BAB 20. Ada Apa Dengan Bara?

Setelah kemarin seharian istirahat dan di rawat oleh suaminya, kini Luna sudah kembali sehat dan hari ini sudah mulai magang kembali.

Kemarin sore bibi sudah datang dari kampung, jadi ada yang menemani Luna semalam. Sementara Bara kembali ke kamar nya karena sudah ada bibi.

Luna sudah duduk di meja makan untuk sarapan. "Non, ini bibi buat sandwich tuna buat non." Ujar bibi membawa sandwich tuna yang dia buat tadi.

"Makasih ya, bi. Maaf semalem aku ngerepotin bibi."

Nggak apa-apa atuh, Non. Bibi seneng malah nemenin non," jawab bibi tersenyum.

Bara turun dari kamarnya langsung menuju meja makan, belakangan ini dia jadi terbiasa sarapan di mansion.

"Pagi, Tuan," sapa bibi yang masih berada di meja makan.

"Pagi, bi," jawab Bara ramah.

"Tuan, mau bibi buatin kopi?" Tawar bibi pada majikannya.

"Boleh, bi. Jangan terlalu manis, ya!"

"Baik, Tuan. Non mau sekalian bibi buatin minuman?"

"Susu coklat aja deh, bi." Jawab Luna yang memang sedang ingin minum susu coklat.

"Siap, Non." Bibi beranjak dari meja makan menuju ke dapur.

Tidak menunggu lama bibi datang membawa nampan yang berisi kopi dan susu coklat untuk majikannya.

"Ini Tuan, Non, silahkan diminum!"

"Makasih, bi." sahut Luna lalu meminum susu coklat itu sedikit demi sedikit karena masih panas.

Setelah bibi pergi Bara mengajak Luna mengobrol. "Udah nggak sakit lagi?"

"Nggak, Om. Makasih ya om yang kemarin, maaf juga gara-gara jagain gue malah jadi nggak ngantor." Jawab Luna dan meminta maaf.

"Santai." Mereka lanjut memakan Sandwich yang telah di buat bibi.

Saat Luna bangkit dari duduknya dan memakai tasnya, Bara menahan nya untuk tidak berangkat ke kantor sendiri.

"Lo bareng gue aja! takut nya lo masih pusing nanti kalo bawa kendaraan sendiri."

Padahal itu hanya alibi Bara saja dan entah kenapa dia ingin Luna berangkat ke kantor bersamanya. Dia merasa ingin selalu dekat dengan istri cantiknya.

"Udah, ayok jangan kebanyakan mikir!" Bara menarik tangan Luna, sementara tangan satunya menenteng tas kerjanya.

Bara membukakan pintu mobil untuk Luna tidak seperti biasanya perlakuan Bara dari kemarin sangat berbeda.

Sebetulnya, Luna senang dengan perlakuan suami nya ini namun, dia masih tetap menutup hati nya rapat-rapat jangan sampai jatuh cinta pada suaminya.

Luna hanya takut jika mencintai laki-laki itu, dia hanya akan sakit hati karena di permainkan oleh Bara.

"Makasih, Om." Ucap Luna saat sudah masuk ke mobil.

Bara mulai melajukan mobilnya menuju ke kantor Wijaya Corporation.

Selama di perjalanan Luna hanya diam saja dan Bara juga bingung harus memulai obrolan dari mana, alhasil hanya ada keheningan selama di perjalanan.

Luna turun dari mobil Bara setelah mobil yang di tumpanginya sampai. Dari kejauhan Sherly melihat Luna turun dari mobil Bara pun mendengus sebal.

"Pasti tuh cewek ngerayu Pak Bara gara gara masalah kemarin. Buktinya aja kemarin dia nggak masuk, dasar pelakor nggak tau Pak Bara udah punya istri." Gumam Sherly lalu masuk ke dalam.

Bara turun dan mengajak Luna masuk bersama. "Emang nggak papa ini om kita masuk bareng?"

"Pertanyaan bodoh." Jawab Bara lalu menggandeng tangan Luna berjalan melewati lobby.

Para karyawan biasa saja melihat Bara dan Luna, karena memang sudah mengetahui kalau Luna istri dari boss mereka.

"Om, gue naik lift karyawan aja." Tolak Luna saat Bara mengajak nya masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan.

"Udah, ayok!" Bara menarik tangan Luna masuk kedalam lift.

Bara memencet angka 6 karena ruangan divisi keuangan berada di lantai 6.

Tiingg

Lift berhenti di lantai enam dan Luna keluar dari sana. "Makasih ya. Om." Bara hanya menganggukkan kepalanya saja.

Bara menekan tombol angka 10 menuju ke ruangannya, sementara Luna berjalan menuju meja kerjanya.

Luna sudah duduk di kursi nya tiba-tiba yang lain datang menghampirinya.

"Lun, kata Pak Kenan kemarin kamu sakit, ya?" tanya mba Dini.

"Iya mba, kurang enak badan makanya istirahat dulu," jawab Luna jujur.

"Kemarin Pak Bara juga nggak nggak masuk pas kita meeting," timpal Puput.

"Iya, Mba. Kemarin Pak Bara jagain aku makanya nggak masuk kantor."

Sayang saat Luna berbicara seperti itu Sherly sedang tidak ada di ruangan itu, karena masih berada di toilet.

"So sweet juga ya ternyata pak Bara." Mas Bayu ikut menimpali ucapan teman-temannya.

Luna hanya tertawa saja bingung harus menjawab apa, karena memang suami nya baik baru beberapa hari ini saja.

***

Bara masuk keruangan nya, tidak lama Feli juga masuk keruangan Bara.

"Selamat pagi, Pak." Sapa Feli tersenyum ramah berusaha merayu Bara.

"Apa jadwal saya hari ini," tanyanya singkat.

"Bapak hari ini cuma ada kunjungan ke kantor cabang yang ada di Bekasi saja, Pak. Kemarin meeting sudah di gantikan oleh pak Kenan."

"Jam berapa kunjungan nya?" tanyanya memastikan

"Kita berangkat jam 10, Pak. Saya yang menemani Bapak ke kantor cabang, sementara pak Kenan sedang mengurus acara untuk ulang tahun perusahaan yang ke 20 yang akan di langsungkan besok," beritahu Feli.

"Baiklah, sekarang kamu boleh keluar!" Titah Bara tanpa menoleh kearah sekertarisnya.

Mau tidak mau Feli keluar dari ruangan boss nya itu tanpa bisa merayunya.

Bara mulai membuka laptop nya mengerjakan pekerjaan nya sebelum jam sepuluh pergi ke kantor cabang.

Dua jam fokus mengerjakan pekerjaannya, Feli kembali masuk kedalam ruangan Bara.

"Maaf, Pak, sudah jam 10 waktunya kita berangkat!"

Bara bangkit dari duduknya lalu mematikan laptop dan memakai kembali jas yang sempat dia buka.

Feli mengikuti Bara berjalan di belakangnya menuju ke lobby karena supir sudah menunggu.

***

Di ruangan nya Luna sedang fokus mengerjakan pekerjaannya agar tidak terjadi kesalahan seperti sebelumnya. Dia tidak akan membiarkan hal itu terulang kembali.

Tidak terasa sudah waktunya makan siang, Luna menunggu Devan dan juga Ajeng di lobby kantor.

"Lunaaaa!" teriak Ajeng heboh saat bertemu dengan Luna.

"Berisik, Inem." Ujar Devan yang berjalan di samping Ajeng.

"Lah, jidat lu ngapa itu?" Tanya Devan saat sudah tiba di hadapan Luna.

"Dah, entar gue ceritain, udah ayok makan siang dulu!"

Mereka makan siang di cafe depan kantor saja biar tidak bolak-balik jadi hanya tinggal menyebrang jalan saja.

"Jadi, gimana ceritanya? kemaren lu juga kagak masuk," tanya Ajeng penasaran.

"Ini tuh gara-gara hampir nabrak kucing. Jadi, pas waktu gue pulang dari cafe, gua ngerem mendadak gara-gara ada kucing nyebrang jalan, alhasil ini jidat kepentok setir mobil."

"Terus ngapa lu kagak masuk kemaren?" sambung Devan.

"Pas gue nyampe rumah katanya gue demam tinggi, pas pagi gue bangun bener sih pala gue masih puyeng," jawabnya jujur.

"Kok katanya? kagak ngerti dah gue." Ajeng dibuat bingung dengan perkataan sahabatnya.

"Jadi, pas malem nya gue demam tinggi itu si Bara ke kamar gue. Dia yang ngompres gue, dia juga yang ngerawat gue sampe besokan nya, ya sampe si bibi dateng. Dia juga yang bikinin gue bubur pas paginya."

"Whaaaaaaattt! serius demi apa, lu?" Respon Ajeng membuat Devan menoyor kepala Ajeng.

"Iya, serius," jawab Luna santai.

"Kok bisa si Juleha laki lu jadi bae begitu?" Devan juga heran dengan apa yang di ceritakan Luna.

Belum sempat Luna menjawab pesanan yang mereka pesan sudah datang.

"Selamat menikmati!" Ujar pelayan itu setelah meletakkan makanan di atas meja.

"Makasih, Mba," jawab mereka kompak.

"Makan dulu ntar lanjut lagi!" Titah Luna yang mulai memakan makanannya.

"Jadi, apa ada kemajuan hubungan lu sama Bara?" Ajeng yang bertanya.

"Biasa aja masih kek biasanya, mungkin dia bae terus perhatian sama gue kemaren itu cuma kasian aja kali karena gue lagi sakit."

"Bisa jadi sih, takut lu koit kagak ada yang tau." Luna menggeplak lengan Devan karena ucapannya.

"Mulut lu, mau di cabein?" sinis Luna.

"Hehehe, piss." Devan mengangkat dua jarinya ke atas.

"Ntar abis pulang ngantor ke cafe dulu ya, gue mau bayar gaji karyawan sama gaji lu berdua. Oh iya Van, anterin gue pulang ke mansion entar ya ambil motor buat balapan entar malem!"

"Emang udah sehat bener lu mau ikut balapan? kalo ngerasa masih kurang sehat mah udah absen dulu kali ini." Saran Devan yang tidak ingin sahabatnya kenapa-napa.

"Kagak, udah sehat gue. Lumayan tau ini 100 juta."

"Iya sih, tapi kan kesehatan lu itu nomer satu, Lun." Sambung Ajeng yang mengkhawatirkan sahabatnya.

"Aman tenang sja, udah ayok balik kantor shalat Dzuhur dulu!" Mereka semua kembali ke kantor setelah selesai makan siang.

***

Jam kantor telah selesai, Luna di bonceng Devan pergi ke cafe Olivia dan Ajeng yang mengikuti dari belakang.

Luna memberikan gaji karyawan satu-persatu, karena sebelumnya dia sudah memberikan bonus jadi hari ini hanya gaji pokoknya saja.

"Nih, buat lu berdua!" Luna menyerahkan 2 buah amplop untuk Devan dan juga Ajeng.

"Thanks, bu boss," ucap mereka berdua kompak setelah menerima amplop tesebut

Sementara Luna sedang membagikan gaji karyawan, Bara sedang mengunjungi kantor cabang yang ada di Bekasi.

Sudah dari siang dia fokus mengurus sedikit masalah yang terjadi di sana, sampai-sampai dia melupakan jam makan siang.

"Pak, ini bapak makan dulu! Dari siang kan bapak belum makan." Feli menyerahkan kotak makanan untuk boss tampan nya.

Bara mengambil makanan itu dan memakan nya, karena memang perut nya juga sudah lapar.

"Pak, saya temenin bapak makan, ya!" Tanpa persetujuan dari Bara, Feli langsung duduk di samping Bara.

Bara sedang duduk di sofa yang berada di ruang direktur yang memimpin perusahaan cabang Bekasi.

Pria bertubuh atletis itu tidak menghiraukan keberadaan sekretaris nya, dia masih sibuk dengan makanannya sendiri.

"Perasaan gue udah sexy banget deh, tapi kenapa sih susah banget dapetin Bara." batin Feli.

Feli masih mencoba merayu Bara, tangan wanita itu meraba-raba bagian atas boss tampan nya itu sampai naik ke atas pedang besar milik Bara.

Namun, Bara masih acuh dan membiarkan saja sekertaris nya itu.

Tidak putus asa, Feli menekan pedang Bara lalu meremas nya, dia bergerak gelisah karena sudah membayangkan miliknya menyatu dengan milik Bara yang berukuran jumbo.

Karena Bara hanya diam saja, Feli langsung membuka ikat pinggang yang melekat di celana bahan Bara.

Bara menyudahi makan nya karena terganggu dengan aktivitas sekertarisnya.

Feli meremas pedang itu hingga mengeras dan tanpa aba-aba dia duduk di bawah antara kaki Bara.

Feli mengulum pedang besar itu dengan gaya erotis, karena sudah di penuhi oleh hawa nafsu.

Wanita itu mengulum lebih dalam lagi lalu menghisap ujung pedang itu. Karena hasrat yang sudah memuncak, dia mengulum pedang itu semakin cepat hingga Bara mengeluarkan cairannya.

Tanpa rasa jijik dia menelan cairan itu hingga menjilati ujung pedang itu tanpa tersisa setetes pun.

Namun, ada yang berbeda dengan Bara, kali ini dia tidak seperti biasanya yang selalu bergairah.

Dia hanya membayangkan jika yang sedang melakukan nya yaitu istri nya Luna. Apa dia sudah mulai menyukai atau bahkan mencintai istri nya.

Bara merapikan celana nya tanpa berniat bercinta dengan sekertarisnya.

"Kamu mau bercinta?" tanya Bara yang di anggukan Feli.

"Baiklah, lakukan pemanasan sampai kamu keluar!" titah nya.

Feli dengan senang hati melakukan nya, dia membuka satu-persatu pakaian yang melekat di tubuh nya hingga tak tersisa sehelai benang pun.

Bara langsung keluar dari ruangan itu dan seketika merasa jijik dengan apa yang sekertarisnya lakukan.

Padahal biasanya dia sangat menyukai adegan seperti itu melihat para wanita bayaran bermain sendiri.

"Pak Baraaa!" Teriak Feli yang tidak rela di tinggalkan.

"Akhh, sial." Dia tidak terima di permainkan begitu saja.

Sementara Bara pergi menemui direktur yang memimpin perusahaan cabang, lalu berbincang sebentar karena memang pekerjaan nya sudah selesai dan masalah yang ada di sana sudah terselesaikan.

Bara pulang bersama dengan supir dan meninggalkan sekertaris nya begitu saja.

Terpopuler

Comments

Rizka Susanto

Rizka Susanto

menjijikan bgd si bara....boleh gK sih Luna jodohnya sama kenan apa sama siapa aja kek...klo sama si bara api kasihan...murah bgd dia...

2024-05-06

11

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. Club Malam
2 BAB 2. Kembali Kuliah
3 BAB 3. Rencana Perjodohan
4 BAB 4. Arena Balap Mobil
5 BAB 5. Pertemuan Dua Keluarga
6 BAB 6. Pertemuan Bara Dan Luna
7 BAB 7. Fitting Baju Pengantin
8 BAB 8. Luna Bertemu Kenan
9 BAB 9. Hari Pernikahan
10 BAB 10. Ditinggal Saat Malam Pertama
11 BAB 11. Pindah Ke Rumah Baru
12 BAB 12. Mulai Beraktifitas
13 BAB 13. Balap Motor
14 BAB 14. Mulai Magang
15 BAB 15. Bara Mulai Cemuu
16 BAB 16. First Time Jalan Bareng Suami
17 BAB 17. Dibentak Di Depan Karyawan
18 BAB 18. Kekhawatiran Bara
19 BAB 19. Merawat Luna
20 BAB 20. Ada Apa Dengan Bara?
21 BAB 21. Kekesalan Dan Kekaguman Bara
22 BAB 22. Luna Menghadapi Tante Girang
23 BAB 23. Keterbukaan Luna
24 BAB 24. Anniversary Kantor
25 BAB 25. Tergoda Dengan Yang Halal
26 BAB 26. Kegundahan Bara
27 BAB 27. Tidak Rela
28 BAB 28. Pertama Kali Ke Rumah Mertua
29 BAB 29. Mengungkapkan Perasaan
30 BAB 30. Awal Yang Baik
31 BAB 31. Ulet Bulu
32 BAB 32. Satu Kamar
33 BAB 33.Meeting Ditemani Istri
34 BAB 34. Kekaguman Luna
35 BAB 35. Sikap Kasar Bara
36 BAB 36. Bara Sakit
37 BAB 37. Kedatangan Mertua
38 BAB 38. Berangkat Ke Bali
39 BAB 39. Dibuat Kesal
40 BAB 40. Keterkejutan Luna
41 BAB 41.Melampiaskan Emosi
42 BAB 42. Kebingungan Bara
43 BAB 43. Bara Cemburu
44 BAB 44. Cemburu Lagi
45 BAB 45. Kejujuran Bara
46 BAB 46. Kehancuran Mira
47 BAB 47. Bandung
48 BAB 48. Quality Time
49 BAB 49. Terhanyut Dalam Kemesraan
50 BAB 50. Malam Pertama
51 BAB 51. Mengulang Kembali
52 BAB 52. Dijodohkan
53 BAB 53. Dunia Tak Selebar Daun Kelor
54 BAB 54. Posesif Husband
55 BAB 55. Photo Shoot
56 BAB 56. Felly Dimutasi
57 BAB 57. Terakhir Magang
58 BAB 58. Menyusun Laporan
59 BAB 59. Touring Ke Puncak
60 BAB 60. Keputusan Final
61 BAB 61.Nempel Seperti Prangko
62 BAB 62. Kondisi Luna
63 BAB 63. Menuruti Permintaan Suami
64 BAB 64. Ternyata Dia
65 BAB 65. Memberi Hukuman
66 BAB 66. Akhir Kisah Sherly
67 BAB 67. Selamat Tinggal
68 BAB 68. Dosen Ganteng
69 BAB 69. Menyelesaikan Masalah Diatas Ranjang
70 BAB 70. I Love You Too Hubby
71 BAB 71. Kebahagiaan Bara
72 BAB 72. Suami Luna
73 BAB 73. Mengukir Sejarah Baru
74 BAB 74. Diterima Jadi Menantu
75 BAB 75. Ada Apa Dengan Luna
76 BAB 76. Meminta Pertanggung Jawaban
77 BAB 77. Sesakit Inikah?
78 BAB 78. Ngidam
79 BAB 79. Melepaskan Semuanya
80 BAB 80. Ada Apa Dengan Bara Dan Luna
81 BAB 81. Emosi Devan
82 BAB 82. Penjelasan Bara
83 BAB 83. Jadi Kecebong
84 BAB 84. Kebahagiaan Bara Dan Luna
85 BAB 85. Balasan Yang Setimpal
86 BAB 86. Memberitahu Kabar Bahagia
87 BAB 87. Obrolan Serius Antar Ipar
88 BAB 88. Drama Manjat Pohon
89 BAB 89. Lamaran
90 BAB 90. Ketika Emosi Diuji
91 BAB 91. Beralih Profesi
92 BAB 92. Dapat Reward
93 BAB 93. Grand Opening Cafe Cabang
94 BAB 94. Karin
95 BAB 95. Wisuda
96 BAB 96. Kegundahan Jessy
97 BAB 97. Kejutan Tak Terduga
98 BAB 98. Hari Bahagia
99 BAB 99. Ngidam Aneh
100 BAB 100. Donny Tersindir
101 BAB 101. Bobol Gawang
102 BAB 102. Jessy Mencari Perhatian Bara
103 BAB 103. Tidak Menyangka
104 BAB 104. Harusnya Seperti Ini
105 BAB 105. Pernikahan Donny Dan Ajeng
106 BAB 106. Banjir Air Mata
107 BAB 107. Cemburunya Donny
108 BAB 108. Masakan Pertama Istri
109 BAB 109. Puncak Emosi
110 BAB 110. Pertengkaran Hebat
111 BAB 111. Obrolan Antar Sahabat
112 BAB 112. Bertemu Rival
113 BAB 113. Huru-hara Di Malam Hari
114 BAB 114. Syukuran Empat Bulan
115 BAB 115. Titisan Nyi Loreng
116 BAB 116. Video Viral
117 BAB 117. Kecemburuan Para Suami
118 BAB 118. Malu Sendiri
119 BAB 119. Little Tiger
120 BAB 120. Luka Mendalam
121 BAB 121. Kesedihan Tari
122 BAB 122. Karin?
123 BAB 123. Merasa Iba
124 BAB 124. Akhirnya
125 BAB 125. Lagi Dan Lagi
126 BAB 126. Belanja Perlengkapan Bayi
127 BAB 127. Diluar Angkasa
128 BAB 128. Pernikahan Devan Dan Tari
129 BAB 129. Nyoblos
130 BAB 130. Kebahagiaan Para Suami
131 BAB 131. Dibuat Kesal
132 BAB 132. Gelisah Menjelang Persalinan
133 BAB 133. Melahirkan
134 BAB 134. Welcome The World Baby Boy
135 BAB 135. Akhir Bahagia
136 Info Season 2
Episodes

Updated 136 Episodes

1
BAB 1. Club Malam
2
BAB 2. Kembali Kuliah
3
BAB 3. Rencana Perjodohan
4
BAB 4. Arena Balap Mobil
5
BAB 5. Pertemuan Dua Keluarga
6
BAB 6. Pertemuan Bara Dan Luna
7
BAB 7. Fitting Baju Pengantin
8
BAB 8. Luna Bertemu Kenan
9
BAB 9. Hari Pernikahan
10
BAB 10. Ditinggal Saat Malam Pertama
11
BAB 11. Pindah Ke Rumah Baru
12
BAB 12. Mulai Beraktifitas
13
BAB 13. Balap Motor
14
BAB 14. Mulai Magang
15
BAB 15. Bara Mulai Cemuu
16
BAB 16. First Time Jalan Bareng Suami
17
BAB 17. Dibentak Di Depan Karyawan
18
BAB 18. Kekhawatiran Bara
19
BAB 19. Merawat Luna
20
BAB 20. Ada Apa Dengan Bara?
21
BAB 21. Kekesalan Dan Kekaguman Bara
22
BAB 22. Luna Menghadapi Tante Girang
23
BAB 23. Keterbukaan Luna
24
BAB 24. Anniversary Kantor
25
BAB 25. Tergoda Dengan Yang Halal
26
BAB 26. Kegundahan Bara
27
BAB 27. Tidak Rela
28
BAB 28. Pertama Kali Ke Rumah Mertua
29
BAB 29. Mengungkapkan Perasaan
30
BAB 30. Awal Yang Baik
31
BAB 31. Ulet Bulu
32
BAB 32. Satu Kamar
33
BAB 33.Meeting Ditemani Istri
34
BAB 34. Kekaguman Luna
35
BAB 35. Sikap Kasar Bara
36
BAB 36. Bara Sakit
37
BAB 37. Kedatangan Mertua
38
BAB 38. Berangkat Ke Bali
39
BAB 39. Dibuat Kesal
40
BAB 40. Keterkejutan Luna
41
BAB 41.Melampiaskan Emosi
42
BAB 42. Kebingungan Bara
43
BAB 43. Bara Cemburu
44
BAB 44. Cemburu Lagi
45
BAB 45. Kejujuran Bara
46
BAB 46. Kehancuran Mira
47
BAB 47. Bandung
48
BAB 48. Quality Time
49
BAB 49. Terhanyut Dalam Kemesraan
50
BAB 50. Malam Pertama
51
BAB 51. Mengulang Kembali
52
BAB 52. Dijodohkan
53
BAB 53. Dunia Tak Selebar Daun Kelor
54
BAB 54. Posesif Husband
55
BAB 55. Photo Shoot
56
BAB 56. Felly Dimutasi
57
BAB 57. Terakhir Magang
58
BAB 58. Menyusun Laporan
59
BAB 59. Touring Ke Puncak
60
BAB 60. Keputusan Final
61
BAB 61.Nempel Seperti Prangko
62
BAB 62. Kondisi Luna
63
BAB 63. Menuruti Permintaan Suami
64
BAB 64. Ternyata Dia
65
BAB 65. Memberi Hukuman
66
BAB 66. Akhir Kisah Sherly
67
BAB 67. Selamat Tinggal
68
BAB 68. Dosen Ganteng
69
BAB 69. Menyelesaikan Masalah Diatas Ranjang
70
BAB 70. I Love You Too Hubby
71
BAB 71. Kebahagiaan Bara
72
BAB 72. Suami Luna
73
BAB 73. Mengukir Sejarah Baru
74
BAB 74. Diterima Jadi Menantu
75
BAB 75. Ada Apa Dengan Luna
76
BAB 76. Meminta Pertanggung Jawaban
77
BAB 77. Sesakit Inikah?
78
BAB 78. Ngidam
79
BAB 79. Melepaskan Semuanya
80
BAB 80. Ada Apa Dengan Bara Dan Luna
81
BAB 81. Emosi Devan
82
BAB 82. Penjelasan Bara
83
BAB 83. Jadi Kecebong
84
BAB 84. Kebahagiaan Bara Dan Luna
85
BAB 85. Balasan Yang Setimpal
86
BAB 86. Memberitahu Kabar Bahagia
87
BAB 87. Obrolan Serius Antar Ipar
88
BAB 88. Drama Manjat Pohon
89
BAB 89. Lamaran
90
BAB 90. Ketika Emosi Diuji
91
BAB 91. Beralih Profesi
92
BAB 92. Dapat Reward
93
BAB 93. Grand Opening Cafe Cabang
94
BAB 94. Karin
95
BAB 95. Wisuda
96
BAB 96. Kegundahan Jessy
97
BAB 97. Kejutan Tak Terduga
98
BAB 98. Hari Bahagia
99
BAB 99. Ngidam Aneh
100
BAB 100. Donny Tersindir
101
BAB 101. Bobol Gawang
102
BAB 102. Jessy Mencari Perhatian Bara
103
BAB 103. Tidak Menyangka
104
BAB 104. Harusnya Seperti Ini
105
BAB 105. Pernikahan Donny Dan Ajeng
106
BAB 106. Banjir Air Mata
107
BAB 107. Cemburunya Donny
108
BAB 108. Masakan Pertama Istri
109
BAB 109. Puncak Emosi
110
BAB 110. Pertengkaran Hebat
111
BAB 111. Obrolan Antar Sahabat
112
BAB 112. Bertemu Rival
113
BAB 113. Huru-hara Di Malam Hari
114
BAB 114. Syukuran Empat Bulan
115
BAB 115. Titisan Nyi Loreng
116
BAB 116. Video Viral
117
BAB 117. Kecemburuan Para Suami
118
BAB 118. Malu Sendiri
119
BAB 119. Little Tiger
120
BAB 120. Luka Mendalam
121
BAB 121. Kesedihan Tari
122
BAB 122. Karin?
123
BAB 123. Merasa Iba
124
BAB 124. Akhirnya
125
BAB 125. Lagi Dan Lagi
126
BAB 126. Belanja Perlengkapan Bayi
127
BAB 127. Diluar Angkasa
128
BAB 128. Pernikahan Devan Dan Tari
129
BAB 129. Nyoblos
130
BAB 130. Kebahagiaan Para Suami
131
BAB 131. Dibuat Kesal
132
BAB 132. Gelisah Menjelang Persalinan
133
BAB 133. Melahirkan
134
BAB 134. Welcome The World Baby Boy
135
BAB 135. Akhir Bahagia
136
Info Season 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!