Bara hanya mengekori istrinya yang sedang membeli berbagai macam makanan. Luna membeli batagor, cimol, telur gulung dan juga takoyaki.
Saat Luna sedang membayar, buru-buru Bara mengeluarkan dompet dari saku celana nya. Di dalam dompetnya hanya ada uang cash dua ratus ribu saja.
"Pake ini aja, segini cukup nggak?" Tanya Bara karena memang dia belum pernah membeli semua makanan itu sebelumnya.
"Kebanyakan Om, masih ada sisanya." Jawab Luna mengambil satu lembar uang ratusan dari tangan suaminya.
"Segitu banyak nya nggak sampe seratus ribu?" Bara benar-benar kaget, ternyata harga makanan nya sangat murah.
Setelah Luna membayar semua makanan dan membeli air mineral untuk mereka berdua, Luna mengajak Bara duduk di bangku taman.
"Duduk dulu, Om!" ajak Luna yang di turuti Bara.
Luna mulai mencoba takoyaki nya terlebih dahulu. "Mau coba nggak, Om? gue sih yakin dari tampang lo ini, pasti lo belom pernah kan makan-makanan kek gini." Selidik Luna sembari mengunyah takoyaki itu.
Bara menganggukkan kepalanya tanda kalau memang apa yang dibilang oleh Luna itu benar.
"Nih, coba dulu! Ketagihan lo pasti sama makanan kek gini." Luna menusuk takoyaki itu lalu menyuapi Bara.
Bara membuka mulutnya dan memang benar rasanya enak, tidak buruk seperti yang dia kira.
"Not bad lah," jawabnya singkat.
Luna memakan makanan yang dia beli dan masih terus menyuapi Bara hingga makanan itu habis tak tersisa.
"Kenyang juga, ayok balik!" ajak Luna pada suaminya.
Bara melanjutkan perjalanan pulang dengan santai, tiba-tiba Luna berdiri dan merentangkan tangannya sembari berteriak. "Aaaaaaaaa."
Rasanya hati damai saat hembusan angin menerpa wajahnya. Dari balik kaca spion Bara tersenyum melihat tingkah laku sang istri.
Sebelumnya, Bara tidak pernah merasakan kebahagian seperti ini yang sangat sederhana.
Poin plus yang dia dapatkan lagi dari Luna, ternyata istrinya sangat sederhana. Kalau wanita lain mungkin tidak mau di ajak naik motor dan jajan di pinggir jalan, pasti lebih memilih pergi ke mall dan berbelanja barang-barang mewah.
Tetapi, istrinya berbeda. Dia sangat sederhana walaupun berasal dari kalangan atas sama seperti dirinya.
Tidak terasa motor yang di kendarai Bara sudah sampai di mansion. Setelah memasukan motor sport itu ke garasi, Bara menyerahkan kunci motor kepada pemilik nya.
"Nih, kuncinya. Thanks ya buat malem ini." Ujar Bara menyerahkan kunci motor ke tangan Luna.
"Iya, Om. Gue masuk duluan ya, Om." Pamit Luna lalu masuk kedalam kamarnya.
Bara tersenyum memandang punggung sang istri yang sudah hilang di balik pintu.
Pria tampan itu menaiki tangga menuju ke kamar nya, malam ini entah kenapa dia tidak ingin pergi ke club malam padahal waktu masih menunjukan pukul 11 malam.
Setelah melaksanakan shalat Isya, Luna memilih untuk tidur karena besok sudah harus magang lagi.
***
Matahari mulai menyapa dan pagi pun datang. Pagi ini Luna masih memasak karena bibi belum datang.
Luna membuat nasi goreng seafood dengan telur ceplok saja untuk sarapan pagi ini.
Selesai membuat sarapan dia kembali ke kamar nya untuk bersih-bersih dan bersiap berangkat ke kantor.
Sementara Bara sudah turun lebih dulu dan duduk di meja makan. Namun, netra nya mencari cari sang istri yang tidak dia lihat.
Selesai bersiap Luna kembali lagi ke meja makan namun, dia melihat Bara yang sudah duduk di meja makan.
"Mau kopi nggak om gue bikinin? ya itung-itung tanda terimakasih kemaren udah di jajanin."
"Boleh, jangan terlalu pait! " Jawab Bara senang untuk pertama kalinya Luna menawarkan nya kopi.
Tidak lama Luna datang membawa secangkir kopi hitam ditangan nya.
"Nih Om, di minum! " Luna meletakkan cangkir kopi di hadapan Bara.
Luna mengambilkan nasi goreng dan telur ceplok untuk Bara dan menambahkan irisan mentimun dan juga tomat.
Dia berpikir tidak apa-apa sesekali melayani suami nya, toh kemarin Bara sudah berbaik hati menemaninya belanja dan membelikan nya jajanan.
"Nih, Om makan! cobain nasi goreng seafood buatan gue pasti lo ketagihan," ujar Luna percaya diri.
"Masa sih? okay, gue coba." Bara menyuap nasi goreng itu kedalam mulutnya dan benar saja rasanya sangat enak dan pas di lidah nya.
"Gimana enak, kan?"
"Ya, lumayan." Jawab nya cuek enggan mengakui kalau memang rasanya enak.
Mereka makan dengan hening tanpa ada nya obrolan, hanya terdengar suara dentingan sendok saja.
Selesai sarapan Luna pamit lebih dulu karena Bara masih meminum kopi hitamnya.
"Tunggu!" Bara menahan Luna agar jangan pergi.
"Ngapa, Om?" Tanya Luna menatap suaminya.
"Ini kartu lo pegang! satu nya buat keperluan mansion sama bayar gaji para pekerja disini. Kartu satunya lagi buat keperluan pribadi lo. Walaupun gue belum bisa kasih nafkah batin tapi ini bentuk nafkah lahir dari gue." ucap Bara menyerahkan dua kartu ke tangan sang istri.
Luna hanya mengambil satu kartu saja yang di peruntukkan untuk keperluan mansion, karena dia sadar diri pernikahan ini tidak di dasari oleh cinta bukan seperti pernikahan pada umum nya, jadi dia enggan memakai uang Bara.
"Gue ambil yang ini aja om buat keperluan mansion dan bayar para pekerja disini, kartu yang itu lo pegang aja! gue masih bisa beli keperluan gue sendiri, lo tenang aja itu bukan duit bonyok kok, itu duit gue pribadi." Jawab Luna memasukan kartu itu kedalam dompetnya.
"Lagi juga kek nya gue nggak pantes dah pake kartu lo om. Secara pernikahan kita aja bukan kek pernikahan pada umumnya, ya lo ngerti lah om maksud gue apa. Ya udah, gue berangkat duluan, ya." Pamit Luna lalu berjalan keluar mansion menuju garasi.
Luna mulai melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota.
Sementara Bara masih terdiam, biasanya wanita akan senang jika diberikan kartu untuk berbelanja tetapi, istrinya malah menolaknya dan bilang katanya tidak pantas menerima nya.
"Makin kagum gue sama lo," Lirihnya.
***
Luna sudah tiba di kantor dan langsung naik ke ruangan divisi keuangan.
Saat Luna berjalan ke meja nya karyawan, banyak karyawan lain yang menyapa nya. Tetapi, tidak dengan satu orang yang sedang mantap sinis kearah Luna.
Perempuan itu bernama Sherly, karyawan baru divisi keuangan yang baru dua minggu bekerja. Tetapi, sayang saat Luna pertama kali magang dia sedang izin tidak bekerja karena ibu nya masuk rumah sakit.
Sherly, wanita yang tidak menyukai Luna karena berhasil mengalahkan nya saat di arena balap motor.
Pemotor hitam yang berhasil Luna kalahkan yang sempat mendorong motor Luna hingga terjatuh, dialah orang nya. Tetapi, sayang wanita itu tidak mengetahui kalau Luna istri dari Ceo tempatnya bekerja.
"Pagi, Lun," sapa Puput.
"Pagi, Mba Puput. Udah dateng dari tadi, Mba ?"
"Baru aja dateng, Lun," sahut Puput.
"Permisi, Mba." Sapa Luna saat melewati Sherly namun Sherly hanya diam saja.
Luna tidak menghiraukan itu, dia hanya acuh saja tidak perduli.
Jam kantor pun di mulai dan Luna sudah mendapat tugasnya membuat laporan dana anggaran untuk pembangunan resort di Bali.
Dengan semangat Luna mengerjakan pekerjaan tersebut agar hasilnya juga maksimal.
Semua pekerjaan Luna sudah selesai sebelum jam makan siang. "Mba, ini aku udah selesai ngerjain nya, kek gini bukan sih mba? takut nya aku salah." Luna memperlihatkan hasil pekerjaannya pada Puput.
Puput melihat hasil pekerjaan Luna yang sudah selesai dan di print lalu menyusun nya kedalam map.
"Wah, rapih banget Lun kerjaan kamu dan bener semua kok ini." Jawab Puput setelah melihat laporan itu.
"Makasih ya, Mba."
"Iya, sama-sama. Jangan sungkan kalo mau nanya. Kamu makan siang sama siapa? mau makan siang bareng nggak?" tawar Puput.
"Boleh mba, ayok!"
Mereka berdua turun ke cafetaria yang ada di kantor untuk makan siang, tapi sebelumnya Luna sudah membereskan pekerjaan dan merapihkan meja kerjanya.
Nanti setelah makan siang baru dia akan menyerahkan laporan itu kepada Kenan.
Luna dan Puput sudah jalan menuju ke cafetaria, tanpa Luna sadari Sherly mengubah laporan yang telah dia buat agar Luna mendapatkan masalah.
Di cafetaria Luna memesan berbagai macam makanan, siang ini dia tidak makan bersama dengan Devan dan juga Ajeng karena mereka makan siang bersama teman-teman satu divisinya.
"Mba Puput, udah berapa lama kerja disini?" Tanya Luna sembari memakan makanannya.
"2 tahun, Lun. Masih terbilang baru, kan."
" Ya nggak bisa dibilang baru juga sih, kalo 2 tahun mah."
Mereka masih asyik mengobrol sembari makan siang. Bagi Luna, Puput orangnya asyik dan nyambung kalau di ajak ngobrol.
***
Jam makan siang telah usai, mereka semua melanjutkan pekerjaan nya masing-masing.
Luna naik ke lantai 10 menyerahkan laporan yang telah dia buat kepada Kenan. Feli menatap sinis ke arah Luna namun, Luna sama sekali tidak perduli.
Setelah menyerahkan berkas itu, Luna kembali lagi ke ruangannya.
"Udah, Lun?" tanya Puput.
"Udah beres, Mba. Ini aku kerjain kerjaan yang lain nya lagi," jawab Luna.
Tap..tap..
Terdengar suara langkah kaki mendekati meja kubikel para divisi keuangan.
"Mohon perhatian! semua divisi keuangan harap pergi keruang meeting! Karena ada yang ingin disampaikan oleh pimpinan kita," titah Kenan pada staff divisi keuangan.
Setelah mengatakan itu Kenan berlalu dari sana menyisakan para karyawan yang sedang kebingungan.
"Ada apa, ya?" Bisik-bisik para karyawan.
Mereka semua menuju ke ruang meeting. Dan duduk dengan tertib menunggu Bara datang.
Bara datang di ikuti Kenan dibelakangnya langsung saja melemparkan map di atas meja.
"Siapa yang mengerjakan laporan ini?" murka Bara menunjuk map yang dia lempar diatas meja.
Mereka semua saling berpandangan, tiba-tiba Luna berdiri dan mengakuinya.
"Saya, Pak. Saya yang mengerjakan laporan itu," jawabnya tegas.
"Jadi kamu yang mengerjakan nya?" tanyanya sekali lagi.
"Betul, Pak," jawabnya dengan lugas.
"Sudah kamu periksa lagi dengan teliti?" bentaknya membuat Luna kaget.
"Sudah, Pak. Sebelum saya menyerahkan laporan itu pada Pak Kenan, saya sudah memeriksanya kembali dan semuanya sudah benar dan sesuai," jawab Luna dengan jujur.
"Kamu bilang benar dan sesuai! tapi nyatanya data yang ada dengan laporan yang kamu buat jauh berbeda, semua berantakan dan tidak jelas," maki Bara dengan lantang membentak Luna.
"Tapi, memang benar, Pak. Saya cek memang sudah sesuai, bahkan saya sempat menunjukan nya pada Mba Puput meminta pendapat Mba Puput apa benar laporan yang saya buat sudah benar atau belum." Jawab Luna yang tidak terima disalahkan karena memang dia merasa dirinya sudah benar.
"Mana yang namanya Puput?" tanya Bara.
Puput berdiri. "Saya Pak," jawabnya.
"Coba kamu lihat laporan itu, apa sudah benar!" titahnya.
Puput membuka map itu dan memang benar semua berantakan, ini berbeda dari yang Luna tunjukkan tapi.
"Ini memang berantakan dan tidak benar, Pak. Tetapi, yang saya lihat tadi saat Luna menunjukkan pada saya bukan seperti ini," jawab Puput dengan jujur.
"Udah Bar, kasian bini lu." Nasihat Kenan tapi Bara tidak menghiraukannya, karena dia sangat profesional dalam pekerjaan.
"Kamu anak magang!" tunjuk Bara pada Luna.
"Masih mau cari pembelaan, hah? saya peringatkan sama kamu ini untuk terakhir kalinya! kalau kamu masih ingin magang disini," bentak Bara sagat kencang.
Sementara Luna yang di bentak hanya diam saja. Toh, mau membela diri juga tidak ada guna nya. Bara tidak mungkin percaya dengan dirinya walaupun dia istrinya.
Sementara para karyawan lain menatap Luna dengan tatapan nanar. Walaupun, dia istri boss nya tetapi dia tetap tidak di perlakukan istimewa.
Sementara Sherly tersenyum dalam hati karena misinya berhasil.
Untuk pertama kalinya Luna di bentak sangat keras dengan Bara, bahkan di depan para karyawan.
Sedih hatinya, dia sudah mengerjakan pekerjaan dengan benar namun, malah berakhir seperti ini.
"Sudah, sekarang keluar kalian dan kembali bekerja!" titah Bara.
Yang lain sudah keluar lebih dulu dengan Luna yang berjalan terakhir, dia melewati Bara begitu saja tanpa menoleh karena menundukkan kepala nya.
"Bar, tenang. Lo nggak kasian sama bini lo? lo bentak dia dengan kencang di depan para karyawan lainnya. Gue aja yang liat nya nggak tega. Harusnya lo tanya baik-baik, Bar. Jangan pake emosi! masa iya Luna bohong sih, orang kemaren juga kerjaan nya bener kok gue liat nya rapih banget. Masa iya ini bisa seberantakan itu, asal lo tau bini lo itu termasuk mahasiswi yang cerdas," ujar Kenan panjang lebar.
Bara terdiam mendengar ucapan Kenan, ada benarnya juga ucapan Kenan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Susi Susiyati
dodol betawi emng😠😠
2024-05-28
3
harwanti unyil
awas nyesel
2024-03-28
2