Luna membuka gaun yang dia pakai, untung saja gaunnya mudah untuk dibuka, jadi tidak ada drama meminta tolong suami membukakan resleting gaun, karena suaminya pun tidak ada.
Luna masuk ke kamar mandi, menuangkan aroma terapi ke dalam bathub yang sudah ia isi dengan air hangat.
"Akhirnya relax juga badan gue," gumamnya memejamkan mata merilekskan badannya yang terasa pegal.
Setengah jam berendam air hangat, membuat Luna menjadi lebih segar. Ia berjalan keluar mengambil pakaian ganti di koper yang ia letakkan di sudut kamar.
Luna merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size yang sudah bertabur bunga. Dia menyingkirkan bunga-bunga itu ke tepi ranjang, karena malas untuk membersihkannya.
Luna tertidur dengan pulas tanpa memikirkan dimana suaminya dan mengapa belum juga kembali yang mungkin saja acara sudah berakhir.
***
Dilain tempat, Bara mengajak teman-temannya untuk pindah ke club yang tidak jauh dari hotel, karena acara sudah selesai dan tamu sudah pada pulang.
Tanpa sepengetahuan orang tua dan yang lainnya, Bara meninggalkan kamar hotelnya. Yang seharusnya dia sedang malam pertama dengan istrinya, tetapi ini malah minum besama dengan teman-temannya.
"Bar, lo nggak balik ke hotel?" tanya Dony teman dekat Bara yang ia kenal di club malam karena sama-sama hobby selangkangan.
"Males," jawabnya cuek.
"Padahal enak lo Bar malam pertama, apa lagi sama yang udah sah. Bini lo juga cantik sexy lagi, gue yakin masih virgin doi."
"Udahlah, orang gue nikah juga terpaksa, kan. Gue nggak cinta sama dia, jadi terserah dia mau ngapain aja," jawab Bara acuh.
"Kalo gitu gue deketin bini lo boleh? lumayan kan dapet yang bagus."
Bara tidak suka temannya itu memuji istrinya terus menurus.
"Lo mau main nggak? gue panggil cewek sexy buat lo, anggep aja lo lagi malam pertama." Dony meledek Bara yang hanya diam saja.
"Lagi males gue capek," Jawab Bara seraya meneguk wine yang dia pegang.
"Seorang Bara capek? ya kali capek, liat cewek sexy aja langsung tegang tuh pedang."
"Sialan lo." Balas Bara yang sedang mengecek ponselnya ternyata sudah pukul 02.00 pagi.
Bara tidak menghiraukan itu, walaupun sudah hampir pagi, tetapi dia belum ingin kembali. Toh, dia berpikir tidak masuk kerja besok.
Donny hanya membiarkan saja sahabatnya itu minum, dia terpaksa tidak membawa wanita ke dalam kamar karena menemani Bara minum.
***
Setelah adzan subuh berkumandang, Bara baru sampai kamar hotel yang ia tempati. Masuk ke dalam menggunakan kartu akses dari resepsionis.
Bara melihat istrinya yang sedang shalat pun acuh saja, lalu masuk ke kamar mandi untuk sekedar bersih-bersih.
Selesai bersih-bersih, dia menaiki tempat tidur dan langsung tertidur pulas tanpa menyapa istrinya lagi.
Luna hanya acuh saja karena sama sekali tidak perduli dengan suaminya. Pukul 07.00s Luna memutuskan untuk keluar kamar karena perutnya sudah berbunyi.
Di sana sudah ramai termasuk kedua orang tuanya dan juga mertuanya.
"Pagi, Sayang. lho, Bara nya mana?" tanya mama Ayu kepada menantunya.
"Masih tidur, Ma," jawab Luna santai.
"Habis berapa ronde semalem?" celetuk Kenan membuat mereka semua tertawa.
"Hus, kamu ini nggak usah ledekin Luna," ujar papa Gama yang tidak ingin menantunya malu.
"Sayang, nanti Bunda sama Ayah setelah sarapan mau langsung pulang."
"Terus Luna gimana, Bun?" tanyanya yang enggan ditinggal kedua orang tuanya.
"Kamu ikut suami kamu, Sayang," jawab bunda lembut memberi pengertian.
"Ya udah deh," jawabnya sendu.
"Nanti setelah Bara bangun biar papa minta Bara antar kamu pulang dulu ke rumah orang tua kamu. Kamu bawa barang-barang yang penting-penting saja ya, Nak. Kamu nanti tinggal dengan Bara di mansion Bara," beritahu papa Gama.
"Baik, Pa." Jawab Luna singkat lalu melanjutkan makannya.
Setelah sarapan, Luna kembali ke kamarnya. Dia memainkan ponsel membuka grup chat mereka bertiga menanyai kondisi resto pagi ini sembari menunggu suaminya bangun.
Lama Luna memainkan ponselnya, akhirnya Bara bangun juga.
"Om, ayok chek out! Yang lainnya juga udah pada pulang, lagi ini juga udah siang," ajak Luna.
"Bawel banget sih, nggak liat ini gue baru bangun."
"Lah, siapa suruh tidur pas adzan subuh. Orang-orang mah subuh itu shalat om bukan tidur. Islam nya cuma Ktp doang sih."
"Udah, ceramahnya? Dah, gue mau mandi dulu." Bara berjalan menuju ke kamar mandi.
Luna bersiap untuk chek out, jadi saat Bara selesai mandi ia sudah rapih.
Dua puluh menit Bara bersih-bersih, pria tampan itu keluar hanya menggunakan handuk yang melilit sebatas pinggang.
Bara berjalan menuju koper yang ada di sudut ruangan, Luna membalikan badannya karena sudah selesai membereskan barang-barangnya.
"Aaaaaa!" teriak Luna kencang.
"Berisik lo pake teriak segala! Lo pikir ini di hutan," oceh Bara membuat Luna mendengus sebal.
"Eh, Om. Gue teriak juga gara-gara lo. Lagian ngapain sih Om, bukannya pake baju di kamar mandi, udah tau ada gue disini. Mata suci gue jadi ternodai, kan," gerutu Luna sebal.
Bara berjalan mendekati Luna. "Yakin masih suci?" Bara merapatkan tubuhnya dengan Luna yang sedang berdiri bersandar pada dinding.
"Awas ih minggir! Iya lah masih suci, emangnya lo Om yang udah nggak suci. Ups, gue lupa kalo lo kan hobinya celup sana celup sini," ejek Luna membuat Bara melotot kan matanya, baru kali ini ada yang berani mengejeknya.
"Berani ya lo ngejek gue?"
"Lah, kenapa harus takut? gue itu bicara soal fakta om, bukan fiktif belaka."
"Lo nggak takut gitu kalo gue apa-apain lo disini? secara kita udah nikah, udah sah juga ditambah disini cuma ada kita berdua." Bara menaik turunkan alisnya.
"Awas lo berani macem-macem." Luna menunjukan kepalan tangannya di hadapan Bara.
"Cih, kek bisa aja itu tangan di pake nonjok orang," sinis Bara kepada istri yang baru dia nikahi sehari itu.
"Udah sana Om buruan siap-siap anter gue pulang!" tukas Luna semakin sebal dengan tingkah suaminya.
Selesai Bara menggunakan pakaian rapih, mereka berdua keluar dari hotel. Bara mengantar Luna kembali ke rumahnya terlebih dahulu, sebelum mereka pindah ke mansion yang akan mereka tempati.
"Om, nginep semalam gitu boleh nggak sih? besok aja kita pindahnya," rengek Luna meminta izin.
"Nggak bisa, gue banyak kerjaan. Lo bawa yang penting-penting aja! Karena semuanya udah di siapin Papa termasuk kebutuhan lo," jawab Bara cuek membuat Luna menghela nafas.
"Hem, baiklah." Luna hanya bisa pasrah entah bagaimana nanti nasib rumah tangganya.
Mereka berdua sampai di mansion Nugroho dan langsung masuk ke dalam, ternyata kedua orang tua Luna sedang bersantai di ruang keluarga.
"Assalamualaikum, Yah, Bun," sapa Luna langsung menyalami punggung tangan kedua orang tuanya sementara Bara hanya diam saja.
"Eh, udah pulang. Mau ambil barang-barang kamu?" tanya bunda Desi.
"Iya, Bun."
"Nak Bara, sini masuk kenapa diam disitu." Ayah Fahmi mempersilahkan menantunya untuk duduk.
Sementara Luna naik kelantai atas menuju ke kamarnya mengambil barang-barang yang akan ia bawa.
"Nak Bara, Ayah tau pernikahan kamu dan Luna atas dasar perjodohan. Tapi, Ayah mohon jaga Luna sebagaimana kami menjaganya. Jangan sakiti Luna! Luna anak baik-baik. Ayah tau kamu diluar sana seperti apa dan Ayah nggak minta kamu untuk berubah. Biarlah itu semua menjadi urusan kamu. Yang Ayah pinta cuma satu, jangan sakiti Luna! kalaupun dia berbuat salah, tolong tegur baik-baik karena kami mendidik Luna dengan penuh kasih sayang. Kalaupun nanti kamu dan Luna sudah tidak bisa bersama, kembalikan Luna dengan baik-baik sama Ayah," ujar ayah Fahmi yang sebenarnya merasa berat melepaskan anak sulungnya.
Entah mengapa Bara merasa tidak enak dengan ayah mertuanya, seorang ayah yang harus mengikhlaskan anaknya menikah dengan lelaki brengsek seperti dirinya.
"Iya, Yah." Hanya jawaban singkat yang ayah Fahmi dapatkan.
Setelah obrolan antar menantu dan mertua usai, Luna pun datang mendorong koper besarnya yang berisi sedikit baju dan buku-buku kuliahnya.
"Sudah?" tanya Bara.
"Udah, ini." Luna menunjukan koper nya.
"Bun, Luna pamit dulu, ya," pamit Luna memeluk bundanya.
"Iya sayang, jadi istri yang baik dan istri yang patuh kepada suaminya." Nasehat bunda pada anak sulungnya.
"Iya, Bun. Luna pasti bakalan kangen sama masakan bunda."
"Kamu ini yang di kangenin masa cuma masakan bunda doang." Bunda pura-pura merajuk.
"Hehe, bercanda, Bun." Luna beralih memeluk ayahnya.
"Ayah, Luna pamit, ya." Luna berpamitan pada cinta pertamanya itu.
"Iya, Nak. Jadi istri yang baik, ya." Nasehat ayah sama seperti nasihat bunda.
"Siap, Yah." Jawab Luna lalu menyalami punggung tangan sang ayah.
Bara juga ikut berpamitan kepada kedua mertuanya, walau bagaimana pun mereka tetap mertuanya. Walaupun, pernikahan mereka atas dasar perjodohan.
Bara memasukan koper istrinya ke dalam bagasi lalu masuk ke dalam mobil. Luna berjalan gontai masuk ke mobil.
Berat baginya meninggalkan kehidupannya yang lama, kini ia harus beradaptasi menjadi seorang istri. Selama di perjalanan Luna hanya diam saja, netranya memandang lurus kearah jalan.
Begitupun dengan Bara yang hanya diam saja dan tidak ingin memulai obrolan dengan istri barunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Hafidz Narend
/Good//Good/
2024-06-15
1
Susi Susiyati
😆😆😆😆suaminya dipnggil om celup gt luna
smga bara insyaf g celap celup smbarangan....
2024-05-28
1
mei puspitasari
emosi kayak nasi campur...semangat Luna
2024-04-22
2