Luna dan yang lainnya sudah kembali ke ruangan divisi keuangan. Diam-diam Sherly tersenyum senang melihat Luna di marahi langsung oleh Bara.
"Mas, Mba, maaf ya gara-gara Luna kalian kena imbasnya juga. Tapi emang bener kok, laporan yang tadi Luna buat bukan yang Pak Bara tunjukkan, kalian boleh tanya sama Mba Puput soalnya tadi Luna nanya ke Mba Puput takutnya ada kesalahan laporan yang Luna buat dan mba Puput juga bilang udah bener. Oh iya, itu ada salinannya masih di komputer coba kalian liat!" jelas Luna.
Kedua karyawan itu mendekati meja Luna dan mengecek komputer yang Luna pakai, dan benar saja memang apa yang dibilang Luna itu semua benar.
"Iya, Lun. Bener kata kamu. Terus siapa yang ngerubah laporan yang kamu buat, ya?" tanya Dini bingung.
"Luna juga bingung, Mba. Padahal udah susah payah ngerjainnya," keluh Luna.
"Sabar ya, Lun. Tetep semangat!" Bayu memberikan semangat.
"Makasih ya, Mas, Mba. Kalian udah support Luna," ujar Luna tersenyum hangat.
"Iya sama-sama, Lun. Ya udah, ayok lanjut kerja!"
Mereka semua melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
Sherly mendengus sebal kenapa tadi dia tidak menghapus salinan data itu di komputer Luna, agar yang lain ikut menyalahkan wanita itu.
***
Jam pulang kantor telah tiba, Luna bergegas untuk pulang karena dia akan pergi ke cafenya terlebih dahulu.
Luna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat mobil Luna akan berbelok menuju ke cafe, dari kejauhan Bara melihat mobil Luna memilih mengikuti mobil istrinya.
Bara merasa tidak enak dengan istrinya, karena sudah memarahi dan membentaknya di depan para karyawan.
Benar apa Kenan, seharusnya dia bertanya baik-baik. Apalagi istrinya masih karyawan magang, kalaupun membuat kesalahan itu masih hal yang wajar.
Bara melihat dari kaca mobil nya Luna masuk kedalam cafe Olivia, cafe yang pernah dia datangi saat meeting dengan salah satu rekan bisnisnya.
Bara turun dari mobil lalu berjalan masuk kedalam cafe. Dia melirik kesana kemari mencari istrinya, namun dia tidak melihat keberadaan sang istri.
Bara duduk di salah satu meja cafe dan memesan kopi hitam saja.
"Baik tuan, mohon menunggu sebentar!" Seru waiters tersebut tersenyum ramah setelah mencatat pesanan Bara.
"Mba, tadi liat perempuan pakai rok hitam kemeja biru masuk kesini nggak ?" tanya Bara pada waiters itu.
Sejenak waiters itu berpikir, yang baru saja masuk menggunakan rok hitam kemeja biru bukan nya Luna boss mereka.
"Kalau yang saya lihat barusan masuk menggunakan rok hitam dan kemeja biru itu Bu Luna, tuan," jawab waiters itu dengan jujur.
"Iya benar, Luna. Mba kenal dengan Luna?" sambung Bara.
"Oh, Bu Luna. Pasti kenal tuan, kan Bu Luna boss kami pemilik cafe ini."
Deg!
Jawaban waiters itu membuat Bara seketika shock, jadi pemilik cafe Olivia itu istrinya sendiri.
"Terimakasih, Mba," sahut Bara.
Waiters itu berlalu meninggalkan Bara menuju ke dapur.
Tidak berselang lama kopi pesanan Bara datang, dia meminum kopi itu hanya sedikit saja. Karena memang niat nya hanya ingin mencari Luna.
Bara pergi meninggalkan cafe itu setelah membayar kopi yang dia pesan.
"Halo, Ken. Gue minta data lengkap Luna! lo cari tau sedetail mungkin jangan sampe ada yang kelewat! "
Ucapan Bara membuat Kenan bingung di sebrang sana. Belum sempat Kenan menjawab, Bara sudah lebih dulu memutuskan sambungan teleponnya.
"Berarti anak muda yang punya cafe yang di bilang kolage gue waktu itu istri gue sendiri," monolog Bara.
"Banyak kejutan yang gue dapet setelah gue mengenal lo lebih jauh lagi." gumamnya masih duduk di balik kemudi.
Bara melajukan mobilnya menuju ke apartment meninggalkan cafe Olivia.
***
Di ruangannya Luna merebahkan dirinya di atas kasur busa, pikiran nya menerawang memikirkan kenapa bisa laporan yang dia buat berubah.
"Siapa ya yang ngerubah data yang gue buat? Masa iya si Bara sendiri yang ngerubah, tapi kek nya kagak mungkin kurang kerjaan amat. Apa ada yang kagak suka sama gue di divisi keuangan? tapi siapa perasaan semuanya baik-baik aja." Luna masih berpikir sampai Ajeng dan Devan datang.
Dooorrrr
Devan mengagetkan Luna membuat Luna terkejut kemudian memukul lengan pemuda tampan itu.
"Kaget gue oon." Gerutu Luna membuat Ajeng dan Devan tertawa.
"Lagian lu masih sore udah bengong aja. Bae-bae ntar kek ayam tetangga gue kebanyakan ngelamun kagak lama modar tuh ayam," celetuk Devan.
"Ngapa sih, ada masalah, lu?" Ajeng ikut bertanya.
Lalu Luna menceritakan semua kejadian yang dia alami di kantor.
"Siapa ya kira-kira yang ngerubah datanya?" Ujar Ajeng yang dijawab gelengan kepala oleh Luna.
"Kalo menurut gue nih ya, reaksi dari casanova itu kagak sepenuh nya salah. Bukan nya gue ngebela laki lu, tapi dia kan pimpinan mungkin cuma bersikap profesional aja. Cuma ya salahnya pake ngebentak segala, orang mah di omongin bae-bae." Devan memberikan pendapat nya.
"Bener juga sih apa kata Jaenal, kek nya lu kudu waspada Lun di divisi keuangan. Takutnya ada yang kagak demen sama lu." Saran Ajeng berpikir secara logika.
"Iya, gue juga mikir nya gitu. Thanks, kalian udah mau dengerin keluh kesah gue hari ini. Sumpah otak gue jadi mumet mikirin nya," ucapnya lesu.
"Udah, kagak usah dibawa puyeng, nikmatin aja proses nya!"
***
Bara langsung merebahkan dirinya di sofa saat baru tiba di apartment.
"Kenapa gue masih kepikiran Luna ya." Lirihnya belum bisa menyingkirkan bayangan sang istri dalam benaknya.
Bara masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih. 15 menit kemudian dia keluar dengan hanya memakai bathrobe saja.
Bara pergi ke pantry mengambil soda kaleng, namun dia di kaget kan dengan kehadiran Bella yang tiba-tiba datang.
Bella datang dengan kondisi yang sudah acak-acakan dress bagian atasnya.
"Kenapa, kamu?" Tanya Bara yang kini sedang duduk di sofa.
Tanpa aba-aba Bella naik ke atas pangkuan Bara, melumat rakus bibir Bara dan menggesekkan milik nya dengan milik Bara.
"Hmmpp." Desah Bella yang sudah di pengaruhi obat perangsang.
Bara hanya diam saja membiarkan Bella menikmati tubuh nya, sepertinya dia tau apa yang terjadi dengan wanita itu.
Bibir Bella turun ke leher Bara menggigit kecil leher itu dan meninggalkan jejak kemerahan. Lidah nya naik menjilati daun telinga Bara membuat lelaki itu menggeram.
Tangan nya tidak tinggal diam meremas pedang yang sudah menegang itu. Belum puas bibir Bella turun kebawah.
"Argghh." Desah Bara saat bibir itu menghisap area sensitifnya, sementara tangan Bella meremas pedangnya.
Bella meninggalkan jejak kemerahan di dada dan perut pria tampan itu membuat Bara tidak tahan.
Remasan tangan itu kini berubah, karena Bella memasukan pedang besar itu ke dalam mulutnya.
Bella memaju mundurkan kepala nya mengulum pedang itu, sementara Bara menekan kepala Bella agar kulumannya lebih dalam.
"Aargghh, faster!" rancu Bara menjambak rambut Bella.
Bibir nya kembali mengulum pedang besar itu dengan sangat cepat membuat Bara mengeluarkan cairannya.
"Aargghh," desahnya panjang.
Bella menelan cairan itu dengan cepat lalu memasukan pedang yang kembali mengeras ke goa miliknya.
Bleesshh
Pedang itu masuk sempurna sangat dalam membuat Bella tidak tahan, miliknya sekan ditusuk begitu dalam.
"Argghhhh kamu sangat nikmat, baby," desah Bella.
Bara mendesah saat pinggul itu bergoyang diatas tubuhnya, namun yang dia bayangkan yaitu wajah istrinya.
"Arggghh, Luna," desah Bara.
Bella melumat rakus bibir Bara dan dibalas oleh pria itu yang mengira wanita di hadapan nya itu Luna.
"Hhmmmpp." Desahan keluar dari bibir Bella.
Bella masih memacu diatas tubuh Bara dan mendesah dengan kencang. Obat yang masih mempengaruhi tubuhnya membuat seakan tidak ada lelahnya.
"Aarggghh, aargghhh. Kamu sangat nikmat, Bara," desahnya tak tertahan.
Bara melahap bongkahan sintal itu sementara tangan satunya meremas bongkahan sintal satunya dengan kencang.
"Aargghhh." Bella benar-benar tidak tahan.
Goyangan nya semakin kencang membuat Bara tidak tahan ingin mencapai puncaknya. Karena tidak memakai pengaman, buru- buru Bara mendorong Bella hingga terduduk dilantai.
Bara berdiri memasukan pedang nya kedalam mulut Bella. Wanita itu terduduk di lantai dengan kepalanya mendongak ke atas mengulum pedang yang akan mencapai puncaknya.
"Arrghhh, Luna." Desah nya panjang menjambak rambut Bella.
Setelah selesai, Bara menarik pedang nya dari mulut wanita itu. Diabaru menyadari kalau dirinya bercinta bukan dengan Luna.
"Shhiitt! Kenapa gue ngebayangin bercinta sama Luna sih," umpat Bara.
Bara masuk ke kamarnya meninggalkan Bella yang tertidur di sofa. Setelah selesai bersih-bersih dia memutuskan untuk pulang ke mansion.
***
Luna mengendarai mobil nya dengan kecepatan kencang, dia baru pulang dari cafe jam 8 malam.
Luna sengaja melajukan mobil nya dengan kecepatan kencang, karena ingin mengeluarkan kekesalan yang ada di hati.
"Aarggghhhh," teriaknya kencang.
Mobil yang dikendarai Luna melaju dengan sangat kencang, karena jalanan malam juga sudah sepi.
Saat sedang melajukan mobil nya dengan kencang, tiba-tiba ada kucing yang menyebrang jalan membuat Luna reflek menginjak rem mendadak.
"Auh." Rintih Luna saat kepala nya membentur setir kemudi.
"Arrghh, sial." Umpat Luna memegang keningnya yang berdenyut akibat benturan tadi.
Dia melihat dari cermin yang ada di mobil dan ternyata kening nya berdarah dan memar.
Dia tidak menghiraukannya dan kembali melajukan mobilnya kali ini dengan kecepatan standar.
Luna sampai di mansion saat Bara juga baru sampai. Bara berdiri di dekat pintu mobilnya melihat Luna yang baru pulang.
Bara tidak mengatai Luna keluyuran lagi, sebab dia tau Luna selama ini setelah pulang dari kantor mengunjungi cafenya terlebih dahulu.
Luna keluar dari mobil berjalan masuk walaupun kepalanya sedikit pusing.
Bara melihat istrinya terlihat lesu dan di kening nya terdapat memar juga ada bekas darah yang sudah mengering.
"Lo, kenapa?" tanya Bara terlihat khawatir.
" Kagak apa apa." Jawab nya cuek lalu masuk kedalam.
Bara melihat istri nya kembali cuek padahal tadi pagi sebelum berangkat masih terlihat biasa saja. Mungkin karena kejadian di kantor tadi siang membuat Luna marah.
Bara tidak bisa mengendalikan dirinya saat dikantor tadi siang, walaupun Kenan sudah mengingatkannya.
Pria itu terlihat khawatir dengan kondisi sang istri. Dia ingin meminta maaf dengan Luna, tapi sayang Luna terlihat enggan berbicara dengannya.
Luna masuk ke kamar nya lalu merebahkan dirinya tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Kepalanya terasa pusing dan berdenyut membuatnya tidak bisa bangun untuk sekedar bersih-bersih.
Luna memejamkan matanya menghalau rasa pusing yang sedang dia rasakan, tanpa terasa dia pun tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
erinatan
sungguh kelakuan barra menjijikkan
2024-07-27
1
Marsina Lindra
ternyata bara bukan lelaki yang baik, menjijikan
2024-07-25
1
Yuli Yanti
sumpah y si barabere bnr2 menjijikan
2024-06-20
5