah ungkapin, kan? tapi ini nyatanya kagak. Berarti doi kagak demen sama gue." Jawab Luna biasa saja lalu menyeruput minumannya.
"Bisa jadi."
"Bujug, pada ngeghibah aja lu pada, bukan nya bantuin noh sedeng rame-ramenya." Devan yang baru datang dari dapur langsung mengomeli kedua sahabatnya.
"Lah, Jaenal baru dateng nyerocos aja, lu kagak tau apa ini kita baru ngasoh," jawab Ajeng tak kalah sewot.
"Oh begono, enyak gue barusan nelpon lu pada di suruh maen ke rumah." beritahu Devan.
"Ya udah, kasih tau enyak lu entar malem pulang dari cafe kita mampir ke rumah lu. Balik abis Maghrib aja nyok!"
"Gas lah, kita makan masakan enyak Fatimeh yang rasanya tiada tara," timpal Ajeng.
"Ya udah, bentar gue telpon enyak dulu suruh masakin."
***
Di lain tempat, Bara baru sampai di apartment dan langsung masuk ke kamar mandi.
Tidak lama Bella datang berkunjung, saat dia masuk kedalam terlihat sepi. Namun, netranya menangkap jas Bara yang tergeletak di sofa.
Berarti Bara sudah pulang, dia menunggu di sofa saja. Bella datang ingin menggoda Bara, karena sudah 3 hari Bara tidak memakainya. Dan sekarang dia ingin membeli tas keluaran terbaru, dia akan melayani Bara agar diberikan uang oleh pria tampan itu.
Bara keluar hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, karena ingin mengambil minum di dapur. Namun, pria tampan itu di kagetkan dengan kehadiran Bella di sana.
"Ngapain?" sinis nya.
"Kangen kamu Bar, kamu mau ngapain cuma pake handuk doang?" tanya Bella basa-basi.
"Ambil minum di dapur," jawabnya cuek.
"Biar aku aja yang ambilin, ya." Bella buru-buru mengambil ambil air minum di dapur walaupun Bara belum menyetujui.
Bella memasukan obat perangsang yang dia bawa untuk berjaga-jaga, karena respon Bara yang tidak mengenakan. Bella yakin Bara tidak ingin di ajak berhubungan sekarang.
Setelah Bella memasukan obat perangsang, dia kembali keruang tv menyerahkan minuman itu kepada Bara.
"Ini Bar, minum dulu!"
Tanpa pikir panjang Bara meminum air yang di bawa oleh Bella.
"Bar, udah lama kamu nggak pake aku, kita main yuk! aku layani kamu sampe kamu puas." Ujar Bela berbicara dengan gaya sensual.
Bara merasakan tubuh nya terasa panas dan gairah nya memuncak. "Shiitt, kamu masukan obat perangsang dalam minumanku?" tanya Bara emosi.
Bella hanya diam saja menunggu reaksi Bara. Bara langsung melumat bibir Bella dengan rakus, merobek dress sexy yang dia pakai. Memasukkan junior nya tanpa pemanasan lagi.
Satu jam kemudian permainan panas itu usai, kini kondisi Bella sangat memprihatinkan.
"Aarrghh, sakit." Bella hanya bisa berteriak rasanya menyesal telah memberikan Bara obat perangsang.
"Kamu kasar banget, Bar. Badan aku sakit semua."
"Itu balasan untuk kamu karena kamu masukin obat perangsang dalam minumanku," jawabnya sinis.
"Sudah sana pergi! nanti aku transfer."
Bara meninggalkan Bella seorang diri, lalu masuk kedalam kamar nya.
***
Selesai shalat Maghrib, Luna dan kedua sahabat nya menuju ke rumah Devan.
"Assalamualaikum," ucap mereka bertiga.
"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban dari dalam rumah yang bernuansa seperti rumah peninggalan nenek moyang Betawi.
"Eh, lu semua udeh pade dateng, dah nyok masuk dulu!" ajak enyak Fatimeh berbicara dengan logat Betawi nya.
"Iya Nyak, baru pulang dari cafe." Jawab Luna berjalan masuk kedalam di ikuti oleh Ajeng karena Devan sudah masuk lebih dulu.
"Rame kape elu, Lun?" tanya enyak fatimeh.
"Alhamdulillah, Nyak."
"Syukur deh, Enyak seneng denger nye."
"Pada makan dulu deh! ini enyak udeh masak sayur asem, ikan asin, tempe goreng, ada sambel terasi juge. Itu enyak juge goreng jengkol biar lengkap." Enyak mempersilahkan teman-teman anaknya yang sudah seperti anaknya sendiri itu untuk makan malam.
"Devan lu tolong ambilin lalapan nye di kulkas udah enyak siapin tadi!" Titah enyak menyuruh Devan yang kini sedang berganti pakaian.
Devan yang mendengar enyaknya berteriak seperti memakai toa masjid pun buru-buru mengambil apa yang disuruh enyak nya.
"Ini, Nyak." Devan meletakkan piring berisi lalapan itu di meja makan.
Mereka semua mulai makan malam dengan nikmat tanpa menunggu babeh Rozak, karena beliau sedang menghadiri pengajian di rumah warga kampung.
"Terbaik emang masakan Enyak." Luna mengambil sambel terasi lagi tidak ketinggalan lalapan timun dan selada nya.
"Nambah Neng, lu juga neng Ajeng nambah itu!"
"Siap, Nyak." Jawab Ajeng mengambil jengkol goreng lagi.
Bagi mereka semua makanan seperti ini hanya bisa mereka nikmati di rumah enyak Fatimeh saja. Karena kalau di rumah mereka masing-masing para maid akan memasak makanan berbeda bukan masakan kampung seperti ini.
Setelah makan malam besama dan mengobrol sejenak, mereka pamit untuk pulang karena sudah malam juga.
"Kita pamit dulu ya, Nyak. Salam sama babeh," ujar mereka berdua.
"Iye, entar Nyak sampein, ati-ati kalian!"
"Iya, Nyak." Ajeng dan Luna pergi meninggalkan rumah itu menuju ke rumah nya masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Fadill Palevii
asyik, ceritanya santai seperti kehidupan keseharian yg nyata.../Chuckle//Chuckle//Chuckle/
2024-07-26
1
Kusrini
bagus ceritanya ,ga muluk"
2024-05-27
2