Setelah kemarin seharian istirahat dan di rawat oleh suaminya, kini Luna sudah kembali sehat dan hari ini sudah mulai magang kembali.
Kemarin sore bibi sudah datang dari kampung, jadi ada yang menemani Luna semalam. Sementara Bara kembali ke kamar nya karena sudah ada bibi.
Luna sudah duduk di meja makan untuk sarapan. "Non, ini bibi buat sandwich tuna buat non." Ujar bibi membawa sandwich tuna yang dia buat tadi.
"Makasih ya, bi. Maaf semalem aku ngerepotin bibi."
Nggak apa-apa atuh, Non. Bibi seneng malah nemenin non," jawab bibi tersenyum.
Bara turun dari kamarnya langsung menuju meja makan, belakangan ini dia jadi terbiasa sarapan di mansion.
"Pagi, Tuan," sapa bibi yang masih berada di meja makan.
"Pagi, bi," jawab Bara ramah.
"Tuan, mau bibi buatin kopi?" Tawar bibi pada majikannya.
"Boleh, bi. Jangan terlalu manis, ya!"
"Baik, Tuan. Non mau sekalian bibi buatin minuman?"
"Susu coklat aja deh, bi." Jawab Luna yang memang sedang ingin minum susu coklat.
"Siap, Non." Bibi beranjak dari meja makan menuju ke dapur.
Tidak menunggu lama bibi datang membawa nampan yang berisi kopi dan susu coklat untuk majikannya.
"Ini Tuan, Non, silahkan diminum!"
"Makasih, bi." sahut Luna lalu meminum susu coklat itu sedikit demi sedikit karena masih panas.
Setelah bibi pergi Bara mengajak Luna mengobrol. "Udah nggak sakit lagi?"
"Nggak, Om. Makasih ya om yang kemarin, maaf juga gara-gara jagain gue malah jadi nggak ngantor." Jawab Luna dan meminta maaf.
"Santai." Mereka lanjut memakan Sandwich yang telah di buat bibi.
Saat Luna bangkit dari duduknya dan memakai tasnya, Bara menahan nya untuk tidak berangkat ke kantor sendiri.
"Lo bareng gue aja! takut nya lo masih pusing nanti kalo bawa kendaraan sendiri."
Padahal itu hanya alibi Bara saja dan entah kenapa dia ingin Luna berangkat ke kantor bersamanya. Dia merasa ingin selalu dekat dengan istri cantiknya.
"Udah, ayok jangan kebanyakan mikir!" Bara menarik tangan Luna, sementara tangan satunya menenteng tas kerjanya.
Bara membukakan pintu mobil untuk Luna tidak seperti biasanya perlakuan Bara dari kemarin sangat berbeda.
Sebetulnya, Luna senang dengan perlakuan suami nya ini namun, dia masih tetap menutup hati nya rapat-rapat jangan sampai jatuh cinta pada suaminya.
Luna hanya takut jika mencintai laki-laki itu, dia hanya akan sakit hati karena di permainkan oleh Bara.
"Makasih, Om." Ucap Luna saat sudah masuk ke mobil.
Bara mulai melajukan mobilnya menuju ke kantor Wijaya Corporation.
Selama di perjalanan Luna hanya diam saja dan Bara juga bingung harus memulai obrolan dari mana, alhasil hanya ada keheningan selama di perjalanan.
Luna turun dari mobil Bara setelah mobil yang di tumpanginya sampai. Dari kejauhan Sherly melihat Luna turun dari mobil Bara pun mendengus sebal.
"Pasti tuh cewek ngerayu Pak Bara gara gara masalah kemarin. Buktinya aja kemarin dia nggak masuk, dasar pelakor nggak tau Pak Bara udah punya istri." Gumam Sherly lalu masuk ke dalam.
Bara turun dan mengajak Luna masuk bersama. "Emang nggak papa ini om kita masuk bareng?"
"Pertanyaan bodoh." Jawab Bara lalu menggandeng tangan Luna berjalan melewati lobby.
Para karyawan biasa saja melihat Bara dan Luna, karena memang sudah mengetahui kalau Luna istri dari boss mereka.
"Om, gue naik lift karyawan aja." Tolak Luna saat Bara mengajak nya masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Udah, ayok!" Bara menarik tangan Luna masuk kedalam lift.
Bara memencet angka 6 karena ruangan divisi keuangan berada di lantai 6.
Tiingg
Lift berhenti di lantai enam dan Luna keluar dari sana. "Makasih ya. Om." Bara hanya menganggukkan kepalanya saja.
Bara menekan tombol angka 10 menuju ke ruangannya, sementara Luna berjalan menuju meja kerjanya.
Luna sudah duduk di kursi nya tiba-tiba yang lain datang menghampirinya.
"Lun, kata Pak Kenan kemarin kamu sakit, ya?" tanya mba Dini.
"Iya mba, kurang enak badan makanya istirahat dulu," jawab Luna jujur.
"Kemarin Pak Bara juga nggak nggak masuk pas kita meeting," timpal Puput.
"Iya, Mba. Kemarin Pak Bara jagain aku makanya nggak masuk kantor."
Sayang saat Luna berbicara seperti itu Sherly sedang tidak ada di ruangan itu, karena masih berada di toilet.
"So sweet juga ya ternyata pak Bara." Mas Bayu ikut menimpali ucapan teman-temannya.
Luna hanya tertawa saja bingung harus menjawab apa, karena memang suami nya baik baru beberapa hari ini saja.
***
Bara masuk keruangan nya, tidak lama Feli juga masuk keruangan Bara.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Feli tersenyum ramah berusaha merayu Bara.
"Apa jadwal saya hari ini," tanyanya singkat.
"Bapak hari ini cuma ada kunjungan ke kantor cabang yang ada di Bekasi saja, Pak. Kemarin meeting sudah di gantikan oleh pak Kenan."
"Jam berapa kunjungan nya?" tanyanya memastikan
"Kita berangkat jam 10, Pak. Saya yang menemani Bapak ke kantor cabang, sementara pak Kenan sedang mengurus acara untuk ulang tahun perusahaan yang ke 20 yang akan di langsungkan besok," beritahu Feli.
"Baiklah, sekarang kamu boleh keluar!" Titah Bara tanpa menoleh kearah sekertarisnya.
Mau tidak mau Feli keluar dari ruangan boss nya itu tanpa bisa merayunya.
Bara mulai membuka laptop nya mengerjakan pekerjaan nya sebelum jam sepuluh pergi ke kantor cabang.
Dua jam fokus mengerjakan pekerjaannya, Feli kembali masuk kedalam ruangan Bara.
"Maaf, Pak, sudah jam 10 waktunya kita berangkat!"
Bara bangkit dari duduknya lalu mematikan laptop dan memakai kembali jas yang sempat dia buka.
Feli mengikuti Bara berjalan di belakangnya menuju ke lobby karena supir sudah menunggu.
***
Di ruangan nya Luna sedang fokus mengerjakan pekerjaannya agar tidak terjadi kesalahan seperti sebelumnya. Dia tidak akan membiarkan hal itu terulang kembali.
Tidak terasa sudah waktunya makan siang, Luna menunggu Devan dan juga Ajeng di lobby kantor.
"Lunaaaa!" teriak Ajeng heboh saat bertemu dengan Luna.
"Berisik, Inem." Ujar Devan yang berjalan di samping Ajeng.
"Lah, jidat lu ngapa itu?" Tanya Devan saat sudah tiba di hadapan Luna.
"Dah, entar gue ceritain, udah ayok makan siang dulu!"
Mereka makan siang di cafe depan kantor saja biar tidak bolak-balik jadi hanya tinggal menyebrang jalan saja.
"Jadi, gimana ceritanya? kemaren lu juga kagak masuk," tanya Ajeng penasaran.
"Ini tuh gara-gara hampir nabrak kucing. Jadi, pas waktu gue pulang dari cafe, gua ngerem mendadak gara-gara ada kucing nyebrang jalan, alhasil ini jidat kepentok setir mobil."
"Terus ngapa lu kagak masuk kemaren?" sambung Devan.
"Pas gue nyampe rumah katanya gue demam tinggi, pas pagi gue bangun bener sih pala gue masih puyeng," jawabnya jujur.
"Kok katanya? kagak ngerti dah gue." Ajeng dibuat bingung dengan perkataan sahabatnya.
"Jadi, pas malem nya gue demam tinggi itu si Bara ke kamar gue. Dia yang ngompres gue, dia juga yang ngerawat gue sampe besokan nya, ya sampe si bibi dateng. Dia juga yang bikinin gue bubur pas paginya."
"Whaaaaaaattt! serius demi apa, lu?" Respon Ajeng membuat Devan menoyor kepala Ajeng.
"Iya, serius," jawab Luna santai.
"Kok bisa si Juleha laki lu jadi bae begitu?" Devan juga heran dengan apa yang di ceritakan Luna.
Belum sempat Luna menjawab pesanan yang mereka pesan sudah datang.
"Selamat menikmati!" Ujar pelayan itu setelah meletakkan makanan di atas meja.
"Makasih, Mba," jawab mereka kompak.
"Makan dulu ntar lanjut lagi!" Titah Luna yang mulai memakan makanannya.
"Jadi, apa ada kemajuan hubungan lu sama Bara?" Ajeng yang bertanya.
"Biasa aja masih kek biasanya, mungkin dia bae terus perhatian sama gue kemaren itu cuma kasian aja kali karena gue lagi sakit."
"Bisa jadi sih, takut lu koit kagak ada yang tau." Luna menggeplak lengan Devan karena ucapannya.
"Mulut lu, mau di cabein?" sinis Luna.
"Hehehe, piss." Devan mengangkat dua jarinya ke atas.
"Ntar abis pulang ngantor ke cafe dulu ya, gue mau bayar gaji karyawan sama gaji lu berdua. Oh iya Van, anterin gue pulang ke mansion entar ya ambil motor buat balapan entar malem!"
"Emang udah sehat bener lu mau ikut balapan? kalo ngerasa masih kurang sehat mah udah absen dulu kali ini." Saran Devan yang tidak ingin sahabatnya kenapa-napa.
"Kagak, udah sehat gue. Lumayan tau ini 100 juta."
"Iya sih, tapi kan kesehatan lu itu nomer satu, Lun." Sambung Ajeng yang mengkhawatirkan sahabatnya.
"Aman tenang sja, udah ayok balik kantor shalat Dzuhur dulu!" Mereka semua kembali ke kantor setelah selesai makan siang.
***
Jam kantor telah selesai, Luna di bonceng Devan pergi ke cafe Olivia dan Ajeng yang mengikuti dari belakang.
Luna memberikan gaji karyawan satu-persatu, karena sebelumnya dia sudah memberikan bonus jadi hari ini hanya gaji pokoknya saja.
"Nih, buat lu berdua!" Luna menyerahkan 2 buah amplop untuk Devan dan juga Ajeng.
"Thanks, bu boss," ucap mereka berdua kompak setelah menerima amplop tesebut
Sementara Luna sedang membagikan gaji karyawan, Bara sedang mengunjungi kantor cabang yang ada di Bekasi.
Sudah dari siang dia fokus mengurus sedikit masalah yang terjadi di sana, sampai-sampai dia melupakan jam makan siang.
"Pak, ini bapak makan dulu! Dari siang kan bapak belum makan." Feli menyerahkan kotak makanan untuk boss tampan nya.
Bara mengambil makanan itu dan memakan nya, karena memang perut nya juga sudah lapar.
"Pak, saya temenin bapak makan, ya!" Tanpa persetujuan dari Bara, Feli langsung duduk di samping Bara.
Bara sedang duduk di sofa yang berada di ruang direktur yang memimpin perusahaan cabang Bekasi.
Pria bertubuh atletis itu tidak menghiraukan keberadaan sekretaris nya, dia masih sibuk dengan makanannya sendiri.
"Perasaan gue udah sexy banget deh, tapi kenapa sih susah banget dapetin Bara." batin Feli.
Feli masih mencoba merayu Bara, tangan wanita itu meraba-raba bagian atas boss tampan nya itu sampai naik ke atas pedang besar milik Bara.
Namun, Bara masih acuh dan membiarkan saja sekertaris nya itu.
Tidak putus asa, Feli menekan pedang Bara lalu meremas nya, dia bergerak gelisah karena sudah membayangkan miliknya menyatu dengan milik Bara yang berukuran jumbo.
Karena Bara hanya diam saja, Feli langsung membuka ikat pinggang yang melekat di celana bahan Bara.
Bara menyudahi makan nya karena terganggu dengan aktivitas sekertarisnya.
Feli meremas pedang itu hingga mengeras dan tanpa aba-aba dia duduk di bawah antara kaki Bara.
Feli mengulum pedang besar itu dengan gaya erotis, karena sudah di penuhi oleh hawa nafsu.
Wanita itu mengulum lebih dalam lagi lalu menghisap ujung pedang itu. Karena hasrat yang sudah memuncak, dia mengulum pedang itu semakin cepat hingga Bara mengeluarkan cairannya.
Tanpa rasa jijik dia menelan cairan itu hingga menjilati ujung pedang itu tanpa tersisa setetes pun.
Namun, ada yang berbeda dengan Bara, kali ini dia tidak seperti biasanya yang selalu bergairah.
Dia hanya membayangkan jika yang sedang melakukan nya yaitu istri nya Luna. Apa dia sudah mulai menyukai atau bahkan mencintai istri nya.
Bara merapikan celana nya tanpa berniat bercinta dengan sekertarisnya.
"Kamu mau bercinta?" tanya Bara yang di anggukan Feli.
"Baiklah, lakukan pemanasan sampai kamu keluar!" titah nya.
Feli dengan senang hati melakukan nya, dia membuka satu-persatu pakaian yang melekat di tubuh nya hingga tak tersisa sehelai benang pun.
Bara langsung keluar dari ruangan itu dan seketika merasa jijik dengan apa yang sekertarisnya lakukan.
Padahal biasanya dia sangat menyukai adegan seperti itu melihat para wanita bayaran bermain sendiri.
"Pak Baraaa!" Teriak Feli yang tidak rela di tinggalkan.
"Akhh, sial." Dia tidak terima di permainkan begitu saja.
Sementara Bara pergi menemui direktur yang memimpin perusahaan cabang, lalu berbincang sebentar karena memang pekerjaan nya sudah selesai dan masalah yang ada di sana sudah terselesaikan.
Bara pulang bersama dengan supir dan meninggalkan sekertaris nya begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Rizka Susanto
menjijikan bgd si bara....boleh gK sih Luna jodohnya sama kenan apa sama siapa aja kek...klo sama si bara api kasihan...murah bgd dia...
2024-05-06
11